8

1810 Words
Ice melemparkan bola es ke arah Cloud, Splash dan Orange. Cloud, Splash dan Orange berkelit sambil menembak, tetapi serangan itu dengan mudah dihindari Ice. Tepat pada saat itu Cream melemparkan krim ke arah ketiga lawannnya. Sayang, Cloud terlambat dan mengenai kakinya sampai merekat ke lantai. Sementara itu kecepatan Splash dan Orange berkelit dan menerjang Cream. Gerakan keduanya sangat cepat, sehingga Cream tak sempat berkelit. Serangan keduanya menimbulkan ledakan dan membuat lantai hancur; debu-debu berhamburan dan memenuhi udara; sebagian polisi yang terkena hempasan dan terluka. "Wuhu!" Splash melonjak girang. Tiba-tiba terdengar Ice terkekeh seiring debu yang berangsur-angsur pudar. Splash dan Orange terkejut melihat perisai es menyelubungi Ice dan Cream. Di sisi lain, diam-diam Cloud memanaskan sepatu botnya, membuat krim melumer. "Kalian pikir serangan itu bisa mengalahkan kami?" Ice kembali tergelak. Splash tersungging. "Kami belum mengerahkan kekuatan yang sebenarnya. Orange!" Orange membuka ruang kendali. Belum sempat Splash masuk, Ice menembak ke arah Splash. Tembakannya meluncur deras, tetapi tiba-tiba tembakannya berbelok dan menghantam dinding. Semua yang ada di sana tersentak. Mereka tidak menyangka Cloud menembak dan membelokkan serangan Orange. "Kamu .... Sepertinya aku harus serius. Cream!" Mereka melihat mata Ice menyala-nyala menatap tajam. Gigi-giginya bergemeretak. Hawa membunuh menguar di sekelilingnya. Serangan tadi memang tidak mampu membuatnya gentar, tetapi telah membuat kemarahannya memenuhi seluruh dadanya. Cream melumer dan menempel di badan Ice. Perlahan-lahan Ice membuat krim beku sehingga sampai menjadi baju zirah. Pada saat bersamaan, Splash menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam Orange. Ice mengedarkan pandangan ke arah Orange dan Cloud. "Majulah. Akan kuhancurkan kalian sekaligus." "Baiklah kalau itu maumu!" Orange melesat ke arah Ice. Bersamaan dengan itu, Cloud merangsek ke arah Ice. Alih-alih menghindar, Ice tetap di tempat. Pada saat serangan Orange dan Cloud hampir mengenainya, krim di badan Ice melesat dan membungkus Orange dan Cloud. Keduanya tidak bisa bergerak dan terbelenggu. Pada saat itulah Ice melemparkan bola eskrim. Bola eskrim menggelinding di udara; energi yang menyelubunginya begitu besar, dan menghunjam keras. Ledakan itu mengguncang seluruh area. Lantai berserakan, bahkan sebagiannya menjadi serpihan. Debu tebal menutupi pandangan. Cloud dan Orange terhempas sampai menjebol dinding bangunan. Ice tak menghentikan serangan. Dia mengentakkan kaki, lalu dari tubuhnya keluar krim warna-warna. Sedetik kemudian krim itu melesat ke arah ke empat lawannya. Bukan hanya besar dan berkuatan dahsyat, krim itu pun memiliki kecepatan bak kilat. Saat krim itu hampir menghantam Cloud dan Orange, sebuah bangunan rubuh dan mendera krim itu sampai lenyap tak berbekas. "Masih ada kami!" seru Milk dari salah satu atap bangunan. Dia bersama Orreo yang berdiri di salah satu atap bangunan. Rupanya mereka sengaja menembak dari sana untuk merubuhkan bangunan. "Milk, Orreo!" seru Cloud, tak menyangka dua temannya datang. "Bagus! Makin banyak buronan muncul, makin memudahkan kepolisian!" teriak Ice sambil memutar tangan di udara. Tak lama kemudian dari putaran itu terbentuk krim bulat dan pipih berwarna kuning cerah. "Hati-hati! Energinya besar sekali!" Cloud berseru, mengingatkan kawan-kawannya akan kekuatan mengerikan Ice. Di antara semua orang, sesungguhnya Cloud yang paling tahu Ice. Sebagai Profesor paling genius, dia bisa memperkirakan kekuatan lawan hanya dari melihat energinya. Sayang, meskipun demikian, dia tidak bisa menakar kekuatan Ice dengan pasti. Kekuatan Ice sungguh di luar yang dia pikirkan. Ice melemparkan krim itu dan membuatnya melesat cepat. Suara krim itu memekakkan pendengaran. Hanya dari suaranya saja sudah membuat konsentrasi lawan-lawannya buyar. Orreo segera tanggap. Dia menghimpun energi untuk membendung suara itu. Tangan Orreo mengayun dan menancapkannya ke lantai sampai berlubang. Tak lama kemudian berpendar cahaya putih terang yang menghalau cahaya yang dilemparkan Ice. Bahkan cahaya energi itu berbalik arah. Alih-alih takut, Ice justru tergelak. "Itu hanya tipuanku belaka!" Sontak mereka semua terkejut. Sayang semuanya sudah terlambat. Krim ungu melesat dari belakang dan mendera Cloud dan kawan-kawan. Beruntung, sekali lagi Orreo berhasil melindungi teman-temannya dengan bola energi yang menyelubungi mereka. Upaya Orreo kali ini benar-benar tidak disangka Ice. "Orreo, Milk, kalian benar-benar pasangan luar biasa." Sudut bibir Milk terangkat. "Kalau tahu tidak akan menang, bebaskanlah Sodda atau kamu akan menyesal." Ice terkekeh. "Kamu pikir aku menyerah? Jangan mimpi! Aku akan menangkap kalian!" Ice mengentak kakinya dan membuat krim menyiprat ke lantai. Sedetik kemudian muncul bayangan yang membentuk lima sosok berbentuk seperti dirinya. Kelimanya berbentuk krim warna-warni. "Aku ingin tahu, dapatkah kalian melawan enam orang Ice sekaligus?!" Tentu saja itu membuat semua lawannya terkejut. "Bagaimana cara menghadapinya?" tanya Splash yang tampak sangat cemas. "Aku tidak pernah menyangka kalau dia memiliki kekuatan yang sangat menakutkan seperti ini," sahut Milk. Cloud bergeming. Kerutan di dahinya makin kentara. "Teman-teman gunakan perisai kalian." Milk dan Splash terhenyak. Mereka saling bertukar pandang sesaat. Cloud maju ke depan sambil memutar tangan kalengnya. "Apa yang akan kamu lakukan, Cloud?" tanya Milk. Cloud tersungging. "Aku akan menghabisinya. Tapi bisa jadi aku tidak akan selamat. Yang paling penting selamatkanlah Sodda." Bersamaan dengan usainya kata-kata itu, energi listrik berkilatan dan membungkus Cloud. Beberapa detik kemudian seluruh tubuhnya diselubungi cahaya putih. Cloud mengangkat tangannya ke arah Ice. Energi Cloud menghempas udara di sekitarnya. Semua orang tahu, energi itu sangat luar biasa. Demikian pula dengan Ice yang tampak gentar. "Serang!" Ice berseru memerintahkan lima bayangannya menyerang Cloud. Kelimanya menghambur dengan cepat. Belum sampai mereka berhasil menyentuh, kelimanya sirna dihempaskan energi Cloud. Ice makin panik. "t***l! Jangan diam saja! Cepat bantu aku!" Pasukan polisi memberondong Cloud, tetapintak ada satu pun yang berhasil mengenai Cloud. "Bodoh!" Ice melompat lalu menukik sambil mengarahkan tangannya ke Cloud. "Akan kuhancurkan kalian!" "Jangan harap!" Cloud mengentakkan kaki. Bersamaan dengan itu, melesatlah energi besar ke segala arah. "Perisai!" seru Milk mengingatkan teman-temannya. Hanya dalam sekejap energi itu berhasil memorak-porandakan pasukan polisi. Sebagian besar di antara mereka luka berat; sebagian lainnya sirna tak berbekas. Sementara itu Ice terhempas ke tanah dengan keras. Keadaan di sekitar hancur; bangunan-bangunan dan mesin-mesin berat pun rusak parah. Sirene meraung-raung di komplek daur ulang. Keberhasilan Cloud tak ayal membuat teman-temannya gembira. "Yes!" seru Splash. "Cloud! Kamu luar bi—" Belum sempat kalimat Milk tuntas, Cloud terduduk dan muntah darah. Teman-temannya segera menghampirinya. "Kamu tidak apa-apa?" Cloud mengangguk lemah. "Bawa aku ke tempat Sodda." Milk dan Orreo membantu Cloud berdiri lalu memapahnya menuju bangunan heksagonal. Saat mereka sedang melangkah, terdengar suara di belakang mereka. "Kalian tidak akan bisa menyelamatkan Sodda." Cloud dan kawan-kawan tersentak, dan menoleh ke belakang. Mereka melihat Ice menekan hologram di tangannya sebelum akhirnya tewas. Tak lama kemudian terdengar suara dari speaker di seantero komplek daur ulang. "Android 50DD4 dalam sepuluh detik lagi akan dihancurkan. Sepuluh ..., sembilan ..., delapan ...." "Tidak ..., Sodda ...." Cloud bergetar. "Cepat!" Serta-merta Milk dan Orreo melesat sambil membawa Cloud ke dalam bangunan heksagonal. Setibanya di sana mereka makin panik. Sudah berulang kali Milk, Orreo, dan Spalsh menembak kaca, tetapi kaca sama sekali tidak tergores alih-alih pecah. "Jangan ...." Suara Cloud bergetar. Cloud dan Sodda saling bertatapan nanar. Sodda tersenyum getir. "Terima kasih, Cloud." Bersamaan dengan itu, puluhan laser ditembakkan dari segala penjuru dan menghancurkan Sodda. "Sodda!" Cloud menjerit pilu menyaksikan sahabat baiknya; android ciptaannya; juga sosok yang menyelamatkannya itu hancur. *** Dua jam kemudian Cloud, dan kawan-kawan berada di tumpukan puing-puing. Mereka mengais-ais besi-besi android yang telah dihancurkan. "Cloud, sudahlah. Kita tidak.akan menemukannya," ujar Milk. Cloud menggeleng lemah. Kendati tenaganya hampir habis, dia berusaha mencari bagian-bagian tubuh Sodda. "Cloud, pemerintah pasti mengirim pasukan ke sini untuk menangkap kita. Kalau kita tidak segera per—" "Inikah yang kamu cari?" Splash mengangkat potongan lengan. Cloud buru-buru memeriksanya. "Ini tangan Sodda! Di mana kamu menemukannya?" Splash melayangkan pandangan ke tumpukan besi di seberangnya. "Di sana." Cloud tergopoh-gopoh berjalan ke tumpukan yang ditunjuk Splash. "Cepat bantu aku!" Akhirnya setelah beberapa menit, beberapa bagian tubuh Sodda berhasil ditemukan. "Untuk apa Profesor Reufille mengumpulkan bagian-bagian Sodda? Semuanya telah rusak dan tidak bisa dipakai," ucap Splash pada Milk yang melihat Cloud sedang memasukkan bagian-bagian itu ke dalam ruang kendali Orange. Milk menghela napas panjang seraya mengangkat bahu. "Entahlah ...." *** Di Paris, tepatnya Istana Presiden. Presiden mengumpulkan jajarannya di ruang rapat kepresidenan. Tak kurang dari Wakil Presiden, 24 Menteri dan 3 orang Jendral berkumpul di sana. Kejadian di tempat daur ulang Kota Nice menjadi topik pembahasan mereka. Presiden Storm menyelisik hadirin satu demi satu. Wajahnya tampak serius sekaligus marah. Kejadian di Kota Nice telah mencoreng nama baiknya di dunia internasional. "Ada yang tahu kenapa bisa terjadi kejadian memalukan di Kota Nice?" tanya Presiden Storm, dingin. Jajaran Menteri dan Jendral tidak ada yang berani menjawab. Mereka membisu sambil menunduk dalam-dalam. "Kenapa semua itu bisa terjadi?" ulang Presiden Storm. "Kenapa tidak ada yang menjawab? Atau kalian ingin kucopot dari jabatan?" "Pre-Presiden." Jendral Volt mengangkat tangan, takut-takut. Presiden Storm melemparkan pandangan. "Sebutkan, Volt." "Kami sudah mengirimkan pasukan un—" "Bukan itu yang aku tanya!" Preside Storm memukul meja keras-keras. "Apa kamu tidak tahu maksud pertanyaanku?" Volt tidak bisa berkata-kata dan kembali menunduk. Wajahnya pucat pasi. Dia tahu menyulut kemarahan Presiden Storm bisa membahayakan jabatannya. "Kamu, Volt! Ya, kamu! Kamu Jendral yang tidak becus! Kalian semua sama-sama tidak becus!" Presiden Storm berdiri lalu berjalan mengelilingi ruang rapat. "Hanya menangkap ilmuwan-ilmuwan dan android rongsok saja tidak sanggup! Bahkan mereka berhasil menghancurkan tempat daur ulang kita! Seluruh dunia melihat Prancis sebagai salah satu negara adidaya! Tapi kejadian ini mempermalukan kita! Terutama aku!" Presiden Storm kembali ke tempat duduknya. "Sekarang aku mau kalian tangkap mereka! Aku tidak peduli bagaimana caranya! Aku tidak peduli mereka ditangkap hidup-hidup atau mati!" Presiden diam sejenak seraya mengalihkan pandangan ke arah Jendral Ion. "Ion. Aku minta kamu segera kerahkan pasukan lebih besar lagi untuk mencari mereka!" Jendral Ion berdiri seraya memberi salam. "Monsieur, bagaimana kalau mereka bersembunyi di negara lain? Kita harus mendapat izin untuk menangkap mereka." Presiden Storm mencerna pikiran sejenak. "Corn, sebagai Menteri Luar Negeri, sudah tugasmu menghubungi negara-negara tetangga." Pria bernama Corn membungkuk. "Segera laksanakan, Monsieur." "Wind, kamu siapkan teknologi pengamanan lebih baik di tempat daur ulang!" "Baik, Monsieur." Kemudian Presiden Storm mengalihkan pandangannya ke arah Volt. "Setelah mendapat izin dari negara tetangga, kamulah yang bertugas mencarinya, sementara Ion mencari di dalam negeri." Presiden Storm menatap perempuan muda berambut pirang. "Warm, sebagai Menteri Teknologi, buatlah android-android baru yang memiliki kemampuan setara dengan Spritte. Aku minta kamu segera buat seribu android dalam waktu satu bulan!" Warm terkejut. "Satu bulan, Monsieur? Tapi itu hal yang ti—" "Aku tidak mau tahu! Kalau dalam waktu satu bulan kamu tidak bisa memenuhinya, akan ada Menteri Teknologi yang baru di Prancis. Paham?" Warm mengangguk terpaksa seraya berkata lirih, "Baik, Monsieur." Presiden Storm kemabli mengedarkan pandangan ke hadirin. "Aku tidak mau lagi mendengar ada kegagalan. Kalian tahu kalau android-android usang itu tetap dibiarkan, semua rencana kita akan sia-sia?! Ingat janjiku! Kalau rencana kita berhasil, tak satu pun di antara kalian yang akan menyesal! Ya, tidak ada satu pun!" Rencana telah digagas. Namun, bukan berarti semuanya dalat berjalan lancar. Para buronan itu bukan orang-orang bodoh. Termasuk Cloud, yang memendam dendam karena kejadian pilu yang menimpa Sodda. Sayang, melawan pemerintah bukanlah sesuatu yang mudah. Untungnya, Cloud tidak sendiri. Milk, Orreo, Splash, dan Orange bertekad untuk membantunya. Mereka tahu, ada motif tersembunyi di balik misi penangkapan terhadap mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD