Ruangan hotel luxury extra kingsize bed ini hanya ditempati Anyelir sendiri, ia terduduk seperti patung sebab yang bekerja adalah pikirannya. Melayang ke sana ke mari seolah-olah semua yang terjadi kembali lagi pada takdir buruk yang kerap kali mampir dalam kehidupannya tanpa permisi.
Anyelir tahu betul, bahwa Janu memang memiliki hati yang tulus menyayanginya, menciptakan benih-benih kasih sayang dengan perlakuan manis dan ucapan lembutnya. Tapi satu yang Anyelir Benci, Janu tidak pernah terbuka, juga tidak pernah bertanya pendapat Anyelir. Semua yang ia atur atas kehendak sendiri tanpa bertanya apakah Anyelir mau menyanggupi permintaannya atau tidak?
Perdebatan tadi berakhir dengan kepergian Janu, Anyelir ditinggalkan sendirian di dalam kamar hotel baru, sementara Janu pergi menenangkan diri seraya mengambil barang-barang yang diantarkan ke mari. Ia tidak bisa bertindak apa-apa sebab ponselnya ada di Batari. Selama perayaan award berlangsung, Batari setia menunggu Anyelir di backstage. Tapi masalahnya, ia bahkan tidak diberi waktu oleh Janu untuk sekadar berpamitan atau meminta izin. Anyelir mengepalkan tangan dengan tingkah Janu satu hari ini.
Sebenarnya dia kenapa, sih?!
Tiba-tiba kode sandi ruangan terdengar, artinya ada seseorang yang masuk. Itu pasti Janu. Anyelir memutar tubuh untuk membelakangi pintu, malas ia jika menatap wajah Janu yang datar saat marah.
"Lir?"
Benar, 'kan? suara bariton khas Janu muncul membawa beberapa kantong plastik juga terdengar seperti roda koper. Sungguh Anyelir belum ingin berdamai dengan hatinya yang bergemuruh menahan amarah, ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri atas segala kekesalan yang hadir di hari ini.
"Lir ... Anyelir?" Satu tarikan napas lolos dari lubang hidung Janu sebab Anyelir enggan untuk menoleh. "Kamu dengar saya tidak?"
"Hm," balas Anyelir malas.
"Ini ponsel kamu, koper kita, dan ... ya kamu lihat sendiri."
Karena penasaran, Anyelir memutar tubuhnya lantas melotot. Ada empat sampai lima kantong plastik berisikan makanan ringan. Mulai dari snack, cokelat, minuman bersoda, s**u kotak, buah-buahan, roti, segala macam keripik, permen, Janu seperti habis merampok supermarket dibandingkan menyebutnya berbelanja.
"Kamu nga—ngapain?! Astaga!" Gadis itu berdiri dengan keterkejutan yang luar biasa gila, menghampiri Janu yang menyunggingkan senyumnya lebar. "Ini apa?! Makanan ... makanan sebanyak ini buat apa?!!"
"Buat kamu." tengkuknya digaruk nampak canggung.
"Jan ... kamu ... astaga! Ya kali aku makan semua cemilan ini sendiri?! dapet ide dari mana, sih?!"
"Sa ... saya." Gelagat Janu nampak gugup dengan mengetuk-ngetuk kakinya, ia juga seringkali menggaruk tengkuknya meski tak gatal. "Saya itu ... nggak ngerti cara bujuk perempuan. Jadi saya ... saya tanya Aruna perempuan itu suka apa. Katanya suka cemilan, tapi saya nggak tahu kamu suka cemilan apa ... jadi saya beli semua jenisnya."
Astaga Janu sepolos itu?!
"Kamu 'kan bisa tanya aku suka apa, kenapa harus beli semuanya, sih?!"
"Ya ... kamu sendiri saya tanya nggak mau jawab, udah gitu nadanya bentak-bentak ... jadi saya bingung,"
"Ya ... suruh siapa kamu ngelakuin tindakan kayak gitu?! Kamu juga tadi bentak-bentak aku di mobil!"
Mulai lagi berdebat, memang dasarnya mereka berdua dipertemukan oleh perdebatan. Maka tak heran diantara dua keras kepala sulit sekali ada yang mau melunak tanpa harus dipaksa.
Janu menghela napas berat, berusaha agar tidak terlalu terpancing lagi. "Kan tadi saya agak sedikit emosi, Lir ... sekarang jangan marah lagi, ya?"
"Nggak ada niatan minta maaf?!"
"Lir ... 'kan saya ud—"
"IYA IYA ... nggak usah minta maaf! emang kamu nggak salah, ya, 'kan?!" nada Anyelir sejak tadi masih tinggi, emosinya juga nampak meledak-ledak. Entahlah Janu harus membujuk seperti apa lagi, yang pasti ia sudah kehabisan akal.
"Nggak gitu ... Lir." Janu mengacak-acak rambutnya frustasi, berusaha sabar menghadapi mode ngambek seorang wanita yang ternyata sulit sekali untuk diluluhkan. "Mending sekarang kamu ... kamu ganti pakaian dulu, bersih-bersih. Setelah itu ... setelah itu kamu mau marah-marah lagi sama saya silahkan,"
"Koper say—" Anyelir terdiam sejenak, dahinya berkerut. "Tunggu ... tunggu! Kenapa yang ada koper aku doang?!"
"Koper ki—kita, Lir."
"Maksudnya?!"
Janu mendekat ke arah koper milik Anyelir yang ditempeli stiker kaktus. Menjatuhkan koper itu sampai terlentang di lantai, lantas membukanya. Benar-benar penampakan yang membuat Anyelir melongo tak percaya. Bagian sebelah kanan adalah seluruh pakaian milik Anyelir, sementara yang kiri berisi pakaian Janu.
"Jad ... jadi ini alasan kamu ... kamu minta koper aku buat kamu bawa?! Astaga! Jan ... Januuuuu!" gemas Anyelir dengan sejuta kejutan yang berisi di dalam otak Janu, entah bagaimana pola pikirnya sampai hal seperti ini melintas di saraf kecil otak seorang Janu.
"Kenapa-kenapa? saya salah lagi?"
"Kamu kenapa nggak bilang kalau pakaian kamu ada di sini juga?!"
Janu mengigit bawah bibirnya gugup, Anyelir dalam mode ngambek menyeramkan. Bahkan lebih dari seekor singa yang mengamuk.
"Kamu nggak nanya pakaian saya ada di mana,"
"Ya tapi ... ah udah-udah! Percuma ngomong sama kamu! Bikin emosi!"
"Tap ... Tapi, Lir. 'Kan say—"
Anyelir mendekat ke arah Janu, menutup mulut kekasihnya dengan satu hari telunjuk. "Denger ya, kamu 'kan larang aku buat balik ke hotel lama. Kamu juga larang aku buat keluar apalagi pulang ke Indonesia, jadi sekarang ... daripada aku gila dengan tingkah random dan ucapan nyelekit kamu ... lebih baik kamu diam seolah-olah nggak ada aku di sini, ngerti?!"
Lelah sudah Anyelir dengan segals tingkah mengejutkan Janu. Hampir seharian menghilang dengan alasan menabarak penjual bakso, ketinggalan pesawat, datang bersama wanita, mengumumkan hal yang gila, memaksa, dan segala rentetan peristiwa yang Janu lakukan tanpa pernah bertanya.
Lelaki itu hanya mengangguk pasrah tanpa berkomentar lagi, Anyelir segera beranjak membawa pakaian dan perlengkapan, lantas berjalan menuju kamar mandi untuk menghilangkan dosa-dosa amarah di tubuhnya.
Janu termenung kembali. "Perasaan saya saya salah Mulu di matamu, Lir." Tak ada yang bisa Janu lakukan lagi, selain menghela napas berat seraya mengacak-acak rambutnya kesal.
**
Pagi-pagi sekali ponsel Janu sudah berdering, padahal kantuk masih berkuasa. Sebab semalam Janu harus menemani Anyelir menonton tv sambil menghabiskan cemilan tanpa berbicara sepatah kata pun. Jika Anyelir ditinggal Janu memejamkan mata, maka siap-siap akan ada bom meletup sampai rasanya untuk larut dalam alam bawah sadar seperti melakukan dosa besar.
Lelaki yang tertidur di sofa itu lantas mencari keberadaannya, samar-samar nama Bella terpampang di layar membuat tubuhnya bangun lantas beranjak menuju balkon meski dalam setengah sadar.
"Hallo?"
"Kamu pindah hotel? Ke mana? Bisa kita ketemu? Aku ada pekerjaan yang harus kita diskusikan," papar Bella di seberang sana. Dari bisingnya suara yang terdengar, sepertinya Bella sedang berada di luar ruangan.
"Soal apa?"
"Soal pekerjaan, Genta ... soal apalagi?"
"Saya bertanya lebih spesifik, Ra. Soal pekerjaan apa?"
"Soal ... soal ... open casting!"
Helaan napas dari Janu terdengar malas, ia juga masih menguap dengan sesekali mengucek-ngucek mata. "Maksudnya?"
Janu mendengarkan penjelasan dari Bella, tanpa sadar seseorang terdiam di belakangnya. Tidak berniat menguping, tapi pintu balkon sedikit terbuka sampai suara dari Janu terdengar jelas. Lagipula siapa.ysng tidak curiga? Pagi buta seperti ini sudah mendapat telepon. Anyelir saja sebagai pacar tidak pernah mau mengganggu aktivitas Janu di pagi hari dengan sweet call seperti pasangan-pasangan lainnya.
"Kita bahas itu nanti!" ucap Janu sarat akan penekanan.
"Nggak bisa gitu, dong. Jadwal syuting kita 'kan sebentar lagi! Ini penting, Genta!"
"Cuti saya dua hari, Ra ... tolong hargai itu,"
"Tapi ini lebih penting daripada cuti kamu!"
"Bagi saya saat ini nggak ada yang lebih penting ... selain pacar saya!" Janu mematikan ponselnya. Memegang pelindung besi yang menghadap keadaan di lantai bawah gedung hotel ini. Ia merasa lelah sekali dengan kejadian kemarin.
Dirasa tubuhnya sedikit tenang, Janu berbalik. Anyelir yang semula menguping buru-buru tidur kembali seperti orang yang memang belum bangun. Janu menghampiri Anyelir, memandang wajah cantik itu dengan lembut. Anyelir benar-benar obat baginya, hanya memandangi setiap lekuk wajahnya saja sudah membuat tenang.
Janu memberikan sedikit sentuhan, mengelus-elus pipi Anyelir lembut. Namun, ia merasa ada yang aneh. "Pipi kamu kok panas gini? kamu demam?!" pekik Janu khawatir.
Lelaki itu mulai meraba setiap detail kulit Anyelir, mulai dari pipi, dahi, hingga leher. Terasa hangat, tapi bagian pipi lebih panas dari sisa yang lain. "Lir ... jangan-jangan kamu beneran demam!"
Anyelir yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi kebingungan sendiri, sungguh Janu diluar batas polos. Apa dia tidak menyadari bahasa Anyelir segugup ini? Yang terjadi pada Anyelir bukanlah demam.
Aku gerogi, Jan. Bukan demam, astaga pacar gue polos banget, sih!
"Lir ...." Janu mengelus-elus anak rambut Anyelir, kemudian beralih ke pipinya kembali. "Lir ... bangun, Lir. Kamu sakit? Kalau sakit ayo kita ke dokter."
Dengan terpaksa Anyelir membuka mata, padahal ia berusaha menyembunyikan salah tingkahnya dengan pura-pura tertidur. Tapi Janu malah sengaja membangunkan, sungguh ekspresi Janu namoak lucu, nyari membuat Anyelir terkekeh sendiri.
"Nggak, kok!"
"Tapi kenapa pipi kamu panas?" Janu mengerutkan dahi, mendekatkan wajahnya pada Anyelir. "Tuh ... pipi kamu jadi merah gitu, sakit, ya?"
Ingin rasanya Anyelir menggigit wajah Janu sekarang, ekspresinya yang khawatir benar-benar gemas. Bagaimana caranya ia bisa terlihat masih marah jika tindakan Janu saja semanis ini, lelaki itu juga menuruti seluruh perintah Anyelir. Mulai dari harus diam tidak boleh banyak omong dan protes, sampai menemani Anyelir nonton drama Korea semalaman penuh padahal Janu sendiri kurang suka drama romance.
"Nggak, Jan ...."
"Kalau kamu sakit, kita cancel aja jalan-jalan ke dekat teluk Mar—"
"Aku nggak sakit, Jan ... ak—" Anyelir melotot sempurna. Tadi Janu menyinggung soal jalan-jalan? Anyelir tidak salah dengar. "Tung—tunggu! Jalan-jalan? Kita ... kita mau jalan-jalan?!"
"Yah ... bocor, deh." Janu menekuk wajahnya sebab ketahuan, padahal niatnya ingin merahasiakan juga memberikan kejutan agar Anyelir tidks marah lagi. "Iya ... saya udah pesan tiket pesawat penerbangan malam untuk kita, sebelum itu ... saya mau ajak kamu keliling-keliling di sekitar teluk Marina."
"Kenapa? penebusan dosa?"
Janu menggeleng. Lantas menarik lengan Anyelir dan menggenggamnya erat seolah takut kehilangan orang yang dicintai, tatapan Janu juga begitu hangat sarat akan kasih sayang. "Saya ingin menghabiskan waktu sama kamu ... saya pasti akan sibuk beberapa bulan ke depan dengan jadwal syuting. Karena itu, ini kesempatan kita untuk bersama. Jangan marah lagi, ya?"
Gimana mau marah kalau kamu sebaik ini, Jan!
Rasanya Anyelir ingin sekali berguling-guling berjingkrak-jingkrak sangking senangnya, menghabiskan wkatu bersama Janu di negeri orang tanpa khawatir akan wartawan dan paparazi. Lagipula, kata Janu wartawan di negeri ini tidak se-penasaran di negeri sendiri.
Meski Anyelir sudah jauh sangat luluh dengan segala perlakuan Janu, tetap saja ia berpedoman pada mode ngambek yang belum usai. "Aku masih marah, tapi nggak tau kalau udah sampai sana!"
"Berarti boleh, dong?"
"Apa?!" Anyelir melotot.
"Peluk." Janu merunduk, sepertinya lelaki itu menahan malu beserta gengsi yang bermuara sejak lahir.
"Peluk apa?!"
Janu tiba-tiba mendekap Nayelir ke dalam rangkulannya, meredakan segala kegusaran yang satu-persatu selalu mampir ke dalam hidupnya. Entahlah, Janu sedang mengumpulkan keberanian untuk menceritakan seluruh kejadian masa lalunya pada Anyelir. Ia takut, semua trauma yang menimpa menjadi kehancuran tersendiri dalam hubungan keduanya, terlebih Anyelir sangat benci orang yang berbohong demi menutupi apa yang dirasakan, juga apa yang terjadi.
"Jangan marah lagi sama saya, ya? saya selalu takut kalau kamu marah."
"Takut? takut kenapa?"
"Takut kehilangan ... lagi."
Anyelir tersenyum di dalam dekapan Janu, menepuk-nepuk pundak yang berotot itu dengan lembut, menyalurkan kasih sayang yang tak seorang pun tahu sebesar apa. Hanya Anyelir, Tuhan, dan mungkin Janu yang perlahan merasakan.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, Jan ... jangan khawatir."