Hubungan yang terbaik itu bukan perkara mengucap cinta, bukan perkara mengungkap rasa. Tapi soal keterkaitan yang saling percaya. Apollo bukanlah cinta sejati Aphrodite. Tapi setiap perlakuan halus dan ucapan Janu seperti senandung Apollo yang penuh romantis, kecantikan dan cinta luar biasa yang diberikan oleh Anyelir, seindah elok wajah Aphrodite. Keduanya sempurna, Dewa-dewi yang saling mencinta juga berharap saling percaya.
Kendati, kepercayaan tidak timbul semudah siang berganti malam. Kepercayaan harus di bangun, sebagai pondasi rumah dari bahtera yang menjadikan Janu sebagai nahkodanya. Bagaimana rumah yang statis akan kokoh diterpa badai bahkan gempa bumi kalau pondasinya nyaris tak pernah dibuat? Itulah yang membuat Janu membenci satu hal, penyesalan.
Seandainya dari awal Janu menceritakan apa yang terjadi dengan Bella dulu, kesalahpahaman ini tak akan terjadi. Rumah akan berdiri tegak meski badai bergelut ingin segera menghancurkan setiap puing-puing. Sekarang, rumah itu satu persatu roboh. Atapnya sudah hilang, pintunya rusak, jendelanya pecah. Janu harus memperbaiki itu dengan kepercayaan yang dibangun ulang.
"Tapi saya nggak pernah mukul Papa-nya Bella, Lir." Janu menggenggam tangan Anyelir lembut.
Di sore hari menjelang malam, kala hujan turun gemerciknya terdengar menghujam jendela. Anyelir dan Janu saling bercerita. Janu menceritakan kenapa ia bisa tahu kalau Anyelir bertemu Bella untuk membahas masa lalunya, sementara Anyelir turut menceritakan hal yang sempat dibahas oleh Bella.
Tapi Janu tidak setuju, sebab apa yang diceritakan Anyelir berbanding terbalik dengan kenyataannya. Entah Bella sengaja melakukan itu atau ada hal lain yang mereka sembunyikan, tapi sungguh apa yang Anyelir katakan tidak sesuai dengan kisah aslinya.
"Bella bilangnya kamu mabuk ... terus dipenjara gara-gara kamu datang ke rumah Bella, ngacak-ngacak dan mukul Papa-nya."
Janu menghela napas panjang, menggaruk tengkuknya tak gatal. Bisa-bisanya Bella mengarang cerita yang tentu akan menjerumuskan Anyelir dalam jurang tanda tanya atau barangkali penyesalan. Bella memang telah berubah, bukan gadis polos yang selalu mementingkan pelajaran dibanding segalanya.
"Itu nggak benar, Lir." Janu yang duduk di pinggir tempat peraduan mengelus-elus pucuk kepala Anyelir. "Saya mabuk parah ... itu benar. Tapi yang saya pukul adalah pengunjung bar, random ... saya tidak kenal dia. Seingat saya dia mancing-mancing saya dan kita juga sama-sama mabuk akhirnya saya berantem."
"Tapi kok bisa masuk penjara?"
"Ya karena saya hampir menghancurkan setengah isi bar gara-gara saya bertengkar dengannya, jadi saya dituntut pihak bar dan harus bayar kerugian mereka."
Anyelir nampak terdiam sejenak, tidak ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa Janu sempat dipenjara. Mungkin ada surat keterangan, tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Buat apa juga Janu menyimpan hal tidak berguna seperti itu, sebab itu hanyalah cerita lama di matanya. Tapu sungguh Anyelir bingung, harus percaya pada siapa. Janu sendiri pandai menyembunyikan banyak hal, berbohong sudah pasti sering juga.
"Aku bingung, Jan,"
"Bingung? kenapa?"
Anyelir menggeleng. Mana mungkin Anyelir ceritakan kalau dia bingung harus percaya pada siapa. "Ehmm ... setelah keluar dari penjara, kamu pergi? ninggalin Bella?"
"Bella yang ninggalin saya." Sejak tadi dahi Janu berkerut, banyak sekali tafsiran Anyelir juga cerita Bella yang terlampau dimanipulasi entah apa maksudnya itu, tapi yang jelas tentu membuat Janu tidak nyaman. "Dia yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Karena gudang perusahaan saya kebakaran, banyak kerugian yang nyaris membuat keluarga saya bangkrut. Papa Bella ketakutan karena beliau pernah menginvestasikan uangnya di perusahaan Ibu, jadi dia memutuskan untuk menarik Bella dan mengajaknya ke New York juga menuntut keluarga kami ... dan Bella kemudian ajak saya bertemu untuk berpamitan. Sejak saat itu saya sudah tidak berhubungan lagi dengan Bella."
"Dan ... Ibu sa—kit?" Anyelir ragu untuk mempertanyakan itu. Tapi sungguh ia ingin tahu kondisi Ander di masa-masa tersulitnya.
Meski hanya bertemu beberapa kali saja, tapi rasanya separuh jiwa Ander sudah melekat di tubuh Anyelir. Ia bahkan seringkali merasakan kekhawatiran yang sama saat menghadapi Janu, takut Janu terluka, takut Janu kesakitan, takut Janu kelelahan, dan ketakutan lainnya. Ander bagi Anyelir sudah seperti ibu kandung.
"Ibu ...." Janu terdiam, rasanya berat menceritakan semuanya. Anyelir paham kenapa Janu sulit terbuka soal masa lalu, itu pasti masa-masa tersulit Janu. Menghadapi keadaan Ander di ambang kematian.
Anyelir menggenggam tangan Janu lembut, menyalurkan segala bentuk semangat kepada Janu. Dilihat dari gelagat lelaki itu nampak pasrah dengan keadaan, rasa sakitnya dulu begitu mengikis perhatian Janu sampai ia menjadi sosok tempramental. Janu sudah kehilangan ayah sejak kecil, pasti ia ketakutan saat tahu Ander juga sakit.
"It's okay ... kalau kamu nggak sanggup, nggak usah diceritain."
Janu melepaskan genggaman tangan Anyelir, membuat Anyelir sontak melotot takut. Ia berdiri hendak beranjak, Anyelir terperanjat. "Mau kem—"
Rupanya Janu mengitari tempat tidur Anyelir, terduduk di atas kasur di samping Anyelir lantas merentangkan tangannya. Bila ia tidak pernah mendapatkan dekapan, setidaknya ia berusaha mendekap. Barangkali kekhawatirannya tentang masa lalu dapat tersalurkan melalui hal itu.
"Sini." Janu merentangkan tangan lebar-lebar, membiarkan Anyelir yang mungil berada dalam dekapannya dengan kepala menempel di d**a bidang Janu.
"Ibu kena serangan jantung pada saat itu."
Mata Anyelir melotot dengan mulut setengah terbuka, tapi ia pastikan Janu tidak melihatnya. "Te—terus?"
"Sampai sekarang jantung Ibu selalu bermasalah, Lir ... walau sudah pernah operasi pemasangan cincin atau apa itu saya nggak ngerti," nada Janu sedikit gemetar menceritakannya, pasti hatinya dilingkupi perasaan takut.
Anyelir yang turut memeluk Janu sekalian memberikan tepukan lembut di punggungnya, hal yang dikatakan sakit tak berdarah memang benar. Itu ketika orang tua sakit, menderita tanpa kita tahu harus membantunya bagaimana. "Ibu pasti orang yang kuat, Jan ...."
"Saya yang nggak kuat, Lir ... apalagi akhir-akhir ini jantung ibu kembali bermasalah sampai saya bohong sama Aruna kalau saya pergi ke Malang."
"Eh?" Anyelir mengerutkan dahi. "Jadi kamu sebenarnya nggak pergi ke Malang?"
"Saya pergi ke Singapura nemenin Ibu, kita sepakat bahwa orang-orang di perusahaan tidak harus tahu soal penyakit Ibu." Janu meloloskan satu tarikan napas. "Ibu selalu bilang kalau dia mau ke villanya di Yogyakarta, dan saya akan bilang mengurus cabang A3 di Malang. Padahal kami pergi ke Singapura."
"Tapi kenapa? kenapa kalian harus bohong?!"
"Agar orang lain tidak khawatir, Lir ... Kalau saya ceritakan itu pada kamu, ya pasti kam—"
"Tapi kamu harus berbagi kekhawatiran itu sama aku, Jan. Lantas fungsinya aku apa kalau kamu selalu bertindak sendiri?"
Mungkin mudah untuk Anyelir meneguhkan bahwa apapun yang terjadi, entah itu kemalangan, kesedihan, kebahagiaan harus saling berbagi. Tapi Janu tetaplah Janu, sikap tempramental nan egois juga gengsi itu menyimpan sejuta pemikiran yang menyeluruh. Sejauh Anyelir mengenal Janu, ia memikirkan orang lain sampai titik terkecil sekalipun tapi tak pernah menunjukkan kepeduliannya karena terlmapu gengsi.
Melihat Janu yang gemetar ketakutan seperti ini Anyelir jadi merasa bersalah telah banyak menuduh Janu yang tidak-tidak. Ia belum mampu memastikan apakah ucapan Janu atau Bella yang benar. Apakah Bella yang meninggalkan? atau Janu yamg pergi begitu saja? apakah memang Janu dipenjara karena memukul orang? bukan Papa Bella? yang jelas, Anyelir mempercayai bagian di mana Ander jatuh sakit. Janu tidak mungkin berbohong.
"Kamu tahu saya sayang sama kamu, Lir ... mana mau saya bikin kamu khawatir."
"Tapi dengan cara kamu kayak gitu bikin aku benci sama kamu!"
"Lebih baik begitu, daripada menyaksikan pacar saya gelisah,"
Anyelir memukul d**a bidang Janu, ia selalu begitu. Mengedepankan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri, pasal Anyelir sama sekali tidak keberatan jika Janu bertindak demikian. Membagi keresahan dan kesedihan pada Anyelir. Lagipula apa salahnya?
"Udah-udah, ya ... sekarang kamu istirahat. Hutang saya lunas, 'kan?" Janu menyunggingkan senyum menggoda Anyelir. Ia berharap Anyelir tidak menagih-nagih lagi soal masa lalunya, meski tidak seluruhnya Janu ceritakan. Tapi paling tidak Anyelir tahu kenapa Janu bisa berhubungan dengan Bella.
"Nggak." Anyelir menggeleng.
"Kenapa?"
"Kan aku tahunya dari Bella dulu, baru kamu ... kayaknya kalau Bella nggak ngajak aku ketemu buat cerita. Kamu nggak akan cerita, Jan!"
"Saya pasti cerita." Janu semakin mempererat dekapan. Tidak pernah sedikitpun terpikir bahwa ia akan menjadi kekasih Anyelie—lerempuan yang sejak lama Janu benci karena terkenal akan kesombongan juga congkak terhadap siapapun. Tapi itu hanya rumor.
Anyelir-nya tidak sombong, mungkin hanya pelupa. Anyelir-nya tidak congkak, kecuali orang yang berhadapan dengannya menyebalkan. Anyelir-nya cantik, Anyelir-nya penyayang. Dan yang pasti mencintai Janu dengan sepenuh hati.
"Tapi kam—"
"Udahhhh." Janu nyaris membekap mulut Anyelir. "Nggak ada habisnya kalau kita ngomongin ini, kamu nggak akan istirahat-istirahat!"
"Yaudah nanti aku lanjut besok!"
Janu tersenyum pulas dengan mata nyaris tertutup, posisi seperti ini seringkali membuat kantuk berkuasa di sekitar Janu. Padahal ia berniat menidurkan Anyelir, tapi ia sendiri yang turut memejamkan mata. Ia hanya berharap masalah-masalah yang timbul hanyalah hal biasa, akan teratasi jika Janu dan Anyelir bersama.
"Tidur, ya ... i love you." Mata Janu terpejam.
"I love you endless, Janu."
***
Downtown, Washington DC
Plakkk!
Salah seorang produser line, menampar Aruna seperti orang kesetanan. Ia lebih ganas daripada Pak Mahdi sebab orangnya tepat waktu juga mendasari aturan. Sementara Janu sudah jelas melanggar aturan dengan tidak berangkat ke Washington karena alasan pribadi.
"Tiga hari kamu bilang?!"
"I—iya, Pak ... Pak Janu minta jadwal syuting di undur sampai tiga hari." Aruna merunduk takut.
Lelaki di hadapannya, berusia sekitar angka lima puluh dengan setelan jas siap. Rambutnya yang nyaris beruban semua masih memiliki alis hitam tegas seperti pemarah, sepertinya memang ia tengah murka sebab Janu seenak jidat mengganti jadwal syuting.
"Kamu pikir ini perusahaan miliknya, ha?! Siapa dia? berani-beraninya mengganti jadwal!" Produser tadi melemparkan call sheet yang sudah disusun Aruna ke arah mukanya, sungguh Aruna juga heran pada Janu yang tiba-tiba menunda keberangkatan. Tapi ia jauh lebih geram pada lelaki di hadapannya.
"Maaf, Pak."
"Kasih tahu Janu, sekarang juga ia harus berangkat!" Produser tadi hendak meninggalkan aula berukuran besar dengan berbagai macam properti yang dibuat, bahkan termasuk miniatur crane, tumpukan bahan-bahan arsitektur serta kain hijau untuk efek CGI. Semuanya tengah sibuk bersiap, membereskan set lokasi agar syuting segera di mulai.
"Baik, Pak."
Produser tadi hendak beranjak, namun urung dan menoleh lagi pada Aruna dengan telunjuk yang senantiasa memojokkan lelaki itu.
"Kalau ia tidak mau datang, saya akan cabut dana untuk proses produksi ini! Mengerti?!" Pak produser tadi benar-benar pergi, meninggalkan Aruna yang frustasi sembari mengacak-acak rambutnya.
"Shittttt! Pak Janu ... Pak Janu ... Selalu bikin stress!"