Ada banyak hal kecil yang terjadi di dunia ini. Seperti terbitnya matahari, terbenamnya bulan, turunnya hujan, gugurnya daun, surutnya air laut, atau bahkan macetnya kendaraan. Tidak semua mampu menilai, apakah yang dikatakan memang benar kecil adanya atau bahkan hal besar dianggap kecil?
Orang beranggapan kecil saat matahari hanya terbenam artinya bergerak, seolah bersembunyi di balik pegunungan enggan menampakkan diri. Padahal, yang terjadi sebenarnya bukanlah bocah kecil bermain petak umpet akan sembunyi biar tidak ketahuan. Tapi matahari berputar pada porosnya, silih berganti menyinari bumi. Jika matahari tidak terbenam, maka bulan tidak akan terbit. Pun sebaliknya, jika bulan tidak terbit, maka matahari tidak akan terbenam.
Apa yang terjadi pada bulan dan matahai bisa juga terjadi pada Anyelir dan Janu. Jika Janu membicarakan kepergiannya soal berangkat ke Washington, maka perasaan canggung di sebuah mercy milik Janu tidak akan sekental ini. Pun sebaliknya, jika Anyelir tidak menjelaskan mengapa ia bersikap seolah tidak mengenal Janu tadi, maka teori yang bermunculan di otak Janu mungkin saja perlahan menghilang.
Kini keduanya malah termenung, larut dalam pikiran masing-masing. Setelah Anyelir menerima ucapan selamat dari Janu berupa sebuket bunga dan sekecup ciuman hangat, Janu memutuskan mengajak Anyelir pulang bersama walau acara belum sepenuhnya rampung. Tapi saat mereka berpamitan pada Batari, Anyelir tiba-tiba mempertanyakan soal Washington DC, maka disinilah kecanggungan itu bermula.
Padahal perjalanan nyaris setengahnya, tapi belum ada yang berani mengalun kata. Tak ada pilihan lain, Janu harus mengakhiri semua ini.
"Lir."
"Jan."
Keduanya menoleh bersamaan. Anyelir tersenyum miring, ia mengumpulkan segenap jiwa raga untuk mencari alibi alasannya tidak mengenal Janu. Entah Janu memikirkan apa sampai sepanjang jalan hanya bergeming.
"Kamu duluan saja, Lir." Janu yang fokus menyetir masih siaga antara menatap jalanan atau menolehkan pandang sedikit lama pada Anyelir.
"Kenapa tidak cerita?"
"Apa?"
"Washington DC," lirih Anyelir. Gadis itu merunduk menahan sesak yang tiba-tiba bermuara di hatinya.
Perasaan Janu tiba-tiba ikut terdesak, ada desiran dari darah yang mengalir menyeret berbagai duri-duri kian menusuk setiap relung benak dan jiwa. Dewi-nya sedih, Dewi-nya kecewa, Dewi-nya marah, padahal ia berjanji tidak akan menyakiti pujaan hati yang amat ia cintai.
Tapi nada itu, lantunan bidadari surga yang meredup bak cahaya lilin di tengah hutan. Janu tak bisa mengejarnya, Janu malah kehilangan arah dalam kegelapan jenggala yang abadi, tanpa Dewi-nya Janu hanya seekor serangga yang putuas asa. Memanfaatkan amarah sebagai tameng terdepan dalam segala hal. Ini bagian tersulit, membuat Dewi-nya tersenyum semanis madu dari surgawi.
"Saya akan bercerita, tapi ternyata sudah keduluan sama Bella."
"Kapan? kamu belum pernah tuh menyinggung sedikitpun soal syuting terbaru kamu!"
"Itu tidak penting, Lir. Buat apa say—"
"Penting kalau urusannya soal masa lalu kanu!"
Cittttttt!
Janu tiba-tiba menginjak rem mendadak, beruntung jalanan ibukota di malam hari tidak terlalu ramai. Jadi Janu tidak mendapat teguran atau bunyi klakson yang memperingati, ia menepikan mobil sebab takut konsentrasi menyetirnya tergsnggu saat Anyelir berbicara mengenai apa yang di dengarnya.
Dua manik cokelat milik Anyelir di tatap dalam, ada keraguan tersimpan jelas di sana. Lapisan bening yang kian bertambah menutupi rona merah di sekitar kelopak, Anyelir menahan tangis sejak tadi. Perasaan Janu semakin menyeruak, udara tersedak, dari hidung hanya tertahan di tenggorokan. Sesak itu rasanya nyeri saat beberapa kali Anyelir malah membuang wajah.
"Maksud kamu gimana?"
Satu tarikan napas lolos nampak berat dari hadapannya. "Masa lalu kanu di Washington, why Washington? Why?!"
"Lir ... jangan kayak gini ... sesak sekali, Lir." Janu menekan dadanya, Anyelir nyaris terisak atas tindakan Janu. Membuat perasaan di dadanya semakin bertambah nyeri, Janu sudah berjanji tidak akan membiarkannya menitikkan air mata. Tapi ia sendiri yang melakukan hal itu.
"Kenapa harus Washington? di saat aku mencurigai masa lalu kamu dengan Bella, kenapa harus syuting di sana?! kenapa kamu nggak bilang kalau kamu pernah kuliah di sana bersama Bella, kenapa, Jan?! Aku ini siapa di mata kamu?! Orang asing?!"
"Lir ... saya tidak bermaksud kayak gitu." Janu menarik lengan Anyelir lembut, memegangnya seolah takut sekali kehilangan sang pujaan hati. "Sebelum Bella muncul sebagai script writer, saya memang sudah menyiapkan studio itu jauh sebelum saya syuting back and kill it. Memang studio itu dibuat di Washington DC."
"Kenapa Bella tiba-tiba datang? kamu yang undang?!"
"Datang ke mana?"
"Datang sebagai script writer pengganti di projek kamu, datang sebagai tamu undangan di festival film, datang juga sebagai tamu undangan di launching ini. Kenapa di mana ada Janu di situ ada Bella, apa kamu sadar aku siapa?!"
"Baik ... saya akan jelaskan sama kamu." Janu menghela napas berat, terpaksa ia akan membeberkan sedikitnya kelicikan Bella yang tadi ia sendiri menghindari hal itu karena akan membentuk perspektif dan kebencian yang Anyelir tanamkan.
"Bella ingin kembali kepada saya ... dia memaksa saya untuk dekat kemali tapi saya tolak. Itu adalah usahanya untuk mendekati saya dengan mengikuti kemana pun saya pergi, tapi kamu tahu sendiri saya hanya cinta sama kamu!"
"Kenapa ingin dekat kembali?"
"Saya tidak tahu ... Lir, yang jelas saya sudah tidak mau berurusan dengan masa lalu lagi."
Masa lalu adalah memori hitam putih yang dikenal orang lebih banyak hitamnya daripada putih. Itu berlaku untuk Janu, menghabiskan waktu bersama Bella dulu merupakan masa terindah di mana Janu baru mengenal yang namanya suka juga cinta. Kali pertama di hidupnya lari dari dunia seni hanya demi menjumpai Bella dan ingin hidup bersama selamanya. Tapi itu dulu, rasa sakit Janu masih terukir jika membayangkan hal apa yang menimpanya saat bersama Bella. Janu belum siap untuk menceritakan itu pada Anyelir.
"Kamu nggak lagi bohongin aku, 'kan?"
"Saya bicara serius, Lir. Bukan saya yang ingin kembali pada Bella, tapi dia yang memaksa, Lir ... saya sudah melupakan masa lalu." Janu membelai lembut kepala Anyelir, menghapus jejak basah di sekitar manik cantiknya.
Anyelir merunduk. "Tapi kamu belum terbuka, Jan. Kapan aku harus tahu tentang kamu dari diri kamu sendiri bukan orang lain?"
"Maksudnya?"
"Masa lalu kamu, aku tahu dari Aruna. Projek kamu aku tahu dari Bella, kepergian kamu ke Malang aku tahu dari Bella. Kapan, Jan? Apa susahnya kamu bercerita sama aku? apa aku sebodoh itu di mata kamu, Jan?! Aku dianggap apa sama kamu, ha?!!"
Janu yang ketakutan setengah mati dengan pertanyaan Anyelir yang bermakna kekesalan membuatnya tidak tahu harus berbuat apa, selain. "Maaf ... saya tidak tahu kalau pacaran harus seperti itu."
Yang terlintas dalam otak Janu, pacaran itu hanya tentang mencari cara untuk membahagiakan Anyelir, membuatnya berada dalam zona nyaman dengan berbagai tindakan dan perlakuan manis Janu. Ia tidak tahu-menahu soal meminta bantuan dalam mengambil keputusan, bercerita soal masalah yang seharusnya bukanlah kabar baik maka Janu pikir tidak harus diceritakan.
Ternyata pandangannya selama ini salah, Anyelir tidak pernah mengharapkan sedikitpun perlakuan manis dan pengabulan permintaan seolah-olah Janu adalah mesin pembuat hati senang. Dalam berhubungan komunikasi yang utama, entah itu sedih, senang, kecewa, marah. Anyelir sanggup menjadi pendengar untuk Janu, menjadi bahu untuk Janu bersandar.
"Saya hanya ingin kamu tahu saya soal bahagianya, saya tidak ingin menambah beban kamu," lanjut Janu begitu tulus. Satu hal yang membuat Anyelir sekarang mudah tersentuh, Janu sudah mau mengalun maaf tanpa embel-embel penebusan dosa yang rasanya membuat Anyelir muak.
"Aku pacar kamu, Janu ... mulai sekarang kamu harus paham fungsi itu! jangan menyembunyikan rasa sakit kamu dari aku!"
Janu mengangguk. Anyelir sedikit bernapas lega, setidaknya Janu menydaor bahwa kesalahannya bukanlah disengaja, ia menutupi semua masalah agar Anyelir tidak terbebani. "Baiklah, ayo pulang." Janu kembali tersenyum dan menancapkan gas.
"Oh Iyah, Lir." Janu masih terbelit dalam tanda tanya sejak tadi. Bisa jadi ini adalah waktu yang tepat. "Boleh saya bertanya?"
"Tentang apa?"
"Kenapa kamu tidak mengenali saya tadi?"
Deg.
Dunia Anyelir seolah berhenti dalam sekejap, Janu bertanya artinya Batari belum sempat memberika alibi bahwa Anyeir hanya sekadar bercanda. Mungkinkah Janu harus mengetahui soal masa lalu dan kelainan itu sekarang? tidak-tidak, Anyelir belum sanggup sungguh. Ia takut, benar-benar takut kehilangan Janu. Takut Dewa-nya membenci, takut Dewa-nya kecewa, takut Dewa-nya menjauhi. Sungguh ketakutan itu terus bertambah limpah.
Bagaimana ini, Tuhan?