Bab 74 - Amarah Merumitkan

1504 Words
Kaki palsu berayun, bunyi gesekan mesinnya terdengar. Hentakan demi bentakan menggema di seujung ruangan, gelap, sunyi, hanya ada satu penerangan yang temaram. Foto-foto seorang gadis bertebaran di mana-mana, dinding, lantai, langit-langit, seolah menjadi penghias semata. Seseorang berdiri membelakangi, dekat dengan pencahayaan menimbulkan siluet tubuh kokoh bak raksasa berotot. Tubuhnya berbalut jaket, dengan bagian kepala tertutup, semakin merunduk. Bau alkohol menyengat di sekitarnya. Nada bicaranya terdengar berat, bariton khas serak-serak basah berkumandang. "Bagaimana usaha kalian?" Lelaki bertubuh tinggi dengan satu kaki palsu itu nampak bercucuran keringat, menghel napas panjang. "Aman." "Kapan rencana itu di mulai?! KAPAN?!" teriak suara bariton semakin menggema, siluetnya bertambah raksasa, amarahnya berlipat ganda. "Satu bulan lagi, mohon bersabar ... Papa." Siluet lelaki kokoh bergerak, lengannya yang berotot namun sedikit berkeriput itu mengambil satu lembar foto. Seorang gadis dengan casual tengah terduduk di salah satu cafetaria. Blue jeans dengan t-shirt putih polos ditambah topi dengan secangkur kopi, lelaki itu memandangi fotonya sesaat. Lengan yang satunya lagi bergerak, mengayun damai dengan sebuah pemantik. Api muncul, membakar sudut foto, perlahan meluas sampai foto gadis itu hangus menyisakan abu bertebaran. "Rencana kalian terlalu lama!" "Tapi hanya itu momentum yang pas, Pa." Tangannya yang gemetar ikut merunduk takut. "Seberapa persen tingkat keberhasilannya?" "Sembilan puluh, Pa!" "Kamu yakin?" "Yakin, Pa." Siluet berbalik, wajah simetrisnya tertutupi oleh kupluk. Merunduk dengan kedua tangan berotot yang terkepal kuat. Ditatapnya sinis, seolah lelaki berkaki palsu adalah hewan yang patut untuk di mangsang. Bug! Satu tendangan sukses mendarat di kaki sebelahnya, masih asli juga kokoh. Namun, rasa ngilu yang nmenjalar sukses membuatnya terjatuh menahan sakit. Tubuhnya yang gemetar benar-benar merangsang ketakutan. "Sembilan puluh persen ... artinya ada sepuluh persen kemungkinan gagal. Jangan sampai gagal!" "Baik, Papa." Siluet yang sempurna menginjakkan kakinya di atas kepala lelaki tadi. "Ingat itu baik-baik!" *** Jam masih menunjukkan makan siang, ada waktu sebelum meeting acara perayaan ulang tahun agensi. Anyelir memutuskan untuk pergi ke rooftop, menyejukkan diri setelah semalaman tidak tidur memang perlu dilakukan. Terlebih, area atas sana sengaja dibuat taman sederhana, Anyelir juga meminta dihiasi tanaman kaktus kesukaannya. Mau menunggu di ruang meeting pun, itu akan membosankan. Terlebih Batari dan Bane masih belum menunjukkan batang hidungnya, entah ke mana mereka pergi. Lift terbuka, area menuju rooftop hanya terhalang oleh pintu masuk berlapis kaca. Angin akan terasa berembus saat Anyelir keluar, tidak lagi menghirup sejuknya air conditioner yang tidak pernah alami. Terpaan semilir ini akan jauh menenangkan kebingungan yang bermuara di hati Anyelir. Entah apa yang harus dilakukan Anyelir sekarang, ia masih dalam keadaan bertengkar hebat dengan Janu perkara kado dari Diego. Yang lebih parahnya Anyelir dengan tingkat keingintahuan yang lebih tinggi mengorek masa lalu Janu. Masa di mana Janu terpuruk, masa di mana menurut Bella emosi Janu nyaris menghantarkannya mendekam di penjara. Itu akan terdengar sakit memang di mata Anyelir, wajar Janu akan menyembunyikan itu. Tapi fakta bahwa Janu dan Bella bertunangan? apakah itu harus disembunyika? itu yang membuat Anyelir sakit, menyadari bahwa keberadaan Bella bukanlah omong-omong belaka. Tapi ada tujuan tertentu, mendapatkan Janu kembali. Dan sialnya Janu membuka akses itu untuk Bella. Apa yang harus Anyelir lakukan sekarang? Ia takut, sungguh ia takut Janu berkata sejujurnya. Bahwa memang dia masih memiliki perasaan terhadap Bella. Itulah mengapa Janu sulit sekali untuk menolak permintaan Bella. Lalu peran Anyelir apa? Jika Janu saja tidak pernah berbagi cerita, untuk apa Anyelir hadir dalam hidupnya. Gadis itu menghela napas panjang, menghapus satu tetes air mata yang mengalir di pipinya. Berjalan menuju taman sederhana, di mana kaktus-kaktus berjejer membentuk Piramida. Anyelir menyentuh salah satu kaktus yang berbunga, namun kemudian tangannya tergores. "Aaaa!" Ditatapnya jari telunjuk yang tergores duri kaktus, mengeluarkan darah segar. "Tajam sekali." Ia membiarkan luka itu, hanya mengibas-ngibasnya lantas kembali berniat menyentuh kaktus lain lagi. Namun usahanya terhenti, jari yang terluka ditarik paksa oleh seseorang. Melumatnya masuk ke dalam mulut sampai aliran darah yang keluar berhenti. Anyelir yang terkejut refleks berbalik, matanya melotot berniat untuk memukul orang tersebut karena berani macam-macam. Kendati Anyelir mengurungkan niatnya, wangi mint yang semerbak dengan rambut ikal menggelayut basah tengah menghisap tangannya, itu Janu. Masih marah, Anyelir menarik lengannya sekaligus. "Lepasin! Kamu apa-apaan, sih?!" Janu menghiraukan teriakan Anyelir, tenaganya lebih kuat, wajar bila pergerakan Anyelir tidak berarti apa-apa baginya. Ia menatap lekat jari telunjuk Anyelir, ada bekas goresan yang sedikit menganga di sana, tapi aliran darahnya sudah berhenti. Ia melepasnya, menatap khawatir ke arah Anyelir. "Lain kali hati-hati," "Apaan, sih!" Anyelir enggan menanggapi lantas berbalik meninggalkan Janu. "Lir ... saya mau bicara!" Seharusnya hari ini Janu menikmati cutinya sebelum pemberangkatan besok, merapikan baju dan mempersiapkan segala hal. Tapi Janu memilih pergi ke kantor Anyelir, ia tahu hari ini Anyelir ada rapat untuk pembahasan perayaan ulang tahun agensinya. Ia harus bergegas, menyelesaikan permasalahan yang harus segera diselesaikan. "Bicara apa?" "Lihat saya." Anyelir enggan, ia masih membelakangi Janu karena tahu sesak di d**a sudah menyeruak sampai air mata pun tak sanggup dibendung. "Nggak mau!" "Lihat saya, Anyelir!" Janu tahu, sangat tahu betul Anyelir terisak di hadapannya. Gadis itu sengaja bersembunyi begitu agar Janu tidak mengetahui rasa sakit yang benar-benar ditaburi garam di lukanya. Geram dengan nada Janu yang malah membentak, Anyelir berbalik menghapus jejak air mata lantas membuang muka ke arah samping. Malas ia melihat Janu, apalagi dalam pandangan buram tertutupu banyak air mata. "Apa?" "Jangan menangis ... d**a saya sesak." "Nggak tuh!" Anyelir berusaha menghapus jejak air matanya. "Sialan! Kenapa keluar sendiri!" Ia menggerutu karena tangisannya justru semakin menjadi-jadi. "Lir ... besok saya pergi, saya nggak mau pergi dalam keadaan kita masih bertengkar. Jadi saya mohon ... kasih tahu saya hal apa yang harus saya lakukan agar kamu tidak marah lagi sama saya," "Nggak ada." "Lir!" "Semuanya udah terjadi, Jan. Salah, ya, aku marah sama kamu?! terus aku harus gimana? mukul kamu gitu?! mukul orang yang sudah banyak membohongi aku, mukul orang yang egois karena nyembunyiin pemberian orang lain?! mukul orang yang sering jalan sama cewek lain?! Mabuk bareng?! Mukul orang yang memper—" Anyelir terdiam, menggigit bawah bibirnya terkejut. Tidak mungkin ia mengungkit masa lalu Janu sementara Janu sendiri belum tahu kalau Anyelir dan Bella bertemu untuk membahas masa lalu Janu. "Ah sudahlah lupakan!" Tangan Janu terkepal kuat. "Bisa tidak ... jangan pernah ungkit masalah yang sudah selesai?!" nada Janu sedikit membentak. "Loh ... kenapa jadi kamu yang marah?" "Itu keburukan kamu, Lir ... semua kesalahan yang saya lakukan selalu kamu beberkan meski itu sudah berakhir. Saya nggak pernah tuh membeberkan kesalahan kamu!" "Oh ... karena aku tidak punya banyak kesalahan terhadap kamu!" "Jadi harus selalu saya yang mengalah, begitu? saya capek Anyelir! kamu pikir pikiran saya cuman buat kamu saja, ha?!" Terpancing sudah emosi Janu, niat hati pergi ke sini dengan sengaja ingin mengajaknya berdamai. Tapi justru malah menyulut api-api kebencian. "Kalau capek ya nggak usah dipikirin! Aku juga nggak minta kamu buat mikirin!" "ANYELIR!" Janu membentak dengan tangan yang terkepal juga napas yang memburu kencang. "Kamu itu pacar saya! Wajar saya mikirin kamu ... karena hidup saya isinya tentang kamu!" "Benar, kah?" Anyelir menyeringai. "Bukan tentang Bella dan capit boneka?" "Lir ... Saya nggak pernah mikirin Bella," "Kalau begitu kamu nggak usah pergi ke Washington! hidup kamu isinya tentang aku, 'kan? Ikuti permintaan aku!" Janu terdiam sesaat, ia merunduk bingung. Susah sekali membujuk Anyelir untuk berdamai kalau permasalahannya sudah serumit ini. Sementara Anyelir, ia benar-benar termakan oleh ucapan Bella untuk menguji Janu. Dugaan Bella sepertinya benar, Janu nampak sulit harus menolak untuk tidak berangkat. "Lir ...." "Kenapa? Nggak bisa, 'kan?! Karena kamu memang pengen pergi ke sana sama Bella! Ada apa di Washington? Kenangan, ha?!" "Cukup Anyelir!" "Barangkali memang perasaan kamu sama Bella semakin tumbuh!" "SAYA BILANG CUKUP ... CUKUP!" Janu membentak Anyelir, wajahnya yang merah menandakan emosi yang luar biasa. Kedatangannya ke sini tidak berguna, justru malah semakin bertambah rumit. "Berapa kali harus saya tekankan? saya tidak punya perasaan terhadap Bella, kalau perlu memilih antara mati ... saya lebih baik mati! Puas kamu?!" Janu beranjak dengan emosi yang meledak-ledak, ia takut kelapasan, karena itu menjauh adalah alternatif. "Pengumuman itu ...." Langkah Janu terhenti, namun enggan berbalik. Membiarkan Anyelir melanuutkan ucapannya. "Kenapa kamu mengumumkan hubungan kita? bukan karena kamu ingin mengakui aku, 'kan? tapi karena rasa takut kamu!" Janu menoleh ke arah samping, ada beberapa tanaman hias yang memiliki post dari tanah liat. Janu meraihnya, lantas dibenturkan pada kepala sendiri sampai pecah. Prankkk! Anyelir melotot, mulutnya setengah terbuka lantas ditutup dengan tangan. Seolah semua tulang dan otot melemas seketika, gadis itu terduduk. Ini kali keseksiannya Janu benar-benar marah, sampai Anyelir ketakutan sendiri. Darah segar mengalir di dahi Janu, ia berbalik pada Anyelir. "Itu benar ... saya takut perasaan saya pada Bella semakin tumbuh, jelas?!" "Janu dar—darah!" Janu mengelap darah segar yang mengalir nyaris mengenai hidung. "Jangan bodoh! kamu harus bedakan mana takut, mana suka, mana cinta!" "Jan ... ka—ka ... kamu—" "Punya otak, 'kan? pakai supaya nggak asal tuduh!" Janu benar-benar beranjak meninggalkan Anyelir. Anyelir terisak, lantas terduduk di lantai dengan tubuh yang gemetar. Ia masih terkejut dengan tingkah nekat Janu, benar-benar membuatnya semakin ketakutan. Perkataan, nada tinggi, perilaku yang Anyelir sendiri tidak menebak Janu akan bertindak seperti itu. Takut ... aku takut, Jan ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD