Bab 7 - Perebutan Kekuasaan

2055 Words
Ruang meeting dengan interior serba putih polos, terlihat formal dan elegant itu kian bertambah ramai. Sedari tadi, susunan kursi yang berjejer sepanjang meja berbentuk leter U mulai tak beraturan. Pasalnya, adu mulut perihal penunjukkan sutradara baru terkait projek besar sutradara Panca Pirmuranggeng menuai banyak kontroversi. Rapat penting ini di hadiri seluruh perwakilan tim hasil permintaan khusus sutradara Panca, mulai dari departemen produksi, penyutradaraan, kamera, artistik, kostum dan rias, hingga post-production bahkan kedua pemeran utama. Mereka semua menilai dua kandidat yang berhak menggantikan posisi Panca Pirmuranggeng sebagai sutradara utama. Kendati departemen produksi acap kali membahas wasiat yang seolah telah disiapkan sedari dulu untuk menggantikan Papi ketika ia terpaksa mundur dari proyek ini. Namun, kembali pada demokrasi yang sudah dijalankan sejak lama jika sebuah projek mencari pengganti. Menilai siapa yang lebih unggul untuk kemudian dibandingkan dengan isi dari secarik pesan singkat. Meski semua nampaknya seperti kelimpungan, Anyelir hanya menghela napas, pikirnya semua orang di sini sama sekali tidak punya hati nurani. Belum genap satu hari ketika dokter menyatakan detak jantung sang sutradara telah berhenti, namun perdebatan demi sebuah kekuasaan mampu membuat dirinya muak. "Tapi di sini saya tidak yakin, karena sutradara Janu Jiwa masih sangat muda! Ia tidak terlalu memiliki banyak pengalaman!" ucap kubu sebelah kiri, yang Anyelir tahu sedari tadi menyinggung sebuah pepatah orang-yang lebih-tua-adalah-orang-yang-berpengalaman. "Pengalaman bukan hanya didapat karena usia, tapi karena terbiasa! Sutradara Janu Jiwa tidak pernah absen dalam membuat film action!" Kali ini dari kubu sebelah kanan, Anyelir mengenal nama itu, nama yang ia ingat sudah membuatnya menjadi aktris bodoh nan kesepian hanya karena seekor kucing. Juga nama yang sudah menyelamatkannya dari kerumunan wartawan kemarin malam. Namun, lagi-lagi ia tak tahu di mana lelaki itu duduk. Berusaha mengingat-ingat bentuk wajah dan tingkah laku membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan intensitas bertemu Janu belum mencukupi untuk hal itu. Sehingga, yang ia tahu adalah bau mint khas tubuhnya yang begitu semerbak, seperti kemarin malam. Juga gaya bicara yang terkenal pedas. Perdebatan sengit itu kian berlangsung kurang lebih setengah jam lamanya. Batari berbisik, jika yang berdebat bukanlah orang yang dimaksud, tetapi pihak-pihak yang mendukung. Istilah lainnya, pihak yang merekomendasikan para sutradara itu untuk menggantikan Papi. Pantas saja Anyelir tidak mampu menilai sosok bermulut pedas dengan gaya bicara yang khas, rupanya lelaki itu tengah membungkam mulutnya. "Ayolah anak muda! Anda hanyalah anak manja, tetapi Anda memaksa untuk mengambil projek ini? Bagaimana jika sutradara Panca tidak tenang hanya karena mendapat pengganti yang salah!" Perdebatan itu, seolah tiada berujung. Salah satu menyalakan api, maka satunya lagi menimbulkan asap. "Justru dengan terpilihnya Anda, berlaga seenaknya akan membuat beliau tidak tenang karena anda selalu mengganti script sesuai kemauan Anda!" Pihak kubu kiri keberatan, hingga tak sadar menggebrak meja. "ANDA SALAH! Sutradara Panca adalah orang yang paling dihormati, kami tidak mungkin melakukan hal itu terlebih karya ini dibuat oleh dirinya sendiri!" "Tetapi manusia memiliki nafsu, dan nafsu Anda dapat dikemudikan layaknya roda berputar! Siapa sangka? Secara diam-diam pihak Anda mengganti script dengan alibi tidak masuk akal?" "Anda pikir sutradara—" Anyelir muak, berkali-kali menyinggung nama Papi-nya berdalih rasa hormat. Mengangkat kepala seolah yang dimaksud adalah paling benar, hingga tak sadar perkataan mereka sama sekali tak memiliki hati nurani. Dengan cepat Anyelir berdiri menggebrak meja hingga memotong ucapan sebelumnya. "DIAM!" Jeda sekejap, gadis itu menarik napas. "Di mana hati nurani kalian?! Merebutkan kekuasaan dengan merasa dirinya paling benar hingga berkali-kali menyeret nama mendiang!" Batari mulai menggenggam lengan Anyelir agar gadis itu tidak hilang kendali, namun usahanya nihil. Ia justru menepis kasar hingga Batari melonjak kaget. "Jangan membuang-buang waktu dengan ocehan tidak berfaedah seperti ini!" Kini Anyelir menoleh pada pimpinan departemen produksi yang beberapa waktu lalu bertemu dengannya—Pak Mahdi. "Pak, saya mengusulkan untuk segera diadakan pemilihan sekarang juga." Sepintas, kedua netra mereka saling beradu. Seolah memberi sinyal tajam Pak Mahdi mengangguk. Usai menerima balasan, Anyelir kembali duduk, sementara seluruh pihak yang sejak tadi berdebat kini mulai diam dibungkam ketegangan. "Sesuai dengan usulan Berta Bee, kita harus segera mengadakan demokrasi dengan mengacungkan tangan, setuju?" Salah seorang lelaki dari pihak kubu kiri berdiri. "Kenapa hanya mengacungkan tangan, Pak?" Pak Mahdi yang sedari tadi hanya diam mengamati, duduk bersandar pada kursi kebesaran di paling ujung meja. Mempin rapat dengan memperhatikan setiap perdebatan yang berlangsung, kini mulai berdiri, ia memberi interupsi. "Waktu kita tidak banyak." Sebelum berucap, beliau menghela napas. "Baik, kita mulai! Seluruh perwakilan boleh mengacungkan tangan kecuali kedua pemeran utama kita ... mereka akan menjadi penentu terakhir." Dengan seksama, seluruh atensi terfokus pada Pak Mahdi, tak terkecuali Anyelir dan Diego yang juga hadir dengan duduk saling berdekatan. "Silahkan acungkan tangan bagi kalian yang memilihi sutradara Kaelan Chagil!" Dimulai dengan kubu kiri, sutradara Kaelan Chagil—terkenal dengan film romansa bertabur cinta namun diselingi dengan gaya erotisnya yang khas condong ke industri perfilman Barat. Pria berusia sekitar empat puluh pemilik alis hitam tegas, menggambarkan perilaku otoriter yang mendominasi. Usai pihak departemen produksi menghitung, semua menurunkan tangan. Ada sekitar tiga belas orang yang memilih sutradara Kaelan. "Sekarang, silahkan acungkan tangan bagi yang memilih sutradara Janu Jiwa." Pandangan Anyelir kian menelisik satu persatu perwakilan yang hadir, ia bahkan tak sengaja menghitungnya dengan jumlah tiga belas orang juga. Artinya adalah seri. Pak Mahdi kembali bersuara. "Sepertinya persaingan ketat! Namun, kita masih belum bertanya kepada para pemain utama, silahkan Diego Zoo!" Diego yang berada tepat di samping Anyelir kini menoleh padanya, seolah meminta jawaban, namun Anyelir hanya mengangkat kedua bahu. "Saya ...." Seraya menggaruk tengkuk, lelaki itu termenung dalam belenggu kebingungan. "Emm ... saya memilih ... Sutradara—" sorot mata itu kembali terpancar kepada Anyelir, membuatnya semakin heran. Namun seketika ia berucap mantap, "... Janu Jiwa." "OKE!" Ucap Pak Mahdi sedikit berteriak, "kini giliran Berta Bee! Perlu Anda tahu, hasil pemilihan bergantung pada Anda!" Anyelir menautkan kedua alisnya, benar juga. Semula mereka seri, namun saat Diego memilih artinya Janu Jiwa lebih unggul satu poin. Ini menandakan pilihan Anyelir akan menjadi kesimpulan terakhir. Memori tentang tadi malam melintas begitu saja. Satu fakta yang Janu sembunyikan sejak lama adalah hubungan darah yang saling terikat kuat. Anyelir paham betul, rasa kehilangan yang kian bertambah besar saat Janu mendapati tubuh kaku nan dingin Panca—pamannya. Namun, entah apa yang ia rasakan hingga menuju pusara pemakaman pun tak ada setitik air mata yang keluar. Selain bungkam seribu bahasa, bahkan hingga detik ini. Gadis itu memejamkan matanya, sekedar menarik napas untuk berusaha meyakinkan apa yang terlintas di benaknya. Jujur saja dua kali bertemu dengan Janu membuatnya malas, terlalu tempramental untuk sekedar memberi kesan pertama. Tapi entah datang dari mana, Anyelir meyakini bahwa lelaki itu tulus menurunkan sedikit egonya demi sebuah film karya mendiang sang paman. Hingga pilihan Anyelir terlontar bersamaan dengan riuh tepuk tangan yang menggema. "Sutradara Janu Jiwa." Lantas Janu berdiri sembari membungkuk setengah badan, seutas senyum paksa tercetus seraya berucap, "Saya akan bekerja lebih keras, kita adakan pertemuan besok." Semua orang terkejut, sebab ia melenggang begitu saja usai berucap singkat. Ada rasa cemas yang tertahan mendominasi auranya, namun, berusaha ia tutupi. Anyelir yang merasa pengap turut andil meninggalkan ruangan, bukan tanpa alasan, situasi yang tercipta terlalu canggung. Entah karena dalam suasana berkabung, atau memang ada hal lain yang mengakibatkan semua ini terlalu tidak nyaman. Gadis itu berjalan menjauh dari pintu masuk ruang meeting dengan lemas. Rasanya sangat hampa, ia berjuang memaksakan diri berlatih bela diri, menghitung kecepatan berlari, bahkan membeli pakaian murahan demi dedikasinya untuk Panca Pirmuranggeng. Namun, apa yang diperjuangkan justru pergi begitu saja. Tiba-tiba, seseorang berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depannya, menghentikan langkah yang entah akan mengarah ke mana. "Apa maksud An-" Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, lelaki berambut pirang itu membekap mulut Anyelir. "Kenapa kamu selalu menolak saya! Dasar tidak tahu malu!" Kemudian ia melapas kembali bekapan itu dengan kasar. "Ma—maksudnya?" Sorot tajam dari lelaki berambut pirang itu sukses membuat nyali Anyelir menciut, beberapa pasang mata yang melihatnya seolah berpura-pura tidak peduli, karena mereka mengenal salah satu lelaki kasar yang menginginkan segala hal secara paksa. Hanya saja, tidak ada secercah memori yang melintas terkait lelaki ini di benak Anyelir. "Ternyata rumor bahwa kamu sombong itu benar adanya, ya?" "Ck, sungguh saya tidak kenal Bapak. Tapi saya tahu Bapak berada di kubu kiri yang menginginkan sutradara Kaelan sebagai pengganti Papi." Dengan santainya lelaki itu membuka soda kaleng di hadapan Anyelir. "Kenapa kamu tidak memilih pihak saya?" "Karena saya tidak kenal, Bapak." "Dasar sombong!" Kini Anyelir mengerutkan kedua alisnya, sungguh ia merasa tidak paham dengan perlakuan lelaki pemilik sorot tajam di hadapannya. Badan kurus yang terlihat mengingatkan Anyelir pada Papi, namun sikapnya sungguh berbanding terbalik. "Maaf, Pak. Tapi sungguh saya tidak kenal Bapak," "Berapa harga kamu?" "Ha? Ma—maksudnya?" "Saya sewa kamu semalaman, berapa?!" Anyelir membulatkan matanya, perasaan ngilu tiba-tiba saja melintas hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca. "Se—sewa?" "Iya! saya dengar kamu senang bermain dengan p****************g. Jadi saya sewa kamu!" Tanpa sadar, gadis itu tersenyum getir. Kali pertama ia mendengar penuturan langsung setelah sekian lama hanya sekedar membaca rumor. Memang benar banyak sekali berita yang beredar tentang Anyelir yang pergi ke hotel, Anyelir yang sombong dan sangat murahan. Tapi semua itu hanyalah rumor, bahkan ia tidak pernah ambil pusing, tapi sekarang? "I—itu hanya rumor tak berdasar! Tolong jangan mengecam saya!" Anyelir mulai sedikit membentak, rasanya ia tak tahan direndahkan seperti ini. "Kamu benar tidak kenal saya?" Anyelir menggeleng, jujur ia mungkin pernah berpapasan atau sekedar mengenal lelaki ini. Tapi sungguh ia bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa. "Begitulah, one night stand ... memang selalu melupakan banyak pria!" "Jaga bicara, Anda! Jika Tuhan menciptakan Anda dengan sempurna, maka pergunakan fungsi mata dan mulut Anda dengan baik!" Habis sudah kesabaran Anyelir, persetan dengan para karyawan yang lalu lalang, toh, tak akan ada yang berani memotret apalagi merekam adegan ini. "OH! Begini ternyata sikap asli kamu! Jalang akhirnya menampakkan diri!" "Silahkan, Pak! Saya tidak apa-apa jika dituduh jalang oleh orang yang lebih gila dari binatang seperti Bapak!" "APA?! KA—" Lengan kiri yang menggenggam soda kaleng itu bersiap untuk menumpahkan isinya ke atas wajah cantik Anyelir, namun tiba-tiba sebuah tangan mungil berhasil menahannya. Anyelir yang refleks menutup mata, kini menoleh. Ditatapnya wanita berambut pendek dengan wangi rose khas yang sekali hirup mampu Anyelir kenali, dia Batari. Seraya tersenyum Batari merebut soda itu, kemudian meminumnya hingga mulut ia terpenuhi bahkan pipinya mengembung. Lalu dalam sekejap ... Byurr! Gadis itu memuntahkan minuman yang sudah masuk ke dalam mulutnya tepat ke arah sepasang kaki lelaki itu. "Upss! Untung kena kaki, mau nyobain di wajah nggak, Pak?" Lelaki dihadapannya hanya bisa membulat sempurna, wajahnya merah padam. "Ka—kamu! Dasar sama tidak waras!" Batari menggeleng pelan. "Bapak masih belum puas? Mau wajah dulu? Atau baju dulu?" "DASAR GILA!" Dengan cepat lelaki itu pergi begitu saja, menyisakan kepuasan batin yang bersumber dari Batari. Namun tidak dengan Anyelir. Berta Bee, sang aktris yang terkenal akan kesombongan dan keberanian itu sangat berbanding terbalik seperti aslinya. Dengan tubuh yang gemetar, otot yang hampir kehilangan fungsinya, Anyelir terduduk di lantai gedung ini untuk kedua kali. Menyadari sahabatnya sedang merasa tidak baik-baik saja, Batari merunduk, mengelus pelan pucuk kepala Anyelir. "Hei ... Are you okay?" Ia ikut terduduk di lantai. Anyelir memeluk kedua lututnya dengan gemetar, wajahnya ia tenggelamkan sebab air mata tiba-tiba saja mencair di sana. Antara masih dalam keadaan berkabung, atau hanyut dalam ketakutan akibat kecaman yang tiba-tiba, keduanya tidaklah berbeda, turut memberikan tanda bahwa ia hanyalah gadis rapuh. "Udah nggak apa-apa. Gue bakalan balas tuh aki-aki tua yang udah bikin Lo ketakutan kayak gini," ucapannya lembut senantiasa menepuk-nepuk punggung Anyelir. "Tar ...," Wajahnya masih bersembunyi di balik kedua tangan yang bertumpu di atas lutut. "Gu—gue ... Gue kangen Papi hiks ... Hiks ..." Praduga Batari terbukti tepat. Anyelir rapuh bukan karena ia gentar atas kecaman pedas dari lelaki tua barusan, tetapi gadis itu masih dalam nuansa biru, terlalu mengejutkan bila ditinggalkan begitu saja tanpa adanya kata perpisahan. "Lir ... udah, ya? kita pulang dulu. Lo bisa nangis sejadi-jadinya tapi nggak di sini," Bukan bermaksud menghalangi apa yang ingin Anyelir lakukan. Tapi harga diri Anyelir juga perlu diperjuangkan, bayangkan saja rumor yang akan beredar nantinya. Anyelir dikecam atas tuduhan one night stand, Batari sebagai manager bersikap di luar kendali, dan sekarang aktris pemilik nama Berta Bee itu berjongkok di lantai menahan tangis. "Kenapa selalu gue sih, Tar?" "Andai gue adalah penguasa semesta, lebih baik gue bunuh lo dan membiarkan lo terlahir kembali dengan nasib yang lebih menguntungkan," Lo terlalu banyak menderita, Lir, lanjut Batari dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD