1. Aku Bukan Wanita Bayaran!
Bulgaria hotel, salah satu hotel termewah dan termahal di negara R, Hotel yang tampak ramai di penuhi tamu VVIP yang berlalu lalang. Aruna berjalan dengan anggun menyusuri koridor hotel, tangan nya menekan lift menuju aula lantai atas.
"Apa yang kau lakukan disini??" Alden cukup terkejut dengan kedatangan Aruna yang tiba-tiba.
"Apa aku tidak boleh ikut??"
"Bukankah kau tidak tertarik dengan perjodohan??"
Aruna duduk di samping ayahnya, Alden Marioun Davis, pimpinan perusahaan di negara C.
"Tentu saja."
"Hanya saja, sekarang ini aku sedikit stress dengan masalah kampus, oleh karena itu aku datang dalam perjamuan ini untuk menghilangkan stress." Aruna menatap ayahnya sekilas, tentu saja ayahnya juga mengatur perjodohan untuknya hanya saja Aruna tidak berminat untuk sekarang.
"Apa dia juga putrimu, tuan Alden??"
"Ah Hallo, Om, Tante." Aruna berdiri, lalu membungkukkan badannya, menyapa dua orang di depannya dengan tatapan ramah.
"Dia putri pertama ku."
"Cantik, seperti istri pertama mu." Senyum Aruna merekah.
"Dimana adikmu, kenapa dia belum datang juga??" Alden melirik jam tangannya, sudah hampir 1 jam menunggu Leona, tapi tak datang juga.
"Aku tidak tau ayah."
"Ibu, apa nomornya sudah bisa dihubungi??" Aruna menatap wanita di samping nya, yang dari tadi menelpon adiknya.
"Ayah, Leona tidak bisa datang..."
"Apa??" Alden menatap Aruna, lalu mengambil ponselnya.
"Ada apa??" Acha yang juga penasaran, ikut melihat pesan yang dikirimkan Leona.
"Apa yang terjadi??"
"Apa perjodohan nya tetap di lanjut, tuan Alden??"
"Ti..."
"Tentu saja, tetap harus dilanjut tuan Ray." Aruna baru saja ingin menjawab, namun terpotong cepat oleh ayahnya.
"Bukankah Putri Anda, Leona tidak menyetujui nya??" Tanya tuan Ray, yang dapat anggukan dari istrinya.
"Kami masih punya putri pertama kami." Alden mendorong maju Aruna pelan.
"Ayah,..."
"Bagaimana tuan Ray??" Alden menatap penuh harap, karena dengan ini ia bisa menutupi rasa malu nya.
Tuan Ray menghela nafas pelan, menyesap teh di tangan nya, menatap Alden geram.
"Tuan Alden, putraku bukan barang yang bisa kau alihkan ke sembarang tempat!!"
"Aku tau tuan, tapi bukankah Putri pertama ku juga cantik??"
"Ayah!"
Aruna sangat keberatan dengan apa yang ayahnya lakukan, oh astaga beberapa saat yang lalu ayahnya bahkan tau kalau dirinya tidak berminat perjodohan untuk saat ini, apa dia masih belum mengerti??
"Ya, kedua putrimu sangat cantik, tapi karena putri kedua mu tidak datang, maka keputusan ku adalah, putri pertama mu yang menjadi penggantinya."
Tuan Ray menatap Alden dan Acha bergantian, Aruna baru saja ingin mengutarakan pendapatnya, kembali di urungkan setelah melihat wajah ayah nya, mungkin saja saat ini ayahnya merasa malu, karena Leona tidak datang.
"Kurasa, tidak ada yang perlu dibicarakan, semua sudah jelas. " Tuan Ray beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan hotel.
"Jelas??itu yang dibilang jelas??aku bahkan tidak tau wajahnya seperti apa!! Leona tidak datang, bahkan pria itu juga tidak datang, kenapa aku harus menggantikannya?!!"
"Ayah, siapa putra tuan Ray??"
"Jeevan Jexter Rexton."
Aruna mengepalkan tangannya kesal, dengan mengatupkan gigi gerahamnya.
"Kau mau kemana??"
"Toilet." Aruna melangkahkan kakinya mencari toilet, 15 menit berlalu, Aruna tidak menemukan toilet satu pun, hanya menemukan pintu hotel yang berjajar tertutup rapat.
"Di hotel sebesar ini, tidak ada toilet satu pun??!"
"Dan kenapa semua ruangan terlihat sama??"
Aruna melihat sekelilingnya, ruangan yang sama, membuatnya tersesat di hotel sebesar ini.
Sebuah pintu terbuka, menampilkan seorang pria dibaliknya. Aruna mundur beberapa langkah, saat pria itu keluar telanjang d**a, hanya ada handuk yang melingkar di pinggangnya.
Tangan besar itu menyeret tubuh Aruna dengan kasar, membantingnya di atas ranjang. Aruna memberontak saat tangan yang menyeretnya, mencengkeram lebih kuat.
"Ah lepaskan!!" Aruna memberontak sekuat mungkin, namun tidak membuahkan hasil, pria yang menindih tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.
"Diam!!"
Jeevan menekan tangan Aruna lebih kuat, Aruna meringis pelan, tidak mempedulikan pria di atasnya, menendang Jr pria itu dengan keras, Jeevan melepaskan cengkraman nya, Aruna menggunakan kesempatan ini untuk lari, namun kakinya terlilit selimut, membuatnya tersungkur ke lantai.
Jeevan kembali mengangkat tubuh Aruna, sekali lagi membantingnya di atas ranjang, Jeevan mengambil dasi, mengunci tangan Aruna di atas kepala, mengikatnya dengan dasi.
"Kau!! Pria b******k!! Lepaskan aku!!"
Jeevan menampar pipi, lalu menyumpal mulut Aruna, menjambak rambutnya, Aruna meringis kesakitan.
"Diam!!"
"Pria s****n, lepaskan aku!!" Aruna kembali mendorong tubuh Jeevan, hingga membuatnya jatuh.
"Nona, kau hanya perlu membantu ku, dan aku akan membayar mu!!"
"Aku bukan wanita bayaran!!"
Aruna berlari ke arah pintu, dan berteriak.
Jeevan kembali menindih tubuh Aruna, mencium bibir nya kasar.
"Tidak usah so suci, J****g!!"
Jeevan kembali menjambak rambut Aruna lebih kuat, Aruna beberapa kali memberontak namun kalah.
"Lepaskan aku!!" Aruna mencoba menghindar saat pria itu mencoba menciumnya.Jeevan menarik tengkuk Aruna dengan kasar,memperdalam ciuman nya, mengusap pipi Aruna yang sudah basah, Aruna menggigit bibir Jeevan saat pria itu mencoba membunuhnya dalam Ciuman yang sangat lama. Ciuman kasar itu berubah menjadi cinta satu malam yang panas, erangan dan lenguhan keluar dari bibir Aruna, membuat Jeevan bersemangat, hingga menusuk tubuhnya berkali kali.
Jeevan tersenyum tipis saat melihat bibir Aruna yang berada dalam dekapan tubuhnya melenguh. Aruna yang berwajah cantik, mempunyai lekuk badan yang sempurna, paha mulus dan sangat seksi dimatanya.
Aruna bangun, menatap langit-langit kamar yang asing baginya, tubuhnya sangat remuk seperti tak memiliki tulang.
Kejadian semalam terus berputar dalam benaknya, sangat menjijikkan!
Beralih menatap pria di samping nya yang masih tertidur, Pria b******k yang sudah mengambil keperawanan nya secara paksa!
Aruna berniat untuk menamparnya, tangan nya melayang di udara, sebelum tangan kekar itu mencengkeram nya dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan, nona??" Jeevan bangun dari tidurnya, mencengkeram tangan Aruna di udara.
"Apa semalam belum puas??"
"Pria b******k b******n, lepaskan!!" Aruna mencoba menarik tangan nya.
"Sepertinya kau masih punya tenaga untuk memberontak."
"Nona, simpan tenaga mu untuk pelanggan yang lain." Jeevan melepaskan tangan Aruna, lalu mengambil pakaian nya yang berserakan dan memakai nya tanpa mempedulikan keberadaan Aruna.
Aruna menatap punggung pria itu penuh amarah, pria ini telah merampas kesucian nya, dengan menyentuh tubuhnya berkali kali. Tidak peduli berapa kali Aruna memohon, pria itu tetap hanya ingin memenuhi kebutuhan nya saja, dan tidak akan melepaskan Aruna sebelum kebutuhannya terpenuhi. Tidak ada yang bisa Aruna lakukan selain merintih dan menangis.
Aruna mengepalkan tangannya, pipi nya kembali basah, disertai isakan kecil yang keluar dari bibirnya.
"Kau b******n!!"
Jeevan kembali menjambak rambut Aruna kuat. "Kau jangan sok suci, aku tau kau hanya pelayan di hotel ini, harusnya ini menjadi kehormatan kau bisa melayani tamu sepertiku!!"
Aruna tersenyum tipis dengan mendengus pelan. "Sudah aku katakan, aku bukan wanita bayaran apalagi pelayan hotel!!"
Jeevan mendorong tubuh Aruna hingga tersungkur, tubuh putih nan mulus itu kembali terbuka tanpa sehelai benang pun.
"Ambil ini, dan jangan pernah muncul kembali di hidupku." Jeevan melemparkan cek tepat di depan wajah cantik Aruna, tentu saja cek dengan angka yang fantastis.
Jeevan pergi meninggalkan kamar, Aruna masih terisak didalamnya dengan menginjak cek dengan angka yang fantastis itu.
"Aku tidak butuh uang, aku hanya ingin keperawanan ku tetap terjaga!!" Aruna tersenyum miris, saat bayangan Jeevan kembali di ingatannya. Pria itu telah menghancurkan semua nya! Pria b******k yang tidak punya hati!!
Aruna merangkak, mengambil bajunya yang berserakan, tapi tidak bisa di pakai, karena sudah dirobek paksa.
"Aku hanya bisa memakai ini sampai apartemen." Aruna memakai handuk mandi untuk menutupi tubuhnya, kemudian memesan taksi online.
Pikirannya saat ini kacau, Aruna menenggelamkan diri dengan memejamkan matanya di dalam mobil, tiba-tiba kembali teringat tentang perjodohan keluarga nya.
"Apa yang harus aku lakukan??Tidak. Apa aku harus memberitahu ayah??apa perjodohan itu bisa dibatalkan??." Aruna bertanya pada diri sendiri.
Aruna memesan taksi online, menuju apartemennya, melihat kamarnya yang sudah bersih.
"Mereka sudah pulang??"
Aruna membuka lemarinya, sebagian kosong, melihat pakaian adiknya sudah tidak ada. Menyalakan ponselnya, Aruna terkejut saat melihat banyak nya panggilan tak terjawab.
"Mereka hanya pamit pulang, kenapa menelpon ku sebanyak ini??" Aruna menyimpan ponselnya tanpa berniat kembali, ia tak peduli panggilan itu penting atau tidak.
Aruna membersihkan badannya, bersiap untuk pergi bekerja, menggunakan rok jeans mini, di padukan Hoodie crop top berwarna putih.
"Ar...!!"
Avorza melambaikan tangan nya, berdiri di depan mobil, lobi apartemen Aruna.
"Apa yang kau lakukan??"
"Ayo berangkat."
Avorza berjalan membuka pintu, Aruna hanya berdiri, menghela nafas pelan.
"Kenapa kau diam saja??"
"Kau lupa, hari ini jadwal ku kerja."
Avorza menepuk jidatnya pelan, ia benar² lupa jadwal teman nya hari ini.
"Astaga, aku benar²lupa."
Aruna memutar balikan matanya malas, sudah menjadi kebiasaan melihat tingkah laku temannya yang pelupa.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu." Avorza mendorong Aruna, untuk masuk mobil, Lalu mobil Ferrari merah itu meninggalkan lobi apartemen.
Avorza Ravaela Xiu, putri tertua keluarga Xiu, Keluarga yang paling terkenal di kota F, masuk ke dalam 2 jajaran keluarga paling berpengaruh di negara R, dengan perusahaan paling terkenal kenal 2, setelah keluarga Rexton.