55 - Tentang Hubungan Jarak Jauh

1112 Words
"Tiga Minggu?!" Janu tiba-tiba berdiri menggebrak meja ruangan meeting. Napasnya yang memburu menandakan bahwa ia tidak terima atas segala keputusan yang dibuat. Satu Minggu ini, usai menghadiri acara award di Singapura, pertemuan antara Anyelir dan Janu saja sudah terbilang jarang. Itupun tidak lama, pernah hanya berkisar lima belas menit Selain itu, Anyelir juga bukan tipikal gadis yang senang sweet call malam-malam sampai tertidur sebab pekerjaannya terlampau padat, sampai rumah yang dipikirkan adalah istirahat. Begitupun sebaliknya. Sudah jarang bertemu, jarang berkomunikasi, harus ditinggalkan pergi selama tiga Minggu ke luar negeri. Janu benar-benar takut Anyelir berubah, apalagi melihat film-film dan kisah hubungan jarak jauh yang tak pernah bertahan lama. Dan yang lebih parahnya lagi, Janu belum terus terang bahwa ia akan syuting di Washington DC bersama Bella, bukan di tanah air. "Ada apa, Pak Janu?" tanya Produser Mahdi. "Kenapa lama sekali? Saya memperkirakan hanya satu Minggu lebih beberapa hari, ini terlalu lama, Pak!" protes Janu berusaha membuat Pak Mahdi yakin untuk mempertimbangkan keputusannya lagi. "Yang kamu buat itu film action, bukan adegan romantis yang isinya rata-rata dialog. Kamu bikin film back and kill it saja hampir satu tahu!" "Back and kill it itu—syutingnya di hutan liar, dan asli tanpa studio—wajar kalau lama karena tantangannya juga banyak! Tapi midnight construction? semuanya di studio, Pak! Apa yang menjadi tantangan? Tidak ada!" "Gen—emhh ... maksudku Pak Janu, benar apa yang dikatan oleh produser Mahdi. Film action pasti banyak adegan extreme yang kita tidak tahu akan berjalan mudah atau tidak, itu 'kan jadwal yang dibuat agar terstruktur dengan rapih—tapi jika kemungkinan film selesai sebelum jadwal semestinya, tidak apa-apa, 'kan? kita bisa langsung pulang kok." "Pak Janu ... lagipula Washington DC itu kota yang bagus. Anda bisa liburan di sana," Janu hanya bisa mengepalkan tangan, apa yang terjadi seolah mengatakan bahwa mereka tidak percaya dengan kemampuan jadi yang sering kali mempersingkat jadwal syuting. Terlebih saat ia merasa tidak nyaman, tidak klop dengan para crew. Berbeda dengan back and kill it, ala yang terjadi di Berau semuanya memberikan kesan yang unik. Janu tidak akan pernah lupa sampai kapanpun. Hampir semua orang rata-rata menginginkan Amerika atau Eropa sebagai tujuan berlibur, tidak bagi Janu. Ia kurang menyukai perkotaan yang menurutnya membuat kepala pening, lebih baik di Berau—sederhana tapi berkesan lama. "Saya tidak tertarik untuk liburan." Janu kembali terduduk dengan tampang datar. "Baiklah-baiklah—" Pak Mahdi melihat jam di tangan kirinya, lantas terfokus kembali pada orang-orang yang menghadiri rapat. "Karena jam sudah menunjukkan makan malam ... kita lanjut rapat ini di restauran khas China seberang kantor. Bagaimana?" Semua setuju, lantas satu-persatu meninggalkan ruangan menuju restoran Tionghoa yang letaknya tidak jauh dari gedung A3. Hanya terhalang oleh lampu merah dan berjalan sekitar 50 meter. Janu memilih membuka ponselnya terlebih dahulu. Sebetulnya Janu ingin menolak, sebab yang ia harapkan adalah makan malam bersama Anyelir. Tapi ini terlalu malam untuk mengajaknya makan bersama, pasti gadis itu sudah makan sebab Batari adalah penjejal makanan yang manjur bagi Anyelir. Sepertinya Anyelir sedang sibuk sekali, sampai-sampai pesan Janu yang dikirim tadi sore belum dibaca. Tiba-tiba ada notifikasi dari sang Ibu yang membuat Janu menepuk dahinya merasa bodoh. Ia lantas mencari kontak Ander dan langsung menelponnya. Terhubung. "Ibu? Ibu di mana sekarang?!" Janu mulai bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu. "Ibu sudah di bandara, sudahlah—kamu tidak usah antar Ibu," ucap Ander tulus di seberang telepon sana. "Tapi Bu—" "Janu ... Ibu ditemani Pak Tony, jadi jangan khawatir, ya? Kamu 'kan lagi kerja, jangan lupa makan dan jaga kesehatan, ya?" "Saya bakal susul Ibu ke Yogya! jadi tunggu saya!" "Tidak usah! Ibu hanya satu Minggu, lagipula kamu hsrus berangkat ke US, 'kan?" Janu sedikit meremas rambutnya, ia merasa menjadi anak yang paling tidak berguna di saat orang tuanya begitu membutuhkan Janu. Lelaki itu selalu tak pernah ada, ia benar-benar cemas sekarang. "Ibu ... saya mau kalau say—" "Ibu tidak mau mendengar permohonan lagi dari kamu, jadi tolong kamu nurut apa kata Ibu. Bisa, 'kan?!" "Bi—bisa, Bu." Janu menekuk wajahnya lemas, Ander yang setengah berteriak selalu membuat nyali Janu menciut. "Baiklah, see you next week!" Ander langsung mematikan panggilan bahkan sebelum Janu benar-benar ingin berbicara. ** Apa yang semula direncanakan rapat, rupanya ketika tiba di restoran ini semua malah hanyut dalam cerita-cerita yang menurut Janu tidak penting. Setiap kali ia ingin memulai pembahasan baru, jawabannya selalu dialihkan pada makanan. Padahal Janu ingin sekali segera mengakhiri rapat final agar ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Belum lagi Bella yang sejak tadi duduk di samping Janu terus saja mengusik dirinya, Janu menjadi tidak selera makan saat ini. Ia hanya mengaduk-aduk saus tiram dengan sumpit yang digenggam. Ruangan yang dipilih benar-benar tertutup sebab bagian dari VIP, alasnya dari kayu tradisional khas Tiongkok. Pintu utamanya pun bergeser cukup unik. Lagi-lagi Bella mengganggu Janu dengan segudang pertanyaan memojokkan yang membuat lelaki itu pusing sendiri, inikah yang diinginkan Bella saat ikut terjun dalam projek agensi Janu? mengungkit-ungkit masa lalu yang semakin membuat Janu merasa bersalah. "Jadi ... perasaan itu sulit dihilangkan, bukan?" Janu menghela napas berat. "Ara—hentikan." Ia menoleh pada Aruna yang sejak tadi memerhatikannya, seolah ada pertanyaan yang bermuara dalam benak Aruna. Janu menggelengkan kepala sebagai pertanda. "Kamu pikir, go Published itu adalah jalan keluar?" tanya Bella lagi. "Tentu." Bella menyunggingkan senyumnya, mengambil sebotol wine dan gelas khusus lantas diberikan pada Janu. "Seberapa yakin? buktikan! prove it by drinking this wine!" "Ara, kamu pikir saya bodoh? kamu terus mengelabui saya dengan minuman keras agar saya mabuk?" "No, you wrong!" Bella menggeleng pelan, mengambil wine yang sudah berada dalam gelas lantas meminumnya secepat mungkin, seolah wine adalah air putih baginya. "Seratus persen yakin bahwa film ini akan sukses!" Gelas yang tadi digenggam Bella ia simpan di meja makan dengan benturan cukup keras. "Begitu aturan mainnya!" "Saya tidak suka permainan konyol itu." Janu malah menenggak air putih dengan santai. "Ini bukan permainan! ini do'a, harapan, dan keyakinan. Aku yakin kamu ingin melakukanya untuk keberlangsungan hubungan kalian!" Bella memberinya ide lagi. Janu sebetulnya ragu, melakukan hal yang entah keberapa kali. Berada dalam circle orang-orang pecandu miras membuatnya sadar bahwa minuman beralkohol ini bukan segalanya, tapi segalanya bagi mereka adalah alkohol. Sampai-sampai Janu menggelengkan kepala bingung. "Demi hubungan saya, dengan orang yang dicintai!" Janu menenggak wine yang diberikan Bella lantas tersenyum pulas. "Pak Jan—" Aruna hendak memperingatkan namun Janu malah mengacungkan jarinya, menyuruh lelaki itu untuk diam. "Lebih baik jangan berbicara jujur pada kekasihmu, Genta." "Bicara apa?" "Soal kepergianmu ke US!" Janu mulai mengedip-ngedipkan matanya, bumi seolah berputar padahal baru saja setenggak wine. Bukan satu botol, memang Janu selalu dicap payah dalam hal dunia per-alkoholan. "Kenapa?" tanya Janu bingung. "Karena hubungan jarak jauh selalu berakhir menyedihkan,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD