Bab 10 - Satu Rumah Bersama Janu

2125 Words
Pohon yang berjejer terhias rapi di sepanjang jalan. Semula mahoni, melaju puluhan kilometer lagi berganti menjadi karet, lalu cengkeh, yang paling luas dan panjang adalah kelapa sawit. Sebutan Surga Perkebunan memang cocok disematkan pada Kalimantan selain Mahakam yang menjadi julukan sungai terpanjang di Indonesia. Sungguh kaya, besar potensi untuk diangkat jadi produk komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Meski tak semua sama, seperti bocah kumal tak pakai celana rambutnya kusut dari golongan pra-sejahtera. Berlari-lari gelaknya terlihat berseri, seolah tak ada beban hidup. Yang terpikir adalah makan sesuap nasi tanpa tahu sumbernya dari mana, jerih payahnya bagaimana. Hidup memang seindah itu saat balita. Anyelir melihatnya, ia terenyuh. Kemudian tersenyum paksa. Bukan pada bocah tadi yang dilihat dari balik jendela minibus, terlewati seolah nampak tak peduli. Tapi ia memaksakan senyum saat Janu yang duduk di samping kemudi menoleh sembari mengangkat sebelah alis. Anyelir paham, itu berkonotasi 'apa-kamu-baik-baik-saja?' entah bentuk perhatian atau sebuah ejekan, ekspresi Janu mengisyaratkan keduanya. Tapi sisi ejekan lebih mendominasi di sana. Usai mengumpat, berdebat dan serentetan perilaku minus lain terjadi antara Anyelir dan Janu, gadis itu harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia membutuhkan Janu. Berhutang budi pada lelaki itu saat celana jeans telur asin Anyelir berubah warna menjadi merah bersemu cokelat oleh si bulan, Janu menggendongnya. Membawa dengan hati-hati tubuh ringkih Anyelir ke dalam toilet untuk berganti pakaian. Lantas kembali membopongnya menuju minibus putih, kendaraan terakhir yang menempuh waktu cukup lama untuk sampai ke tujuan, lima belas jam. Bayangkan hal yang tak terduga ini Anyelir ketahui saat perjalanan baru seperempat di bagi dua dari Samarinda-Berau. Ia hanya bisa menyenderkan kepala ke arah jendela, menghela napas cukup lama, mengamati perjalanan jauh yang tak terhingga, ini kah derita? Oh ayolah gadis itu sedang datang bulan, memang akan sedikit hiperbolis mendengar keluh kesahnya. "Lo kenapa? Masih sakit? Masih keram perut?" Batari di sampingnya terdengar cemas, menautkan alis sembari menggenggam lembut lengan Anyelir. "Cuman lemes," "Laper?" "Lemes, Tar," "Biasanya orang lemes karena laper!" "Gue nggak laper, Tar. Lo udah nggak marah emang?" Anyelir tidak lagi menyenderkan kepala, kini bangkit. Menarik titik pembicaraan demi keuntungan pribadi. "Mana bisa gue marah sama Lo. Lihat sekarang? Lo kayak mumi, pucet pasi!" "Gue belum kasih sogokan padahal," "Gue nggak sekejam Hitler, ya!" nadanya sedikit meninggi, beberapa orang mungkin mendengarkan, hanya mendengar, tak bermaksud ikut campur. "Iya Raharjeng. Lo baik, sebaik Batari Raharjeng." Cengiran Anyelir tercetus. Semula Batari hanya mengerutkan alis tak mengerti, lantas tersenyum mendengar pujian sedikit ambigu dari Anyelir. Lima enam jam kehidupan di dalam mesin beroda masih sama. Terkadang tidur, mendengarkan musik, mengobrol ringan, atau melamun mengamati pemandangan, merasakan sensasi kesedihan seolah baru putus hubungan saat baru saja pacaran. Hingga belasan jam berikutnya benar-benar gelap gulita, malam menggelayut suram di tengah-tengah hutan sawit. Semua terlelap, kecuali sang supir kemudi. *** kedua kaki jenjang berselimut sneakers putih menginjak gambut, kiranya sedikit terpelosok sebab bersterktur lembek usai hujan mengguyurnya. Mentari dari ufuk timur mulai menggantung, meski terlihat malu untuk menampakkan diri. Ditemani semilir angin, tubuh diregangkan usai melelap mata sembari terduduk belasan jam di dalam mobil. Manolid cokelatnya menyorot rumah-rumah