Milk dan Orreo melesat di langit. Mereka melayang bersebelahan, menyibak udara, dan sesekali menembus awan-awan putih. Orreo memegang boks besar. Akhirnya setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer, mereka sampai di Terre D'ordure.
"Aku harap belum terlambat, Orreo," ujar Milk pada Orreo yang telah mendarat lebih dulu.
Milk dan Orreo berjalan lalu masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, Milk tersentak tidak mendapati ketiga kawannya berada di sana. Apalagi tabung pengisi energi yang tadi ditempati Sodda, tampaknya dibuka dengan paksa. Di dinding tabung, kabel-kabel terurai dari kotak sirkuit. Pintu tabung miring lantaran sebagian penyangganya patah.
"Apa yang terjadi?" gumam Milk, tidak percaya dengan yang dia saksikan.
Orreo mengetuk bahu Milk dan membuatnya menoleh ke kotak komunikasi Orreo. "Aku menemukan ini."
Milk mengambil serpihan kursi Cloud dari tangan Orreo. "Pasti suruhan pemerintah yang menangkap mereka. Tapi, bagaimana mereka bisa tahu kita bersembunyi di sini?"
Milk mencerna pikirannya. Berbagai kemungkinan terlintas cepat di kepalanya. Dari semua kemungkinan hanya satu yang paling mungkin memberitahu tempat itu.
"Dasar pengkhianat," ujar Milk geram. "Orreo, cepat lacak lokasi tempat daur ulang terdekat!"
Kepala Orreo berputar dan berhenti tepat ke arah tenggara. "Kota Nice."
"Ayo! Kita harus segera ke sana!" Milk berlari ke luar diikuti Orreo dari belakang.
***
Di dekat Kota Nice. Orange dan Cloud melesat menyibak udara. Sementara itu Splash berada di dalam ruang kendali Orange. Sebagian kaleng-kaleng di badan Cloud telah digantikan besi berteknologi mutakhir. Hanya bagian tangannya saja yang masih menggunakan kaleng rongsok.
Tak lama kemudian mereka menukik, saat memasuki perbatasan lalu mengurangi kecepatan. Bangunan-bangunan pencakar langit tampak di sekitar mereka. Mereka terus melayang di udara, sambil memperhatikan daerah di sekelilingnya.
"Orange, lacak lokasi tempat daur ulang itu," perintah Splash dari ruang kendali.
Orange berpendar, bersamaan dengan angka dan titik koordinat yang bergerak cepat di layar dalam ruang kendali. Sesaat kemudian gambar berhenti dan menunjukkan satu lokasi.
"Satu kilometer ke arah timur," tukas Orange.
"Sebaiknya kita tambah kecepatan, atau kita terlambat menyelamatkan Sodda." Tanpa menunggu jawaban, Cloud melesat secepat kilat.
"Cih! Gegabah!" Splash menekan tombol hologram di lengan kursi. "Aku sudah mengaktifkan turbo. Orange, cepat susul Profesor Reufille!"
Beberapa menit kemudian mereka melayang memasuki satu komplek yang menyerupai tempat industri. Di sekitar mereka banyak mesin-mesin besar yang sedang melindas; melumat; menghancurkan android-android menjadi serpihan. Melihat itu semua, ketiganya menjadi geram.
"Kurang ajar!" Splash memukul lengan jursi kuat-kuat.
"Kuharap Sodda belum dihancurkan mesin-mesin itu." Orange menimpali.
"Mesin-mesin itu tidak dapat menghancurkan android seperti Sodda. Pasti dia akan dihancurkan dengan teknologi yang lebih canggih," tukas Cloud.
Pandangan Cloud mengedar dan berhenti di satu bangunan. Bangunan itu berbeda dengan bangunan-bangunan perak di sekitarnya. Bangunan itu berbentuk heksagonal; dindingnya terbuat dari baja hitam; Tidak ada jendela di permukaannya, dan hanya ada satu pintu di bagian muka bangunan; ukurannya lebih besar dibandingkan bangunan lain.
"Kita mendarat di sana." Cloud menunjuk jalanan gelap yang diapit dua bangunan menjulang yang tidak dijaga ketat.
Ketiganya menurunkan kecepatan lantas mendapat di jalanan itu. Pintu ruang kendali Orange terbuka, kemudian Splash melompat ke luar. Splash segera memasang sarung tangan bionik di kedua tangannya.
"Orange, coba deteksi keberadaan para penjaga."
"Aye." Orange segera melaksanakan perintah Splash. Sayang, beberapa saat kemudian upayanya tak menemukan hasil. "Pendeteksiku tidak berfungsi."
Cloud mengedarkan pandangan, melihat bangunan di sekitarnya. "Bukan tidak berfungsi. Tapi bangunan-bangunan titanium di sekitar kita ini melemahkan sinyal.
Orange mengangguk setuju. "Aku pikir begitu."
"Ayo, kita harus bergegas."
Mereka mengendap-endap sampai di ujung jalan. Selama beberapa saat mereka mengamati keadaan di sekeliling. Setelah merasa aman, mereka melintas ke seberang. Di seberang jalan mereka kembali melintas. Kali ini usaha mereka berhasil lagi.
"Ada yang aneh," gumam Splash, curiga.
Cloud mengangguk. "Aku juga berpikir begitu. Kita jangan sampai mengendurkan kewaspadaan."
Mereka kembali berjalan sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam bangunan heksagonal. Pandangan mereka menyapu sekitar, sampai akhirnya terpaku pada kaca besar di dinding yang ada di sebelah kiri mereka.
Cloud tersentak. "Sodda."
Ketiganya bergegas ke kaca itu. Di balik kaca tampak Sodda terbelenggu dengan tangan dan kaki terikat laser. Keadaan Sodda makin miris. Bagian tubuhnya yang rusak sudah benar-benar tidak berfungsi. Lampu di dadanya redup, menunjukkan sebentar lagi seluruh sistemnya mati total.
"Bagaimana caranya masuk ke sana?"
Cloud, Splash dan Orange mencari-cari pintu di sekitar mereka, tetapi tak menemukannya. Cloud makin panik. Air matanya mengalir deras.
"Sodda!" Cloud memukul kaca keras-keras.
"Profesor, jangan sampai mereka mendengar kita!" Splash mengguncang bahu Cloud, tetapi Cloud segera menepisnya.
"Aku tidak peduli! Sodda!" Cloud terus memukul-mukul kaca.
Kebisingan itu membuat Sodda mendongak. Dia menatap Cloud dengan lengkung mata turun serupa bibirnya. Cairan hitam menetes dari matanya. Dadanya berderit lirih melihat Cloud berada di sana.
"Pergi ..., pergilah, Cloud ...," ucapnya lirih.
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpamu, So—"
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki tergelak, disusul suara langkah-langkah berderap yang mendekati mereka. Sontak, Cloud, Splash dan Orange melihat ke belakang. Mereka telah terkepung oleh puluhan polisi. Di antara mereka ada seorang laki-laki tua bersama android berbentuk eskrim. Ya, mereka adalah Ice dan Cream.
"Kabarnya kamu adalah salah satu manusia paling genius yang pernah ada." Ice menatap dingin ke arah Cloud. "Tapi bagiku kamu adalah orang ber-IQ paling jongkok. Harusnya kamu tahu, peluang menyelamatkan androidmu nol! Tapi kamu malah datang. Itu berarti kamu berniat menyerahkan diri."
Ice mengalihkan pandangan ke arah Splash dan Orange seraya tersungging. "Kedatangan kalian benar-benar memudahkanku. Sebentar lagi aku akan mendapat hadiah, sekaligus kenaikan jabatan karena bisa membekuk tiga buronan pemerintah."
"Lepaskan Sodda! Biarkan aku menjadi penggantinya!" bentak Cloud.
Ice terkekeh mendengar kata-kata Cloud. "Pemerintah menginginkan kalian, bukan salah satunya saja."
"Tapi lihatlah keadaan Sodda! Mesin-mesinnya sebentar lagi rusak, dan tidak akan bisa diperbai—"
"Profesor, percuma meyakinkan mereka. Satu-satunya cara,"—Splash mengangkat tangannya ke arah Ice—"mengalahkan mereka."
"Ah, tampaknya ada yang lebih d***u daripada kamu, Profesor Reufille. Tak tahukah kalian kalau aku dan Cream merupakan pasukan elit?" Ice menyeringai mengangkat tangannya ke udara.
Perlahan-lahan dari tangannya muncul bola es. Di saat yang sama, eskrim berputar seperti gasing, di tempatnya.
"Kalian diam dan jangan ada yang membantu. Aku ingin bersenang-senang," perintah Ice pada pasukannya.
"Aku sama sekali tidak peduli. Kalau kalian tidak menerima penawaranku, lebih baik bertarung mati-matian." Cloud mengangkat tangan bionik buatan Splash ke arah Ice.
***