Dari pagi menjelang siang Anyelir masih belum mengaktifkan ponselnya, beruntung jadwal syuting hari ini di mulai dari sore meski sampai dini hari. Tapi banyak sekali persiapan yang harus dilakukan, mulai dari kostum sampai peralatan makan dan mandi. Benar kata orang, set adalah rumah kedua bagi artis sebab hampir seharian hidupnya dihabiskan di sana. Bagaimana Batari akan mengurus kalau sudah begini?
Tak ada pilihan lain, Batari harus segera menyusulnya ke rumah Anyelir. Padahal sejak pagi ia sudah repot mengurusi meeting dan berbagai macam kontrak yang harus diurusi Anyelir, tapi sampai siang ini gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya, kabar pun tak ada. Seketika rasa khawatir mulai menyelinap ke dalam benaknya.
Setibanya di kediaman Anyelir, jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Itu artinya waktu persiapan syuting yang lumayan panjang ini hanya tersisa tiga jam saja, gadis itu membuka pintu usai memberikan salam. Menuju ruang tamu keluarga ada Mihir di sana.
"Batari?" Mihir yang tengah menonton televisi lantas bangkit dan menghampiri. "Sudah makan belum?" tanyanya to the point'. Selalu pertanyaan yang sama, tapi entah kenapa, meski Batari mengenal keluarga Anyelir sudah hampir dua belas tahun, tapi baginya masih saja terasa kikuk.
"Ayah apa kabar?" alih-alih menjawab Batari malah melempar tanya sembari menyalami Mihir.
"Baik-baik. Kamu sudah makan?" lagi, ia tidak akan puas bila belum mendapatkan jawabannya.
Hanya senyum kikuk dan gelengan lemas dari Batari. "Nanti saja, Ayah—eumm ... Alir ada?"
Ekspresi Mihir tiba-tiba berubah, alisnya yang turun menandakan aura kesedihan kentara. Pasti ada hal lain yang terjadi menimpa Anyelir, Batari menjasi was-was sebab ponselnya memang tidak bisa dihubungi. "Kenapa, Ayah?"
"Alir ... ngurung diri di kamar, dia nggak mau keluar." Mihir nyaris menangis, Batari tahu jika suatu hal menimpa Anyelir, lelaki itu pasti akan lebih emosional. Hampir dua belas tahun Batari mengenal Anyelir dan keluarga, dan selama itu juga ia tahu bahwa Mihir mempunyai gangguan jiwa yang begitu menyiksanya.
Mihir nyaris menangis, tapi kemudian Bunda Anyelir muncul menenangkan. "Sudah ... sudah." Wanita paruh bayah yang masih nampak cantik berjalan dari arah dapur. "Alir nggak apa-apa, Yah. Dia cuman capek."
Batari langsung menyalami Bunda Anyelir seraya tersenyum singkat. "Sejak kapan Alir ngurung diri, Bun? kenapa dia?"
"Bunda juga nggak tahu karena dia nggak mau ngomong, coba kamu tanya dia, ya? siapa tahu kalau kamu yang tanya dia mau jawab, bujuk juga buat makan siang ... kita makan siang ramai-ramai, ya, Tar?" perintahnya.
Dengan setengah berlari menaiki anak tangga, Batari memikirkan berbagai macam kemungkinan. Antara kelainan yang terus menghampiri Anyelir, membawa pengaruh buruk sampai ia sendiri tidak mau berdamai dengan dirinya. Atau bisa jadi Anyelir sedang bertengkar bersama Janu.
Hal seperti ini memang sering terjadi, katakanlah dua belas tahun bersama Batari sudah hafal kebiasaan Anyelir. Saat keadaan terlalu menekan dirinya, ia akan berjongkok menutup mata dan telinga lalu menangis. Saat tiba di rumah, Anyelir tidak akan berbicara sepatah katapun dan langsung mengurung dirinya, untuk makan saja Batari harus membujuk Anyelir dengan tenaga ekstra.
Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, Anyelir pernah diserang oleh beberapa staff perusahaan karena ia menolak menjadi brand ambassador-nya. Lagipula siapa yang mau menjadi model dari celana dalam yang harus sekali mendapat sorotan penuh? bahkan konferensi pers peluncuran produk itu Anyelir dilarang memakai celana. Bagaimana ada manusia sekejam itu? orang-orang m***m yang gila itu malah mengambil kesempatan dari pemutaran iklan.
Sejak itu Anyelir mendapat teror dan perlakuan tidak baik, sampai ia tidak mau keluar rumah bahkan keluar kamar karena takut. Batari semakin cemas mengingat masa-masa itu, lantas mengetuk pintu kamar Anyelir dengan gelisah. "Lir ... Lir?! Lo di dalem, 'kan?!"
Irama dari ketukan pintu Batari semakin kencang, tapi gadis itu sama sekali tidak memberikan respon apa-apa. Banyak praduga berkeliaran di otak Batari, memikirkan Anyelir melakukan percobaan bunuh diri untuk kesekian kalinya saja membuat dia hampir gila. Hidup gadis itu terlalu menyedihkan, sangat menyedihkan, lagipula kalau Batari berada di posisinya, ia juga tak sanggup menerima jalan takdir yang berputar semakin pada titik penderitaan.
"Lir! Buka!" teriak Batari. "Lir! Anyelir! Buk—" rupanya Anyelir tidak mengunci pintu. "Eh ... kok nggak?" Batari lantas memasuki kamar Anyelir yang benar-benar gelap.
Hampir seluruh bagian kamar Anyelir berlapis kaca, wajar kalau kamar Anyelir akan segelap ini jika gorden miliknya tertutup semua. Batari mengerutkan dahi, di sudut kamar terlihat sebuah acrylic dry erase yang biasa dipake Batari untuk menjelaskan adegan per-adegan dari setiap film atau series yang dibawa Anyelir. Setiap ujungnya memiliki lampu yang berhias biru hingga tulisan di atasnya terbaca dengan benar.
"Lir ... lo ngapain?!" Batari melihat Anyelir tengah terduduk di lantai memandangi papan bening berisi berbagai macam coretan. "Kenapa duduk di situ, sih?! Batari menghampiri dengan perasaan cemas.
Anyelir seolah tuli, ia benar-benar diam memandangi papan tulis. Matanya yang sembab juga wajah yang kacau menandakan Anyelir sedang tidak baik-baik saja, Batari turut mengikuti arah pandang Anyelir—tapi ia tidak bisa membaca tulisannya.
Dari sekolah dulu, Anyelir adalah anak yang cerdas dengan kemampuan IQ lumayan apalagi dalam bidang eksakta. Tapi ia tak pernah mempunyai tulisan yang bisa dikatakan manusiawi, tulisannya hanya bisa dibaca oleh diri sendiri yang penting hanya dirinya yang paham.
"Lir ... are you okay?" Batari mulai menoleh pada Anyelir dengan harap-harap cemas.
Akhirnya gadis itu juga turut menoleh, tidak ada air mata di sana. Hanya saja wajah yang nyaris bengkak menandakan bahwa Anyelir menangis semalaman penuh. Apa yang terjadi?
"Janu selingkuh, Tar." Anyelir malah menyeringai, membuat Batari melotot sekaligus merinding.
"WA—WHAT?! LO—LO YAKIN?!"
"Semalem gue berantem sama dia," nadanya terdengar lirih.
"Tapi jangan asal nuduh gitu, Lir ...." Batari berusaha memperingatkan. "Lo 'kan tahu cowok lo sebucin apa! perkara pergi ke Singapura aja pengen satu koper, terus gara-gara cemburu photoshoot dibujuknya pake nonton bareng, ter—"
"Terus apa?!" nada Anyelir mulai meninggi, membuat nyali Batari sedikit menciut. "Orang gue nggak banyak ngabisin waktu sama dia! Sibuk!"
"Iya juga, sih." Begitulah menjalin hubungan dalam jenis yang hampir sama, jadwal keduanya benar-benar tidak bisa ditebak. Bahkan terjun ke dunia entertainment bisa mengubah waktu tidur, seharusnya manusia istirahat malam, berganti menjadi siang.
"Tapi 'kan dia sel—"
"Diem lo!" Anyelir berdiri mendekat ke arah acrylic dry erase. "Ini semua adalah buktinya!" tunjuk Anyelir pada papan di belakangnya.
Batari melotot sempurna. "Seniat itu ... lo babi ngepet," gumamnya sangat pelan.
"Renggis Arabella ... biasa dipanggil?" tanya Anyelir sambil melotot pada Batari.
"Bella?"
"Ara!"
"Hah? maksudnya?"
"Orang-orang manggil dia Bella, termasuk gue, Aruna, bahkan Pak Mahdi sekalipun ... right?!"
Batari hanya bisa mengangguk paham, kalau sudah mode macan tutul seperti ini. Anyelir bisa menerkam kapan saja, ia harus mengikuti alur pernyataan Anyelir sebelum berani membujuknya. Kalau sekarang Batari katakan bahwa syuting akan di mulai tiga jam lagi, bisa-bisa ia dipenggal hidup-hidup. Padahal nikah saja belum.
"Tapi Janu manggil dia Ara! dimana-mana ia sebut nama Ara, bahkan habis mabuk sekalipun! dan ketika gue selidiki, Ara dan Bella adalah orang yang sama!" jerit Anyelir.
Batari mengerjap. "Astaga kaget!" ia mengatur napas berusaha setenang mungkin menghadapi manusia setengah mengesalkan di hadapannya ini.
"Dia dateng ke Singapura bareng! bahkan Bella nganterin sampe ke hotel kita! Janu ngelakuin itu dengan alasan nabrak Abang bakso terus nemenin di rumah sakit, 'kan?! tapi pas gue tanya Abang baksonya cuman lecet-lecet doang!"
"Lo nanya Abang bakso langsung?!"
"Iya! orang dia cuman guling-guling, 'kan yang ketabrak gerobaknya!"
Mata Batari melongo, bahkan bisa saja bola matanya keluar karena terkejut. Tidak percaya dengan tingkah Anyelir yang ternyata berani bertindak sejauh ini, ia bahkan menemui penjual bakso yang ditabrak Janu.
"Gini nih cucu Firaun kalo lagi mode gila," gumam Batari menanggapi kelakuan sahabatnya, tidak berani ia berkomentar sampai berteriak, hanya pelan saja. Takut ia yang menjadi mangsa selanjutnya.
"Lo tau, Tar? udah dua kali gue nemuin Janu tepar dan itu setelah minum-minum sama Bella ... DAN!" teriaknya lebih keras membuat Batari hanya bisa mengelus-elus jantungny yang hampir melompat tinggi terbang ke angkasa bersama awan. "Kali kedua ... sangking mabuknya, Aruna telepon gue dan minta tolong karena Janu mau ke hotel bareng Bella!"
"APA?!" kini Batari yang berteriak. "Lo nyelamatin pacar lo yang lagi mabuk sama cewek lain?!"
Anyelir mengangguk-angguk. "Gue penasaran dong ... nggak mungkin juga rekan kerja yang baru kenal sudah bisa sedekat itu sampai mabuk bareng. Akhirnya gue tanya sama Aruna coba kali-kali nguping kalau Janu lagi ngobrol sama Bella,"
"Dan ternyata?!"
"Bella dan Janu punya hubungan di masa lalu!"
"MEREKA PACARAN DULU?!" Batari heboh, jangan sampai Janu si manusia pemarah dan gengsinya luar biasa menyakiti sahabatnya ini. Tunggu saja, Batari pasti bertindak.
"Emm ... gatau juga, sih, Tar. Gue nggak tahu hubungan spesifiknya apa,"
"Oke skip ... terus-terus apa lagi? masih ada?!"
"Kemarin itu, gue teleponan sama Janu ... yang kita baru break dari jam satu malem itu loh!" tanya Anyelir memastikan, sebab Batari malah mengerutkan dahinya.
"Ah hooh hooh ... terus?!"
"Ada suara cewek masuk, pas gue tanya Janu malah matiin ponsel seharian penuh! Lo tau? Dia baru bisa dihubungi jam sebelas malam, Tar! udah gila apa!"
"Dasar cucu monyet Afrika keturunan babi Canada yang dibawa pergi pas ngepet bareng! JANU SIALAN!"
"And you know itu suara siapa?!"
"Siapa? siapa?"
Anyelir mengeluarkan ponselnya, ternyata Bella pernah menghadiri wawancara salah satu film yang ditayangkan oleh sebuah aplikasi streaming terkenal di dunia. "This!" Video Bella diperlihatkan pada Batari.
"Bella lagi?!"
"Oh nggak hanya itu!" Anyelir mengutak-atik ponselnya, Batari mengerutkan dahi, ponsel Anyelir nyala kenapa nomornya tidak terjangkau dan tidak aktif? Ah, itu urusan nanti, sekarang ia harus mendengarkan Anyelir daripada dimangsa hidup-hidup.
Ponsel Anyelir diberikan pada Batari, itu pesan dari Aruna yang mengirimkan foto kotak bekal berisi sushi. "Aruna nelpon gue bilang makasih atas makanannya ... Tar! gue aja kemarin baru pulang sebelum jam makan siang! mana sempet gue buatin kotak bekal gitu buat Janu!"
"Jadi itu bukan dari lo?"
Anyelir menggeleng. "Itu kotak bekal Bella yang dikasih ke Janu, karena Janu nggak mau ... dia terima sih tapi dikasihin ke Aruna."
"Gila ya tuh cewek!" Batari menyugar rambutnya turut kesal dengan tingkah Janu dan Bella, seolah Anyelir bukanlah siapa-siapa di mata Janu.
"Terus gimana? apa gue harus putus sama dia, Tar?"
Alis Batari bertaut. "Emangnya lo mau putus sama dia?"
"Ya enggak lah!" Bibir Anyelir berkerucut kesal. "Gue udah cinta soalnya,"
Satu helaan napas berat dari Batari membuat Anyelir juga tertarik mengikutinya. Padahal hubungannya saja belum seumur jagung, durasi pacaran pun tidak lebih dari makan bersama, bermain ke rumah sebab keduanya sepakat untuk backstreet. Giliran Janu mengumumkan agar terlihat bebas, kesibukan kembali melanda ditambah lagi kemunculan Bella yang menjadi beban ganda.
"Kalo gitu lo nggak boleh kalah!"
Anyelir menoleh saat Batari mulai menuangkan idenya. "Lo nggak boleh kalah sama Bella, karena lo pacarnya dan lo lebih berhak! Lo harus renggut perhatian Janu!"
"Caranya?"
"Gue punya ide ... tapi!"
"Apa?! Lo minta gue pijitin lo lagi? ogah!"
"Nggak, Lir." Batari mendelik malas, padahal itu memang salah satu keinginannya. Selain gratis dan praktis, pijitan Anyelir luar biasa sedapnya. "Gue bakalan ngasih tahu lo ... asal lo sekarang ikut gue makan siang turun ke bawah habis itu kita siap-siap ke lokasi syuting! nanti di jalan gue kasih tahu lo harus ngapain!"
"Kenapa enggak sekarang aja, Tar?!"
Kalo sekarang lo nanti nggak mau nurut sama gue! batin Batari.
Tidak mungkin Batari berkata begitu, membujuk Anyelir harus ekstra hati-hati bin perlahan tapi pasti. Batari menarik napas panjang agar tetap terlihat tenang.
"Karena ide itu bertambah bagus saat gue selesai makan!"
"Oke!" Anyelir langsung beranjak semangat.
"Ke mana?"
"Jemput ponakan kebo! Udah lahiran tadi!" teriak Anyelir kesal, tak apa, dengan begitu Batari menyadari bahwa Anyelir mulai membaik.
"Ha ha ha! dasar macan tutul!"
***
Anyelir dan Batari makan bersama di kediaman Magdeliny, padahal Batari sering sekali ikut makan bersama keluarga ini. Tapi rasanya tetap saja canggung, apalagi perlakuan Mihir yang terlampau sangat baik membuat Batari sedikitnya iri.
Hidup bersama keluarga harmonis, menutupi luka juga masa lalu yang menurut mereka kelam. Tapi satu sama lain saling mengobati dan perlahan meelupakan kejadian dari masa yang begitu menyakitkan. Sementara Batari tidak bisa, masa lalu baginya adalah pecutan terdalam yang membuat lukanya sulit sekali sembuh.
Seolah ada belati yang masih menusuk di dalam dadanya, dan apabila dicabut begitu saja Batari akan mati. Anyelir seberuntung itu, meski masa sulit memang tak pernah luput darinya.
"Tar? kok bengong?" tanya Mihir.
Batari mengerjap, melihat kedekatan keluarga Anyelir selalu mengingatnya dengan masa lalu yang entahlah harus Batari katakan bagaimana. Masa di mana yang ada dalam otak Batari adalah balas dendam. "Hmm? enggak kok, Yah."
"Kenapa, Tari? rawon buatan Bunda nggak enak?"
"Enak kok, Bunda ... Tari cuman kangen aja masakan Mama." Senyum Batari, sangat terpaksa membuat Anyelir mengerti perasaan gadis itu.
"Kalo gitu dateng ke sini tiap hari, Tar. Walaupun Bunda bukan mama kandung Lo, tapi Bunda pasti siap masakin apa aja yang lo mau, iya 'kan, Bun?"
"Iya, Tari ... kamu itu sahabatan sama Alir udah lama ... Bunda berasa punya anak dua, jadi kamu jangan sungkan ya kalau mau minta apa-apa," ucap Bunda Anyelir menimpali ketulusan putrinya.
Batari hanya bisa terperangah, matanya berkaca-kaca entah mau berucap apa. Yang jelas keluarga Anyelir benar-benar baik dan tulus. Tapi tidak ada seorangpun yang mengenal keluarganya, Tari sangat tertutup soal itu. Anyelir paham, Tari sangat benci bila berkaitan dengan keluarga, maka dari itu Anyelir tidak pernah mengusiknya.
Yang Anyelir tahu, ibu Batari pergi meninggalkan keluarganya karena berselingkuh. Itupun Anyelir tidak tahu siapa namanya, siapa ayah Batari, apakah Batari punya kakak atau tidak? jujur, bila dibandingkan dengan Anyelir, Batari jauh lebih tertutup. Banyak aura kesedihan juga tekanan yang selalu Batari tutupi. Ia akan mengamuk sampai memusuhi Anyelir jika gadis itu bertanya soal keluarga. Dan entah sampai kapan Batari akan bersikap seperti itu.
Bukan cuman ingin didengar, Tar. Gue juga pengen jadi pendengar buat lo.