Bab 73 - Masa Lalu Janu

1875 Words
Cakrawala bertabur gemintang membiaskan tiap cahaya pada setiap alat pembiasnya. Susunan berbagai jenis kaktus di hadapannya tak membuat si gadis tenang, ia tetap kesepian. Pikirannya bergelut kian mengiris hati, sudah berapa bulan berhubungan dengan Janu? akhir-akhir ini yang terjadi hanya pertengkaran dan adu mulut. Termenung dengan secangkir kopi, memberikan hangat sesaat kala udara dingin berembus di malam gelap. Anyelir masih memikirkan, setiap kata dari ucapan menyakitkan Janu. Anyelir juga masih memikirkan setiap kata dari ucapan mengherankan Bella. Bahkan kali ini hati dan pikiran bergulat benar-benar baku hantam. Yang satu, lebih memilih diam dan menunggu sebab nanti ada saatnya Janu terbuka. Yang satunya lagi, rasa takut kian menyeluruh saat tahu Janu akan pergi ke Washington dengan Bella di mana tempat itu adalah sekolah juga rumah bagi Janu dulu. Siapa yang tidak takut? Apa yang terjadi jika Bella mengajak Janu wisata masa lalu? belum lagi keberadaan mereka di sana terbilang lama. Mana mungkin Anyelir tinggal diam. Bella yang Anyelir kenal memiliki sifat agresif yang kentara, ia mampu bertindak ekstrim apabila itu memang perlu dilakukan. Bagaimana kalau Bella mengajak Janu minum-minum lalu tidur bersama? Anyelir menggeleng kepala takut, membayangkannya saja membuat ia ingin muntah. Hanya ada satu cara, Anyelir harus tahu hubungan Bella dan Janu di masa lalu sedekat apa? dengan begitu ia bisa mengantisipasi, agar Janu jangan terlalu mempermasalahkan masa lalunya. Ponsel Anyelir yang berada di dalam saku piyama dikeluarkan, mencari kontak Bella yang sempat diberikan oleh Aruna tadi. Jadinya menari-nari tanpa menyentuh layar ponsel, antara harus memanggil atau tidak. Antara otak dan hati sedang tidak damai sekarang, Anyelir bingung harus mengikuti permintaan dari siapa. Akhirnya jari jempol menekan tombol hijau, persetan dengan amukan Janu sekarang, hubungannya tengah diambang kehancuran. Anyelir takut, sungguh ia ketakutan menerima kenyataan bahwa Dewa-nya pergi, Dewa-nya direbut orang, Dewa-nya berselingkuh. Bulu kuduknya berdiri memikirkan hal itu. Tersambung. "Hallo?" "Ini siapa?!" nada Bella dari seberang telepon sana terdengar membentak. "Aku Berta Bee ... bisa kita bertemu, sekarang?" "Oh, tentu." "Alamatnya aku kirim via pesan," "Baiklah. See you!" Bergegas, Anyelir berganti baju alakadarnya, hanya berlapis cardigan hitam. Rambut yang semula digerai ia rapikan lantas memakai topi yang senada, minyak wangi kesukaannya ala Cherry blossom terus menyembur ke seluruh tubuh sembari ia berjalan ke arah tangga menuju parkiran. Anyelir menyambar kunci mobil miliknya lantas segera berlari, memasukan botol minyak wangi tadi ke saku baju yang tertata si bagian depan piyamanya. Maaf Janu, tapi aku harus tahu agar kita tidak banyak salah paham. *** Sesuai permintaan Anyelir, kini dua mobil terparkir di tepi pantai yang sunyi menghadap pada deburan ombak yang kian bertambah aktif pada malam hari. Di ujung jalan, ada restauran mewah yang dulu sering dipakai Anyelir juga Janu jalan bersama. Sekarang mereka sudah jarang menghabiskan waktu seperti itu, sibuk dengan urusan masing-masing juga pertengkaran hebat, Anyelir lelah rasanya. Ia membuka pintu mobil lantas berjalan pada mercy hitam milik Bella. Mengetuk-ngetuk jendela mobil lantas masuk ke dalamnya. Untuk hal yang dirasa penting juga rahasia, berbicara di dalam mobil akan lebih aman. Terhindar dari media juga paparazi gila. Anyelir melepas topi yang sejak tadi bersarang di kepala, merapikan rambut sampai tergerai begitu cantik. Bella menatapnya iri, pantas saja Janu tergila-gila dengan gadis seperti Anyelir. Tanpa riasan make up sekalipun, gadis dihadapannya memang cantik. "Cepat ... ceritakan." Anyelir menatap Bella penuh permintaan. "Sebegitu penasarannya?" Anyelir mengangguk. Sebetulnya bukan penasaran, lebih kepada berharap bahwa semua akan baik-baik saja setelah Anyelir tahu masa lalu Janu, dan membimbingnya untuk memaafkan apa yang pernah terjadi sebelumnya. "Laci dashboard di hadapanmu." "Apa?" Anyelir bingung. "Buka saja," Bella berucap penuh keyakinan. Tanpa basa-basi lagi, Anyelir membuka laci dashboard itu. Banyak foto-foto polaroid tertera di sana. Ada wajah Janu juga Bella, semakin membuat Anyelir penasaran lantas membawanya keluar semua. Ada beberapa foto yang jatuh, Anyelir berusaha mengambilnya tersalip di bagian kaki sendiri. Tanpa sadar, parfume yang disimpan di saku piyamanya jatuh, tapi Anyelir mengabaikan itu. Sebab satu foto yang ia ambil terselip di kaki membuyarkan dunianya. Foto dua pasangan muda tengah menunjukan tangan masing-masingnya, berbalut cincin ke arah kamera. Wajahnya yang berseri nampak bahagia. d**a Anyelir seperti ditimpa larva panas yang membentuk bongkahan besar sampai rasanya begitu sesak dan menyakitkan. Apa ini? foto pertunangan? Janu dan Bella pernah bertunangan? Anyelir menoleh pada Bella meminta penjelasan. "Yes ... we are engaged," Deg. Anyelir menyugar rambutnya, membuang wajah dengan bawah bibir yang digigit paksa. Sesak sekali rasanya menerima kenyataan ini, berusaha sekuat tenaga ia menahan setiap butiran kristal yang ingin meluncur dari matanya. Itu tidak boleh terjadi, Anyelir tidak boleh menangis dulu. Ia harus tahu cerita utuhnya seperti apa. "Tapi kalian berpisah hampir sepuluh tahun," "Ya ... hubungan kita sudah berakhir lama." Bella mengubah posisi menjadi duduk berhadapan dengan Anyelir, seolah fokus dengan ceritanya. Mata Anyelir melihat satu persatu foto polaroid, banyak sekali. Isinya adalah foto kebersamaan Janu juga Bella, makan di tempat sushi, berjalan di tepi pantai menghabiskan waktu bersama. Dinner, bermain capit boneka? pantas saja Janu mengigau saat mabuk ingin melakukan permainan itu, ternyata ia sering melakukannya dengan Bella. Dari foto-foto itu senyum Janu begitu merekah, sangat bahagia seolah tanpa ada beban apapun dipundaknya. Sekian lama Anyelir mengenal Janu, selain wajah datar, dingin, ketus dan ucapan yang pedas. Sisi hangat Janu hanya lembut, perhatian, juga tulus menyayangi Anyelir. Tak pernah Janu tertawa lepas seperti di foto ini, seolah hal itu adalah tabu baginya. Anyelir sendiri bisa menghitung jumlah Janu tertawa selama bersamanya. "Aku dan Janu adalah teman kuliah, kita satu kampus ... orang tua kita juga saling mengenal." Anyelir yang semula menatap satu-persatu foto kenangan itu, lantas menoleh. Menatap Bella yang memasang wajah sendu biru di wajahnya. "Terus?" tanya Anyelir langsung. "Dulu aku hanya gadis nerd kutu buku yang selalu mendapat bullying dari teman kampus karena penampilanku ... kampungan katanya." Mendengar hal itu, Anyelir lantas melihat kembali setiap detail foto. Banyak sekali foto Bella menggunakan kacamata dengan membawa buku di tangannya, benar, dulu Bella terlihat kutu buku juga baik. Tidak seperti sekarang, menurut Anyelir menyeramkan. "Lalu Genta ... selalu pasang badan untukku. Sejak saat itu kami dekat." Wajah Bella menatap ke arah depan, langit yang gelap hanya menyisakan bintik-bintik lampu perkotaan seperti gemintang. Seolah masa lalu tersorot oleh lampu mobil, membentuk layar bayangan di atas langit. "Kita menghabiskan waktu bersama ... setiap hari, setiap menit bahkan detik. Orangtuaku juga mengajak Ibu Ander berkerjasama karena kita tahu beliau adalah pembisnis yang cerdas." "Pembisnis?" Anyelir sempat tersentak, dari tindakan Ander kemarin justru wanita paruh baya itu lebih mengurus keluarga. Anyelir sendiri bahkan tidak menyangka bahwa Ibu Janu seorang pembisnis. "Ya ... beliau pembisnis yang keren." Bella mengukir senyum. "Akhirnya kami memutuskan untuk bertunangan agar hubungan kami saling terikat." "Tapi kemudian ...." Anyelir mendekat ke arah Bella, bagian paling ditunggu membuatnya semakin penasaran. "Kemudian apa?" "Ada konflik di keluarga kita, Ibu Ander juga menyalahkan Papaku setelah gudang perusahaannya terbakar. Beliau juga menderita serangan jantung pada saat itu ... keadaan semakin rumit, Genta kehilangan arah ... dia bahkan mabuk-mabukan. Lalu datang ke rumahku ... mengacak-acak semua sampai memukul Papaku." Tangan Anyelir gemetar mendengar cerita itu, membayangkan bagaimana frustasinya Janu saat tahu Ibu Ander menderita sakit yang serius. Bahkan air matanya sejak tadi mengalir tanpa permisi, entahlah itu sulit sekali untuk dibendung. "Janu ... memang sering menyentuh alkohol?" Bella menggeleng. "Tidak. Dia bukan tipikal orang yang melampiaskan apapun dengan minuman keras, tapi ada beberapa oknum yang menawarinya sampai Janu seperti orang gila membabi-buta Papa." "Papamu ... dipukuli Janu?" "Ya ... Janu marah seperti orang gila sebab Papa tidak mau bertanggungjawab atas terbakarnya gudang milik perusahaan Janu. Tapi memang hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Papa ..." Bella menyeringai, membuat Anyelir mengerutkan dahi. Ia memang tak sepenuhnya percaya, bisa jadi ada bumbu-bumbu yang ditambahkan pada setiap ucapan Bella. Tapi mengenai pertunangan itu ... foto-fotonya sudah jelas tertera. Mana mungkin Bella mengada-ada. "Setelah kejadian itu ... Ibu Ander mendapat perawatan khusus di Singapura, dan Janu pergi meninggalkanku ... dia menghilang seperti tanpa jejak." "Kamu tidak menerima kabar apapun darinya?" Lagi-lagi Bella menggeleng. "Janu adalah lelaki egois ... ia mementingkan egonya tanpa memikirkan perasaanku sebagai tunangannya, ia juga pandai menutupi masalah. Terlalu tertutup, dan sulit dimengerti." Anyelir kesulitan menelan salivanya, apa yang dikatakan Bella memang begitu benar adanya. Itulah sifat Janu yang paling Anyelir benci. "Lalu?" "Secara terang-terangan dia mengakhiri hubungan kita, aku memutuskan untuk pergi begitupun dengan Janu ... dan sepuluh tahun berlalu." "Kenapa kamu ... kembali?" Tangan Bella bergerak, merogoh benda pipih yang di simpan di tas kecil dekatnya. Jari Bella menari dengan damai di sana, perlahan tapi pasti. Lantas diserahkan pada Anyelir. Layar ponsel Bella menampilkan berita tentang kematian sutradara Panca Pirmuranggeng. Bella tahu tentang 'Papi'? "Tu—tunggu ini?" Alis Anyelir terangkat sebelah. "Paman Panca." Bella mengangguk-angguk. "Orang yang paling dekat dengan Genta adalah pamannya, karena ia ditinggalkan ayahnya sejak kecil. Aku tahu betapa terpuruknya ia kehilangan satu-satunya keluarga yang mengerti tentang perasaannya." Terpuruk? Anyelir masih ingat betul detik-detik terakhir Papi mengembuskan napasnya. Janu terlihat tegar, memasang tampang datar tanpa berucap apapun. Berbeda dengan Anyelir yang menjerit histeris, bagaimana bisa ia setenang itu padahal hatinya rapuh? "Tapi ... Janu terlihat—" "Biasa saja? begitulah dia. Terlalu memendam banyak luka, Genta tidak akan melampiaskan emosinya pada orang asing ... itu sebabnya aku kembali." Anyelir mengerutkan dahi. Apa maksud orang asing? Dirinya? memang benar Janu tidak pernah mengekspresikan emosinya pada Anyelir, baik itu melalui ucapan atau tindakannya. Tapi orang asing? Memang pada saat kejadian itu Anyelir orang asing bagi Janu, tapi lain hal dengan sekarang. Bella seolah-olah memojokkan Anyelir karena tidak pernah mengerti Janu. "Tapi sekarang dia sudah mempunyaiku," Anyelir sedikit mempertegas. "Apa dia pernah menunjukkan rasa sakitnya? emosionalnya? menceritakan semuanya padamu?" Bella menggeleng pasti. "Dia tidak akan melakukan hal itu pada orang baru. Dia tidak mempercayaimu," Pukulan telak. Anyelir serasa terjun ke sungai yang tak mendasar, benar. Ucapan Bella memang benar, tak ada yang salah. Janu tidak pernah terbuka, tidak pernah melampiaskan kesedihannya, tidak pernah mau bercerita apapun. Karena baginya Anyelir adalah orang baru? kenapa rasanya sesak sekali? "Mungkin dia belum berani terbuka," Anyelir membuat alasan dengan mulut yang gemetar ingin menjerit. "Tidak akan pernah." Bella menyeringai. "Dia tidak akan terbuka padamu ... karena di sini sudah ada aku." Anyelir mengerutkan dahi bingung. "Aku pacarnya, Bella!" nada Anyelir tinggi. "Tapi perasaannya masih kepadaku," Gelengan kepala Anyelir beririrangan dengan air mata yang terus mengalir. "Tidak mungkin ... dia sudah pernah mengatakan padaku kalau dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu!" "Lantas kenapa dia menerimaku sebagai penulisnya?" Bella tersenyum miring. "Dari ratusan orang yang pernah bekerjasama dengannya, kenapa harus aku? Kenapa dia menerimaku? Kenapa dia ingin minum dan bermain capit boneka bersamaku? karena ... dia masih menginginkanku!" "Mustahil!" Anyelir hendak beranjak, mobil Bella seperti berisi racun yang terlalu menyesakkan baginya. "Pengumuman itu ...." Gerakan Anyelir terhenti, ia terdiam tapi masih membelakangi Bella. "Hentikan." "Kamu tahu kenapa dia mengumumkan hubunganmu dengannya? karena dia ketakutan rasa di hatinya terhadapku semakin bertambah!" "Aku tidak peduli!" "Oh kalau begitu buktikan ... kalau dia cinta kepadamu, tahan dia untuk tidak pergi ke Washington!" Anyelir membuka pintu mobil Bella dan kelaur dari sana. "Kamu gila!" "Kalau dia menolak, artinya memang dia ingin mengenang masa lalu bersamaku!" Brakk! Anyelir menutup pintu mobil Bella dengan kasar, tangannya terkepal kuat. Ini lebih menyakitkan dari yang ia kira, lebih baik Anyelir tidak tahu soal ini. Menyesal? tentu penyesalan selalu berada diakhir, seandainya rasa penasaran tidak berkuasa. Ia akan dengan sabar menunggu Janu menceritakan secara langsung. "Sial!" Anyelir menendang kasar ban mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD