Sosok Clara

1997 Words
Hingga detik ini, Reno selalu merasa memegang kendali penuh atas hidupnya. Di dalam kepalanya, ia telah menyusun sebuah hierarki yang jelas, sebuah piramida kekuasaan di mana ia berdiri di puncaknya sebagai subjek—sang pemangsa yang cerdas, strategis, dan tak tersentuh secara emosional. Para pelanggannya, dari pengusaha sukses hingga istri pejabat, hanyalah objek dalam eksperimen besarnya. Mereka adalah variasi "Abalone" yang ia koleksi dalam memorinya seperti spesimen langka di dalam laboratorium gairah yang steril. Ia bangga pada kemampuannya untuk memisahkan antara gesekan kulit dan debaran jantung. Baginya, tubuh adalah mesin yang bisa dimanipulasi, dan ia adalah mekanik terbaik di Jakarta. Namun, semua perhitungan logis, strategi pemasaran diri yang rapi, dan dinding pembatas profesional yang ia bangun dengan angkuh selama berbulan-bulan mulai goyah. Segalanya berawal saat ia menerima sebuah pesanan melalui jalur referensi yang tidak biasa, menuju sebuah apartemen studio modern dengan desain industrial di kawasan Senopati. Kawasan yang biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha tampil "mahal", namun di blok ini, suasananya terasa berbeda—lebih jujur, lebih hidup. Namanya Clara. Usianya mungkin baru dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun. Berbeda jauh dengan pelanggan Reno sebelumnya yang rata-rata adalah wanita matang dengan beban hidup yang berat, rahasia rumah tangga yang kelam, atau kesepian yang mengakar di balik tembok rumah mewah. Clara adalah representasi dari jiwa muda yang bebas, liar, dan benar-benar tidak terduga. Ia adalah anomali dalam katalog Reno yang selama ini didominasi oleh trauma dan kepalsuan. Atmosfer yang Berbeda Saat Reno pertama kali melangkah masuk ke unit apartemennya, ia tidak disambut oleh aroma parfum klasik yang berat atau musik meditasi yang membosankan dan repetitif—jenis musik yang biasanya diputar untuk menutupi kecemasan batin. Ruangan itu dipenuhi aroma kopi cold brew yang kuat dan alunan musik indie-pop yang ceria dengan dentum bas yang ringan. Tidak ada lampu remang yang sengaja disiapkan untuk menciptakan suasana erotis yang dipaksakan. Ruangan itu terang, penuh dengan cahaya matahari sore yang menembus jendela besar, memperlihatkan debu-debu yang menari dan tumpukan buku desain yang berserakan. Clara berdiri di sana, hanya mengenakan kaos oversized putih yang menutupi celana pendeknya, dengan rambut hitam yang dicepol asal-asalan menggunakan pensil, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang jenjang. "Eh, Mas Reno ya? Masuk, Mas! Sori ya, berantakan banget, habis begadang ngerjain projek desain karakter buat gim," ucap Clara dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi rapi dan lesung pipit yang manis. Suaranya renyah, tidak ada nada memerintah atau nada menggoda yang dibuat-buat. Reno terpaku sejenak di ambang pintu. Tangannya yang memegang tas pijat terasa kaku. Ada aura kesegaran yang selama ini tidak ia temukan pada Shinta yang melankolis, Maya yang kaku, atau Nyonya Rosa yang dominan. Clara tidak terlihat seperti wanita yang butuh "disembuhkan" dari depresi atau "dipuaskan" karena diabaikan suaminya; dia terlihat seperti seseorang yang sedang berada di puncak energinya dan hanya ingin memanjakan diri setelah bekerja keras. "Silakan bersiap, Mbak Clara. Saya siapkan alat-alatnya dulu," ujar Reno, berusaha keras menarik kembali topeng profesionalnya yang mulai retak. Ia membuka tas kanvasnya, namun ia merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena adrenalin seorang pemburu yang melihat mangsa, melainkan karena rasa gugup yang asing, rasa gugup yang biasanya hanya dialami oleh seorang remaja saat kencan pertama. Kejujuran Tanpa Topeng Saat sesi dimulai, Clara terbukti menjadi pelanggan yang paling cerewet yang pernah Reno tangani—namun dalam artian yang sangat positif. Sepanjang sesi pijat bahu, ia tidak berhenti bercerita. Ia berbicara tentang kerumitannya menentukan palet warna untuk kliennya, tentang tingkah konyol kucingnya yang bernama 'Mochi' yang suka menjatuhkan gelas, hingga tentang kegagalannya membuat kue brownies kemarin malam yang berakhir gosong karena ia ketiduran. Reno, yang biasanya hanya menjadi pendengar pasif yang memberikan gumaman sopan untuk menjaga jarak, entah mengapa mulai ikut tertawa. Ia mendapati dirinya menanggapi cerita-cerita konyol Clara, menceritakan sedikit tentang pengalamannya terjebak macet di Jakarta, hal-hal sepele yang biasanya ia anggap tidak penting untuk dibicarakan dengan klien. "Mas Reno kok ganteng banget sih jadi tukang pijat? Serius, kenapa nggak jadi model atau main sinetron aja? Atau jangan-jangan Mas ini agen rahasia yang lagi menyamar?" tanya Clara blak-blakan dengan nada bercanda saat Reno sedang menekan otot trapezius-nya yang tegang. Reno tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah di balik masker yang kini terasa sangat menyesakkan. "Saya lebih suka bekerja dengan tangan saya, Mbak. Ada kepuasan tersendiri bisa melihat orang yang tadinya meringis kesakitan jadi bisa tersenyum lagi." "Tapi tangan Mas emang ajaib sih. Pas banget tekanannya. Aku berasa kayak lagi dipijat sama malaikat yang baru turun dari langit Senayan," sahut Clara sambil mendesah nyaman, menutup matanya sejenak menikmati aliran relaksasi yang menjalar. Saat tiba saatnya untuk pijat seluruh tubuh, Clara berbalik tanpa ragu sedikit pun. Ia melepas kaos oversized-nya di depan Reno—sesuatu yang biasanya dilakukan pelanggan lain dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menggoda, atau justru dengan rasa malu yang dibuat-buat agar dipuji. Namun Clara melakukannya dengan sangat natural, seolah telanjang di depan seorang pria adalah bentuk kejujuran tubuh yang murni, sebuah pernyataan bahwa dia nyaman dengan dirinya sendiri. Bunga Liar di Musim Semi Saat Reno mulai mengoleskan minyak almond di kulit Clara, ia merasakan perbedaan tekstur yang signifikan di bawah telapak tangannya. Kulit Clara sangat kenyal, kencang, dan memiliki aroma alami yang manis, seperti kombinasi antara bayi yang baru mandi dan wangi sabun buah-buahan. Tidak ada lapisan makeup tebal, tidak ada krim antipenuaan yang berbau kimia, tidak ada usaha untuk menyembunyikan usia. Dan ketika jemari Reno yang mahir sampai pada "pusat gravitasi" yang selalu menjadi titik fokus obsesinya, ia menemukan sebuah kejutan yang membuat napasnya tertahan. "Abalone" milik Clara sangat berbeda dari semua yang pernah ia catat dalam jurnal rahasia "The Abalone Collection". Jika milik Shinta adalah permata klasik yang elegan dan penuh pengalaman, milik Maya adalah karya seni yang simetris dan dingin, maka milik Clara adalah bunga liar yang baru saja mekar di musim semi. Warnanya merah muda cerah, bersih, dan tampak begitu polos namun secara paradoks sangat menantang karena kemurniannya. Namun, ada sesuatu yang berubah secara mendasar dalam diri Reno malam itu. Biasanya, otak "kriminalnya" akan segera bekerja secara otomatis. Ia akan menghitung ritme sentuhan, memikirkan teknik uap air atau minyak hangat mana yang akan membuat pelanggan ini bertekuk lutut dan memberikan amplop tambahan yang lebih tebal. Tapi saat menatap Clara yang terpejam dengan wajah damai, keinginan itu muncul murni dari rasa suka yang tulus. Ada dorongan untuk melindungi, bukan sekadar mengeksploitasi. Ketertarikan itu terasa seperti gravitasi yang menarik jiwanya, bukan sekadar libido yang membakar kulit. "Mas... pijatnya jangan selesai dulu ya. Aku suka banget sentuhan tangan Mas. Terasa... hangat. Bukan cuma di kulit, tapi sampai ke sini," bisik Clara sambil perlahan meraih jemari Reno dan meletakkannya di dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. Ia membuka matanya dan menatap Reno. Ia tidak menatap dengan tatapan predator lapar seperti Nyonya Farida atau tatapan menuntut seperti Clarissa; ia menatapnya dengan binar kekaguman yang jujur, seolah Reno adalah seorang seniman yang baru saja menyelesaikan mahakarya di tubuhnya. Manusia di Balik Profesi Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia terjun ke dunia gelap kamar-kamar hotel, Reno benar-benar menikmati hubungan tersebut secara pribadi. Ia benar-benar lupa memikirkan tarif per jam, lupa memikirkan target bulanan, atau amplop cokelat yang biasanya ia incar dengan licik. Saat ia mulai memberikan "layanan lebih" kepada Clara, ia melakukannya dengan perasaan yang bergejolak hebat—sebuah kombinasi antara gairah yang membakar dan ketertarikan emosional yang sudah lama ia anggap mati di dalam hatinya. Sentuhannya bukan lagi manipulasi teknis, melainkan sebuah percakapan antara dua jiwa yang merasa cocok satu sama lain. Mereka tidak berakhir begitu saja setelah sesi selesai. Biasanya, Reno akan segera membersihkan peralatan, menerima pembayaran, dan menghilang ke balik pintu kamar hotel menuju pelanggan berikutnya. Namun Clara, dengan sifat ramahnya, justru menahan Reno. Ia membuatkan Reno segelas cokelat hangat dengan marshmallow kecil di atasnya. Mereka tidak berpisah di depan pintu; sebaliknya, mereka duduk bersama di balkon apartemen yang sempit namun nyaman, dikelilingi oleh tanaman hias gantung dan lampu-lampu tumblr yang berkelap-kelip. Mereka menatap kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai belasan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Reno merasa dirinya kembali menjadi manusia—Reno yang dulu, pemuda yang suka bercanda, punya mimpi membangun bisnis legal, dan percaya pada cinta—bukan sekadar "alat pemuas" yang disewa per jam oleh wanita-wanita kaya yang kesepian. "Mas Reno, minggu depan ke sini lagi ya? Tapi jangan cuma bawa tas pijat itu. Aku mau kita nonton film bareng di sini, atau kita keluar makan ramen enak di bawah. Aku bosan kalau cuma ngomongin otot yang tegang," ucap Clara sambil menyandarkan kepalanya di bahu Reno yang kokoh. Tangannya melingkar di lengan Reno, mencari kehangatan. Dilema dan Lumpur Hitam Di satu sisi, ia merasa sangat bahagia. Sebuah kebahagiaan sederhana yang tidak bisa dibeli dengan uang hasil "berburu" selama ini. Duduk di balkon dengan seorang gadis jujur seperti Clara terasa jauh lebih mewah daripada berada di kamar Presidential Suite dengan wanita manapun. Namun di sisi lain, sebuah ketakutan yang pekat mulai merayap di dadanya, seperti cairan hitam yang mengotori air yang jernih. Clara adalah udara segar yang ia butuhkan, tapi pekerjaannya... pekerjaannya adalah lumpur hitam yang pekat dan berbau amis. Setiap kali ia menyentuh Clara, ia teringat bahwa tangan yang sama telah menyentuh puluhan wanita lain dengan niat yang busuk. Ia teringat akan "Koleksi Abalone"-nya. Ia teringat akan manipulasi uap airnya. Ia teringat betapa ia sering menertawakan kebodohan para wanita kaya di belakang mereka. Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan nada yang menyakitkan: apakah pria seperti dia—seorang p*****r pria terselubung yang sudah terbiasa dengan "ketagihan" dari satu kamar hotel ke kamar hotel lain—masih layak mendapatkan sesuatu yang semurni dan sejujur Clara? Jika Clara tahu apa yang ia lakukan di kamar 1509 dengan Maya, atau apa yang ia lakukan di bawah uap air dengan Nyonya Rosa, apakah gadis ini masih mau menyandarkan kepalanya di bahunya? Pintu Nurani yang Terbuka Malam itu, Reno pulang ke kosannya tidak dengan senyum kemenangan seperti biasanya. Tidak ada rasa bangga saat ia menghitung uang di dalam tasnya. Sebaliknya, ia merasa bimbang yang menyiksa. Sosok Clara mulai menghantui pikirannya setiap detik. Bayangan tawa Clara perlahan-lahan menggeser bayangan Shinta, Maya, dan pelanggan-pelanggan kayanya yang lain. Kamar-kamar hotel yang dulu ia anggap sebagai istana pribadinya, kini mulai terasa seperti penjara yang pengap dan menjijikkan. Reno mulai sadar akan sebuah kebenaran baru yang mengerikan: ketagihan pada gairah fisik adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan dengan logika dan jam terbang. Ia bisa berhenti kapan saja jika ia mau, pikirnya. Tapi ketagihan pada seseorang yang menyentuh hatinya... itu adalah masalah yang jauh lebih rumit. Di dalam kegelapan kamarnya, Reno menatap tas pijatnya yang tergeletak di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benci pada benda itu. Ia merasa kotor oleh minyak-minyak mahal yang ia beli, merasa jijik pada keahlian tangannya sendiri. Clara telah membuka sebuah pintu yang selama ini Reno kunci rapat-rapat: pintu menuju nurani yang sudah lama berdebu. Ia teringat janji kencan yang ditawarkan Clara. Menonton film? Makan ramen? Hal-hal itu terdengar sangat indah sekaligus sangat menakutkan. Jika ia melanjutkan hubungannya dengan Clara, ia harus menjalani hidup ganda yang lebih berbahaya dari sebelumnya. Ia harus berbohong setiap hari. Ia harus mencuci tangannya berkali-kali seolah-olah aroma wanita-wanita lain itu bisa hilang hanya dengan sabun. Reno mematikan lampu kamarnya, namun pikirannya tetap terang benderang oleh bayangan wajah Clara. Ia kini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi adalah jalan yang sudah ia kuasai: jalan menuju kekayaan, kemewahan kamar hotel, dan kekuasaan atas tubuh wanita-wanita haus gairah. Di sisi lain adalah jalan setapak yang sempit dan belum pasti: jalan menuju Clara, jalan menuju penebusan dosa, dan jalan menuju dirinya yang sebenarnya. "Aku nggak boleh jatuh cinta," bisiknya pada kegelapan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa benteng pertahanannya sudah runtuh sejak detik pertama ia mencium aroma kopi cold brew di apartemen Clara. Reno, sang penakluk kamar hotel, kini menyadari bahwa ia baru saja ditaklukkan oleh kesederhanaan. Dan ia tidak tahu apakah ia harus menyerah pada rasa itu, atau lari sejauh mungkin sebelum lumpur hitam di tangannya ikut mengotori bunga liar yang baru saja ia temukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD