Detik demi detik Anyelir hanya memandangi ponselnya yang tak berdering atau sekadar notif pesan saja, tentu ia menunggu dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Janu?
Usai mendapat informasi dari Bella bahwa Janu pergi ke Malang tanpa sepengetahuan Anyelir, siapa yang tidak kecewa? gengsi rasanya Anyelir menelepon Janu duluan, tapi sejak tadi bahkan sejak kemarin siang sudah tak ada lagi notif dari Janu.
Aruna bilang Janu berangkat sekitar tiga hari yang lalu, artinya di hari yang sama dengan pertengkaran itu Janu langsung berangkat ke Malang. Pantas saja usaha Janu untuk membujuk Anyelir hanya sebatas mengejar sampai ke gedung agensi, selepas itu pun Janu tak kunjung datang lagi. Hanya mengirimi ratusan pesan klarifikasi yang menurut Anyelir tak berguna kalau tidak datang langsung.
Apa Anyelir terlalu egois? Berbicara soal perasaan rasanya bukan perkara yang lumrah, dalam hubungan ada pihak yang dirugikan juga pihak yang merugikan. Entah ada di posisi mana Anyelir sekarang, kecewa terhadap Janu jelas, marah juga wajar. Tapi justru Janu seolah balik marah juga, pergi menjauh seperti menaruh kesal yang perjalan dileburkan.
"Heh! udah nyampe!" peringat Batari, sebab mobilnya sudah terparkir cantik di depan rumah Anyelir. "Mandangin hape mulu, jatuh cinta sama hape, lo?!"
Anyelir yang baru tersadar menoleh pada Batari sembari mengerutkan dahi. "Apa?"
"Itu rumah lo, nggak liat pintu segede gaban depan mata?!"
"Oh ... Iyah," sahut Anyelir sekenanya.
"Kenapa, sih?! ngantuk? yaudah sana buruan masuk ... lo 'kan baru tidur dua jam doang, ini udah sore juga mau hujan ... istirahat, ya!"
"Malang, Tar!" Anyelir menghela napas malah termenung meratapi pintu masuk rumah yang rasanya tidak berefek semacam ada gaya yang menarik untuk tidur seperti sebelumnya.
"Nasib siapa yang malang?"
"Nasib gue!" sarkas Anyelir malah emosi.
"Astaga curut Abudabi! bersyukur lo! Orang mah banyak yang pengen di posisi lo ... ini malah disebut nasibnya malang!"
Anyelir kembali menoleh, kali ini sepaket dengan tubuhnya. Terheran-heran dengan Batari yang otaknya entah tertinggal di mana, dalam situasi seperti ini bisa-bisanya ia tidak nyambung. "Tar ...."
"Hmm? Apa, sih?!"
"IPK lo berapa kemarin pas lulus?"
"IPK? kok nanya IPK? kenapa, sih?!"
"Berapa?" tanya Anyelir semakin menginterogasi.
"Ya ... lumayan lah ... di atas tiga, IPK gue bagus malahan segitu!"
"KENAPA NGGAK SEBANDING SAMA OTAKNYA!" teriak Anyelir. Ia melepas seat belt berniat untuk beranjak.
Tapi Batari menahan tangannya. "Eh ... maksudnya apaan bawa-bawa IPK?"
"Gue ngomongin Malang tuh bukan soal nasib, tapi Janu, Tar ... JANU YANG PERGI KE MALANG!"
"Ahh ... Iyah. Ya terus gimana? mau larang dia juga udah terlanjur berangkat 'kan, ya?"
Sungguh laga Batari membuat Anyelir rasanya ingin menoyor kepala yang keras apalagi saat berdebat sengit, Batari si kompetitif akan berusaha semaksimal mungkin menjadi pemenang dalam pembicaraan.
Tapi lihat sekarang, Anyelir hanya bisa berkata. "TERSERAH!" lantas membuka pintu mobil dan beranjak dari hadapan Batari.
"Dih ... lagi PMS kayaknya dia!" Hanya gelengan kepala yang mengakhiri tingkah badmood Anyelir hari ini. Tak ingin mengganggu, Batari lantas tancap gas membawa mercy kuning menuju kediamannya.
Langkah Anyelir yang lunglai memasuki area ruang keluarga disambut hangat oleh sang Ibu, beruntung Mihir sedang istirahat di kamar. Jadi Anyelir bisa leluasa untuk mengekpresikan kelelahannya, jujur saja siapa yang tidak lemas? Anyelir syuting dari kemarin sore hanya istirahat satu dua jam, dan baru pulang sore lagi. Rasanya mirip bang Toyib.
"Alir ... pulang!"
"Capek?" Pelukan sang ibu adalah tempat paling nyaman di saat raga rasanya sudah hampir remuk, belum lagi hati gundah gulana antara kecewa dan sakit mulai bersatu-padu. Tangis pun rasanya sudah tidak perlu, sebab ia sudah kehabisan energi untuk sekadar menitikkan air mata.
Anyelir membenamkan wajahnya di dalam ceruk leher sang Bunda, rasanya kembali tenang dan hangat. "Banget, Bun."
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Bunda buatin teh, ya. Kamu mandi dulu sana." Lanjen menepuk-nepuk punggung Anyelir, rasanya berat menyaksikan putri semata wayang banting tulang kerja keras untuk keluarga.
Sejak kecil Anyelir kehilangan masa indahnya, sebab ia dikucilkan karena tidak mampu mengingat nama teman-temannya. Beranjak remaja banyak sekali cobaan yang membuat Anyelir bisa dikatakan dewasa sebelum waktunya, banyak hal yang tidak Anyelir nikmati semasa hidup. Sekarang saja, sudah mempunyai pujaan hati masih disibukkan dengan pekerjaan.
"Makasih, Bunda."
"Lir?" Mihir yang baru muncul menghentikan adegan peluk-pelukan antara ibu dan anak itu malah menimbulkan tanya.
Anyelir memutar tubuhnya. "Kenapa, Yah?"
"Kamu ulang tahun?"
Tentu saja bukan hanya alis Anyelir yang berkerut, Lanjen juga. "Ulang tahun Anyelir masih dua bulan lagi, kamu lupa?" Lanjen yang menimpali.
"Atau anniversary?"
"Anniversary apa? emangnya ada apa, Yah?" Anyelir penasaran dengan maksud sang ayah.
"Itu Janu lagi hias taman yang ada di bawah kamar kamu itu loh, Ayah pikir kal—"
"Janu?!" Anyelir terkejut bukan main, apa penyakit ayahnya kambuh sampai dia halusinasi?
"Iya ... Janu itu lagi hias-hias taman."
"Janu lagi pergi ke Malang, Yah! Itu nggak mungkin Janu!"
"Kamu salah lihat kali!" Lanjen menimpali, takut-takut suaminya kembali halusinasi dan mengamuk seperti biasa. Yang ada dalam bayangannya semacam suara-suara juga reka ulang atas terjatuhnya Anyelir dari lantas dua beberapa tahun silam.
Apa karena kisah Anyelir berubah? sehingga yang terpikirkan oleh Mihir saat ini adalah kehidupan Anyelir dengan Janu.
"Serius, kalau nggak percaya lihat aja langsung."
Tanpa basa-basi lagi Anyelir berlari menuju tangga juga menuju kamar pribadinya, pintu yang tertutup seakan tak ada halangan. Anyelir beranjak ke arah balkon yang banyak dihiasi anak-anaknya—kaktus. Lantas matanya melotot sempurna, ucapan sang Ayah memang benar.
Janu tengah sibuk di bawah balkon Anyelir, lebih tepatnya taman yang mengarah langsung ke bagian kolam renang. Lelaki itu menyusun beberapa kaktus kecil di atas rerumputan dengan sketsa berupa kata 'Sorry'. Anyelir masih terdiam sejenak, sebab ia dengar dengan jelas Janu pergi ke Malang.
Selain hiasan kaktus, Janu juga menghias sekitaran kolam dengan beberapa lampu tumblr warm white agar terlihat hangat, itu terlihat terang juga unik sebab hari menunjukkan hampir malam. Ditambah lagi cuaca yang mendung kian bertambah gelap.
Lelaki yang tengah sibuk menata setiap kaktus-kaktus kecil baru menyadari keberadaan Anyelir yang mematung di atas balkon memandangi dirinya datar. Entahlah Anyelir harus bahagia atau sedih, menangis atau tertawa, ia hanya bisa diam sekarang. Terlalu rumit rasanya menebak perilaku Janu, ucapan dan segala hal tentangnya selalu tak terduga.
"Lir!" Janu setengah berteriak untuk menarik atensi Anyelir.
Setelah itu, ia berjalan ke arah dapur outdoor milik keluarga Anyelir yang biasa digunakan untuk BBQ party, terkadang juga makan bersama.
Rupanya Janu membawa beberapa poster coretan dari pilok yang mirip-mirip seperti orang mau demo, Janu mengacungkan ke arah Anyelir dengan menaruhnya di atas kepala. Ia belum mau berbicara, membiarkan Anyelir membacanya sendiri.
'Maafkan saya, Bertadine Anyelir'
Begitu kiranya bunyi poster pertama, mata Anyelir sempat berbinar, terkejut rasanya mendapati tindakan Janu yang selalu tak bisa diduga.
'Beri saya kesempatan untuk menjelaskan, walaupun saya sadar saya memang salah'
Poster yang kedua cukup menbuat Anyelir tersentuh, meski Janu keras kepala dan berakhir mengajaknya bertengkar setelah itu menghilang, ia tetap mengakui bahwa dirinya juga bersalah.
'Jangan marah lagi, napas saya rasanya berhenti saat kamu memilih pergi daripada menghampiri'
Ini terdengar berlebihan, tapi tak apa. Ia baru menyadari bahwa Janu rupanya bisa segombal itu.
'Ayo kita berbicara, Sayang. I love you'
Dan itu poster terakhir, menjadi penutup yang hangat di tambah dengan senyum Janu yang merekah.
Jujur, Anyelir tersentuh dengan semua persiapan yang Janu lakukan benar-benar seniat itu. Tapi apa yang menyentuh Anyelir tidak sebesar rasa kecewanya. Janu bertindak sudah terlewat keterlaluan, bukan soal privasi yang dimiliki tapi soal kebohongan yang ditutupi. Anyelir entah dianggap apa olehnya, meski pergi ke Malang untuk bekerja. Tak ada salahnya mengabari, Anyelir melakukan adegan kiss bahkan seharian tidak pulang dari lokasi syuting saja ia berkata jujur pada Janu.
Tapi Janu? hanya sekadar memberitahu ada makan malam kantor. Setelah itu Aruna mengabari Janu mabuk parah, pernahkah terpikirkan oleh Janu bertapa Anyelir merasa bahwa dirinya tidak berguna sebagai pasangan?
Sudah tak sanggup lagi rasanya Anyelir menahan lapisan bening yang memaksa luruh, ia terisak dalam keadaan mendung seolah langit pun mendukung untuknya larut dalam nuansa biru.
"Kamu ... pu ... pulang aja!" Hanya kalimat itu yang lolos dari mulutnya yang gemetar.
Janu menghela napas panjang, ia sudah kehabisan akal untuk melantunkan maaf bagaimana lagi. "Lir ... saya cuman minta waktu kamu untuk mendengarkan saya ... saya mohon, Lir." Janu memohon, dengan kedua tangan yang berhimpit seperti berdoa..
"Pergi, Janu!"
"Saya nggak akan pergi dari sini sebelum kamu mau bicara dengan saya, menerima permintaan maaf saya! saya mohon, Lir!" tegas Janu sembari memejamkan mata, menahan setiap sesak di d**a.
Anyelir masih terisak, bahkan wajahnya sudah memerah kacau. Terutama bagian hidung.
"Terserah!"
Masa bodo dengan apa yang ingin dilakukan Janu, ia sudah tak kuasa untuk sekadar berdiri tegak. Raganya lelah setelah seharian penuh bekerja, hatinya juga tak kalah remuk dengan keadaan yang terlalu memojokkan baginya. Yang Anyelir butuhkan saat ini adalah membersihkan diri, setidaknya ia tidak harus terlihat kacau apalagi di hadapan sang Ayah.
***
Jam sudah menunjukkan angka delapan malam, usai mandi Anyelir tak sengaja tertidur sangking kelelahan. Terdengar suara gemuruh dari luar menandakan hujan, apa Janu masih diam di luar?
Peduli apa, toh manusia itu memang dasarnya gengsi tidak mungkin mau berkorban sejauh itu hanya untuk mendapat permintaan maaf dari Anyelir. Karena perutnya terasa lapar, Anyelir memutuskan turun menuju ruang makan.
Ada Mihir yang sedang makan juga Lanjen yang mondar-mandir sibuk memasak. Dengan kantuk yang masih bermuara, mata yang sembab Anyelir memaksakan senyum pada Mihir yang dibalas tatapan tajam.
Baru saja Anyelir terduduk, Mihir sudah bertanya dengan perkataan yang cukup menusuk baginya.
"Dari mana kamu?!"
Anyelir yang bingung lantas mengerutkan dahi. "Ti—tidur ... kenapa, Yah?"
"Emang Ayah pernah ngajarin kamu kayak gitu?!" nada Mihir tinggi seolah membentak Anyelir.
"Maksud Ayah apa, sih?"
"Sejak kapan kamu jadi egois yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?! Ayah nggak pernah ajarin kamu kayak gitu, Lir!"
"Ayah ngomong apa, sih? Alir baru aja mau makan udah marah-marah kayak gini?!" kesal tentu saja, ia baru hendak mengisi perut sudah dicerca dengan nada tinggi yang menusuk sampai ke ulu hati. Bahkan menyuap nasi pun menjadi tak selera.
"Kamu nggak lihat?! Pacar kamu ... berdiri berjam-jam di sana sambil hujan-hujanan cuman mau permintaan maaf dari kamu, Anyelir!!" bentak Mihir membuat Anyelir tersentak sekaligus bingung.
"Ja—janu masih di sana?!"
"Masih nanya kamu! Memang apa kesalahan yang dia perbuat sampe kamu bertindak egois kayak gini?! keterlaluan kamu, Lir!"
Janu bertindak sejauh ini? Benarkah? Terkadang rasa egois itu muncul, menghantarkan pada gejolak rasa yang berubah menjadi magma vulkanik seperti kisah kelam berakhir sengsara. Entah tindakan Anyelir salah atau Janu yang berlebihan, tapi kata maaf sulit sekali menggambarkan rasa kecewa yang bermuara.
Tak apa, jika Janu melakukan kesalahan lain. Asal jangan berbohong, sungguh rasanya sulit menggerakkan hati untuk mendekat ke arah Janu dan mengtakan sudahi semua permohonan ini.
"ANYELIR!" bentak Mihir menyadarkannya dari lamunan.
"Hm?" Anyelir jadi bingung sendiri.
"Cepat temui Janu, anak orang bisa sakit, Lir kalo kayak gitu!"
"Tapi, Yah—"
"Tapi apa, Lir?! kamu nggak kasihan sama pacar kamu sendiri, ha?!"
"Anyelir nggak mau, Yah ... Ayah aja atau Pak Agi yang kasih payung ke dia," pinta Anyelir terdengar lirih.
Mihir kembali menghela napas panjang. "Kalau Ayah atau Pak Agi bisa, sudah daritadi Janu pergi. Tapi dia nggak mau nerima payung sama sekali, Lir! dia nunggu kamu, ANYELIR!"
"Alir nggak mau, Yah ... Janu udah bohongin Alir! Janu jahat, Ayah." Anyelir malah merunduk sembari terisak, membuat Mihir bingung harus bertindak apa.
"Lir ...." suara Mihir melembut. "Kebohongan itu memang mengecewakan ... tapi penyesalan itu jauh lebih menyakitkan."
Anyelir mendongak dengan pipi yang sudah basah oleh air mata. "Yah ...."
"Kamu mau menyesal seumur hidup dengan keegoisan kamu yang menulikan pendengaran padahal belum tentu Janu bersalah?!"
"Buktinya sudah jelas, Yah ...."
"Bukti itu belum tentu menunjukkan kebenaran, Anyelir ... jangan sampai kamu kehilangan Janu hanya karena merasa kecewa dengan apa yang dia perbuat. Padahal belum tentu Janu melakukannya, bisa saja dia dijebak atau itu sengaja ... Ayah nggak tahu masalah kamu seperti apa, tapi kamu jangan sam—"
"Payung di mana, Yah?!" Anyelir berdiri menghapus jejak air matanya.
Benar kata Mihir, ia memang kecewa dengan kebohongan Janu. Tapi ia takut menyesal telah bertindak tanpa berpikir panjang. Anyelir khawatir dengan Janu lantas berlari mengambil payung untuk menemuinya.
Saat Anyelir membuka pintu dapur outdoor, hatinya benar-benar sakit menyaksikan perjuangan Janu yang rela melakukan segala hal demi mendapatkan maaf darinya. Janu bahkan tak bergerak sedikitpun terus menatap ke arah balkon Anyelir.
Ia berjalan dengan perlahan, di tengah hujan deras begini bahkan tubuh Janu sudah basah kuyup. Poster yang dipegang pun sudah tak berbentuk. Anyelir terisak sembari terus mendekati Janu.
Payungnya terarah, menghentikan setiap rintik yang terus menghujam tubuh Janu seolah bagian dari penebusan dosa, Janu menoleh. "Udah, Jan ... cukup."
"Lir?" Janu tersenyum bahagia melihat Anyelir-nya datang sesuai yang diharapkan.
Kini kedua sejoli itu saling melempar pandang di bawah guyuran hujan ditemani halilintar yang menggentar. Wajah Janu benar-benar terlihat pucat dengan tubuh yang gemetar karena kedinginan, Anyelir semakin terisak betapa jahatnya ia membiarkan Janu menderita seperti ini.
"Lir ... maafin saya ... say—"
Anyelir berlari melemparkan payung yang di bawa dan mendekap Janu cukup erat, menangis di dalam pelukannya seolah semua lelah dan kecewanya terlampiaskan sekarang. "Udah, Jan ... udah ... u—udah ... jangan kayak gini ... jangan kayak gini lagi ...."
"Lir ... say—"
Tubuh Janu tiba-tiba melemas dan ambruk di dalam dekapan Anyelir. "Jan?"
Berat badan Janu yang jauh lebih dari Anyelir tak bisa membuat Anyelir menahannya, Janu ambruk di atas rerumputan membuat Anyelir semakin ketakutan. "Jan ... Jan jangan bercanda!" Berkali-kali ia menepuk-nepuk pipi Janu tapi mata lelaki itu benar-benar terpejam.
"Jan ... bangun, Jan ... JANUUUUU! Bangun JANUUUUUU!"