Bab 61 - Bertambah Rumit

1079 Words
Senyum yang mengembang menciptakan alunan langkah cantik saat seorang artis papan atas menapaki gedung agensi ternama. Perintah Batari memang tak pernah dilanggar, tapi idenya pun turut menarik. Alih-alih memperkeruh keadaan dengan berbagai perdebatan dan tuduhan, Batari justru memberi saran untuk memberinya makanan. Sehingga kini, Anyelir berjalan di sekitar lobby A3 membawa kotak berisikan Rawon buatan sang Bunda. Banyak sekali karyawan yang menyapa, membuat ia kelimpungan sendiri harus membalasnya satu-persatu. Apalagi mereka tahu Anyelir tengah menggarap sebuah series dari novel ternama yang sempat booming di kota ini. Popularitas memang berdampak cukup kuat. Saat gadis itu hendak memasuki lift menuju ruangan yang ditunggu, seseorang memanggilnya. "Berta Bee!" Anyelir yang hendak memasuki lift kini harus terpaksa memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang berteriak, lagi, ia tidak mengenali. Sekarang harus bagaimana? mau basa-basi tapi ia bingung lelaki berusia sekitar empat puluhan itu siapa. Wajahnya memang nampak familiar, tapi ayolah ingatannya tak semudah yang dikira. Ah, seharusnya ia ajak Batari kemari, setidaknya diantar dengan selamat sampai depan ruangan Janu. Tapi gadis itu malah menunggu di parkiran dan memberi waktu satu jam sebab syuting Anyelir akan dimulai. "Apa kabar?" tangannya yang terulur membuat Anyelir tersenyum kikuk lantas membalasnya. "Baik." Senyum Anyelir tercetus. "Bagaimana proses syuting series, aman?" Mata Anyelir sedikit terbuka, sudah dipastikan orang dihadapannya bukanlah orang biasa. Di gedung ini pasti memiliki jabatan tinggi sampai karyawan yang melintas pun merasa segan dan amat menghormatinya. "Emh ... series? itu aman-aman." lagi Anyelir tersenyum kikuk. Tanpa keduanya sadari, ada seseorang berdiri dari lantai dua di tepi pagar besi pembatas menghadap ke arah bawah, percakapan Anyelir dan lelaki itu mungkin tak terdengar olehnya membahas apa. Tapi sorot mata tajam nan menusuk itu malah fokus pada kotak yang di bawa oleh Anyelir. Sebuah ide tiba-tiba saja melintas tanpa permisi. Anyelir yang berusaha mengakhiri percakapan akheinya berhasil, ia berpamitan lantas segera beranjak menuju ruangan sang kekasih—Janu. *** Tok ... Tok ... Tok Sebuah pintu ruangan tertutup bunyinya terdengar nyaring, membuat ornag yang tengah berada di dalam hanyanbisa berteriak mengizinkan. Janu mendongak, sumber masalahnay kembali datang, itu Bella tengah menyeringai tajam entah apa maksudnya. "Ada apa?!" ketus Janu dengan tatapan yang masih fokus pada layar monitor. "Aku ke sini untuk bekerja, ada beberapa hal yang harus diperbaiki." Bella beranjak mendekat ke arah Janu, lebih tepatnya dekat layar monitor yang tengah dioperasikan oleh lelaki itu. "Apa yang harus diperbaiki?" Hubungan kita, batin Bella. "Beberapa dialog." Janu membiarkan Bella mengoperasikan monitor yang dipakai, gadis itu membuka script yang telah final draft lantas mengubahnya beberapa kata. Sampai ketika pintu kedua terdengar, Bella menyeringai tajam. "Silahkan masuk!" teriak Janu Lantas dalam hitungan detik, high heels yang dikenakan Bella ditekan sampai batang penyangganya patah. Secara otomatis tubuh Bella oleng, hampir terjatuh tapi berhasil mendarat di pangkuan Janu. Kini posisi keduanya benar-benar terlihat intim, Janu duduk di kursi dengan Bella yang berada di pangkuannya. Dan adegan itu benar-benar terekam jelas oleh seorang gadis yang tengah menenteng kotak bekal di tangannya. Brakk! Kotak bekal berisi rawon di buat penuh cinta untuk memperbaiki hubungan dengan sang kekasih sudah tak berguna lagi, mata Anyelir memanas juga mulutnya gemetar hebat. Apa yang dilihat dari manik cokelatnya bukanlah mimpi, itu nyata. Janu tengah terduduk sembari memangku seorang wanita di ruang kerjanya sendiri, oh, ini terlalu mengejutkan. Awalnya Anyelir tidak setuju dengan ide Batari, ia menginginkan Anyelir untuk melakukan hal serupa seolah bagian dari hasil pertandingan dalam memperebutkan Janu. Tapi lihatlah sekarang? untuk apa pertandingan sialan merebutkan perhatian Janu itu di buat? segalanya sudah jelas. Wajah Janu yang terkejut dengan mata ysng melotot membuat Bella semakin menyeringai, mudah sekali menyusun rencana yang tak seberapa. Padahal sebelumnya apa yang direncanakan selalu gagal, tapi sekarang, ia menikmati adegan ini. "Ma—maaf ... maaf saya mengganggu." Satu tetes air mata lolos dari mata kiri Anyelir, ia memutar tubuhnya lantas berlari sekuat yang ia bisa sebelum ratusan tetes lain menghujam pipi manisnya. Anyelir berusaha menahan Isakkannya agar tak menjadi pusat perhatian. Janu yang melihat hal itu lantas mendorong tubuh Bella sekuat tenaga, berlari mengejar sang kekasih. "Lir! Anyelir tunggu!" "Lir!" Janu mengepalkan tangan dengan berbagai macam perasaan bersalah yang menghujam dirinya. Anyelir masih dengan histeris menekan-nekan tombol lift seperti orang gila, tidak bisa terbuka secepat itu sebab layar kecil berisikan tanda panah itu tertulis berada pada lantai delapan. Ia sudah pasrah sebab Janu berada di belakangnya, inilah akhir hubungannya? "Lir ... kamu salah paham." Janu mendekat ke arah Anyelir. "Gila ... hiks!" Anyelir hanya membelakangi Janu tanpa mau menolah sedikitpun. Setiap inci lekukan wajah Janu, setiap senyuman yang tercetus juga napas yang berembus terasa menusuk ke dalam jantung Anyelir. Apa yang Janu janjikan hanyalah kebohongan yang terencana di mata Anyelir, mau menghindari tiga hal yang paling dibencinya? Janu melanggar itu semua. "Lir ... dengerin saya." Janu berusaha meraih tangan Anyelir tapi ia menepisnya, Janu menyadari Anyelir tengah menahan tangis sebab bangunnya gemetar. Ia ingin menjelaskan seluruh kejadian yang baru saja terjadi, tapi banyak sekali karyawan yang lalu lalang di lantai ini. Terlaku beresiko, ia takut reputasi Anyelir akan menurun karena pertengkaran ini. Segelintir ide melintas di benak Janu. Ia menarik lengan Anyelir dan mengajaknya ke arah dapur kantor. Tentu saja Anyelir berontak. "Lepasin, Jan! lepasin! Apaan, sih! LEPAS NGGAK?!" Sekali Janu tetaplah Janu, si keras kepala yang tak mau mendengar bantahan. Janu terus menarik tubuh Anyelir ke dalam dapur kecil itu, lantas menutup pintu agar tak seorang pun bisa masuk. "Apalagi?!" Bentak Anyelir. "Kamu salah paham, Lir!" Janu dengan tubuh yang gemetar langsung berucap sedikit membentak. "Salah paham? berarti kalau aku lihat kamu lagi tidur di hotel pun itu salah paham, ha?!" "Lir!" bentak Janu. "Kenapa?! apa itu bener? oh ... ternyata sudah sampai situ, ya hubungannya?!"tiga empat butir air mata lolos dari pelupuk matanya, wajah Anyelir merah padam. "Jaga mulut kamu ya! Saya nggak pernah tidur dengan wanita manapun!" Janu yang kesal selalu dituduh malah balik berteriak. Lagi pula siapa yang tidak geram? setiap kali Janu ingin memberikan penjelasan, Anyelir selalu menyangkal dan menuduhnya dengan yang tidak-tidak. Seolah-olah gadis itu menhuat skenario yang berbeda dari cerita sebenarnya yang dibuat Janu. Semua adalah salah paham, Bella sengaja melakukan hal itu tapi sulit sekali membangun kepercayaan di diri Anyelir. "Terkecuali Bella!" Anyelir hendak beranjak, tapi Janu mencekal tangannya. "Bisa tidak?! kalau orang lagi berbicara itu dengarkan sampai selesai!" Janu berteriak membuat Anyelir gemetar takut. Ia berbalik dengan bibir yang gemetar. "Bi—bicara ... apa?! mau apalagi, ha?" "Bella sengaja melakukan itu supaya kita bertengkar seperti ini, tolong kamu percaya!" "Apa yang harus aku percaya sementara kamu saja sering minum-menum dengannya?!" Saya kalah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD