82

1783 Words

"Jangan lengah, Teru," tukas Niel, yang baru saja mengeluarkan sihir Twister Blood. Peringatan Niel justru membuat Vilz semakin bergidik. Jika Niel berniat menyerangnya, belum tentu ia dapat menghindar. "Gadis cilik ini memang tepat menjadi alatku menyerang Melwood Forest. Tapi, ia juga dapat menjadi ancaman untukku. Aku harus mengantisipasinya," batin Vilz. "Teru, ayo ajarkan sihir lain," ucap Niel bersemangat, seraya menghampiri Vilz. "Hari ini sudah cukup, Niel. Kita lanjutkan besok," jawab Vilz, terlihat enggan. "Tidak bisakah belajar hari ini sa—" "Maaf, aku ada urusan mendesak yang harus kutuntaskan segera. Besok adalah sihir terakhir yang akan kuajarkan," sergah Vilz, membuat Niel kecewa. "Baiklah Teru. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu setelah semuanya usai?" Vilz tersenyum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD