"Kan di sini keterangannya … cuci beras sampai bersih. Biar beneran bersih, pakai sabun gimana?"
Pertanyaan Janu yang teralampau konyol membuat Anyelir tak kuasa menahan tawa, martabatnya sebagai gadis gengsi yang berpegang teguh terhadap kekesalan harus diperjuangkan. Ia tidak boleh tertawa atau merasa terhibur dengan tingkah absurd Janu, harus terlihat elegant, fantastic and beautiful. Lagipula kepala Anyelir masih pening. Ia memutuskan untuk terduduk di sofa, berteriak tanpa menoleh pada Janu yang berwajah risau.
"Kamu mau bunuh aku? Sabun itu racun, kok dipake cuci beras, sih!"
"Emang kamu cuci beras nggak pake sabun, Lir?"
"YA ENGGAK LAH JANU!" Anyelir tersenyum dalam diam, jika Janu mendumel dengan berbagai celotehan absurdnya mana bisa Anyelir fokus menonton series kesukaan dari negeri gingseng. "Bodoh jangan dipelihara!"
Anyelir ingat kata-kata pedas Janu dulu, apa yang Anyelir lakukan bila sampai terjadi kesalhan Janu pasti akan melantunkan sumpah serapah dengan mengatai Anyelir bodoh. Kini, balas dendam tidak ada salahnya, kan? Anyelir menikmati suasana ini, di mana baru pertama ia menang sebagai kekasih Janu, berasa menjadi ratu dalam sehari.
"Terus … cuci berasnya pake apa, Lir?"
Anyelir bangkit, terduduk menghadap ke arah dapur. "Ya, pakai air, Jan!"
"Air doang?!"
Janu benar-benar, lelaki secedas dan secemelang dengan pemikiran yang terlampau luas itu masih memikirkan perkara mencuci beras. Otaknya yang entah terbuat dari apa, mmapu memvisualisasikan sebuah cerita menjadi karya istimewa, bahkan film-filmnya menuai banyak komentar baik juga menyandang berbagai macam pernghargaan. Tapi soal mencuci beras saja, Janu seperti bocah yang baru pertama kai memasak nasi.
"Ya iya … kok dipakein sabun, nanti keracunan!"
"Tapi, Lir. Ibu itu … kalo di rumah cuci buah sama sayur pakai sabun cuci piring. Kenapa beras nggak boleh?"
"Buah 'kan masih bisa di kupas! Astaga, Jan … kayaknya kalau kita nikah nanti aku bakalan darah tinggi deh sama pemikiran aneh kamu!"
"Emangnya kamu mau nikah sama saya?" Janu sedikit menggeser tubuh, alisnya terangkat semacam memberi kode agar Anyelir segera menjawab pertanyaan krusialnya.
Salah tingkah sudah Anyelir, pipinya merona tak terkira. Lantunan suara Dewa-nya yang menggoda mampu meluluhkan jiwa raga. Hati Anyelir menghangat hanya karena pertanyaan sederhana, sejauh ini Dewa-nya sang pemenang hati. Rayuan Janu yang sederhana bagaikan syair Apollo di telinga Anyelir, indah nan merembes ke relung sanubari.
Janu bukan tipikal orang yang neko-neko, berucap sepanjang paragraf guna menyatakan cinta. Tapi ia punya cara sendiri, meski tak terduga juga terkadang membuat geleng-geleng kepala. "Y—ya … ya nggak sekarang!"
"Tunggu apalagi? Kita sudah sama-sama dewasa, kita sudah banyak bekerja, kita sudah membahagiakan orang tua dengan pencapaian kita, karier kita tertata, kebutuhan keluarga semuanya terpenuhi tanpa sisa. Tinggal apa coba, Lir?"
Anyelir mengerutkan dahi. "A—apa, ya? pokoknya tinggal ... tinggal—"
"Menua bersama."
Pipi Anyelir memanas, suhu tubuhnya naik, dahinya berkeringat, napasnya tersenggal, juga mata yang membola. Bukan demam, tekanan darah turun, atau serangan jantung. Anyelir salah tingkah, jiwa yang terperangkap di tubuhnya seolah meronta, berjingkrak-jingkrak seketika berusaha ingin terbebas dengan berlari dan memeluk Janu. "A—ah! Ud—udah udah! Jangan bahas nikah, bukannya kamu lagi masak bubur?!"
"Kamu nggak demam lagi, 'kan?" tanya Janu tiba-tiba khawatir.
"Enggak! Kenapa emang?"
"Wajah kamu merah,"
Mati sudah Anyelir, tapi tak apa. Masih untung Janu mengira kalau wajah Anyelir memerah karena suhu tubuhnya naik dan gadis itu terkena demam. Entah bagaimana jadinya kalau sadar Anyelir begitu karena salah tingkah.
"Nggak apa-apa! udah fokus aja masak!"
"Oh … iya … ayamnya di mana, Lir?"
"Di dalam kulkas." Anyelir malas menolehkan wajah ke arah Janu, ia merebahkan diri lagi agar tubuhnya tak terekspos oleh Janu sebab terhalang oleh punggung sofa dengan mengencangkan volume suara serialnya, tentu agar celotehan Janu tak terdengar kembali.
"Kamu ngebunuh ayam dengan cara di masukin ke dalam kulkas?"
"Hah?!"
***
Meracau dengan berbagai hipotesa mengenai gerutu Janu barangkali membuat Anyelir lelah, ia sampai tertidur di sofa. Dewi-nya tersenyum tipis, polesan surga di wajah senandung mutiara di dalam lumpur. Cantiknya tak tertandingi, meski wajah pucat seperti mayat. Kulitnya tetap bersih dan lembut seperti terbuat dari s**u. Tak puas rasanya memandangi setiap lekuk yang membiuskan makna cinta. Membawa serta-merta kehangatan yang mampu menyunggingkan senyuman.
Lengan Janu bergerak, hendak menggendong. Sang Dewi melenguh. Gemas sekali, seperti anak anjing yang meringkuk tidur di atas bantal empuk.
Aba-aba ditunjukkan, Janu memegangi pundak Anyelir sembari menyentuh dahinya yang terasa masih hangat. Dengan perhitungannya, Janu menggendong Dewi-nya ala bridal style, mengalungkan lengan lemas itu ke leher lantas tersenyum indah. Aphrodite-nya bergerak, merasa terusik. Matanya terbuka sedikit saat Janu berjalan di atas tangga dengan hembusan napasnya menerpa wajah Anyelir.
Mata Anyelir terbuka seutuhnya secara perlahan. "Janu?!" terkejut ia saat terbangun berada di atas tubuh Janu.
"Istirahat di kamar, ya." Janu fokus memerhatikan langkahnya.
Sementara Anyelir tak kuasa mengalihkan pandang dengan wajah penuh pesona sejuta umat Dewa tertampan, rahangnya yang tegas terlalu menggoda, apalagi bibirnya yang sexy berwarna pink alami nyaris menyahuti untuk minta disentuh. Serangan hasrat membuat Anyelir nyaris tak terkendali, kendati ia harus ingat berada di antara gengsi karena masih dalam mode marah.
Janu dengan susah payah membuka pintu masuk kamar Anyelir, perlahan merebahkan tubuh gadis itu lembut diiringi alunan senyum manis. Terduduk tubuh Janu di tepi tempat peraduan, memandangi aphrodite-nya yang mulai memiliki nyawa setelah sebelumnya terlihat murung juga kesakitan.
Salah satu asisten rumah tangga Anyelir mengetuk pintu, Janu mempersilakan. Ia membawa nampan yang berisi bubur, air putih, potongan buah pepaya juga obat-obatan.
"Ini, Tuan." Nampan itu beralih kepemilikan dengan Janu yang menyambut senang.
"Kalau begitu saya permisi." asisten rumah tangga berseragam hitam putih tadi beranjak, dibalas anggukan oleh Janu sembari meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur.
"Duduk." Janu membantu tubuh Anyelir untuk terduduk dengan perlahan dengan satu bantal sebagai sandaran punggung. "Saya suapin, ya?" Janu mengambil mangkuk bubur ayam hasil kerja kerasnya tadi.
"Berasnya nggak kamu cuci pakai sabun, 'kan?!"
"Enggak, Lir." Senyum itu terkembang beriringan dengan alunan lembut seperti syair Dewa. "Paling daging ayamnya saya cuci pakai sabun colek,"
"IH JANNNNN!"
"Bercanda, Sayang."
Kalau begini Anyelir bisa benar-benar kena serangan jantung, perlakuan Janu, karakter Janu yang mulai menghangat, tidak datar, dingin dan pemarah, siapa yang tidak karuan dengan tingkah seperti itu? Janu seperti menunjukkan sisi berbeda dari dirinya, padahal dulu lelaki itu sangat serius, tidak pernah mengenal yang namanya main-main atau bercanda. Tapi sekarang, rasanya keinginan menggoda Anyelir menjadi candu baginya.
Satu suapan meluncur ke dalam mulut Anyelir, sembari mengunyah ia melotot terkejut dengan cita rasa yang timbul. "Enak, kok."
Janu menggaruk tengkuk. "Ending-nya dibantu Mbak Mina tadi. Soalnya saya bingung, Lir … beras yang saya rebus malah jadi kerak telor."
"Hah? Kerak telor?! Kok bisa?!"
Mbak Mina—adalah asisten rumah tangga Anyelir yang mengurusi segala kebutuhan dapur. Seluruh masakannya memang enak, tapi jauh lebih enak buatan Bunda Lanjen. Maka dari itu segala urusan dapur selalu Lanjen kerjakan sendiri karena ia senang memasak. Janu seperti bocah amatir yang baru belajar memasak, wajar jika ia melakukan banyak kesalahan.
"Karena tad—"
Janu menggantung ucapannya saat ponsel di saku celana berdering kencang, ini pasti panggilan dari Aruna lagi. Lelaki itu mengeluarkan benda pipih miliknya, mengecilkan volume dan di simpan di atas nakas begitu saja. Anyelir baru menyadari, seharusnya hari ini Janu berangkat menuju Washington, tapi ia malah merelakan diri dan datang ke sini cuman-cuman hanya untuk memasak bubur. Dahi Anyelir berkerut, merutuki kebodohannya karena baru menyadari hal itu.
"Angkat aja," ketus Anyelir memperingati, sebab Janu nampak acuh tak acuh padahal itu berkaitan dengan pekerjaannya.
"Nanti aja." Lelaki itu malah menyendokkan satu suapan bubur ke mulut Anyelir.
"Jan, nggak gitu aturannya! Kamu nggak profesional kalau kayak gitu!"
Dengan tatapan ganas, tersulut nada kesal. Anyelir menutup mulutnya rapat-rapat sembari menajamkan pandangan pada Janu. Menyadari hal itu, alih-alih membujuk Janu malah menyimpan mangkuk buburnya. "Saya nggak bisa pergi dengan tenang setelah apa yang Ar—maksud saya Bella perbuat terhadap kamu."
Dahi Anyelir berkerut. "Maksudnya?"
"Masa lalu saya." Janu merunduk pasrah, akan sulit rasanya membahas permasalahan yang sudah lama di kubur dalam-dalam. Bukan tak ingin mengungkit, ibaratkan luka gores yang dijahit, tapi harus terpaksa jahitannya di cabut, lantas ditaburi garam. Tentu menyiksa. "Dan ... foto-foto itu ...."
***
Beberapa jam sebelumnya ...
From : Pacar
Kamu di mana, Jan? aku butuh kamu.
Layar yang menampilkan notifikasi pesan dari Dewi-nya hanya ditatap nanar, barangkali memang ini hanya akal-akalan Anyelir. Ingin berdamai tapi dengan cara agar Janu yang meminta maaf duluan. Keduanya memang bersalah, terlarut dalam genangan egoisme pribadi, merasa paling tersakiti, tanpa mau saling mengerti.
Tapi Janu malas menanggapi, lagipula ia akan pergi. Mungkin kepergiannya akan menjauhkan jarak, tapi bisa jadi mendekatkan hati. Janu hanya berharap Anyelir sadar bahwa bukan hanya Janu yang harus terbuka soal masa lalu, keterkaitannya dengan sekarang, juga permasalahan yang menimpa. Anyelir juga harus mau terbuka, sebab Janu sadar banyak hal yang acap kali disembunyikan Anyelir juga Batari.
"Genta, tunggu apa lagi?" Bella yang berada di seberang Janu, bersiap memasuki kursi kemudia menyadarkan lamunannya.
"Ah ... iya, ayo berangkat." Ia menaruh ponselnya di saku celana, mengudarakan segala keresahan di d**a. Padahal perasaannya tengah bergejolak entah kenapa, semacam merasa sesak tak berujung juga sedih tak terkira.
Janu memasang seatbelt, guna menenangkan pikiran lebih baik ia membaca dan memperbaiki script. "Ra?"
"Kenapa?" Gadis itu fokus pada kemudia mobil, melajukan kendaraan miliknya keluar dari gedung A3. "Aku punya SIM Indonesia juga, Genta ... nggak usah khawatir!"
"Bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Script yang draft lima ada di mana? kemarin kamu bilang ada revisi lagi, 'kan? sampe draft lima?"
"Oh ... iya." Bella menolehkan pandang sekejap ke arah Janu. "Buka aja, aku simpan di laci dashboard ...." telunjuknya di arahkan ke dashboard di hadapan Janu. "Tuh ... ambil saja di dalam situ."
Janu membuka dashboard di hadapannya, ada beberapa tumpukan kertas juga foto-foto berserakan di dalamnya. Janu menarik helaian script yang Bella maksud, namun sepertinya tersangkut semacam ada benda yang mengganjal di atasnya. Janu menarik kertas itu tanpa aba-aba, sampai benda berlapis kaca di atasnya ikut terjatuh.
Lelaki itu terpaksa membungkuk, guna mengambil benda yang terjatuh tadi. Matanya tiba-tiba melotot, benda itu adalah parfume khas cherry blossom. Biasa digunakan oleh Anyelir. Hidungnya bergerak berusaha menghirup dalam-dalam aromanya, benar-benar persis milik Anyelir.
"Ra?" panggil Janu.
"Kenap—" Bella yang berbuat menyahuti sembari menoleh ke arah Janu malah melotot sempurna.
"Kenapa parfum Anyelir ada di mobil kamu?"
"Itu parfum aku, Genta!" potong Bella was-was.
"Kamu nggak diam-diam menemui dia, 'kan?!" nada Janu berubah menjadi sedikit tinggi dengan penuh penekanan seperti menginterogasi.
Bella tersenyum kikuk, menolehkan tatapan ke arah kiri sembari menggaruk-garuk tengkuk tak gatal. Bisa habis riwayatnya kalau sampai Janu tahu ia diam-diam menemui Anyelir dsn bicara yang tidak-tidak. Sebetulnya itu fakta, hanya saja bertabur bumbu diselingi kata-kata hiperbola. Bella terdiam bingung.
"JAWAB ARA!"
"Enggak! I never met Berta Bee!"
"Kamu tahu, 'kan? saya nggak suka kebohongan." Janu menolehkan pandangan tajam, lekat seolah mencari celah di mana Bella terlihat melakukan gerakan-gerakan takut.
"Aku nggak berbohong, Genta!"
"Really?!" Janu malah mengikis jarak antara wajahnya dengan Bella.
Takut terjadi hal-hal tertentu yang jauh dari kata keinginan, Bella menepikan mobilnya sebelum memasuki area tol. Ia balas menatap Janu dengan tampang biasa saja, padahal hatinya berdegup kencang takut-takut Janu mengetahui kebenarannya. Kenapa ia bodoh sekali kalau parfum Anyelir bisa sampai tertinggal? supir pribadinya benar-benar gila, bukannya dibuang malah di simpan ke dalam dashboard.
"Stop, Genta! Buat apa kita bahas itu? itu nggak penting! aku lagi nyetir, kita sebentar lagi sampai!"
Janu semakin mengikis jarak, napasnya yang memburu menerpa kulit wajah Bella. Gadis itu tersihir oleh manik rupawan Janu yang membisikan sekitar karena ketampanannya.
Wajah Janu yang lekat sekarang beralih, mengendus leher Bella dengan ganas lantas beralih ke arah pundak. Hasrat dalam tubuh Bella meronta, leher Janu nampak manis di hadapan matanya, menciumi satu-persatu, meninggalkan tanda kepemilikannya pasti akan menyenangkan. Bella tak kuasa menahan keinginannya itu, tapi Janu tiba-tiba kembali duduk tegak.
"Apa aja yang kamu ceritakan pada Anyelir?!" tanya Janu to the point.
"Cerita apa?" Bella masih mengelak.
"Parfum yang kamu pakai di baju kamu, sama wangi di parfum ini berbeda, Ra! ini jelas milik Anyelir! jangan berbohong seolah kamu nggak pernah ketemu dia!"
"Ha!" Bella menyeringai geram. "Semua orang juga mampu beli parfum kayak gitu, itu banyak di pasaran. Wajar kalo aku juga punya!"
Janu tak kalah menyeringai. "Satu kebohongan lagi! Parfum ini adalah produk yang baru launching dengan shampo kemarin ... Anyelir sebagai brand ambassador-nya. Dan ... ini belum ada di pasaran Bella!"
"I—itu ... itu—" Bella tergagap bingung. Rencananya hancur hanya karena sebotol parfum? Oh ayolah ini terlalu gila bagi Bella. "Genta! itu hanya parfum ... parfum—"
"Apa saja yang kamu ceritakan!" Janu berniat memasukan kembali draft script yang baru di perbaiki Bella. Tapi pandangannya teralih oleh beberapa foto yang tersimpan di dalam laci dashboard. Dan salah satunya adalah bukti mengejutkan di mana bias cahaya itu menampilkan wajah berseri Janu dengan Bella kala memakai cincin pertunangan.
"Ara kamu—" Janu memejamkan mata, ingin sekali melampiaskan amarah di hadapan Bella. "Keterlaluan!"
Janu mendapat panggilan lagi, tapi ia masih mengabaikan. Itu dari Anyelir langsung, ia pasti minta penjelasan atas masa lalu Janu. Sungguh, Janu belum siap menceritakan semuanya pada Anyelir.
"Genta ... Genta, sorry! Aku ... aku tidak bermaksud ak—"
"Diam!" Janu berteriak frustasi.
Panggilan lagi masuk dari Anyelir, d**a Janu tiba-tiba merasa sesak. Ada empat puluh panggilan tak terjawab sejak kemarin dari Anyelir. Tapi kenapa? apakah terjadi sesuatu, atau memang Anyelir ingin mempertanyakan permasalahan tunangan masa lalu itu?
"Saya nggak nyangka kamu bertindak sejauh ini! Gila kamu, ya!" Janu keluar dari mobil Bella dengan Bella yang dibungkam oleh kejadian barusan, jika sudah begitu akan lebih sulit membujuk Janu lagi.
Saat Janu hendak menarik tombol hijau untuk menerima panggilan dari Anyelir, panggilan itu tiba-tiba berakhir. Lalu muncul satu pesan lain yang membuat matanya melotot tak karuan.
From : Pacar
Rumah Sakit Pondok Indah - Puri Indah
Jalan Puri Indah Raya. Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta https://g.co/kgs/dNjGor
Janu belum mengerti kenapa Anyelir mengirimkan lokasi terkininya, dalam keadaan dahi yang masih berkerut tiba-tiba satu pesan lagi muncul.
From : Pacar
Jan ... i need your hug. Please ... datanglah ke sini walau hanya satu menit.