Bab 67 - Pesta Manis dan Pahit

2560 Words
Satu polesan bibir terakhir, membentuk lekukan manis yang ranum juga menawan. Gincu berwarna pink alami membuat kecantikan Anyelir nampak elegan seperti bangsawan, darah yang mengalir memang tak pernah berbohong. Kulit seputih s**u diperlihatkan dengan gaun off-the-shoulder navy, mengungkapkan collarbone dan bahu cantik miliknya. Alis yang tegas, lukisan eyeliner membentuk manolid nampak bulat dan besar dengan iris cokelat terang miliknya. Van yang mengantarkan Anyelir ke acara launching series terbaru salah satu produk shampo ternama bernama 'QW' yang tengah hits di pasaran menjadikan Anyelir sebagai brand ambassador-nya, semerbak cherry blossom begitu memabukkan seisi mobil. Dirinya berkaca pada salah satu cermin bulat kecil yang menampilkan seluruh wajahnya, satu kata yang terlintas—sempurna. Walau sulit menganali, akankah sosok bak Dewi Yunani titisan surgawi terpancarkan cahaya bangsawan ini dirinya? wajah itu tetap asing, tapi tak apa, Anyelir tetap memuji kecantikannya. Tiba di red carpet sebuah hotel di bundaran internasional Jakarta, dengan hotel royal paling besar di metropolitan, nampak beberapa awak media siap membabi-buta tubuh cantik Anyelir. Turun dari Van dengan Mach & Mach double bow crystal mules heels 10cm berwarna perak transparan membuatnya bersinar saat terkena flash cahaya. Red carpet itu bukan hanya menyinari heels yang dikenakan Anyelir bertabur berlian dengan harga kisaran puluhan juta, tapi juga menjadi pantulan cahaya atas jewelry yang menggelayut di lehernya. Kalung Spinner Necklace mahakarya Tasaki, perusahaan perhiasan mewah di Jepang. Membuat kharismanya tercuat aura ratu-ratu Eropa dengan kecantikan neverending. Semua memujinya hari ini. Bahkan orang-orang membulatkan mata saat jewerly buatan Jepang itu benar-benar berhias di lehernya, sebab harga yang ditafsir mencapai milyaran. Beranjak menuju pintu utama ballroom sambutan dari CEO shampo tersebut membuat senyumnya merekah, banyak tamu undangan penting menghadiri acara ini. Anyelir sudah mempersiapkan pidato singkat, sambutan yang berisi dukungan juga motivasi untuk berlangsungnya penjualan produk shampo nanti. Hotel ini bertemakan royal family, dengan ukiran emas dari setiap sudut interior. Hanya ada beberapa meja kursi yang tertata rapi berhias bunga mawar di setiap sudut kanan dan kiri, bagian tengahnya jalur red carpet menuju panggung utama. Juga area yang biasa dipakai untuk berdansa. Semua berhias bunga lily, bertebaran di setiap hiasan dekorasi. Benar-benar mewah. "Night ... beautiful lady!" sapa seorang wanita berkisar tiga puluhan, Anyelir sempat lupa namun Batari berbisik 'Versair Lady' membuat mata Anyelir berbinar. "Hai!" Adegan cepika-cepiki ala wanita cantik biasa dilakukan, semerbak parfume dari masing-masing menjadi berbaur wangi. "How are you?" Versair Lady—seorang model ternama yang wajahnya menghiasi setiap sampul majalah, pemilik butik langganan Anyelir bahkan dress yang dikenakannya pun berasal dari butiknya. Sifat tegas dan elegan menghantarkan berbagai macam busana yang tak kalah autentik khas keluarga kerajaan, Anyelir semacam disihir menjadi ratu hanya dalam sekejap. "Sangat baik ... kamu pemenangnya malam ini, ya? cantik sekali!" Versair Lady mendekatkan tubuhnya ke telinga Anyelir. "Kalau Sutradara Janu tidak mengumumkan kencan kalian, lihatlah para milyarder Indonesia memandang kagum padamu!" Anyelir membalasnya dengan tersenyum singkat. "Sayang sekali ... mereka kalah telak dengan Janu!" pekiknya gemas. Versair Lady mengacungkan tangan untuk menjumpai para tamu lain, Anyelir hanya terdiam di dekat panggung sebab acara belum di mulai. "Wine?" tawar Batari yang tersenyum pulas. "Of course ... wine!" Batari beranjak, membuat Anyelir memikirkan perkataan Versair Lady. Bukan perkara tampan, kaya, pemilik perusahaan ini, CEO itu, jutawan, milyarder, itu tak berlaku bagi Anyelir. Toh ia masih mampu menafkahi dirinya sendiri—tak perlu bergantung pada pasangan yang lebih kaya. Yang terpenting adalah pemenang hatinya, lelaki yang berupaya keras mengejar cinta Anyelir dengan ketulusan, bukan karena harta dan rupawan. Dan gelar itu berhasil diraih oleh Janu seorang, pangerannya yang saat ini ia rindukan sebab berjibaku dengan kesibukan. Di tengah-tengah menanti acara pembukaan di mulai, seorang lelaki muda menghampiri Anyelir. Iris hazel yang pekat membuat senyumnya merekah, ada satu lagi wanita berdiri di dekatnya memperhatikan. Membuat Anyelir hanya menyapa dengan senyum tipis. "You are beautiful tonight." Lengan kekarnya menyapa. Anyelir tampak familiar dengan wajah tegas berbibir sexy ini. Busana putih turtleneck berbalut jas senada dengan rambut yang diikat rapi menyisakkan dua helai unik di setiap ujungnya, belum lagi telinga yang banyak menggunakan tindik seolah mengintimidasi dirinya. Banyak pasang mata yang memerhatikan Anyelir sejak tadi, tapi tatapan tajam khas lelaki di hadapannya ini benar-benar memaku, belum lagi aura sinis dari gadis di belakangnya. Anyelir merasa ruangan ini mengecil, kian mengecil, menyisakan dirinya yang terhimpit setiap sudut tembok. Lelaki itu mengerutkan dahi saat Anyelir hanya terdiam memandangi, padahal tangannya sudah terayung minta di balas tepat ke arah Anyelir. "Ah ... thank you." Anyelir baru mau menyalami. Sungguh, ia tidak mengenal lelaki ini. Wangi yang timbul dengan gaya berpakaian yang tampak asing membuat Anyelir kebingungan sendiri, ia tidak pernah mengenal pria seperti ini sebelumnya. Apa seorang miliarder yang diceritakan Versair Lady tadi? Deretan pria tampan yang ingin berkenalan dengannya? ah, ini memuakkan sekali. Jika Janu berada di sini, ekspresi siap mengamuknya pasti sudah membuat Anyelir terdiam. "Rasanya saya pengen cium kamu." Lelaki itu berbisik di telinga Anyelir membuatnya mengerutkan dahi kesal. "Sorry." Anyelir hendak beranjak karena menurutnya lelaki itu tidak sopan, namun lengannya tertahan. "Mau kemana, sih? nyapa cowok-cowok lain?" Sungguh, kenapa lelaki ini se-posessif itu? lagipula apa salahnya? toh ini kehidupan Anyelir, ia mulai geram dengan tingkahnya. Ada batasan bagi seseorang saat baru saja berkenalan, dan Anyelir sangat menganut paham itu. Apalagi berkaitan dengan etika, baginya bukan sekadar menyapa lantas berbicara sopan. Sebab orang tersenyum bukan berarti ramah. "Terserah saya, ini hidup saya ... maaf Tuan kenapa anda harus mengatur?" Justru perkataan Anyelir membuatnya semakin mengerutkan dahi, dua insan terheran hanya dalam satu pertemuan. Yang satu merasa risih karena diatur padahal tidak saling mengenal, yang satu heran kenapa gadis-nya marah saat dicemburui? "Hah?" Lelaki itu menghela napas, aura kebingungannya semakin bertambah. Apakah Anyelir bercanda? sepertinya ekspresi yang diperlihatkan benar-benar serius. "Kamu kok ngomong kayak gitu, sih?" "Ya ... wajar! saya tidak kenal anda tapi anda tiba-tiba larang-larang saya!" nada Anyelir sedikit membentak. "HAH?" lelaki itu melongo tak percaya, bagaimana mungkin Anyelir tidak mengenal lelaki yang sudah berbulan-bulan ini menghiasi hari-harinya. "Ka—kamu lagi bercanda, Lir? Ta—tapi nggak lucu loh." Lelaki itu masih berusaha menyeringai kaku. "Kata siapa bercanda? jangan ganggu saya!" Anyelir beranjak kembali beruntung Batari menghampiri membawa satu cawan wine. Wajah Anyelir yang muram juga penuh kekesalan membuat Batari mengerutkan dahi, tapi ia perlahan mengerti saat lelaki yang berdiri di belakangnya memeasang wajah serupa, malah lebih aneh. Nampak kebingungan bercampur amarah yang berusaha di tahan. "Kenapa?" tanya Batari. "Kesel banget!" "Janu? berantem lagi lo?!" "Hah? apaan, sih?!" Anyelir mengerutkan dahi, kenapa kekesalan yang biasa Anyelir perlihatkan selalu dikaitkan dengan kekasihnya. Padahal ia tidak berada di sini. "Bukan Janu, Tar!" Anyelir mengajak Batari beranjak menjauh, lelaki tadi juga kembali fokus berbincang dengan wanita di sampingnya. Ia menenggak wine yang dipegang sembari menatap Batari kesal. "Terus kenapa? wajah lo jadi semrawut gitu sekarang?!" "Itu cowok di sana." Anyelir memutar kepalanya memberi kode, barangkali Batari mengerti. "Siapa dia? larang-larang gue kenalan sama yang lain!" Batari yang kebingungan kini melotot sempurna. Seakan-akan dunianya runtuh, menghantam setiap nadi yang mengalirkan aura ketegangan. Kedua bola mata ini, bila perlu meloncat keluar sangking terkejutnya. Di manakah ia bisa menemukan nadinya lagi? seolah-olah ruangan yang ramai merenggut paksa kewarasannya. Tak ada kata yang tepat untuk ia lontarkan sekarang, hanya kesalahan. Batari salah telah meninggalkan Anyelir seorang dini, kini lelaki itu terus memandangi untuk siap mempertanyakan maksud atas perlakuan Anyelir barusan. "Lir ... sorry ...." Batari merunduk. "Kok sorry, sih? kenapa?" "s**t!" Batari mengumpat sembari menghela napas kasar. "Cowok yang lo maksud itu ... Janu, Lir!" "Hah?!" Bukan lagi soal terkejut bukan main, tapi Anyelir panik seketika. Sial! kenapa ia tidak mengenali wangi Janu sama sekali? Janu benar-benar tampil berbeda sekarang, wangi mint khasnya tidak tercium. Rambut ikal merahnya tidak terlihat, ah seharusnya Anyelir dapat menangkap iris hazel yang tegas juga tajam itu. Hanya Janu yang memiliki, hanya Janu yang menatap Anyelir dengan penuh tulus tapi tajam seolah takut gadis dihadapannya direnggut orang lain. Pantas lelaki itu cemburu jika Anyelir banyak bertegur sapa dengan para pesohor negeri ini, itu Janu, kekasihnya yang bahkan Anyelir sendiri tidak mengenali wajahnya. Anyelir berbalik, hendak menghampiri Janu yang juga menatapnya dengan penuh kebingungan. Tapi pemandu acara memulai rangkaian launching dan perayaan ini dengan meriah. "Selamat malam! para tamu undangan yang menghadiri acara launching series terbaru 'QW' harum sejati nan ramah lingkungan ... dengan berbagai perayaan dan penampilan dari para bintang tamu ternama!" Salah satu crew yang bertugas menghampiri Anyelir. Mempersilakan Anyelir untuk bersiap di backstage, tidak ada waktu untuk menjelaskan pada Janu. Mereka beradu pandang dengan tatapan Janu yang tajam begitu menusuk, Anyelir menoleh pada Batari. "Tar ... gue mohon buat alibi ... ya—apa kek gue bercanda atau gimana gitu, ya?!" Anyelir memohon pada Batari sebelum ia pergi ke dekat panggung. "Alibi gimana? Lo tadi ngomong apa sama dia?!" "Ayo ... Berta Bee." Crew tadi terus mengajak Anyelir untuk segera beranjak. "Gue ngomong kalo gue nggak kenal sama dia ... dan jangan dekat-dekat gue tadi. Tar ... gue mohon bujuk dia, ya?!" Mata Anyelir yang nyaris menangis membuat Batari tidak tega, ini juga kesalahannya telah meninggalkan Anyelir seorang diri. Meski semua tamu undangan adalah orang yang dikenal Anyelir, tapi baginya semua asing. Termasuk Janu—kekasihnya sendiri. "s**t!" Batari meremas dress yang dikenakannya karena frustasi. "Ya—yaudah deh lo sana ... Siap-siap!" Acara di mulai dengan beberapa sambutan dari orang-orang ternama di negeri ini, ucapan selamat, ucapan do'a juga adat istiadat yang tak pernah luput dari budaya Indonesia berupa pemotongan tumpeng. Terakhir, sebelum beranjak ke acara hiburan adalah sambutan dari brand ambassador terkenal yaitu Anyelir sekaligus prosesi gunting pita sebagai tanda bahwa produk terbaru ini resmi diluncurkan. Anyelir naik ke panggung dengan tepuk tangan yang meriah, seluruh atensi terfokus padanya. Seolah tersihir oleh paras yang bersinar memancarkan aura kerajaan. Bahkan saat Anyelir berbicara, suara lembutnya mendiamkan para tamu undangan, semua benar-benar fokus mendengarkan gaya bicara yang mampu mendistraksi pentonton. Anyelir semacam melantunkan kata-kata surga. "Brand ini akan menjadi salah satu rumah bagi para wanita yang mengeluhkan berbagai macam masalah dalam kecantikan, khususnya perawatan rambut. So ... mari dukung 'QW beauty' bersama-sama, menjadi brand yang mendunia!" riuh tepuk tangan juga haru bahagia nampak tercetak dari beberapa karyawan juga staff khusus di perusahaan 'QW beauty'. "Dan ... I am grateful, and thank you very much kepada Mbak Catie dan Mas Anto sebagai pasangan yang mendirikan brand ini sudah mempercayai saya, terimakasih juga buat Pak Bambang atas dukungan penuh sebagai lokal brand ternama yang mau berkolaborasi dengan kami ... and last! I thank my lover ... Janu." Anyelir menaruh atensi pada Janu berharap lelaki itu tidak mempersoalkan kejadian tadi. "Janu ... i love you." Anyelir menutup sambutannya dengan kalimat manis yang membuat para lelaki iri pada Janu. Alih-alih Janu melambaikan tangan atau sekadar menunggu Anyelir, lelaki itu malah pergi dengan tampang datarnya. Meninggalkan ballroom begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata, Anyelir kelimpungan tapi ia harus menyaksikan acara pemotongan pita. Matanya celingak-celinguk menelisik keadaan Batari yang justru memberi tanda silang. Janu marah. "Oke ... kita hitung bersama-sama ... satu ... dua ... tiga!" Pita tergunting, riuh tepuk tangan terdengar, sambutan dari terompet memekikkan telinga, bahkan conffeti yang meluncur bebas menghiasi kemeriahan acara. Anyelir tidak menikmati ini, sebab perasaan membuncah. Tumpah ruah dengan kesalahan yang dibuat, wajah yang tersenyum kikuk diperlihatkan untuk berpamitan. "Sebentar, saya ke belakang dulu." Dengan terbirit-b***t Anyelir menghampiri Batari. "Lo udah ngomong sama dia?!" Batari yang ikut panik juga bingung harus berucap apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepala. "Gue gatau Bella ngomong apa sama Janu, tapi Janu kayak termakan omongannya!" ucap Batari berbisik. Anyelir menoleh pada gadis yang ditunjukkan oleh Batari, ternyata selama acara berlangsung Janu datang bersama Bella. Bahkan saat menjumpai Anyelir tadi, Bella berada di dekatnya sembari memperlihatkan tampang sinis. Sebenarnya apa yang dia mau? Anyelir kembali mengepalkan tangan. Tanpa diminta, Bella datang menghampiri. Mengulurkan tangan untuk memberikan selamat kepada Anyelir. "Congratulation!" Dengan setengah sinis Anyelir membalas jabatan tangan itu. "Thank you." "Public speaking kamu bagus banget ... sampe Genta terhipnotis tadi," puji Bella. Dengan mudah ia menyebutkan nama 'Genta' membuat Anyelir bertambah geram. "Of course ... He's my boyfriend. Tapi kenapa anda datang bersamanya?" "Oh ... QW menjadi sponsorship untuk projek kami. Hari ini Genta dan saya akan memulai kontrak untuk menghadirkan brand QW di salah satu scene film kami." Bella menyeringai percaya diri. "Oh benarkah? itu bagus." Anyelir malah membalas kikuk. "Tapi ... menurutku produk ini tidak cocok kalau syuting dengan latar luar negeri, karena kandungan alami khas negeri ini begitu melekat." Ucapan Bella sukses membuat Anyelir melotot sempurna. Luar negeri? Artinya syuting Janu yang akan berlangsung sebentar lagi bukan di Indonesia. "Tunggu ... luar negeri?" "Ah ... Genta tidak memberitahumu? kalau kita syuting di Washington DC selama tiga Minggu ... tempatnya dia sekolah dulu, bersamaku!" Ini bencana bagi hubungan Anyelir, bukan hanya Anyelir saja. Batari pun membelalak tidak percaya. Coba hitung kali keberapa Janu tidak pernah berbicara soal pekerjaannya, meminta saran atau terbuka atau minimal bercerita? Apa sebegitu sulitnya untuk berbicara? Anyelir merasa terbodohi tidak tahu menahu soal masalah ini. Mood-nya hancur seketika. "Sorry ... aku permisi ke belakang!" Anyelir mengapalkan tangan seraya beranjak. "Lir!" Sebelum Batari mengejar, ia menoleh pada Bella sembari mendelik tajam. Tentu saja itu umpan besar bagi Bella, rencananya berhasil, kemenangan ada di tangannya. Bella tertawa puas, persetan dengan orang-orang yang melihatnya gila. "Lir! Mau ke mana?!" Batari menarik lengannya, sebab Anyelir berlari ke arah lorong menuju hotel bekas jalur Janu keluar tadi. "Nyari Janu!" Ia hendak beranjak tapi ditarik paksa, otomatis Anyelir terpaksa berbalik menatap sendu ke arah Batari. "Lo tenangin pikiran dulu ... mungkin itu cuman akal-akalan Bella aja supaya lo berantem sama Janu," bujuk Batari. "Kalo Janu cerita sama gue ... ini nggak akan jadi akal-akalan Bella!" Anyelir menghempaskan cekalan tangan Batari dengan kasar sampai ia pergi untuk berlari mencari Janu. Batari tidak bisa berkutik, amarah Anyelir berada di ambang atas. Hiburan yang mampu melegakan senyum terasa berat bagi Batari, tawa dari para tamu undangan malah terdengar seperti jeritan pedih dari Anyelir, seharusnya ini menjadi hari bahagia untuk dia. Menjadi wajah utama dari brand paling populer di Indonesia, disambut dan dihargai oleh pesohor negeri. Tapi, seperti tak ada apa-apanya dihadapan pacar sendiri. Batari sendiri bingung harus menyalahkan siapa, yang jelas tindakan Janu memang keterlaluan. Ia tidak pernah berkaca pada masalah sebelumnya, kunci terbaik dalam suatu hubungan adalah komunikasi. Tapi itu seperti tak berarti apa-apa untuk Janu. *** Sementara Anyelir berkeliling mengitari area lobby yang mengarah pada lift menuju kamar-kamar hotel, dari arah lobby terdapat lorong menuju ke area belakang hotel di mana privat pool dan restauran terbuka di sana. Anyelir terus berjalan menuju lorong yang nampak sepi, sampai titik di mana alunan bariton terdengar di telinganya. "Lir!" Otomatis tubuhnya bergerak untuk berputar, guna melihat jelas panggilan itu dari siapa. Matanya yang nyaris berkaca-kaca membelalak saat sebuket bunga mawar berhias lily tersodorkan di hadapannya. Janu terduduk dengan satu lutut menjadi tumpuan. "Selamat, Sayang," lantunan Janu benar-benar lembut dan juga tulus. Perasaannya yang menyerebak seisi hsti lebih kentara daripada amarah, semua bisa diredam dengan lantunan manis, tatapan hangat juga senyum yang merekah. Kekesalannya menjadi pembahasan nanti, meski berniat untuk berwajah datar tapi senyum tak bisa membohongi. "Makasih, Jan." Anyelir menerima dengan sukarela. Sementara Janu berdiri, mengikis jarak seraya berucap, "Kenapa wajah kamu menjadi candu?" "Hm?" Anyelir bingung. "Apanya yang—" Cup. Satu kecupan mendarat di bibir Anyelir, membuat pipinya merona. Oh ayolah ia mengejar Janu untuk melampiaskan kekesalan karena Janu tidak pernah mau bercerita soal apapun. Tapi Anyelir dibungkam oleh kecupan, disihir oleh tatapan, dihipnotis oleh rayuan. Siapa yang tidak luluh dengan perlakuan seperti itu? "I love you endlessly, Anyelir."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD