Satu bulan telah berlalu sejak kejadian di hotel itu, Aruna menjalani hidup nya dengan normal, hanya menyibukkan diri dengan kuliah dan kerjanya, seperti pagi ini, Aruna bersiap untuk pergi ke kampus, namun terhenti saat rasa mual itu kembali selama 3 hari terakhir.
Aruna mengambil obat maag dikotak obat nya, meminumnya dalam satu tegukan, lalu pergi ke kampus. Cuaca yang sejuk mengurungkan niat Aruna untuk pergi menggunakan mobil.
Jalanan hari ini sangat ramai, karena di hari Senin semua orang pergi terburu-buru. Aruna menyebrang jalan, namun tubuhnya tiba-tiba merasa lemas, hingga kehilangan kesadaran nya.
Jeevan yang saat itu terjebak macet, membanting setirnya kesal, ia bukan tipe orang yang terlambat dalam semua hal, apalagi ia harus menghadiri rapat penting 1 jam lagi.
"Tidak bisa kah, mereka berjalan lebih cepat?!" Jeevan mendengus kesal, melihat orang-orang di depan yang menurutnya berjalan sangat lambat.
"Bukan, kah itu dia??"
"Benar, aku tidak salah, itu dia!"
Jeevan mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan wanita yang sedang berjalan di kerumunan itu adalah Aruna.
"Aku pikir dia akan menuntut ku, setelah apa yang aku lakukan kepadanya."
Jeevan mengangkat sudut bibirnya, ingatannya kembali melayang saat cinta satu malam, ia tau bagaimana bibir kecil itu terus menyumpahi nya, dan ini adalah pertama kali baginya melihat gadis yang seperti itu, Sangat berbeda.
Jeevan terhenyak saat suara klakson mobil mengejutkannya, pandangan nya menatap ke depan, sudah tidak ada orang yang berjalan, lalu mengalihkan pandangannya ke setiap sisi jalan, tetap tidak menemukan Aruna.
Aruna bangun, menatap langit-langit kamar yang asing menurutnya, memegang kepalanya yang terasa sakit, pandangannya tertuju pada Avorza yang dari tadi menatapnya dengan tajam.
"Apa yang terjadi??"
"Kenapa kita berada disini??"
Avorza menatap teman nya itu, bibirnya terangkat, dengan senyum mengejek, lalu memutar bola matanya jengah.
"Kau tidak ingat??"
"Tidak."
Aruna menggelengkan kepala, ia benar² tak ingat apa yang terjadi, selain pandangannya yang tiba-tiba kabur.
"Kenapa kau menyembunyikan nya dari ku??"
"Menyembunyikan apa??"
"Katakan! Siapa yang telah melakukan ini kepadamu!"
Avorza menatap Aruna geram, mengatupkan gigi gerahamnya, menatap Aruna frustasi.
"Apa yang kau katakan?? Aku tidak mengerti."
Aruna bangkit dari tempat tidurnya, duduk dengan menatap Avorza, alisnya saling bertaut, apa yang dia bicarakan, ia benar² tak mengerti.
"Kau hamil Aruna!"
Avorza memejamkan matanya sesaat, menghela nafas pelan.
"Apaa?!!"
Mata Aruna sukses membulat, dengan bibir yang menganga, tak percaya, juga terkejut bercampur menjadi satu.
"Siapa yang melakukan ini kepadamu??"
"Tidak, kau tidak punya kekasih."
Avorza menggelengkan kepalanya, ia sangat ingat teman nya ini tidak mempunyai teman pria apalagi kekasih, lalu siapa yang melakukan nya??
"Aruna..."
"Aku punya kekasih."
Aruna memotong ucapan Avorza dengan cepat, mata bening nya menatap teman nya yang berdiri di depan.
"Aku punya kekasih, hanya saja aku menyembunyikan nya dari mu."
"Kenapa??"
Avorza menatap Aruna dengan heran, kenapa ia menyembunyikan nya, padahal Aruna selalu menceritakan semua hal padanya.
"Bukan kah semua orang punya tempat privasi sendiri??"
"Kau te..."
"Kau harus menyuruh kekasih mu bertanggung jawab!"
Aruna menatap teman nya, ia tau Avorza sangat mengkhawatirkannya, tapi saat ini ia hanya bisa berbohong untuk menghilangkan kekhawatiran teman nya, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa kesucian nya diambil oleh pria b******k yang bahkan tidak ia kenali.
"Baiklah."
"Kau tunggu disini, aku harus mengurus sesuatu, aku akan menjemputmu setelah urusan ku selesai."
Avorza menepuk bahu Aruna pelan, kemudian pergi meninggalkan Aruna di ruangan, Aruna menghela nafas lega, tidak tau apa yang terjadi, kalau temannya terus menanyakan hal tadi.
"Lebih baik aku pulang sendiri."
Aruna beranjak dari tempat tidurnya, keluar ruangan dengan berjalan sempoyongan.
"Aku menemukan mu."
Aruna yang baru saja ingin memasuki lift terhenti saat tangan besar itu menariknya.
"Aku menemukan mu."
Jeevan menarik tangan Aruna yang baru saja ingin naik lift, Aruna terkejut, bagaimana bisa ia kembali bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya?? Dan bagaimana bisa pria ini mengingkari ucapannya sendiri??
"Lepaskan!!"
Aruna mencoba menarik tangannya dari genggaman Jeevan, tatapan kebencian jelas terlihat, kebencian dengan amarah, ingin sekali Aruna meluapkan emosi nya, namun dia sadar ini adalah tempat umum.
Jeevan tersenyum tipis, menatap gadis didepannya yang selalu memberontak, ini pertama kali baginya, disaat para gadis lain mencoba untuk menghangatkan ranjang nya, hanya Aruna yang tidak menginginkan nya.
"Bagaimana jika aku menolaknya??"
"Kau, pria b******k, b******n, m***m, lepaskan aku!!"
Aruna mengangkat satu tangan, berniat untuk menamparnya, namun dengan cepat Jeevan menghentikannya, membuat kedua tangan Aruna melayang di udara.
Jeevan merapatkan tubuhnya, membuat jaraknya dengan Aruna lebih dekat.
"Apa yang kau lakukan!!"
"Menurut mu??"
Aruna masih mencoba melepaskan diri, hingga tangan nya lecet, pria itu masih tetap tidak mempedulikan nya, mencengkeram nya lebih kuat, mendekatkan wajahnya, Aruna memalingkan wajahnya, Jeevan mencium sudut bibir Aruna yang menurutnya sangat manis.
"Kau!!"
Aruna mengepalkan tangannya, Jeevan tidak merubah posisinya, mencium bibir Aruna cukup lama. Aruna yang kesal mengalihkan menoleh, hingga ciuman itu menjadi full dari mulut ke mulut meskipun Aruna tidak membalasnya.
"Aruna!"
Aruna menoleh, melihat Avorza yang memanggilnya, Aruna bernafas lega Avorza menyelamatkan nya di waktu yang tepat, Jeevan melepaskan cengkeramannya, merapikan jas nya yang sedikit berantakan.
"Kenapa kau ada disini??"
"Kau menyuruh kekasih mu untuk menjemput??"
Avorza menatap Aruna dan Jeevan bergantian.
"Kekasih??"
"Bukankah kau kekasih teman ku??" Tanya Avorza dengan tatapan heran.
"Bu..."
"Aku memang kekasihnya."
Jeevan menjawab, tidak membiarkan Aruna untuk berbicara, Jeevan menatap Aruna, mengangkat bahunya tidak peduli dengan tatapan kebencian yang terlihat jelas di wajah Aruna.
Avorza menatap Aruna dengan menautkan alisnya, Aruna menatap Jeevan sekilas, memperlihatkan senyum terpaksa nya.
"Ya, dia kekasih ku."
"Baiklah, karena disini ada kekasih mu, aku memberimu waktu untuk membicarakan nya, aku tidak ingin kau menyembunyikan nya Ar."
"Makasih Za."
Aruna menganggukkan kepalanya, senyum manis terukir di wajah cantiknya, Avorza menepuk bahu Aruna pelan, kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Bukan kah, kau harus menjelaskan sesuatu padaku nona??"
Aruna menoleh, menatap Jeevan, mendecih pelan.
"Dengarkan aku tuan, aku sedang dalam situasi mendesak, tidak ada yang perlu di jelaskan!"
"Ah satu hal lagi, kau jangan mencoba mengingkari ucapan mu satu bulan yang lalu, kau menyuruh ku untuk tidak muncul kembali dalam hidupmu, walaupun aku sangat ingin menuntut mu atas apa yang kau lakukan padaku, aku akan sangat berterima kasih kepada Tuhan jika kau tidak muncul kembali dalam hidupku, aku tidak ingin pria b******k seperti mu terus menghancurkan hidupku!!"
Aruna menatap Jeevan dengan tajam, dia sangat membenci pria di depannya, pria yang sudah memporak-porandakan mimpi yang selama ini impikan hancur dalam satu malam. Jeevan, pria b******k yang tidak punya hati nurani, yang hanya mementingkan nafsunya, tidak peduli siapa wanita itu, ia hanya mempedulikan kepuasaan dirinya!
Aruna pergi meninggalkan Jeevan yang masih berdiri di koridor rumah sakit, Jeevan menatap punggung Aruna yang sudah menjauh, rasa penasaran nya tiba² muncul, disertai senyum tipis di wajahnya.
"Aruna??"
"Aku penasaran seperti apa dirimu."
Jeevan bergumam pelan, mengambil ponsel di sakunya.
"Cari tau data Pasien Aruna yang baru saja masuk rumah sakit keluarga ku."
"Baik tuan."
Perintah itu turun, sambungan telepon terputus, Jeevan memasukan tangan nya ke dalam saku.
"Aruna, sepertinya kita akan bertemu kembali."
Jeevan tersenyum saat bayangan wajah cantik Aruna yang penuh kebencian muncul dalam ingatannya.
Jeevan pergi meninggalkan rumah sakit, mobil Ferrari hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantornya.
"Tuan, ini data yang anda minta." Daniel memasuki ruangan, menyerahkan notebook nya.
"Aruna Lovatta Davis?? Penerus keluarga Davis??"
Jeevan tertegun saat membaca data diri Aruna yang juga bukan berasal dari keluarga sembarangan.
"Apa ada masalah, tuan??"
Jeevan menggelengkan kepalanya, alisnya saling bertaut, bagaimana bisa keluarga Davis membiarkan putrinya hidup diluar??
"Aku ingin tau, kenapa keluarga Davis membiarkan putrinya tinggal di luar."
"Dari berita yang beredar, putri keluarga Davis kuliah di negara R karena keinginannya sendiri."
"Baiklah kau bisa pergi."
"Apa ada masalah dengan keluarga Davis,tuan??"
Jujur saja, sebelum menyerahkan data Aruna, Daniel pun sangat terkejut melihat status Aruna yang tidak sembarangan. Iya juga heran, selama ini yang ia tau tuan besarnya berhubungan baik dengan keluarga Davis, ia hanya takut ada masalah karena tuan mudanya tiba tiba menyuruhnya mencari informasi tentang putri keluarga Davis.
"Tidak."
Daniel mengangguk pelan, lalu kembali ke ruangannya.
"Keluarga Davis?? Aku bisa melakukannya."
Jeevan menatap foto Aruna yang ia dapatkan dari Daniel.
"Sepertinya tuhan berpihak pada ku, nona Aruna."
Jeevan mengusap foto ditangannya, senyum licik terlihat jelas di wajah tampan nya, ia benar-benar tak menyangka, akan kembali bertemu dengan Aruna, menggunakan alasan pertemuan keluarga.