Guyuran air membasahi setiap pori-pori rambut ikal yang menjadi lurus saat terkena rinai. Mata yang perih terkena cairan mengandung surfaktan mulai mereda saat terkena air, samar-samar wajah gadis cantik di hadapannya terlihat dengan jelas.
Dengan sedikit lintasan-lintasan air yang mengalir dari arah kepala menuju wajah, Janu mendongak, ditatapnya Anyelir yang nampak serius mengguyur kepala Janu. Ada rasa canggung di sana, terlihat saat matanya berkedip-kedip seolah tak ingin melihat tubuh atletis Janu seutuhnya.
Cantik. Dunianya terhipnotis oleh pesona Anyelir dengan wajah sedikit terkena cipratan air, seperti iklan minuman segar.
Lelaki yang baru saja dipergoki tengah mandi di alam terbuka tanpa busana hanya menyisakan celana pendek itu mulai tersadar. Tubuhnya mundur beberapa centimeter, kedua mata melotot saat kepala menghadap ke arah bawah.
Benar! Burungnya tercetak jelas sebab celana kurang bahannya basah kuyup.
Lantas Janu berbalik memutar tubuh hingga seratus delapan puluh. "Ma—maaf! dan ... makasih!"
"Saya nggak lihat burungnya, kok, Pak. Soalnya saya lihat ke sekeliling, takut ada harimau!" sahut Anyelir paham dengan apa yang dimaksud Janu.
"Ya—yaudah,"
"Bapak ini crew bagian apa, sih? kok mandi di tempat saya, di alam terbuka lagi! bukannya setiap rumah pasti ada tempat mandinya? terus suruh-suruh saya, lagi. Emangnya Bapak nggak tahu siapa saya?"
Deg.
Janu terkejut, sungguh. Bahkan dari suara saja lelaki itu sudah pasti mengenal bahwa yang tadi berteriak adalah Anyelir. Tapi Anyelir? meski gadis itu dengan telaten membantu Janu membasuh sisa-sisa busa yang bersarang di dekat mata, Anyelir malah bertanya identitas.
"Ka—kamu nggak kenal saya?"
"Kalo saya kenal, saya nggak mungkin bertanya, dong!"
"Kamu serius? nggak pura-pura, 'kan?" lagi. Janu masih penasaran, tidak menutup kemungkinan juga jika Anyelir sengaja berpura-pura tidak mengenali agar bisa mengejeknya nanti? Anyelir memang sulit ditebak.
"Buat apa saya pura-pura? crew itu banyak, nggak mungkin saya hafal satu-satu,"
"Tapi saya bukan crew," suaranya pelan, entah terdengar oleh Anyelir atau tidak.
"Saya harus mandi di mana?"
Masih dengan posisi membelakangi Anyelir, terhanyut dalam kebingungan, Janu menjelaskan, "kamu lihat ke arah kiri, ada dua pintu. Yang satu khusus untuk buang air, yang satu untuk mandi."
Si gadis yang masih heran menuruti perintah Janu. Menolehkan wajah, dengan begitu kedua pintu yang di maksud terlihat. Bahannya terbuat dari bambu, seperti disatukan paksa, mirip rakit. Ada sebuah gundakan batu halus bercecer rapi mengarah ke sana, dibuat sebagai akses jalan, Anyelir baru menyadari.
"I—itu ada kamar mandi, kenapa Bapak mandi di tempat terbuka seperti ini?!"
"Itu khusus untuk perempuan, lagi pula hanya ada satu. Dan tempat ini memang dibuat untuk para lelaki,"
Anyelir kembali mengamati, memang aneh. Empat buah bak mandi terbuat dari batu alam, gemerciknya terdengar, sebab air mengalir langsung dari pegunungan katanya, melalui pipa bambu yang menuju ke penampungan. Hanya terbatas oleh bilik, teranyam ciamik. Batok kelapa menggantikan gayung, tak ada wastafel apalagi mengharapkan shower. Tempat ini memang sangat sederhana, tetapi unik.
"Oke, terimakasih."
"I—iya!"
Sembari berjalan meninggalkan tempat mandi setengah terbuka Anyelir mengerutkan dahi, ada gelagat yang mencurigakan dari crew yang dilihatnya tadi. Seperti sudah akrab dengan Anyelir, padahal jelas ia tidak kenal, atau lebih tepatnya tidak ingat. Hingga berakhir menggelengkan kepala, lagipula apa yang harus dipikirkan.
**
Batari menyeret tubuh Anyelir usai mandi berjam-jam menuju stand food. Menu hari ini di buat prasmanan, sehingga gadis itu harus mengantri sembari menenteng piring minta di isi. Unik, tempat makannya terbuat dari kayu, entah kayu apa. Yang jelas Anyelir suka. Ikan bakar, cah kangkung, fuyung hai yang lebih mengarah pada telur dadar tersaji di sana.
Meski mendapat gelar artis sejuta kemewahan, Anyelir tidak terlalu rewel soal makanan. Asalkan bergizi dan enak, khas Indonesia selalu menjadi lebih baik di lidah bukan?
"Perlu bantuan?" tanya seseorang dari arah belakang.
Lelaki itu tersenyum, matanya tenggelam melekuk manis. Sejak tadi memperhatikan Anyelir yang kesusahan memotong bagian perut ikan, dagingnya cukup tebal, menjadi incaran pas untuk tubuh kurus pengejar protein. Anyelir terdiam, sungguh, ia tidak tahu siapa lelaki itu.
"Bo—boleh." Gadis itu sedikit menggeser tubuh, membiarkan lelaki di hadapannya membantu.
Tak jauh dari arah pandang, Batari memberi kode, mulutnya menganga lebar membentuk setiap huruf agar mampu dimengerti oleh Anyelir. Masih mengerutkan dahi, ia berusaha menerka maksud dari sahabatnya itu, seperti sebuah nama. Tapi sia-sia, Anyelir tetap tidak paham.
"Sayangnya kita beda jadwal penerbangan." Lelaki itu menyodorkan piring Anyelir yang sudah berisi potongan ikan. "Untuk rekan kerja cantik. Selamat menikmati!"
Siapa dia?
"Ah—terimakasih." Lantas Anyelir segera berbalik canggung. Bukan tak ingin menyahuti, ia tak tahu siapa lelaki dihadapannya? dan rekan kerja seperti apa yang terjalin?
"Kamu baik-baik saja? kenapa seperti baru pertama bertemu?"
Satu pukulan untuk hari ini.
"Iyah, aku baik." Menoleh sekejap kemudian berjalan menuju deretan kursi dan meja yang disediakan khusus untuk makan. Benar saja firasat Anyelir, lelaki itu mengikuti.
"Bagaimana persiapan untuk besok?"
Kursi lipat berwarna putih ditariknya cepat, lantas mendudukkan b****g meski berada pada benda cukup keras, sebab terbuat dari alumunium. Mejanya sangat panjang, bernada serupa, berlapis bahan anti air, ada lilin-lilin khusus berjejer di setiap tengahnya, menghindari lalat.
"Be—besok?" Anyelir baru menyahut usai keduanya duduk dengan benar, saling berhadapan, sungguh canggung.
"Apa kamu lupa jadwal kita?" menghindari canggung, lelaki itu tertawa hambar.
"Tentu saja tidak, Diego!" Batari si penolong tiba-tiba duduk di samping Anyelir, membawa dua minuman jus jeruk segar untuk Anyelir ... juga lelaki yang rupanya bernama Diego.
Benar. Harusnya ia ingat ciri-ciri rekan kerjanya, padahal Anyelir dan Diego akan menghabiskan waktu setengah tahun bersama.
Rambut. Anyelir mulai memfokuskan atensi ke arah rambut, sedikit panjang yang diikat mirip serial kartun. Warnanya agak cokelat gelap, mempunyai mata sipit, ah ... wanginya belum teridentifikasi, mungkin karena Diego belum mandi, sepertinya.
"Berta Bee?" Diego melambaikan tangan tepat di wajah Anyelir, sebab tak sedikitpun gadis itu berkedip memperhatikan gerak-gerik Diego.
Tersadar, lantas mengerjap. "Ah? kenapa?"
"Kamu lihat apa?"
Mengotak-atik segala pretelan yang ada di piring, Anyelir menunduk tersenyum canggung. "Rambutmu, mirip bocah botak kembar di serial kartun,"
"Apa? botak?!" gelak Diego terdengar renyah.
"Iya, tapi kakaknya punya rambut. Sedikit, kayak kamu,"
Hingga satu persatu ikut menimpali tawa. Guyonan receh yang memang tak berarti apa-apa, lantas mengapa mereka tergelak? padahal memang benar, kan? Anyelir hanya menyebutkan mirip saja, tidak lebih.
Tanpa sadar, ada yang mengawasi sejak tadi. Bahkan ketika Anyelir tengah mengantri makan, mengamati hal mengganjal kedua setelah kejadian di kamar mandi tadi.
Anyelir tidak mengenal siapa-siapa.
"Bagaimana bisa?"
Janu terduduk di bagian ujung kanan, mengamati Anyelir dari kejauhan. Terheran dengan seluruh rangkaian kejadian hari ini. Bukan berniat menguping, hanya saja pandangannya tak sengaja melihat tepat ke arah Anyelir. Lagipula obrolan mereka terdengar dengan jelas, bukan sengaja didengar, keukeuh-nya.
Dari awal sudah jelas, gadis itu terlihat canggung berada dekat dengan Diego. Padahal sudah sering bertemu, apalagi saat latihan rutin taekwondo. Bahkan ketika Diego bertanya soal jadwal, sungguh wajahnya hanya menyisakkan keresahan, sebelum Batari tiba, menyebutkan nama Diego dan membuat gadis itu terkejut bukan main.
Kamu ini sebenarnya kenapa, Anyelir?
**
Bulan menggantung di langit buana. Meski tak mampu menyinari seluruh jenggala, sinarnya yang kalis seperti bohlam raksasa milik sang pencipta.
Helaian anak rambut tertiup, balabad cukup terasa sejuk, menjadi dingin di malam hari. Menengadah, seolah yang di lihat tak akan habis-habisnya menjadi indah.
Jendela dari kayu sejak tadi sengaja dibuka, setengah badannya muncul hanya untuk menikmati pemandangan. Lebih tepatnya kegelapan yang anggara. Bukan tanpa sebab, mengistirahatkan setidaknya pikiran perlu sebelum berjibaku dengan pekerjaan yang tiada hentinya menggerogoti usia.
Orang pernah berkata,nikmatilah-selagi-muda. Bagi Anyelir tidak, masa mudanya tak cukup hanya untuk sekedar dinikmati. Banyak hal yang perlu ia perjuangkan, soal penyakit mental sang ayah, karier, pekerjaan, masa depan, dan segala keinginan lainnya. Memang semua itu tidak mendatangkan kebahagiaan, barang sedikit saja.
Akan tetapi apa definisi bahagia bagi Anyelir? ia lupa kapan terakhir kali mengatakan hal tersebut. Hidup bagi Anyelir sejak kecil sudah keras, dihadapapkan pada kenyataan bahwa cacatnya tak bisa disembuhkan. Lantas beranjak dewasa terpaksa meninggalkan cita-cita sebagai ahli medis, tak punya teman, tak pernah bermain, bahkan untuk tahu bentuk wahana bermain saja tidak.
Kala duduk di bangku sekolah dasar, selalu menyendiri. Entah apa alasannya, bocah-bocah kecil masih ingusan senang merundung, terlebih saat Anyelir di cap sebagai orang aneh, tidak hafal wajah siapapun. Beranjak di sekolah menengah, sang ayah mulai kehilangan akal, tindakannya di luar batas normal, ia mengira kesurupan saat itu, rupanya sakit, jiwanya.
Ekonomi keluarga menjadi silang sengkarut. Sang ibu terpaksa berjualan, membuka warung makan sederhana demi mencukupi keluarga, membeli obat-obatan lelaki yang mulai menua. Sejak saat itu keinginan mengakhiri hidup selalu saja mampir di setiap lamunan Anyelir, sebelum Batari muncul. Mengubah hidup yang kelabu menjadi sedikit terang, meski tak sepenuhnya.
"Melamun bisa membuatmu gila." Suara bas itu membuyarkan segala hal.
Lantas menoleh ke sumber suara, mengerutkan dahi, mengamati siapa yang tiba. Bau mint! mulutnya ikut tersenyum miring, entah apa yang terpikirkan.
"Kamu ngapain masuk kamar saya? terserah saya dong mau melamun, mau tidur, mau guling-guling di lantai juga bukan urusan kamu. Dasar tidak sopan!"
Janu sempat terdiam, kaku, mematung tanpa alasan. Masih banyak pertanyaan yang centang-perenang di dalam kepala, tapi kini bertambah, semakin kusut, semakin tidak mengerti. Dia mengenalku?
"Saya benar, 'kan? melamun bisa membuatmu gila. Lihat saja sekarang,"
Saya benar-benar gila memikirkan sikap kamu tadi, lanjutnya dalam hati.
"Jadi kamu pikir saya gila?!" emosi Anyelir. Padahal bertemu Janu tidak kurang dari satu menit, namun amarahnya menggebu-gebu ingin sekali meletus, mengeluarkan larva panas untuk membakar mulut Janu.
"Bukan saya yang berpikir, kamu yang bilang barusan,"
"Hidup saya tadi siang damai, sangat damai! karena kamu tidak ada di hadapan saya, dan sekarang?! bisa 'kan tidak masuk kamar orang seenaknya? itu tidak sopan!"
"Saya sudah manggil kamu dari tadi, tapi nggak nyahut-nyahut. Lagipula pintu kamarnya terbuka,"
"Jadi kalo terbuka bisa seenaknya, begitu?"
"Kan saya udah jelasin barusan, saya sudah manggil kam—"
"Iya-iya! saya budeg, iya! puas?"
Janu merunduk, menyembunyikan senyumnya yang entah mengapa tak bisa tertahan. Bukan bermaksud untuk menertawai Anyelir, tapi ia bahagia, entah apa rasanya itu, melihat Anyelir seperti ini sangatlah lucu.
"Malah ketawa! mau apa, sih, ke sini?"
"Saya nggak ketawa." Wajahnya kini saling beradu, sinar dari lampu begitu menyorot iris cokelat terang Anyelir. Berkilau, menarik paksa seluruh perhatian agar terpaku padanya, benar-benar menghipnotis, sungguh cantik.
"Terus tadi apa?"
"Senyum. Lihat kamu, lucu,"
Melongo sudah Anyelir, kedua bola matanya terasa ingin keluar. Janu? berbicara semanis itu? Tanpa disadari gadis itu mencubit lengan milik sendiri, takut-takut yang terjadi adalah mimpi. Namun percuma, ada rasa sakit yang menjalar di sana. Ini nyata.
Bahkan telapak tangannya bergerak, meraba dahi Janu. Berusaha merasakan kemungkinan ada kenaikan suhu di sana, bisa saja Janu demam sehingga berbicara melantur.
"Kamu nggak sakit, 'kan?"
Refleks si empu melepaskan lengan Anyelir, mengerutkan dahi kala tersadar bahwa yang diucapkan adalah kata hati, bukan pikiran yang selalu bekerja menguasai segala hal.
"Je—jelas tidak!" Tergagap Janu. Sehingga tengkuk pun digaruk walau tak gatal, gelagatnya penuh cemas, seperti anak magang bersiap interview.
"Ah, i—ini!" Rupanya ia baru ingat, kedatangan kemari memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Menyodorkan Anyelir setumpuk kertas untuk di baca. "Sa—saya ke sini mau ngasih ini!"
"Bukan mau bilang saya lucu?" Anyelir sedikit menggodanya, wajah Janu yang resah sedikit menghibur.
"Mimpi!" Masih dengan rasa malu yang siap menggerogoti, membukakan pintu tertutup sebagai akses Anyelir untuk meledeknya.
Janu berbalik, memejamkan mata seraya menggeleng. Lantas beranjak dari kamar gadis itu.
"Memang saya lucu, 'kan? Janu?" Lagi.
Hal itu sukses membuat langkahnya terhenti, berbalik di ambang pintu lantas mengatupkan mulut. "Sa—saya cuman keceplosan. Dan jangan panggil saya Janu! Saya sutradara kamu, kamu tahu etika berprofesi, 'kan?"
"Saya sangat tahu, Pak Janu Jiwa."
"Bagus!" Belum sempat ia ingin melanjutkan langkah, ingatannya berputar. "Ah! saya lupa. Besok kita syuting pukul empat dini hari, saya sudah menandai adegan mana yang akan di ambil besok, jadi jangan bangun terlambat!"
"HAH?! PUKUL EMPAT DINI HARI?! ANDA GILA?!"
Janu menggeleng. "Bukannya itu hal yang lumrah?"
"Lumrah jika kita syuting di kota. Yang tidak waras adalah kita syuting di tengah hutan, HUTAN, PAK, HUTAN! gimana kalo kita ketemu singa?"
"Di hutan Kalimantan nggak ada singa," sahut Janu enteng.
"Ya—hewan 'kan banyak,"
"Paling macan, kalo enggak beruang. Ya ... minimal kita ketemu ular,"
"Minimal kata, Bapak?! maksimalnya apa? kita dimutilasi beruang? gitu?!"
"Beruang nggak punya pisau. Nggak bisa mutilasi,"
Oke. Berbicara dengan Janu memang membutuhkan sedikit kesabaran, Anyelir menarik napas panjang sebelum melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Maksud saya, mereka itu 'kan binatang buas. Gimana kalo kita di serang secara tiba-tiba?"
"Saya lebih takut manusia," nadanya sedikit terjeda sebab ia menarik napas. "Hewan buas bereaksi karena merasa terancam, bagian dari perlindungan diri. Sedangkan manusia, melindungi diri untuk kemudian mengancam, bagian dari reaksi,"
"Tetap saj—"
"Manusia yang serupa dengan hewan lebih menyeramkan daripada hewan itu sendiri,"