Gedung menjulang tinggi berkisar sekitar tujuh lantai itu nampak sunyi nan sepi. Pasalnya, jam menunjukan pukul enam sore, yang mana tak ada seorangpun siswa yang melintas meski sekadar bermain di lingkungan ini. Lagipula, siapa juga yang senang bermain di lingkungan sekolah?
Lembayung senja siap menarik tirai kegelapan dalam beberapa waktu ke depan. Meski begitu, niat buruk si gadis tetap berkuasa membuatnya terdiam di tepi gedung di atas ketinggian.
SMP Mahardika—gedung swasta dengan bangunan serba kuning emas. Salah satu diantara satuan gedung yang tertata, hanya gedung tempat olahraga dan seni yang memilki total tujuh lantai dengan rooftop tahap renovasi tanpa pagar besi.
Si gadis termenung, menanti senyapnya lalu lalang insan untuk segera melangkah meski pada sebuah jalan tak bertapak hingga membuatnya mengudara.
Mimpinya sirna sejak kecil, betapa kejam dunia menyaksikan penderitaan gadis yang sudah tak berharap apa-apa. Dikucilkan teman, mengidap kelainan, hingga tidak ada satupun capaian yang menghilangkan beban. Hidupnya dikuasai dengan derita, ketika di sekolah maupun di rumah. Tatkala seorang guru mengatakan tak ada harapan untuk cita-cita yang harus digapai, hanya belenggu kesedihan yang menghempasnya dalam jurang ilusi.
Sekali tarikan napas, ditatapnya jalanan yang jaraknya ratusan meter dari tempatnya berpijak, begitu jauh hingga dapat dibayangkan ketika tubuh terhempas ke sana, kala itu nyawa tak lagi berarti. Ya, ia sudah memantapkan diri, ia tak lagi menilai betapa berharganya napas, fokusnya hanya melihat betapa kejam dunia hingga mengakhiri hidup adalah tujuan utama.
"Bunda, Ayah ... maafin, Alir." Sekali lagi gadis itu menarik napas.
Memori hitam putih berputar, pernyataan dokter terkait kelainan akibat kecelakaan kian menari-nari. Ucapan seorang guru tentang mimpi Anyelir menjadi seorang dokter bedah sangatlah mustahil begitu mengiris hati, hinaan dan cacian dari teman sejawat yang mengatakan betapa sombongnya Anyelir membuat mentalnya tertekan berkali-kali.
Seketika, tengkorak itu dirasa ngilu hingga refleks kedua tangan memeganginya.
"Benar, untuk apa aku hidup?" kalimat tabu terucap dari gadis kelas dua SMP.
Jujur saja, ia sudah lelah dengan tangisan. Baginya semua itu hanyalah luapan emosi yang tak berarti, mengingatkan pada hati terpampang nyata begitu sunyi. Maka ketika mata terpejam, kaki mulai melangkah, dunia akan segera berakhir hanya dalam beberapa detik ke depan.
Samar-samar seorang gadis menatap miris ketika niat mengakhiri hidup begitu tercetak jelas di penglihatannya. Hanya dalam waktu lima detik, ketika kaki itu melangkah kian meloncat dari gedung, maka dengan cepat ayunannya menahan pasti lengan yang dapat digapai untuk menghentikan semuanya.
Gadis yang semula akan berakhir dengan tragis, kini mendarat di pelukan seseorang yang terlentang menahan bobot di atasnya. Rintihan itu membuyarkan semuanya, usaha percobaan bunuh diri gagal? Sontak ia berdiri. Gadis itu menatap Anyelir dengan penuh amarah.
"LO GILA, HA?!" bentak gadis itu seraya bangkit.
Anyelir terdiam kaku, kepalanya menunduk pasrah. "Ngapain kamu selamatin aku?"
"Yakali gue liat orang mati depan mata gue didiemin! Lo ngapain sih bunuh diri, HA?!" Tak ada intonasi ramah sedikitpun, dahi yang berkerut kian memuntahkan kekesalan dalam diri.
"Bukan urusan kamu." Anyelir mulai terisak.
Pemilik surai hitam itu mendesis pelan. "Mulai sekarang urusan gue!"
"Nggak usah ikut campur," lirih Anyelir.
"Lo cuman buta wajah, bukan buta nggak bisa liat sama sekali. Apa sesulit itu buat lebih bersyukur dibanding orang yang buta beneran!"
Anyelir terlonjak kaget, bagaimana bisa dia tahu satu hal penting yang selama ini ia sembunyikan. "Ka—kamu?"
"Iya gue tahu! Maaf gue mendengar pembicaraan lo soal dokter bedah, tapi tolong! Kalo lo punya titik kekurangan setidaknya jangan jadi orang b**o!"
"Ma—maksud ka—"
"Lo nggak sendirian, jadi Lo harus hidup! Dan tunjukin ke gue yang udah capek-capek nyelamatin nyawa Lo! Paham?" Gadis itu berbalik untuk bersiap meninggalkan Anyelir, namun terhenti ketika gadis di belakangnya kembali berucap.
"Nama kamu?"
Ia menoleh. "Batari, nama gue Batari Raharjeng."
Baru saja hendak kembali melangkah, dirinya teringat satu hal yang merasa perlu disampaikan. "Jangan pakai sebutan aku-kamu. Gue bukan pacar lo, Anyelir!"
Tanpa sadar senyum Anyelir tersungging cukup manis. "Makasih, Tari."
**
Ya, Anyelir dapat dengan jelas mengingat masa itu. Batari tak pernah berubah, ia adalah penolong Anyelir, dalam berbagai hal. Baginya, Batari bukan seorang manager, melainkan malaikat yang bertugas menjaga, mengurusi hingga memberi semangat padanya. Berkali-kali ia berucap, Anyelir tanpa Batari bagaikan tangkai tanpa daun. Hal itu membuatnya tersenyum disela-sela lamunan.
Namun, kesadaran diri tatkala mengingat masa lalu harus terpaksa berhenti. Tepukan pundak itu membuat matanya mengerjap kaget.
"ALIR!"
Dengan mata membulat ia menoleh. "Apa? Kenapa?"
"Kita udah sampai, lo mikirin apa, sih?" Tentu saja Batari heran.
Bayangkan dua jam yang lalu Anyelir menangis, meraung, terlihat pedih dan menyakitkan. Sampai-sampai satu ruangan produksi turut diterpa badai larut dalam kesedihannya, tapi sekarang gadis itu senyam-senyum sendiri meski pelupuknya basah, kantung mata tercetak bengkak dan sembab. Sempat terlintas di benak Batari, takut-takut sahabatnya itu terkena gangguan jiwa atas semua masalah yang menimpanya.
"Sampai di man—"
Seketika atensinya mengitari gedung berlantai lima dengan d******i kaca transparan berdiri kokoh tepat di hadapan mobilnya yang terparkir apik. Sebuah palang besar tercetak membentuk huruf 'BA' membuat dahinya berkerut.
"Kok ke kantor? Kita 'kan udah selesai rapat pemilihan sutradaranya, kok nggak pulang?"
"Lo nggak denger tadi gue ngomong apa aja selama di mobil?"
Dengan cengiran khasnya Anyelir menggeleng cepat. "Lo emang ngomong sesuatu, Tar?"
Batari tersenyum mengerikan, ia menarik napas panjang kemudian melotot pada Anyelir. "MASUK! JANGAN BANYAK PROTES!" bentak Batari.
Si gadis berkulit s**u itu memang baik dan pengertian, namun saat mode marah ditekan seperti tombol, semut pun merasakan kepulan asap yang timbul dari perasaan yang mendidih. Jangan harap bisa mengelabui layaknya cicak memutuskan ekor. Bisa mati dalam sekejap Anyelir.
"I—iya, Tar, iya!" Secepat kilat Anyelir membuka kenopi pintu mobil lalu berlari hingga terbirit-b***t memasuki gedung BA Entertainment—kantor agensi Anyelir.
Paduan high heels yang berbentur dengan lantai marmer kian menarik perhatian para karyawan BA, beberapa menyapa atau sekedar tersenyum singkat. Anyelir yang merasa bersalah memegang lengan sahabatnya itu.
"So—sorry, gue tadi nggak fokus." Kendati langkah Batari kian bertambah cepat. "Tar! Tunggu!"
Gedung berlantai lima dihias ciamik nuansa pastel beserta poster-poster cantik Anyelir dan artis-artis lain begitu menyambut hangat siapapun yang menginjakkan kaki di sini. Mereka berdua memasuki lift, menuju lantai paling atas—ruang direktur utama BA Entertainment.
"Tar, jangan diem gitu dong!"
Gadis itu masih setia membujuk sahabatnya, namun sang empu masih tak acuh. Wajah cantik memerah seperti tomat siap petik, tersadar bahwa meluapkan emosi pada Anyelir tak akan membuahkan hasil apa-apa.
"Ta—" sayangnya ucapan itu menggantung tatkala lift terbuka dengan Batari yang terus melangkah menuju pintu ruangan utama.
Anyelir berusaha mengimbangi langkah jenjang itu, namun sia-sia. Habis sudah riwayatnya, kali ini Batari terlihat benar-benar marah. Netra gadis itu kini beralih pada sosok pria setelan jas navy yang tersenyum seraya bangkit dari kursi besar yang menjadi fokus utama di ruangan d******i putih ini.
"Bunuh gue, Mas Bane. BUNUH GUE!! Tidak hanya lemot dan menyebalkan, penyakit Anyelir bertambah, Mas!" gerutu Batari. Tak lupa ia menghempaskan tubuh mungil itu ke atas sofa cokelat yang di taruh tepat di tengah ruangan ini. "Dia jadi kuper!"
Bane Badiran—pria atletis pemilik tinggi sekitar 187 cm itu mengerutkan alisnya. Usianya berada di kisaran angka tiga puluh, mengemban tanggung jawab sebagai direktur utama BA Entertainment.
Anyelir baru mengenalnya kurang lebih dua tahun lalu, ia dikenalkan Batari sebagai kakak tingkat di kampusnya saat berkuliah dulu. Digiring untuk membentuk satu visi dalam membangun perusahan agensi sendiri, hingga sekarang BA sukses sebagai perusahaan pendatang baru. Berkat Bane yang mahir dalam dunia per-bisnisan, Batari dalam dunia per-aktrisan, dan Anyelir sebagai penyumbang saham terbesar menjadi icon utama.
"Kuper? Kurang perhatian maksudnya?"
"KURANG PENDENGARAN!" Teriak Batari.
Anyelir memejamkan mata, kemudian mendekat ke arah sahabatnya itu. "Aduh! Mbaknya capek, ya? Aku pi—pijitin, ya!"
Secepat mungkin ia melakukan ritual pijitan kepada Batari, tentu saja sebagai bentuk sogokan agar dirinya tidak mati terkutuk sumpah serapah Batari yang kejam saat marah.
Lelaki tampan beriris cokelat dengan kumis tipis itu tersenyum simpul. Mendekati kedua gadis yang akan datang kemari bila mendapat masalah serius atau pengajuan bendera putih Batari, karena tingkah Anyelir yang mampu membuat Batari gagal jantung hampir setiap hari. Ya begitulah katanya, meski sedikit hiperbolis.
"Ada apa lagi, hm? Alir bikin masalah apa lagi sampe bikin Tari kesel?" Suara lembut itu terdengar penuh perhatian.
Bane adalah pria yang terkenal lembut namun juga tegas dalam waktu bersamaan. Ia juga seorang pekerja keras, terbukti saat merencanakan untuk mendirikan agensi baru bernama BA entertainment kala itu, ambisinya cukup membuat Anyelir terpukau. Meski Anyelir harus dihadapkan dalam keterpaksaan menunda membeli rumah baru demi menjadi investor amatir, namun semua benar-benar terwujud berkatnya.
Mendengar penuturan yang tersirat memojokkan itu Anyelir menggeleng cepat. "Enggak, Mas! Alir udah penurut kok, nggak bikin masalah, iya 'kan, Tar?" Sayangnya perespon hanya membisu seraya memijat pelipis.
"Tari ... ada apa, Sayang?" Kali ini ucapan Bane jauh lebih lembut, membuat Anyelir membuka setengah mulutnya.
"Tu—tunggu! tunggu!" Wajah ekspresif Anyelir semakin nampak terkejut. "Kalian pacaran?!"
Dan pertanyaan itu sukses membuat Batari terlonjak ikut membulatkan mata. "Gu—gue?" Netra antara Batari dan Bane kini saling beradu, seolah memberi tanda yang hanya bisa dimengerti Bane, Batari mengangguk pasrah. "Ah i—itu." Ia menggaruk tengkuknya tak gatal.
"Jujur, Tar!" Pekik Anyelir.
"Menurut, lo?"
"Kayaknya iya, sih. Eh tapi—" Anyelir terdiam sejenak, Batari dan Bane ikut larut dalam proses alur berpikir Anyelir. "Kenapa karyawan lain pada bilang kalian cocok jadi Adik-kakak ya? katanya wajah kalian mirip!"
Lagi. Batari dan Bane saling melempar tatapan aneh, seperti sebuah simbol yang hanya dimengerti oleh keduanya. Anyelir yakin ada sesuatu yang disembunyikan dari keduanya, tapi alangkah lebih baik jika ia tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi hubungan mereka. Toh jika berakhir baik apalagi sampai jenjang ijab qabul, Anyelir juga turut bahagia.
"Tapi biasanya begitu. Kata orang jodoh adalah cerminan diri kita, jadi wajar kalo wajahnya mirip, ya, 'kan?"
Batari hanya mengganguk kaku. "I—iya iya, Lo bener." Entah Anyelir yang terlalu polos, atau Batari terkesan terlalu menutup-nutupi. Yang jelas ini bukan hal yang akan dibahas kala bermaksud tandang kemari.
"Udah-udah! Kita ke sini mau bahas terkait syuting Anyelir." Batari mulai bersikap profesional, meski di lubuk hatinya masih membuncah didominasi amarah.
Sedikit menyipitkan mata, atensi itu nampak kurang dimengerti. "Syuting?" Tanya Bane.
"Gue sebetulnya udah bahas ini di mobil tadi, tapi orang itu ... tuh—" sorot mata kemarahan itu menoleh pada gadis yang nyengir kuda, "kuper-nya kumat!"
Anyelir menunduk, demi apapun Batari sangat menakutkan bila dalam mode marah seperti ini. "Ya, maaf, Tar."
"Yaudah bahas saja di sini, jangan marahin Anyelir terus, kasihan dia pasti capek," akhirnya Anyelir berani mengangkat kepalanya setelah mendengar pembelaan dari Bane.
Sedangkan Batari berdecak kesal. "Syuting film Anyelir kali ini bakal diperpanjang, sekitar enam bulan, bahkan bisa lebih." Jelas Batari panjang lebar.
"Hah?! Enam bulan? Kok lama banget syutingnya?"
Batari mendelik tajam. "Kaget, 'kan? Makanya tadi gue ngomong di mobil tuh dengerin!"
Gadis itu kembali menunduk. "Maaf, Tar. Maaf,"
"Jadi kita minta agensi buat back up dana selagi syuting kita di luar kota,"
Dua kali, Anyelir terkejut. Ekspresi mulut setengah terbukanya kian bertambah hiperbolis. "LUAR KOTA?!"
"Kaget lagi, 'kan? Lebih tepatnya pedalaman Kalimantan,"
"Oh, Kalimantan ...," wajahnya mengangguk, paham dengan maksud Batari terkait kota yang akan dituju nantinya. Tapi sungguh ia belum tersadar akan satu kata yang tersemat sebelum nama 'Kalimantan' melambung di satu-persatu saraf otak.
Hingga cerebral yang sebelumnya membeku tiba-tiba meleleh. Merubah ekspresi paham menjadi kembali terkejut, Anyelir terlihat seperti orang bodoh saat ini.
"KALIMANTAN?!" Teriakan refleks Anyelir sukses membuat Bane dan Batari mengerjap, memegangi bagian d**a yang hampir melayangkan nyawa saat jantung menggantung tiba-tiba copot.
"Tu—tunggu ... pedalaman maksud lo ...hu—hutan?!"
Sayangnya Batari mengganguk. "Iya,"
"Wait a minute ... Lo mau syuting, atau mengajak gue menjadi pecinta alam, ha?! Lo nggak mikir gue nanti di sana kayak gimana? hutan itu bukan sembarang tempat!" nada bicara Anyelir meninggi.
"Itu jelas terpampang nyata di draft kontak yang lo tandatangani, Lir. lo nggak baca?"
Anyelir terdiam. Bukan bermaksud tidak berniat membaca setiap detail kontrak yang tertera, tapi ini soal berhubungan dengan Papi. Anyelir memercayakan sepenuhnya pada mendiang, lelaki itu pasti memberikan hal yang terbaik untuk dirinya. Meski seharusnya tak begini sekarang.
"Jadi bener lo nggak baca?! JADI LO NGGAK TAHU SAMA SEKALI KALO SYUTING INI DI HUTAN?!"
Murni kesalahan, Anyelir mengangguk pasrah sembari merunduk.
"Apa lo sadar atas semua yang baru saja lo lakuin, Lir?"
"Maaf, Tar. Tapi mana mungkin gue bisa tolak kontrak itu,"
"KALO NGGAK BISA TOLAK SETIDAKNYA MINTA KESEPAKATAN!" Batari membentak cukup nyaring.
"Sudah-sudah. Semua sudah terlanjur, sudah ada hitam di atas putih. Sekalipun Anyelir mengajukan pengunduran diri, apa itu sama sekali tidak menyinggung wasiat mendiang?"
Bane yang berbicara, sudah pasti semua diam. Ucapannya memang benar, untuk sekarang saling menyalahkan bukanlah waktu yang tepat. Meski murni kesalahan Anyelir yang tidak membaca kontrak, tapi perkerjaan haruslah dijalankan.
"Sekarang, kalian silahkan nikmati perjalanan ini, anggap saja sebagai liburan."
Senyum Anyelir tersungging. "Mas Bane, kalo pipis diliatin gajah nanti gimana? atau pas makan chicken wings ketemu singa? kalo tidur nggak pake ranjang nanti dililit ular anaconda, nggak? soalnya Kalimantan kan pernah dipakai syuting film anaconda! serem ya, Mas?"
"Otak Lo tuh yang harus dililit anaconda!" Sarkas Batari kesal. Masih sempatnya ia bertanya hal bodoh sementara situasi sedang panas seperti ini.