Gaya Hidup Baru

1605 Words
Uang mengalir masuk ke rekening Reno bukan lagi seperti gerimis yang jatuh satu-satu di atap seng kamar kosnya yang dulu, melainkan seperti air bah yang menjebol bendungan. Jika dulu ia harus menghitung setiap keping koin untuk sekadar membeli makan malam di warteg pinggir jalan, kini saldo di aplikasi perbankan ponselnya telah bertransformasi menjadi deretan angka yang hampir tidak terasa nyata. Lima juta dari satu kamar di kawasan Mega Kuningan, sepuluh juta dari kamar penthouse lain yang lebih eksklusif di Sudirman, belum lagi tips spontan berupa lembaran dolar atau mata uang asing lainnya dari wanita-wanita yang merasa "terlahir kembali" setelah sesi intens bersamanya. Reno mulai menyadari dengan sinisme yang tajam bahwa gaji bulanan seorang manajer kantoran kelas menengah—yang dulu ia anggap sebagai puncak kesuksesan—hanyalah recehan yang bisa ia hasilkan dalam satu malam yang panjang di balik pintu hotel berbintang. Ia telah menemukan "tambang emas" di antara lipatan sprei sutra dan aroma minyak esensial mahal, dan ia tidak berniat untuk berhenti sebelum seluruh kantongnya penuh. Transformasi Fisik dan Citra Reno berdiri di depan cermin besar setinggi plafon di sebuah butik mewah di kawasan Plaza Senayan. Ia sedang mematut diri, memperhatikan siluet tubuhnya dalam balutan setelan jas slim-fit berwarna navy buatan penjahit ternama yang harganya setara dengan hasil kerjanya memijat lima puluh orang di masa lalu. Ia memperhatikan setiap detail dengan ketelitian seorang narsistik; bahunya terlihat lebih gagah dan tegap berkat latihan beban yang ia jalani di pusat kebugaran eksklusif, kulit wajahnya tampak lebih cerah dan bersih tanpa cela berkat perawatan rutin di klinik kecantikan paling mahal di Jakarta yang menggunakan teknologi laser terbaru. Di pergelangan tangan kirinya kini melingkar sebuah jam tangan Swiss otomatis yang elegan—sebuah simbol status yang berdetak dengan presisi yang dingin, sebuah pengingat bahwa waktunya kini sangat mahal. Ia tak lagi mengenakan jaket windbreaker murah yang berbau matahari dan asap knalpot, atau naik ojek daring menembus hujan badai Jakarta yang menyengsarakan hanya demi recehan tip dari pelanggan kelas bawah. Sekarang, ia memiliki sebuah sedan hitam mengkilap dengan interior kulit yang wangi, yang selalu ia parkir di area parkir VIP hotel. Kehadirannya kini memberikan kesan kepada petugas valet bahwa ia adalah tamu penting, seorang pebisnis sukses atau putra konglomerat, bukan sekadar pelayan jasa yang datang untuk menjajakan tenaga. Sertifikat terapis resmi yang dulu ia bingkai dengan penuh kebanggaan di dinding kamar kos sempitnya—simbol dari malam-malam ia begadang mempelajari anatomi, sistem limfatik, dan ujian praktik yang melelahkan—kini berakhir di dalam tumpukan kardus di gudang. Reno telah pindah ke sebuah apartemen studio mewah di lantai tinggi dengan pemandangan city light Jakarta Pusat yang memukau. Baginya, pengetahuan tentang anatomi kini telah mengalami devaluasi moral yang radikal; itu bukan lagi alat untuk memulihkan kesehatan atau meringankan penderitaan fisik manusia, melainkan peta taktis untuk memetakan titik-titik rangsang paling sensitif pada tubuh wanita. Ia bukan lagi menyembuhkan; ia sedang menaklukkan. "Terapis? Bukan. Aku adalah kurator kesenangan," gumamnya pelan sambil menyemprotkan parfum niche beraroma tobacco and vanilla yang harganya jutaan rupiah per botol kecil. Aroma itu berat, manis, dan memberikan kesan misterius yang mahal—persis seperti persona yang ia bangun saat ini. Sebuah persona yang dibangun di atas fondasi kebohongan yang sangat artistik. Erosi Moralitas Reno mulai menjalani gaya hidup yang sepenuhnya hedonis, sebuah pelarian dari masa lalunya yang abu-abu. Ia makan di restoran-restoran berbintang yang membutuhkan reservasi berminggu-minggu sebelumnya, meminum wine tua yang harganya tidak masuk akal bagi orang biasa, dan terbiasa dengan pelayanan serba istuimewa di mana setiap keinginannya dipenuhi dengan anggukan hormat dari para pelayan yang tidak tahu siapa dia sebenarnya. Namun, seiring dengan meningkatnya gaya hidup dan tumpukan saldo di rekeningnya, moralitasnya semakin terkikis hingga ke dasar yang paling gelap, seperti karang yang habis dimakan ombak secara perlahan. Ia mulai memandang rendah rekan-rekan lamanya—para terapis yang masih jujur memijat di panti pijat kesehatan, mereka yang pulang dengan punggung pegal dan tangan yang kapalan demi upah minimum yang nyaris tak cukup untuk membayar kontrakan. Reno merasa dirinya berada di kasta yang berbeda, seolah-olah ia telah berevolusi menjadi spesies yang lebih tinggi karena kemampuannya memanipulasi hasrat para nyonya kaya. Ia melihat kejujuran mereka sebagai bentuk kebodohan, dan integritas mereka sebagai ketidakmampuan untuk memanfaatkan peluang. Ia tidak lagi merasa bersalah atau canggung saat menerima uang tambahan yang diselipkan di bawah bantal atau diletakkan di atas meja nakas setelah sesi selesai. Justru, ia merasa itulah nilai aslinya yang sebenarnya. Ia merasa dirinya adalah "aset" yang sangat berharga dan terbatas, sebuah barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki kuasa finansial. Jika seorang wanita ingin merasakan kehangatan dan kemahiran sentuhannya, mereka harus membayar mahal—sangat mahal. Dan pembayaran itu tidak hanya berupa uang tunai, tapi juga dalam bentuk penyerahan harga diri mereka di bawah jemarinya. Ia menikmati bagaimana wanita-wanita berkuasa itu, yang di luar sana memerintah ratusan karyawan, kini harus menanggalkan martabat mereka dan memohon-mohon di depannya. Bayangan Clara dan Dualitas Jiwa Namun, di tengah kemewahan yang seolah tanpa batas itu, bayangan Clara seringkali muncul mengusik ketenangannya seperti noda tinta hitam yang tumpah di atas kertas putih yang bersih. Ada dualitas yang menyiksa di dalam dadanya, sebuah perang batin yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya yang tampan. Saat ia sedang berada di gerai barang mewah, memegang dompet kulit buaya seharga belasan juta, ia tiba-tiba teringat Clara yang lebih suka memakai tas kain kanvas buatan sendiri dengan sablonan seni yang unik dan jujur. Saat ia mengunyah potongan steak wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran lantai 50, lidahnya justru secara khianat merindukan rasa cokelat hangat buatan Clara yang sederhana, yang diminum di balkon sempit sambil mendengarkan bising knalpot dan aroma debu jalanan di bawah. Reno merasa terbelah menjadi dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ia adalah pria elegan, dingin, dan penuh perhitungan yang menjadi langganan para nyonya kaya—seorang pemuas profesional yang melihat tubuh manusia sebagai komoditas dan gairah sebagai transaksi bisnis. Di sisi lain, ia adalah Reno yang merasa benar-benar "hidup" dan bernapas secara autentik saat bersama Clara. Bersama Clara, ia tidak perlu memoles kata-katanya, tidak perlu menggunakan minyak wangi jutaan rupiah, dan tidak perlu menjadi "kurator kesenangan". Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, meskipun perlahan-lahan ia mulai lupa siapa sebenarnya sosok asli di balik setelan jas mahalnya itu. Pertemuan dengan Masa Lalu Suatu sore, saat sedang berjalan santai di sebuah mal mewah setelah sesi belanja yang melelahkan, Reno melihat sosok yang sangat familiar di area food court yang ramai. Itu adalah Pak Surya, seorang terapis senior yang dulu pernah mengajarkannya teknik pijat dasar dengan penuh kesabaran di sebuah klinik kecil di pinggiran Jakarta. Pria tua itu tampak jauh lebih lelah dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam yang menyimpan ribuan cerita tentang kerja keras, menjinjing tas pijat hitam yang sudah kusam dan mengelupas kulitnya di beberapa sisi. Pak Surya sedang duduk sendirian di sudut yang kurang terang, menghitung tumpukan uang receh dan uang kertas ribuan yang kumal dengan jari-jarinya yang gemetar. Ia tampak seperti sisa-sisa kejujuran yang tertinggal di tengah badai konsumerisme Jakarta. Dulu, Reno akan merasa iba. Ia mungkin akan menghampiri pria itu, memeluknya sebagai guru, membelikannya makan siang yang paling layak, dan mengucapkan terima kasih tulus atas ilmu yang pernah diberikan. Tapi sekarang? Reno merasakan dorongan rasa malu yang bercampur dengan keangkuhan yang memuakkan. Ia tidak ingin diidentikkan dengan pria tua itu. Ia tidak ingin pelanggan-pelanggannya yang mungkin sedang berada di mal yang sama melihatnya berbicara dengan seorang tukang pijat keliling yang tampak kumal. Reno sengaja memutar arah langkahnya secara drastis, menaikkan kerah jas mahalnya sedikit lebih tinggi untuk menutupi sebagian wajah, dan melangkah pergi dengan cepat. Sepatu kulit buatan Italia-nya yang berbunyi tuk-tuk di atas lantai marmer yang berkilau seolah sedang menginjak-injak kenangan masa lalunya yang "miskin namun jujur". Ia lari dari cermin masa depannya jika ia tetap memilih jalan integritas. "Integritas tidak memberiku mobil ini. Kejujuran tidak membelikanku jam tangan ini. Dunia ini hanya menghargai mereka yang punya uang, bukan mereka yang punya moral," batin Reno dengan dingin, berusaha keras membungkam suara hati kecilnya yang meronta kesakitan di pojok batinnya. Menuju Kehampaan yang Berkilau Ia telah sepenuhnya merangkul identitas barunya sebagai seorang oportunis gairah. Ia tahu betul bahwa bisnis "pemuasan" ini memiliki masa kedaluwarsa yang pasti—seiring dengan bertambahnya usia, menurunnya stamina tubuhnya, dan munculnya pesaing-pesaing muda yang lebih segar. Karena itu, ia bertekad untuk mengeruk sebanyak mungkin keuntungan, mengumpulkan sebanyak mungkin harta, selagi ia masih berada di puncak performa fisiknya. Ia ingin membangun benteng kekayaan yang cukup kuat untuk melindunginya dari kemiskinan di masa tua nanti. Setiap kali ia melangkah masuk ke kamar hotel baru sekarang, ia tidak lagi membawa semangat atau niat mulia untuk menyembuhkan pegal-pegal atau penyakit seseorang. Ia membawa insting seorang pemangsa yang haus akan "Abalone" berikutnya sebagai koleksi trofi dalam jurnal rahasianya, dan tentu saja, amplop cokelat tebal berikutnya yang akan membiayai segala kemewahan hidupnya yang semu. Reno telah menjadi produk sempurna dari sisi gelap Jakarta—sebuah kota yang mampu mengubah seorang pemuda lugu menjadi monster yang haus akan validasi materi. Ia mungkin telah kehilangan jiwanya di tengah koridor-koridor hotel yang dingin dan sunyi, namun saat ia bercermin di pagi hari, ia merasa sangat nyaman dan terlindungi dalam balutan pakaian bermereknya yang mahal. Baginya, harga sebuah jiwa ternyata bisa dikonversi menjadi angka-angka di saldo bank, dan untuk saat ini, angka-angka itu terlihat jauh lebih menarik daripada nurani yang mulai membusuk. Ia memacu sedan hitamnya keluar dari parkiran mal, menuju hotel berikutnya. Di sana, di Kamar 3012, seorang wanita lain sudah menunggu sentuhannya. Reno mengatur napasnya, memasang wajah "penyembuh" yang tenang, dan melupakan sejenak tentang Pak Surya, tentang kejujuran, dan bahkan tentang Clara. Untuk saat ini, hanya ada dia, uang, dan kesenangan yang harus ia kurasi dengan sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD