Bab 65 - Dekapan Janu

2096 Words
Lekuk wajah gemulai sampai ceruk leher yang indah menambahkan nuansa khas Dewi Aphrodite yang kental akan cantik juga cinta. Sahutan nada Anyelir terdengar mendayu di telinga Janu, membuat mata kantuknya perlahan terbuka. Seolah baru terbangun dari mimpi indah bersama si Dewi cantik, kekasihnya—Anyelir. Janu memoles senyum candu di bibirnya yang ranum sebab tubuh memanas hampir mirip bara api. Ada sentuhan manis, nampak telaten menempeli kain basah yang melapisi jidat sampai si empu menarik lengan yang bertaut di atasnya. Memberikan perhatian khusus hingga Anyelir mengerutkan dahi, baru tersadar bahwa kekasihnya sudah bangun saat pingsan tadi. Tangan kiri yang berbalut selang infuse membuat pergerakan Janu sedikit berkurang. Beruntung, Anyelir mempunya dokter langganan yang selalu mengurusnya saat kurang enak badan, bersedia datang ke rumah kapanpun Anyelir memanggil—Dokter Andre namanya—lelaki berusia tiga dua yang baru mengeyam pernikahan itu masih mengobrol dengan Mihir di luar kamar tamu yang ditempati Janu. Katanya, Janu kelelahan. Tidak ada makanan apapun yang terisi di perutnya, dari kantung mata yang dinilai juga nampak Janu baru tidur sekitar satu atau dua jam. Belum lagi kesana kemari seperti kambing kehilangan penggembala. Janu tak kenal lelah, membiarka tubuhnya dipaksa dengan berbagai tuntutan ambisi. Ini yang dikhawatirkan Anyelir juga Ander selaku ibu. Masih menggenggam tangan Anyelir yang menempelkan kain basah di jidat Janu karena demam, lelaki itu memandangi lekat dewi-nya. Empat hari tak berjumpa menumbuhkan sejuta bunga-bunga yang mulai bermekaran di perut Janu, bahkan kali ini dihinggapi kupu-kupu. Hingga rasanya tak ada hal yang ingin dilakukan selain tersenyum. "Lir ... saya rindu kamu." Terhipnotis oleh bujukan dari istana para dewa, Anyelir hanya mengerling malu. Belum lagi semburat merah-merah di pipi menginterupsi kan demikian. Laganya Anyelir harus tetap terlihat marah, jangan luluh hanya dengan rayuan rindu. Ia harus mendesak Janu untuk bercerita logis. "Sudah sadar?" Dokter Andre muncul dari balik pintu bersama kedua orangtuanya. Anyelir yang mengerti lantas berdiri dari tempat tidur, menyingkir untuk membiarkan Andre memeriksa Janu. Stateskop seperti biasa menempel di d**a Janu, detak jantung yang berpompa dua kali lipat membuat Andre mengerutkan dahi. Antara demam, atau jatuh cinta. Bisa jadi itu kemungkinannya. Andre malah tersenyum singkat, jarinya yang piawai lantas menarik lengan kiri Janu. Memeriksa sementara lantas mencabut selang infuse yang menancap pada Janu. Lelaki itu sudah terlihat membaik, tinggal mengisi energi dengan makan walau demam belum sepenuhnya reda. Andre membersihkan tangan Janu yang sudah melepas seluruh rangkaian selang infuse, lantas memasangkan plaster di tangan Janu. "Nanti setelah makan jangan lupa minum Paracetamol, juga malam ini kalau bisa jangan bergadang." Janu hanya mengangguk pasrah, tatapan Anyelir yang menajam sudah pasti akan bertambah posesif tingkat abu vulkanik yang selalu hadir kala letusan tiba. Tapi tak apa, Janu suka tatapan itu. Tatapan kecemasan yang dianugerahkan Tuhan untuk Janu dapatkan, hanya Janu yang boleh menikmati, hanya Janu yang boleh merasakan. Anyelir-nya semakin masuk ke dalam jiwa raga Janu, rasa yang semula hanya percobaan berkembang mekar seperti bunga matahari di musim panas. "Kalau begitu saya permisi, Lir." Andre mengalun senyum pulas seraya menepuk pundak Anyelir pelan, lantas menggiringnya sampai hendak keluar. "Makasih banyak, Kak. Ayo biar aku anter." Keduanya berjalan nyaris keluar dari ruangan, tapi tiba-tiba Janu berdeham seolah memberikan tanda. "Kayaknya biar Bunda sama Ayah aja yang antar!" Mihir menarik lengan Anyelir sampai ia kembali masuk ke dalam, lantas berjalan merangkul pundak Andre. Lanjen yang mengekor Mihir, sebelum benar-benar pergi mengedipkan sebelah matanya pada Anyelir seolah memberi kode yang membuat Anyelir melotot tak percaya. "Kok dia panggil kamu ... 'Lir'? Anyelir maksudnya? bukan Berta Bee?!" pertanyaan Janu terdengar ketus, tersirat cemburu artinya. "Iya." Anyelir mengangguk lantas mendekat ke arah Janu, terduduk di samping ranjangnya. "Kenapa?" "Siapa dia? Kakak kamu? sodara?" Gelengan kepala membuat Janu semakin memanas. "Bukan." "Terus siapa?! kayak akrab gitu!" "Kamu cemburu, ya?" Anyelir menggoda Janu sampai lelaki itu membuang wajahnya malas. "Nggak!" "Udah jangan cemburu ... Kak Andre udah nikah, Jan!" Anyelir terkekeh sembari membereskan air bekas mengompres Janu, juga beberapa sisa pemasangan infuse tadi. "Ayo keluar, kita makan malam dulu." Janu yang bernapas lega lembu tersenyum pulas. "Saya harus pulang, Lir ... baju say—" Janu melotot saat menyibakkan selimut. Baru menyadari pakaian yang dikenakan sudah berganti. Menjadi piyama merah jambu kebesaran berlengan pendek. "Si—siapa yang ganti?!" Anyelir tertawa renyah mihat ekspresi Janu yang benar-benar terkejut. Ekspresi yang sama kala mengetahui Janu sudah berganti pakaian, yang pertama saat di Berau dengan kondisi Janu basah kuyup berlumuran darah, mau tidak mau Anyelir harus mengganti pakaian Janu. Walau rasanya terkesan aneh sebab itu kali pertamanya bagi Anyelir. Ekspresi yang tak kalah mengejutkan saat Janu pulang dari mabuk kala itu, Anyelir juga terpaksa mengganti pakaian Janu sebab ia sempat guling-guling di depan toko game zone. Itupun ia lakukan sedikit leluasa saat sudah pacaran. Kalau sekarang? tentu bukan Anyelir, bisa dipenggal hidup-hidup jika sampai Mihir tahu Anyelir pernah mengganti seluruh pakaian Janu secara total. "Bukan aku, Jan." "Terus siapa?!" "Pak Agi! Ha ... ha ... ha!" Anyelir tertawa lepas, selain Janu benci orang lain yang menggantikan baju untuknya. Ia juga membenci warna merah jambu, sengaja Anyelir memakaikan piyama milik sang Ayah yang couple dengan Bundanya. Janu akan terlihat gemas di mata Anyelir, kalau kata Batari lebih mirip babi cosplay manusia. "Baju saya mana?! saya mau pakek punya saya aja!" Janu nampak kesal sebab Anyelir menertawakan dirinya. Emang dasar manusia super jaim, paling mudah dikerjai. "Basah, Jan ... nanti kamu masuk angin. Udah sih pakek aja, baju kesayangan Ayah loh itu!" gemas sendiri Anyelir dengan tingkah Janu. "Udah ayo, makan malam dulu!" Akhirnya mau tidak mau Janu terpaksa menurut, benar juga kata Anyelir. Kalau sampai Janu pakai baju lama ia pasti akan masuk angin, belum lagi Janu harus menghargai itikad baik Mihir yang mau meminjamkan bajunya meski kebesaran. Janu malah mirip seperti orang-orangan sawah versi ngondek karena warnanya pink. Kala Janu terduduk tegap siap menurunkan kakinya di lantai, ia kembali melotot tajam. "Benda apa itu?!" Bagaimana tidak? Anyelir menyiapkan sandal untuk Janu berbentuk kelinci berwarna merah jambu juga. Bum lagi bulu-bulu yang tebal mirip seperti bola membuat Janu geli. "Ini apa, sih? Lir?!" protes Janu. "Udah, sih ... pakek aja, Jan. Kamu ini banyak protes, ya!" "Ya ... lagian kamu ngapain ... ih saya nggak suka!" "Masa sama Putri Jazmine suka ... tapi sama kelinci enggak? kelinci itu hewan tau ... kalo princess Jazmine kan put—" Janu membekap mulut Anyelir, ini ternyata balas dendam atas tindakan Janu terhadap kekasihnya. "Udah cukup! saya pakek kok ini!" Janu langsung berdiri memakai sandal boneka yang disiapkan Anyelir. Tak lupa tatapan tajamnya mampu menusuk setiap pori-pori Anyelir, Janu mode ngambek. Tapi alih-alih takut, Anyelir justru gemas saat Janu berjalan menuju ruang makan dengan penampakan seperti sekarang. Piyama merah jambu kebesaran, sandal boneka kelinci merah jambu, belum lagi rambut Janu yang berantakan. Oh rasanya Anyelir ingin sekali memeluk Janu, tapi ia masih punya gengsi untuk bersikap masih marah. "Nah tuh dia anaknya, Yah ...." Lanjen yang tengah sibuk menghidangkan menyambut kedatangan dua sejoli. "Duduk, Jan ... makan yang banyak, ya!" "Terimakasih, Bunda." Janu setengah membungkuk lantas duduk tepat di depan Mihir. Bersama Anyelir di sampingnya. "Tuh ... rawon! enak loh! Kamu harus makan yang banyak, ya? biar cepat sehat!" Mihir merapikan setiap hidangan agar nampak indah dipandang. Rawon, bakwan jagung, ayam goreng, capcay, benar-benar selera Indonesia membuat Janu rindu pada Ibu, padahal baru kemarin ia bertemu. "Makasih, Ayah." Janu membalikan piring yang menangkup rapi, beserta sendok dan garpu. "Kata Alir ... Ibu kamu masih di Yogya? kalau begitu malam ini menginap saja di sini." Bunda Lanjen mendudukkan tubuhnya saat semua hidangan telah rampung. "Iya, Jan ... kamar di ruang tamu kosong, kok. Bukan apa-apa, kamu sendirian di rumah lagi sakit 'kan kita khawatir takut kenapa-kenapa," "Makasih Ayah, Bunda ... tapi saya takut merepotkan. Lagipula pakaian saya tid—" "Pakaian kamu ada di lemari Anyelir, kalian 'kan pakai koper yang sama saat pergi ke Singapura," Janu melot pada Anyelir, padahal pakaiannya banyak di sini. Tapi Anyeli? Oh, ia sengaja melakukannya untuk mengerjai Janu. Sementara Anyelir tidak banyak menanggapi, ia sibuk menyiapkan porsi untuk Janu. Sementara Janu malah terdiam canggung, memang jauh dari lubuk hatinya ia kesepian di rumah sebesar itu tanpa seorang Ibu. Tapi tidak mungkin juga Janu merepotkan Keluarga Anyelir. *** Anyelir memerhatikan Janu yang tengah menenggak obatnya, harus diperhatikan dengan baik agar Janu mau menurut. Setelah itu tangan manisnya terpasang di jidat Janu, masih terasa panas. Pantas saja Bunda dan Ayahnya melarang Janu pulang. Lagipula di tengah guyuran hujan begini, mengendarai mobil dalam keadaan demam cukup berbahaya. Belum lagi di rumah Janu tidak ada siapa-siapa selain satpam dan asisten rumah tangga. "Istirahat!" Anyelir memperingati, sejujurnya ia ingin sekali mempertanyakan hal itu. Tapi Janu masih demam. "Jangan mikirin pekerjaan!" "Lir ... pakaian saya?" Satu helaan napas lolos dari Anyelir. "Iya, Jan ... besok aku kasih. Apa salahnya sekarang pake baju itu?" "Iya," jawab Janu singkat. "Yaudah, aku ke kamar dulu." Anyelir hendak beranjak dari tempat peraduan yang dipakai Janu istirahat sekarang. Tapi tangan Janu menarik lengan Anyelir paksa sampai gadis itu terjatuh di dalam pelukan Janu. Tatapan dewi-nya yang redup justru nampak bersinar di malam hari, manik cokelat bening itu membulat seolah seluruh atensi Janu agar tak sedikitpun berpaling dari Anyelir. Aphrodite-nya, benar-benar cantik seperti langsung diturunkan dari surga. Suara lembut bak nyanyian pengantar tidur membuat candu bagi Janiz seketika dunia berhenti berputar dengan keduanya yang mengunci pandang. "Jangan buru-buru ... saya rindu." "Ja—Jan!" Anyelir menggeplak lengan Janu pelan. "Kamu harus istirahat!" "Terjaga satu jam tidak akan membuat saya mati, Lir," Anyelir kembali terduduk seperti biasa, Namun Janu menggeser tubuh dengan setengah duduk sembari bersandar pada penyangga tempat tidur. Lelaki itu merentangkan tangannya. "Sini." Siapa yang tidak tergoda dengan perlakuan itu? Anyelir benar-benar merindukannya, tanpa basa-basi gadis itu langsung mendekat dan duduk dalam dekapan Janu. "Saya 'kan udah janji mau memberikan penjelasan sama kamu." "Tapi kamu masih demam, Jan." Anyelir mendongak sedikit, menatap wajah Janu yang sedikit memerah mungkin karena demam. Tapi lelaki itu masih berusaha tersenyum. "Nggak ada yang lebih penting bagi saya selain hubungan kita, Lir." Janu semakin mendekap Anyelir, kini gadis itu menaruh kepala di pundak Janu. "Bener kamu nggak ada hubungan sama Bella?" Satu tarikan napas terdengar berat di telinga Anyelir. "Itu masa lalu, Lir ... saya hanya punya hubungan di masa lalu dengan Bella. Saya tidak ingin menaruh citra jelek Bella di mata kamu, tapi soal mabuk itu memang kesalahan saya dan Bella ... kami terpengaruh persaingan kompetitif, saya tidak mau kalah di hadapan dia." "Hubungan apa?" Janu menaruh senyum manis. "Hanya hubungan biasa," "Teman?" "Bisa dikatakan begitu, tapi lebih dekat," "Pa—car?" "Nggak, Lir ... udah ya ... nggak usah mikirin masa lalu. Karena yang saya pikirkan sekarang itu masa depan ... yaitu kamu, Lir." Janu menepuk-nepuk pundak Anyelir lembut. Semakin hari rasa takut Janu semakin bertambah seiring rasa sayang yang kian berkembang, mendekap Anyelir seperti ini entah mengapa yang ada dalam pikirannya adalah perpisahan juga pertengkaran hebat. Janu takut, sungguh. Karena itu ia mendekap Anyelir begitu erat, mengalirkan setiap getaran darah yang mengandung rasa suka tak tertandingi. "Cewek yang masuk pas kita lago telepon itu?" "Iya, itu Bella ... dia ngasih sushi ke saya ... kamu tahu 'kan? saya ngajak kamu makan sushi tapi kamu sibuk?" "Aku lagi syuting, Jan ...." "Kebiasaan saya kalau sudah mabuk, ingin makan sushi ... dan Bella tahu itu. Makanya dia datang bawa sushi ke saya ... karena saya tahu kamu bakal marah makanya saya kasih ke Aruna," "Berarti sebelum aku ngasih bekal ke kamu? dia duluan?" Janu memiringkan kepalanya, menatap wajah Anyelir yang tersimpan kekecewaan. "Bekal?" "Bek—ahh ... maaf, bekalnya nggak jadi karena kamu lagi mesra-mesraan!" "Itu tidak disengaja, Lir ... Bella terjatuh dan saya menangkapnya," "Tapi kamu bilang Bella melakukannya sengaja ... sengaja apa?!" "Sudah saya katakan ... saya tidak ingin menaruh perspektif buruk kamu ke Bella, cukup saya aja," "Kenapa?" "Itu tidak penting. Yang terpenting, faktanya saya nggak pernah mau melakukan hal itu dengan sengaja ... saya tidak punya perasaan apa-apa sama Bella, Lir ... kalau kamu maksa saya menjauh, saya akan lakukan demi menjaga perasaan kamu." "Maaf ... aku marahnya berlebihan kemarin," "Nggak, Lir ... saya yang harusnya minta maaf." Janu mengecup pucuk kepala Anyelir lembut. "Saya melakukan hal yang kamu benci di dunia ini." "Aku cuman pengen kalo ada apa-apa kamu bilang ke aku, Jan ... ada aku, pacar kamu ... lantas fungsinya aku apa kalau kamu melakukan semuanya serba sendiri?" "Maaf, Lir ... saya belum terbiasa," "Mulai sekarang harus terbiasa ... walau aku algi marah kamu harus tetep kabarin aku kalo ada apa-apa ... jangan kayak ke Malang kemarin!" "Kamu tahu say—" "Aku selalu tahu tentangmu, Jan." "Benar, kah?!" Anyelir mengangguk tulus. Termasuk saat kamu berbohong pun, aku tahu, Jan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD