Perubahan dalam diri Reno tidak terjadi seperti ledakan yang menggelegar, melainkan seperti tetesan minyak esensial yang perlahan meresap ke dalam serat kain; pelan, tak bersuara, namun meninggalkan noda permanen yang mustahil untuk dibersihkan kembali. Setelah malam yang menentukan bersama Shinta di Grand Mahakam, pandangan Reno terhadap profesinya mengalami pergeseran paradigma yang drastis. Jika dulu ia melihat tubuh manusia sebagai kumpulan anatomi yang harus diperbaiki fungsinya, kini ia melihatnya sebagai peta harta karun yang penuh dengan koordinat rahasia.
Setiap ketegangan otot bukan lagi sekadar diagnosis medis yang harus ia rilis dengan teknik acupressure, melainkan sebuah "pintu masuk" menuju intimasi yang lebih dalam—dan tentu saja, bayaran yang berkali-kali lipat lebih tinggi. Reno kini memahami bahwa di balik punggung-punggung yang kaku dan leher yang tegang para wanita kaya Jakarta, tersimpan rasa lapar akan validasi dan sentuhan yang tidak bisa mereka dapatkan dari suami yang terlalu sibuk atau kehidupan sosial yang artifisial.
Reno duduk di sebuah kafe di lobi hotel mewah di kawasan Sudirman, menyesap kopi hitam tanpa gula sambil memperhatikan orang-orang yang lewat dengan tatapan yang dingin namun waspada. Matanya kini memiliki ketajaman yang berbeda, menyerupai mata seorang kurator barang antik yang sedang menilai keaslian sebuah objek. Ia memperhatikan cara seorang wanita berjalan, bagaimana pinggulnya berayun dengan ritme tertentu, dan bagaimana cara wanita itu memegang tas bermereknya. Di kepalanya, Reno secara otomatis mengklasifikasikan mereka ke dalam dua kategori sederhana: Potensial atau Biasa Saja.
Ia mulai menjadi sangat selektif. Di aplikasi penyedia jasanya, Reno tidak lagi asal menerima pesanan hanya demi memenuhi kuota harian. Ia mulai memeriksa profil pelanggan dengan ketelitian seorang detektif. Jika alamat pengirimannya adalah perumahan elit di Menteng atau penthouse di hotel bintang lima, ia akan segera memprioritaskannya. Jika nama pelanggannya terdengar seperti sosialita yang sering ia lihat di kolom lifestyle media massa, ia akan segera mengosongkan jadwalnya.
"Maaf, jadwal saya penuh," adalah kalimat yang paling sering ia gunakan sekarang untuk menolak pelanggan-pelanggan lama. Pasien-pasien lama yang hanya mengeluh soal sakit pinggang karena usia atau ibu-ibu kompleks yang hanya ingin pijat kaki sambil bergosip, kini dianggapnya sebagai gangguan yang tidak estetis maupun finansial. Bagi Reno, menyentuh kulit yang tidak lagi kencang adalah pemborosan energi.
Sore itu, Reno menerima pesanan dari seorang wanita bernama Gisella di sebuah apartemen penthouse mewah di kawasan SCBD. Dari profil foto yang terlihat samar dan lokasinya yang prestisius, Reno tahu ini adalah target yang sempurna. Ia tidak lagi menyiapkan peralatan medisnya dengan pikiran untuk menyembuhkan; ia menyiapkannya seperti seorang seniman yang akan melakukan pementasan.
Saat pintu apartemen terbuka, aroma vanilla dan musk yang elegan menyambutnya, menyapu indra penciumannya dengan keharuman yang mahal. Gisella adalah wanita berusia awal 30-an, seorang arsitek sukses yang memiliki tubuh tinggi semampai dengan lekukan yang terjaga rapi karena rutinitas yoga yang disiplin. Ia mengenakan baju olahraga ketat berbahan spandex yang nyaris tidak menyisakan ruang bagi imajinasi, memperlihatkan setiap garis otot perut dan lekuk tubuhnya yang atletis.
"Mas Reno, ya? Masuk. Punggung saya kaku sekali karena terlalu lama di depan meja gambar," ucap Gisella dengan suara yang agak serak, terdengar letih namun memiliki getaran yang menggoda.
Reno melakukan rutinitasnya dengan ketenangan yang mematikan. Namun kali ini, ada yang berbeda dalam setiap gerakannya. Ia tidak lagi mengenakan masker medisnya dengan rapat; ia membiarkannya sedikit longgar di bagian hidung agar garis rahangnya yang tegas dan wajahnya yang tampan terlihat lebih jelas. Ia juga menggunakan minyak pijat premium yang ia racik sendiri di kosannya—campuran minyak almond, cendana, dan sedikit aroma melati yang ia tahu akan membangkitkan gairah lebih cepat daripada minyak zaitun biasa.
Saat Gisella berbaring telungkup di atas meja pijat portabel milik Reno, Reno mulai melakukan pengamatan anatomis yang lebih mendalam, namun tujuannya bukan lagi medis. Tangannya bergerak di sepanjang tulang belakang Gisella, namun pikirannya fokus pada bagaimana kulit wanita itu bereaksi terhadap sentuhannya yang berlumur minyak hangat. Ia memperhatikan pori-pori yang mulai terbuka, bulu roma yang berdiri saat jemarinya menyentuh tengkuk, dan perubahan irama napas Gisella yang mulai memburu.
"Tekanan di sini... bagaimana, Bu?" tanya Reno pelan, suaranya sengaja dibuat berat dan maskulin. Ia menekan area pinggang bawah, sangat dekat dengan batas sensitif yang memicu saraf panggul.
"Mmhh... enak sekali, Reno. Turunkan sedikit lagi," gumam Gisella, kepalanya tenggelam di antara lubang bantal meja pijat.
Reno tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang tak terlihat oleh kliennya. Ia mulai menggunakan teknik yang ia pelajari secara otodidak dari forum-forum terlarang di internet—pijat sensual yang dimodifikasi. Ia tidak hanya menggunakan telapak tangan, tapi juga seluruh permukaan jari-jarinya, bergerak seperti ombak yang lambat namun menekan. Sesekali, ia sengaja menyentuhkan kulit lengannya yang berotot ke kulit Gisella, menciptakan kontak kulit-ke-kulit yang intim. Ia menciptakan sebuah ritme yang menghipnotis, sebuah tarian jari yang bertujuan untuk melumpuhkan logika dan membangkitkan insting paling dasar sang pelanggan.
Di tengah sesi, Reno dengan sengaja "menyingkap" sedikit handuk penutup putih itu, dengan alasan teknis ingin melepaskan ketegangan pada otot piriformis. Dan di sana, ia kembali menemukannya. "Abalone" yang berbeda dari milik Shinta. Milik Gisella tampak lebih kencang, lebih ramping, namun tetap memiliki daya tarik magnetis yang sama kuatnya. Obsesinya seolah mendapatkan bahan bakar baru.
Reno merasakan gelombang ketagihan itu kembali menghantam dadanya. Ia tidak sabar menunggu Gisella untuk memberikan sinyal yang sama seperti Shinta. Namun, Reno kini jauh lebih pintar dan berpengalaman. Ia tidak ingin terlihat agresif atau murahan. Ia ingin para wanita ini yang memohon kepadanya. Ia ingin mereka merasa bahwa mereka sangat beruntung bisa disentuh oleh tangan "ajaibnya". Ia memposisikan dirinya sebagai barang mewah yang langka, bukan sekadar penyedia jasa yang haus uang.
"Reno... kamu tahu kan kalau layananmu ini berbeda dengan terapis lain yang pernah kudatangkan?" tanya Gisella tiba-tiba, suaranya terdengar seperti bisikan parau di tengah keheningan ruangan apartemen yang hanya dihiasi suara instrumen pelan.
Reno membungkuk sedikit, hingga hembusan napasnya yang hangat terasa di tengkuk Gisella, membuat wanita itu sedikit menggigil. "Saya hanya memberikan apa yang tubuh Anda butuhkan, Bu. Pertanyaannya, apakah tubuh Anda membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar pijatan otot?"
Gisella berbalik perlahan, tubuhnya yang licin karena minyak berkilau di bawah lampu ruangan. Ia menatap Reno dengan mata yang sayu dan berkabut karena gairah yang memuncak. Ia meraih tangan Reno yang masih berlumur minyak dan meletakkannya di pipinya, merasakan kehangatan telapak tangan pria itu, lalu perlahan membawanya turun ke arah dadanya yang naik turun dengan cepat.
"Berikan aku semuanya, Reno. Aku akan membayar apa pun yang kamu minta," bisik Gisella, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan.
Reno merasa menang telak. Ia telah berhasil mengubah profesinya menjadi sebuah perburuan eksklusif di mana dialah sang pemangsa ulung. Uang mulai mengalir deras ke rekeningnya, pakaiannya semakin bermerek, parfumnya semakin mahal, dan seleranya semakin tinggi. Ia mulai meninggalkan dunia orang-orang biasa. Namun, di balik kemewahan itu, Reno mulai kehilangan koneksi dengan realitas manusiawi.
Baginya, setiap wanita kini hanyalah variasi dari "Abalone" yang harus ia taklukkan dan ia koleksi dalam memorinya. Ia tidak lagi peduli dengan rasa sakit fisik pelanggannya; ia tidak peduli apakah saraf mereka benar-benar terjepit atau tidak. Yang ia pedulikan hanyalah seberapa dalam ia bisa membuat mereka jatuh ke dalam pesonanya, seberapa banyak desahan yang bisa ia hasilkan, dan seberapa besar amplop yang akan ia terima di akhir sesi.
Reno telah benar-benar bertransformasi. Ia bukan lagi terapis medis yang jujur; ia adalah seorang pemangsa yang bersembunyi di balik tas pijat dan minyak aromaterapi. Ia adalah hantu yang gentayangan dari satu hotel ke hotel lainnya, mengumpulkan rahasia di balik pintu-pintu tertutup. Dan di dalam kegelapan hatinya, ia sangat menikmati peran barunya ini, tidak menyadari bahwa semakin banyak "Abalone" yang ia koleksi, semakin banyak pula bagian dari kemanusiaannya yang hilang tertelan kegelapan.