kayu yang berjejer berstruktur 'U' dengan pusat point' di bagian tengah yang nampaknya lebih megah. Rumah panggung khas Kalimantan, berdiri tegak dari atas tanah setinggi empat meter. Untuk naik ke arah pintu, ada sebuah tangga berbentuk undakan dari kayu yang ditakik-takik. Atapnya berbentuk pelana, warna gelap kentara dari sana. "Ayo masuk." Batari menyenggol sedikit tubuhnya. "Ini beneran? Kita tinggal di tempat kayak gini selama enam bulan?!" Helaan napas terdengar dari arah depan yang kesusahan mendorong kedua koper, sebab pijakan tidak rata, banyak rumput liar, lumpur serta tanah gambut yang becek. "Terus Lo pengen tinggal di mana? di dalem hutan sana?!" "Tapi Tar—" "Berta Bee satu rumah dengan Pak Janu. Kalian bisa atur-atur sendiri ingin menempati kamar yang mana," ucap seorang pria berpakaian serba hitam, entah siapa namanya Anyelir tidak kenal. Yang jelas ia pasti salah satu crew dari departemen produksi. "APA?! Satu rumah?! Sama di—" Anyelir melotot. Menggantungkan ucapan kala Janu dengan dinginnya melintas di depan muka, seolah tak peduli apa-apa. Lantas dengan tergesa beranjak menghampiri Batari juga Janu yang berada tepat di bibir tangga, menghiraukan Anyelir yang bersusah payah menolak keadaan. Percuma, Janu terus melangkah, membuka pintu dan menelisik keadaan di dalam sana. "Bisa nggak, sih? Anda nggak usah ganggu hidup saya?! kenapa pilih di sini? masih banyak kok rumah yang lain?!" Janu enggan berbicara. Ia malah membuka satu-persatu pintu yang berjejer sepanjang rumah. Sangat luas, sekitar 300 meter panjangnya dengan lebar 25-30 meter. Kayu Ulin sebagai bahan dasar tiang penyangga, dinding, bahkan alas, dibuat kokoh. Konon katanya semakin terkena air maka kualitasnya semakin kuat. Bentuknya sederhana, memang terlihat seperti aula, atau lebih tepatnya lorong hotel, dengan pintu kamar yang berurutan dari samping kanan juga kiri. Anyelir tidak melihat dapur, atau bahkan toilet. Hanya ruang tamu beralaskan tikar. Ada beberapa lukisan terpajang di sana, dengan lampu gantung jingga yang sengaja dibuat untuk menggabungkan konsep modern dengan tidak meninggalkan ciri khasnya. Sutradara Panca memang luar biasa. Janu masih membisu, lantas menghentikan aktivitas menengok satu-persatu pintu yang berisikan kamar istirahat di dalamnya. Ada enam pintu yang berjejer, satu sudah terisi oleh Batari yang dengan cepat tertidur pulas tanpa basa-basi. Tiga sudah mulai terisi oleh crew-crew yang baru saja masuk, Anyelir salah. Seharusnya ia tidak mulai memperdebatkan ini dengan menyisakan dua kamar saja dengan Janu. "Cuman tersisa dua kamar lagi! Yang paling depan, dan yang ini! Mending kamu pindah rumah aja, kenapa harus bersama saya?" Janu dengan bawah mata menghitam, menggandeng tas navy menoleh. "Bukannya bilang makasih, saya sudah nolongin kamu. Tapi kamu malah repot protes kayak gini, kamu pikir saya berniat sekamar sama kamu? lagipula saya cuman satu rumah, bukan satu kamar!" "Terus kenapa pengen satu rumah? sengaja?!" "Huft!" Janu memejamkan mata, melepaskan tas ransel yang menggelayut di atas pundak. "Kalo saya bisa mengurus pembagian tempat istirahat ini, sudah pasti saya simpan kamu di rumah paling kecil di ujung sana! Dasar tidak bersyukur!" Oh ayolah Janu sudah lelah, bahkan untuk sekedar memperdebatkan hal yang tidak penting saja membuat otaknya terkuras habis. Selama perjalanan ia tidak tertidur, sebab menemani sang supir sekaligus membaca naskah berulang-ulang. Naskahnya sangat sulit, sungguh ia di buat takjub dengan karya sang paman. "Hah? tidak bersyukur? kamu pikir saya dalam situasi kayak gini gampang?! saya berada di tengah hutan, saya sedang datang bulan, harus bekerja dengan Anda yang mulutnya lebih panas dari larva gunung meletus! Saya capek!" "Terserah! Saya mau istirahat, permisi!" Janu lelah, ia malas menanggapi. Lantas memasuki kamar yang berada di arah kedua dari depan, samping kamar pertama, tepat di samping Anyelir. Catat. "Ih, yang datang bulan di sini siapa, sih?!" *** Peluh mulai menghiasi dahi bidang Anyelir. Kamar pertama berisi perabotan sederhana meninggalkan silau cahaya saat matahari mulai ada di atas kepala. Tempat tidur kayu beralasanan kasur kapuk berbunyi saat Anyelir mulai terduduk. Ia melirik jam di arah lengan, waktu makan siang tertera di sana. Tubuhnya lengket, setelah belasan jam di perjalanan. Tiba di tempat tujuan di pagi hari membuat kantuk lebih mendominasi, pilihan tidur lebih baik daripada mandi dengan udara menusuk yang mampu menggigilkan tubuh. Lantas berjalan ke arah kaca berbentuk oval tertancap pada laci berbahan kayu, sepertinya tempat untuk berhias diri. Menarik kursi yang juga terbuat dari bahan yang sama, terduduk cukup keras sebab tak beralas. Anyelir menatap dalam ke arah cermin, nyawanya sudah terkumpul penuh. Bagian rambut terlihat kusut, tak ada embel-embel hairstylist sebab pergi dengan terburu-buru, lagipula di sini tidak ada paparazi atau para penggemar. Monyet dan singa tidak mungkin berteriak kegirangan saat bertemu dengannya, bukan? Lagi. Ia tersenyum miring saat menatap cermin. "Aku siapa?" dan lagi pertanyaan itu terus mengalun, "Anyelir itu siapa? yang mana?" nadanya terdengar sendu. Tawa hambar terdengar pilu. Mengobati diri dengan keadaan yang kian mengiris hati. Bukan keinginannya untuk berdebat dengan Janu, melakukan banyak protes kepada semua pihak yang terlibat dalam projek besar ini. Ia hanya takut, takut tak mampu menuntaskan amanat dengan hasil yang memuaskan. Takut tak mampu menyanggupi hidup yang terus menekan dirinya terlihat baik-baik saja. Anyelir pasrah. "Lir ...." Alunan bunyi serta pintu yang terbuka membuyarkan lamunannya, Batari muncul. Melihat Anyelir kesekian kali sedang meratapi diri di depan cermin. Ia paham apa yang sedang mengusik benak gadis itu. "Kamar ini ada cerminnya?" Batari berusaha pura-pura terkejut, lantas mendekat ke arah Anyelir yang terduduk masih menghadap cermin. Mengamati benda pantulan cahaya ajaib yang merefleksikan tubuh serupa. "Gue minta crew buat pindahin aja, ya?" Gadis yang ditanya menggeleng. "Gue nggak phobia cermin, Tar." "Tapi lo—" "Gue baik-baik aja!" "Dengan lo bengong depan cermin kayak gitu, lo pikir baik-baik aja?" "Kalo cermin ini dipindahkan nanti liat ootd, gimana?" Anyelir masih mencari alasan yang pas. "Nanti gue suruh orang cari cermin khusus seluruh tubuh aja, jangan buat wajah doang," "Kenapa?" Anyelir lantas bangkit, menghadap Batari dengan tersenyun miring. "Orang pasti bakal mikir 'Kenapa?' Kenapa Berta Bee ingin mengganti cermin? Bagus kalo mereka mikir gue orang yang gengsi, sombong, so kaya, nggak betah tinggal di tempat kayak gini. Kalo pandangannya lain?" Telak. Ucapan Anyelir memang benar adanya, takut-takut orang berpandangan lain. Tapi justru Batari lebih berharap hal tersebut, berkonotasi bahwa Anyelir mempunyai alasan yang kuat dengan menyingkirkan cermin. Ia merasa kasihan jika Anyelir harus di cap artis bergengsi tinggi dan tidak mau merendah. Sehingga membuatnya hanya bisa menggeleng takjub dengan pola pikir aneh sang sahabat. "Yaudah," ia lebih memilih mengalah, membiarkan Anyelir memutuskan apa yang dimau. "Makan siang udah siap, Lo belum makan apa-apa dari pagi. Gue tunggu di bawah," "Gue mau mandi dulu, Tar. Masa keluar dengan keadaan setengah babu kayak gini!" Batari terkekeh, sahabatnya sudah mulai menghilangkan kelabu yang melintas tanpa permisi barusan. "Oke, jangan lama-lama!" Lantas beranjak meninggalkan Anyelir. Sementara si gadis bersurai cokelat menggelung setiap helai rambut. Membawa tas kecil anti air yang berisi seperangkat alat mandi hasil persiapan Batari. Berjalan mengitari seisi rumah hingga matanya membulat terkejut. "Kok nggak ada toiletnya?!" Sungguh, ia baru teringat. Memori seisi ruangan yang terekam saat membuntuti Janu mengitari ruangan terhapus oleh kegelapan mimpi tak berwujudnya. "Ini orang-orang nggak pernah mandi? pipis? atau buang air? kok kayak superhero!" masih bengong di tengah ruangan. Anyelir berbicara sendiri, menyelami fantasi gila tentang dunia superhero. Padahal dengan jelas ia tahu bahwa cerita itu hanyalah fiksi, entahlah mungkin untuk sedikit mengobati kelelahan. "Eh, emang superhero bisa pipis? Kalo Superman pipisnya gimana, ya? soalnya nggak punya celana, pakai CD aja kebalik! hahahaha," "Berta Bee?" "Ehm!" Anyelir berusaha terlihat normal saat seorang crew menyapanya ketika berada di dalam tingkat sedikit kurang waras. "Apa? Kenapa?" "Anda sedang ap—" "Kamar mandi di mana?" potongnya cepat, ia tahu lelaki tinggi yang terlihat berusia dua puluh itu akan bertanya ke arah mana. "Di bawah. Terus ja—jalan aja sedikit ke arah kiri," "Oke. Thanks!" Dengan terbirit-b***t Anyelir berlari sekaligus memudarkan rasa malu. Bisa luntur harga diri kalo sampai semua orang tahu sifat Anyelir, gemar mempertanyakan hal-hal di luar nalar. Seperti bagaimana superhero pipis, atau membayangkan binatang buas yang berada di sekitar lingkungan ini. Tubuhnya tiba tepat di bawah tangga, di ujung kanan sana ada sebuah stand putih berukuran sedang. Banyak orang-orang berkumpul, sepertinya pusat makan. Masih melakukan hal yang sama, celingak-celinguk mencari keberadaan kamar mandi yang di maksud, katanya sebelah kiri, lantas berjalan ke arah yang di tuju. Gemercik air terdengar, benar rupanya. Ada kamar mandi di sana, terpisah dengan rumah. Kalo malam bagaimana, ya? apa tidak akan ada kuntilanak yang ikut mandi juga? Anyelir bergidik ngeri membayangkannya. Namun bulu kuduk benar-benar berdiri saat ini, matanya melotot sempurna. "KYAAAAAAA!" Tangannya malah menutup mulut, bukan mata yang tertutup. "Eh salah tutup!" lantas memindahkan ke arah mata sebagai reaksi tidak ingin melihat apa-apa. "KYAAAAAA!" Teriaknya masih berlanjut. Bagaimana ia tidak terkejut setengah mati? Seorang lelaki bertubuh atletis tengah membersihkan seluruh tubuh di tempat terbuka. Tanpa busana, hanya celana pendek mini yang mulai basah hingga sesuatu yang di dalam dapat tercetak jelas. Tubuhnya penuh busa, pun dengan bagian rambut, lelaki itu juga ikut terkejut dengan menutup sebagian tubuh seadanya. "APA? SIAPA? AH PERIH!" "Kamu ngapain mandi di alam terbuka kayak gini? gimana kalo ada harimau, ha?!" Anyelir masih menutup mata, ia tak tahu siapa lelaki itu. "Kamu yang ngapain ke sini? ah mata saya! Tolong! mata saya!" "APA? MATANYA KENAPA? ADA HARIMAU GIGIT MATANYA?!" Anyelir berteriak, sedikit takut. "BUKAN!" "Terus ... AH JANGAN-JANGAN SINGA!" "Bukan juga! Hei tolong!" "SINGA SAMA HARIMAU LEBIH SEREM MANA?!" "Arghhh! Mana saya tahu!" Frustasi sudah lelaki itu, kini mulai menghampiri ke arah Anyelir yang mematung sembari menutup mata. Masa bodo dengan posisi absurd seperti ini, yang terpenting matanya dapat terselamatkan dari bahan kimia yang mulai menusuk. "Mau apa?! HEH! KAMU MAU m***m?!" Refleks Anyelir takut saat lelaki itu mulai mendekat, menggenggam tangannya kuat. "Mata saya perih terkena busa. Bukan harimau, singa apalagi monyet. Jadi tolong ... SEKARANG BANTU SAYA AMBILKAN AIR ITU!" Anyelir mulai membuka mata perlahan, tapi ia kembali melotot. "He—hei kamu?! Bu-burung ... burung kamu kelihatan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD