80 - Perpisahan Cinta

2057 Words
Dua hari berturut-turut, dengan telaten Janu mengurus Anyelir seperti seorang suami. Mulai dari menyuapi, menyiapkan mandi, sampai tak sedetikpun Janu meninggalkan Anyelir. Sudah banyak panggilan masuk dari Aruna juga dari Bella, dan beberapa crew lain, tapi Janu tetap tak acuh. Baginya kesehatan Anyelir adalah prioritas utama. Di hari ketiga ini, Anyelir sudah lebih dari kata memaksa untuk menyuruh Janu pergi karena memang itu pekerjaan. Ia bahkan sudah memesankan tiket ke Washington, jika tidak seperti itu Janu pasti enggan pergi dengan alasan harus menemani Anyelir. Padahal kondisinya sudah jauh lebih membaik. "Ayo, Jan ... siap-siap!" Sejak tadi berpuluh-puluh bujukan Anyelir lontarkan kendati Janu malah anteng di depan televisi pura-pura tertidur. "Ih Janu!" Sangking gemasnya Anyelir menjewer telinga Janu supaya lelaki itu tersadar. "Aw ... aw ... aduh!" Janu meringis membawa tubuhnya untuk terduduk sebab telinganya panas bercampur perih. Tapi ada yang lebih menakjubkan, ia tetap menutup mata. "Jan ... ayo nanti ketinggalan pesawat!" Alih-alih mengiyakan, Janu malah menarik tubuh Anyelir dan memeluk perutnya. Wajah tampan melebihi aura dewa terbenam di tubuh Anyelir, menghirup dalam-dalam aroma cherry blossom yang begitu menyeruak menjadi candu. "Ih Janu, astaga!" "Lima menit, Lir." Samar-samar Janu berucap meski wajahnya bersembunyi di balik tubuh Anyelir. "Jan, ini kerjaan kamu ... kamu nggak boleh kayak gitu. Itu nggak profesional namanya! Bukannya kamu nggak suka kayak gitu?" Janu menggerakkan kepalanya, masih menempel pada perut Anyelir benar-benar manja sembari mendongak menatap wajah cantik Dewi-nya dengan lembut. "Saya khawatir sama kamu." Meski berwajah datar, sikap Janu tetap terlampau datar bagi Anyelir. Mungkin hal itu hanya ditunjukkan pada Anyelir saja, terlebih gadis di hadapannya lebih menggemaskan dengan tingkah lembut dari tubuh mungil yang mudah direngkuh. "Aku udah sehat, Janu! nggak ada alasan, ya. Pak Agi udah ambil koper kamu, sekarang kamu mandi!" Janu melepaskan pelukannya, wajahnya yang datar nampak marah lantas berdiri begitu saja tanpa berucap. Anyelir bukannya mengikuti alur Janu malah mengerutkan dahi sebab aura yang keluar dari Janu berbeda. "Loh kok cemberut gitu?! Kamu marah?" tanya Anyelir penasaran. "Kamu kayak nggak mau tinggal lama-lama sama saya." Janu membelakangi Anyelir. "Nggak git—" Anyelir memejamkan mata sembari menghela napas, Janu dalam mode ngambek jauh lebih menyeramkan. Meski mode teriak adalah yang paling membuat bulu kuduk berdiri. Tetap saja keduanya masalah bagi Anyelir. "Aku nggak apa-apa, Jan ... aku sehat. Jadi sekarang kamu boleh berangkat kerja, aku antar kamu ke bandara, ya?" "Saya udah kaya, nggak harus kerja." Janu beranjak sembari menggerutu tapi terdengar pelan, bahkan sepertinya terucap untuk diri sendiri. Anyelir yang mendengar samar-samar perkataan Janu sebetulnya ingin tahu Janu berucap apa, tapi urung. Yang terpenting Janu sudah mau mandi sudah mau bersiap dan pergi ke bandaea, rasanya seperti membujuk anak TK yang tidak mau sekolah karena sekolah membuatnya lelah. Anyelir dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah Janu. "Janu ... Janu ... untung sayang." *** "s**t! kok wartawan banyak banget!" Anyelir bergumam sangat pelan sembari meliput keadaan sekitar seolah tahu kedatangan Anyelir ke bandara, padahal hanya berniat mengantar Janu. Pintu masuk bandara yang sebagian besar terbuat dari kaca dapat melihat dengan jelas keadaan orang-orang yang berkerumun di dalamnya. Janu juga turut menjelajah pandang, lantas menoleh ke arah Anyelir yang nampak gelisah. Setelah kejadian tempo hari, kala Mihir mengamuk sampai keluar rumah sakit banyak sekali berita yang beredar seliweran tanpa kejelasan. Orang-orang gila-gilaan memberikan asumsi yang sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan. Lelaki itu juga tahu kalau rumah Anyelir banyak di mata-matai, bahkan tak heran beberapa wartawan sampai menginap di sekitar rumah Anyelir demi mencari informasi tentangnya. Sekarang bandara, menjadi tempat yang strategis untuk mewawancarai Anyelir. "Udah kamu antar saya sampai sini aja, balik lagi ke rumah, ya?" Alih-alih menjadi penurut, Anyelir malah menggelengkan kepala kuat-kuat. "Kan aku udah janji anter kamu sampe departure." "Banyak wartawan, Lir." Anyelir nampak berpikir, sekalipun ia menghindar ke sana sini. Kabur-kaburan atau tidak melakukan aktivitas apapun para wartawan itu tak akan lelah mengejarnya, Batari saja mengatakan kemarin agensi di penuhi wartawan, padahal sudah jelas Batari katakan kalau Anyelir sakit. Tapi tetap saja, mereka setiap menunggu. "Kalo pun aku menghindar, mereka pasti menagih klarifikasi dari aku, Jan. Pasti bakalan terus ngejar aku!" Janu yang paham akal-akalan wartawan lantas menggenggam tangan Anyelir, menatapnya tulus lantas mengangguk paham. "Saya pasang badan untuk kamu." Pintu mobil terbuka, beberapa bodyguard sewaan Janu siap siapa menghadang wartawan yang jumlahnya nyaris di angka seratus orang. Benar-benar banyak sekali, membuat kepala Anyelir kembali pening. Padahal ia bukan berniat menghindar, kondisi fisiknya sedang tidak mendukung. "Berta Bee! tolong beri penjelasan untuk kamu terkait penyakit Pak Mihir!" "Apakah Pak Mihir depresi?" "Berta Bee! tolong minta waktunya, mohon kerjasamanya!" "Apakah Pak Mihir punya trauma tertentu?" "Apakah benar Pak Mihir mempunyai masa lalu buruk tentangmu?" "Berta Bee! tolong beri penjelasan!" Ini yang Anyelir paling malas, untuk sekadar berjalan menuju departure saja rasanya susah. Meski Janu berkali-kali menghadang tetap saja, mereka akan diam dan berhenti saat Anyelir mengikuti keinginannya. Anyelir menarik lengan Janu yang fokus berjalan, lelaki itu berhenti. Mereka berdiri menghadap kilatan kamera tepat di depan pintu masuk bandara. "Iya, Ayah saya terkena PTSD." Anyelir menarik lengan Janu, kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Janu yang paham posisi Anyelir gemetar lantas merengkuhnya, melentangksn tangan di belakang pundak Anyelir guna menyalurkan sedemikian dukuangan untuk Dewi-nya. "Apakah PTSD-nya terjadi karena masa lalu yang berkaitan dengan anda? apakah itu benar?" "Tidak." Anyelir menggeleng keras, ia takut sekali Ayahnya menonton hal ysng dapat menyinggung dirinya sampai kembali kumat lagi. "Ada kecelakaan waktu saya kecil, jadi Ayah saya trauma. Makanya saya mohon sekali untuk tidak menyebar berita yang tidak-tidak, Karana trauma ini murni kecelakaan." "Pak Janu sendiri? tanggapannya bagaimana? Bapak terima keadaan keluarga Berta Bee?" Anyelir dan Janu saling menoleh beradu pandang, padahal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Janu. Tapi tiba-tiba ia ikut mengisi alur cerita yang bukan berkaitan dengan kasus mental issue. Janu menggeleng sementara Anyelir mengangguk, setelahnya Janu memutar bola mata jengah. Lagipula apa menjelaskan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. "Tentu," jawab Janu singkat. "Kenapa, Pak kalau boleh tahu? Padahal bisa dibilang keluarga Bapak berbeda dengan keluarga Berta Bee?" "Berbeda? kita sama-sama manusai." Janu menyeringai geram, wartawan di hadapannya ini mencari berita faktual atau sensasi? banyak sekali pertanyaan yang terlmapu privasi atau memojokkan satu pihak. "Kenapa saya menerima keluarga Berta Bee? karena saya mencintai pacar saya. Sekalipun Berta Bee bukanlah artis, rasa sayang saya tetap sama." "Jadi tolong, sudahi pertanyaan kalian karena kita butuh waktu berdua. Saya dan Berta Bee harus berpisah karena ada pekerjaan, maka dari itu mohon kerjasama untuk privasi kami." Janu menunduk sopan, lantas mengerahkan pasukan bodyguard-nya untuk turut mengawal sampai Janu menjauh dari pintu masuk. Janu yang tengah mengenakan kaos putih polos berbalut varsity jaket warna hijau dari Lacoste x golf le fleur, nampak bercahaya saat kilauan flash kamera menghujam tubuhnya. Belum lagi rambut ikal yang diikat berpadu kacamata hitam, wanita-wanita di sekitar sana malah menjerit melihat Janu ketimbang Anyelir. Kalau dilihat dari jeans denim berlingkar sabuk cokelat muda, outfit Janu seperti mahasiswa teknik semester akhir. Pakaian Anyelir juga terbilang sederhana, casual namun tetap elegan. T-shirt hitam polos berbalut jaket putih kebesaran dengan topi berwarna navy. Dan yang menarik perhatian adalah jeans yang digunakan senada dengan milik Janu. Beberapa wartawan mungkin sudah meninggalkan mereka berdua, tidak lagi menguntit dengan berbagai pertanyaan. Tapi paparazi, satu dua foto saja tak akan cukup menjadi koleksi mereka. Anyelir pernah menjadi sampul majalah dan bahan perbincangan karena beberapa airport outfit yang dikenakannya, katanya casual yang pas untuk contoh ootd anak-anak muda. Mereka berjalan menuju departure menunggu jadwal penerbangan Janu, kendati lelaki itu mampir ke salah satu toko donat yang entah kenapa menarik perhatiannya. Ia memesan satu ice coffe latte dan cokelat panas. Juga dua kotak donat dengan berbagai varian rasa, Anyelir hanya diam mengamati. Janu ternyata ingat, dua hari yang lalu Anyelir minta dibelikan donat tapi Janu menolak keras dengan alasan makan sehat. Sebab Anyelir sulit sekali makan saat sedang sakit, padahal ia harus minum obat setelahnya. Satu cup cokelat panas diberikan kepada Anyelir membuat gadis itu mengerutkan dahi bingung. "Kok cokelat?" "Kenapa?" Janu selesai membayar lantas berjalan menuju tempat duduk untuk menunggu pesanan donatnya siap. Lagipula jadwal penerbangan Janu setengah jam lagi, artinya masih ada waktu untu dihabiskan bersama Anyelir. "Kamu beli ice coffe latte bukannya buat aku?" Janu mendudukkan b****g dengan santai, lantas mendongak ke arah Anyelir tersenyum singkat. "Enggak, ini buat saya." "Kamu 'kan nggak suka latte!" "Kata siapa?" "Ih Jan!" Anyelir menyodorkan cokelat panas ke dekat Janu. "Aku nggak mau cokelat ini!" "Kenapa? nggak enak?" "Enak, sih ... tapi enakan latte! kamu 'kan tahu aku suka latte!" "Karena itu saya beli," "Tapi kok kamu yang minum!" Anyelir mengerucutkan bibirnya, Janu terkekeh gemas. Bagaimana ia bisa meninggal Anyelir sementara yang ditinggalkan mmeberi sejuta kenangan yang mampu merindu setiap saatnya. Dewi cantik di hadapannya selalu menang, menjadi penguasa hati Janu yang semakin hari bertambah rasa kian mendalam. Dewi-nya selalu bernaung bersama sanubari, Dewi-nya menari di alam pikir, Dewi-nya tercatat kuat bersama memori. Semua tentang Dewi-nya, sampai keinginan untuk terus bersama begitu kuat, sampai Janu sendiri berat rasanya meninggalkan Anyelir. "Sengaja." Janu mengikis jarak antar wajah keduanya. "Saya mewakili kamu." "Ih jahat! Tuker dong! Aku mau itu, Januuu!" Janu menggeleng sekuat tenaga. "Nggak, Lir. Awas kalau kamu berani-berani beli kopi tanpa sepengetahuan saya. Kamu harus izin dulu, ya?" "Galak banget, sih!" Anyelir tetap mengerucutkan bibirnya kesal, sampai menyeruput cokelat panas tanpa aba-aba dan berhasil membakar lidahnya. " ... Aaaa—panas! Panas!" "Pelan-pelan, Lir." Janu memberikan sehelai tisu untuk mengelap bibir Anyelir. "Nggak usah bantu-bantu!" Anyelir masih ketus, mode ngambek ingin latte untuk kebaikan kafeinnya bertambah semakin ingin. Tapi sekali Janu tetaplah Janu, aturannya tak bisa dibantah barang sedikit saja. "Jangan marah ... saya pengennya ninggalin kamu dalam keadaan bahagia," Alih-alih tersenyum, Anyelir malah merunduk. Tiba-tiba dadanya sesak mendengar kata-kata seperti itu, entah fisik Anyelir masih dikatakan sakit sebab biasnaya ornag sakit jauh lebih emosional. Atau memang sesedih itu ditinggal Janu bekerja ke luar negeri selama berminggu-minggu lamanya. Tiga hari Janu menghilang sebab mereka bertengkar saja bagi Anyelir terasa tiga tahun, hari-harinya seperti hampa bahkan makan pun tak selera. Anyelir akan menjadi cengeng se-cengeng-cengengnya. Lihatlah tempo hari, yang tengah mendapat masalah di rumah hanya Anyelir, pilu birunya terasa di seujung sudut ruangan. Mata Anyelir berkaca-kaca. "Kenapa?" Janu menyadari perasaan Anyelir nampak berubah. "Jangan lama ... lama, ya? hikks ... hikss ...." Anyelir tiba-tiba mendongak dengan ekspresi hendak menangis, bahkan wajahnya sudah merah. "Hei ... kok nangis?" Janu jadi merasa bersalah kalau begini, tahu Anyelir akan sulit ditinggalkan lebih baik memaksaksanya menunggu di mobil tadi. Lelaki itu menggenggam erat tangan pujaan hatinya. "Nanti yang bikin ... bubur ... si—siapa, Jan?" Tiga empat tetes air mata mengalir, membuat hati Janu semakin berat meninggal kekasihnya. Entah mengapa, sejak kemarin perasaan Janu campur aduk tidak seperti biasanya. Ia berat sekali meninggalkan Anyelir, seolah hal buruk akan menimpa Dewi-nya jika ia tinggalkan begitu saja. Janu sampai menyewa berpuluh-puluh bodyguard untuk menjaga Anyelir seorang. Bahkan ia menyewa sopir profesional untuk Anyelir, meski gadis itu menolak Janu tetaplah Janu si pemaksa. Padahal biasanya Anyelir hanya pergi berdua bersama Batari. Sekalipun Janu pergi urusan pekerjaan ke luar kota ia tak pernah seberat ini meninggalkan Anyelir, apalagi dalam keadaan fisik Anyelir yang belum sepenuhnya pulih. Ia hanya berharap pikiran-pikiran buruk yang bersarang di batinnya hanyalah ketakutan tak mendasar. Anyelir pasti akan baik-baik saja sesuai harapannya. Semoga. "Bukannya bubur buatan saya kata kamu nggak enak, ya?" "Enak, kok!" Anyelir mengecilkan suaranya. "Kalo aku tambahin bumbu Nori!" Janu tertawa singkat. "Kan ada Mbak Mina yang masakin buat kamu." "Tapi yang rawat anak-anak aku ... nggak ada, terus yang ... berantem nonton series horror nggak ada. Nanti kalo aku nonton yang serem-serem meluk siapa, Jannnnn?" Mata dan hidung Anyelir merah, membuat Janu gemas sendiri. Ia yang semula duduk berhadapan dengan Anyelir lantas beranjak, mendekati Anyelir yang terduduk di sofa lebih empuk juga sandaran dinding yang terbuat dari busa halus. Janu mendekap Anyelir lembut, penuh cinta. "Saya janji, saya nggak akan lama, Lir." Janu membiarkan Anyelir tenggelam ke dalam dekapan dadanya. Menumpahkan tangisan perpisahan yang hanya berjarak dua sampai tiga Minggu. "Nggak butuh janji kamu! soalnya kamu suka bohongin aku ... kan ... kan ... nanti—" Anyelir tidak jadi melanjutkan ucapannya karena semakin terisak setelah Janu menepuk-nepuk punggungnya. "Kamu hanya perlu tahu, kalau saya sayang sekali sama kamu. Nggak akan saya lewatkan satu hari pun tanpa memikirkan kamu." Janu mengecup pucuk kepala Anyelir lembut, masa bodo dengan paparazi yang berhasil menangkap adegan mesra mereka, toh berita yang muncul pasti bikin iri orang-orang jomblo. "I love you endlessly, Lir."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD