3. Aku Tidak Akan Melepaskan Mu!!

1315 Words
Aruna menarik nafasnya dalam-dalam, setelah bertemu dengan Jeevan nafasnya terasa sesak. "Tidak seharusnya aku bertemu dengan pria b******k sepertinya!" "Nona, mau diantar kemana??" "Jalan xxxx." Aruna memejamkan mata, mengatur nafasnya, beristirahat sejenak, hingga akhirnya sampai di apartemen kecil miliknya. Aruna turun dengan sedikit kesusahan, karena tangan nya penuh dengan belanjaan. Sebentar lagi ia akan segera menjadi ibu, dan ia ingin bayi dalam kandungannya sehat, tidak kekurangan gizi. "Apa yang kau lakukan disini, tuan?!" Aruna memutar bola matanya jengah, saat melihat Jeevan yang berdiri didepan pintu apartemennya. "Apa, aku tidak boleh menemui kekasih ku??" Ada nada mengejek yang Jeevan ucapkan, membuat Aruna semakin membenci pria itu, kenapa pria itu terus mengganggunya disaat dia memilih menuruti perintah nya untuk bungkam 1 bulan yang lalu, dan bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahui tempat tinggalnya, tidakkah jelas, bahwa selama ini Aruna tidak suka di ganggu?? Iya sangat membencinya!! apalagi pria di depannya sudah menghancurkan hidupnya!! "Pergi!!" Aruna mencoba menahan amarahnya, tangannya mengepal, dengan tatapan tajam yang ditujukan pada Jeevan. Jeevan tidak mempedulikan nya, ia memilih menatap Aruna dengan lekat, melangkahkan kakinya untuk mendekat, Aruna mundur dengan tatapan kebencian yang mendalam. "Apa yang dilakukan Putri Davis di negara R??" Jeevan mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah Aruna yang ketakutan dan kebencian menyatu. "Untuk menjadi mata²??" Jeevan membuat Aruna terpojok, tidak mendapat celah untuk melarikan diri, Aruna menurunkan tubuhnya, dengan cepat Jeevan mengikuti pergerakan Aruna, dan mengunci tubuh Aruna dalam dekapan nya. "Apa kau tidak punya pekerjaan?? Kenapa kau terus mengganggu ku?!!" Aruna mendorong Jeevan dengan kuat hingga tersungkur. "Pekerjaan ku membosankan, dan mengganggu mu adalah hal yang menyenangkan." Aruna mendecih dingin, dengan bibir yang terbuka, ia memutar bola matanya jengah. "Kau pikir, hidupku ini sebuah permainan??" "Ya, aku suka mempermainkan hidup mu, apalagi tubuhmu." Aruna mengatupkan gigi geraham nya, menatap Jeevan geram, ia benar benar membencinya, membenci pria m***m yang berterus terang didepannya!!. "Aku peringatkan sekali lagi tuan, jika kau berani muncul dalam hidupku, aku akan berdoa siang malam semoga tuhan memberikan kutukan padamu!!" Aruna berkata penuh kebencian, namun hal itu membuat Jeevan semakin tertarik, diantara banyaknya wanita yang ingin sekedar menghangatkan ranjang atau mengobrol biasa, hanya Aruna yang berani menolak nya. Jujur saja Jeevan terkejut saat mengetahui Aruna masih perawan, baginya itu adalah hadiah besar. Karena ia sangat tau bagaimana wanita di luar sana, setelah mencapai usia dewasa sudah diijinkan untuk berhubungan intim, dan Aruna sudah melewati usia dewasa nya, ternyata masih perawan. Jeevan tersenyum penuh arti, mengusap bibirnya, menatap Aruna lekat, gadis di depannya benar² istimewa, sangat berbeda dari yang lain. Mengepalkan tangannya Aruna, mencoba menahan emosi, Aruna dengan cepat masuk ke apartemen nya, tidak mempedulikan Jeevan yang terus menekan bel. "Pria gila itu, kenapa terus mengganggu ku??" Aruna memutar bola matanya bosan. "Nona Aruna Lovatta Davis." Jeevan bergumam pelan, menyandarkan tubuhnya ke tembok, memasukan tangannya ke dalam saku. Daniel menatap tuannya dari atas sampai bawah, dengan senyum merekah, ia benar benar tak menyangka, tuannya rela menunggu di luar hanya untuk bertemu dengan seorang wanita. "Apa yang kau lihat?!" Jeevan mendengus, menatap Daniel tajam, Daniel menundukkan kepalanya, namun tetap tersenyum, tuannya sangat sulit ditebak, bisa menjadi seseorang yang dingin dan kejam ketika bersama nya, namun bisa berubah menjadi pria nakal' dan romantis saat mengejar wanita. "Sepertinya kau minta gaji mu dipotong." "Tidak, tidak, tuan." Daniel menggelengkan kepalanya, lalu berdiri tegak tidak mengatakan apapun. "Kembali ke rumah utama." Jeevan berlalu, meninggalkan apartemen Aruna, diikuti Daniel dibelakangnya, menuju rumah utama keluarga Rexton. Aruna bernafas lega saat melihat dua orang pria itu pergi dari apartemennya, ia benar² harus berdo'a dan memohon kepada Tuhan, semoga tidak dipertemukan kembali, dengan pria b******k seperti nya. Dibelahan dunia lain, di negara A, seorang pria melempar map di depannya, dengan emosi yang membara. "Apa yang kalian lakukan dalam 3 bulan terakhir?!!" "Kalian semua tak berguna!!" Pria itu menatap semua bawahan nya penuh amarah, hingga tidak ada yang berani mengambil nafas sedikit pun. "Maaf, Tuan Ragas." Seorang pria paruh baya menundukkan kepalanya. "Maaf??" Raden menatap pria tua itu, sudut bibirnya terangkat dengan senyum mengejek. "Perusahaan ku, tidak membutuhkan sampah tidak berguna seperti kalian!!" Semua orang menundukkan kepalanya saat Raden menghancurkan barang disekitarnya, walaupun mereka sudah sering mengalaminya, tapi ini pertama kali mereka melihat Ragas marah besar, hingga hilang kendali. "Mor, tunjukkan pada mereka pintu keluar." Perintah Ragas dengan dingin, lalu pergi dari ruang rapat, Morgan menghela nafas, lalu menganggukkan kepalanya pelan, sudah berapa kali dalam seminggu karyawan perusahaan banyak yang dipecat. "Tuan, Keluarga Rexton mengundang anda untuk datang ke negara R." Ucap Morgan dengan lirih, ia takut suasana hati tuannya masih belum stabil. "Keluarga Rexton??" "Ya tuan." Morgan memperhatikan surat undangan di notebook nya, ia benar keluarga Rexton yang mengundang tuannya untuk datang ke negara R. "Keluarga Rexton, presiden??" "Bukan tuan, mereka mengundang anda untuk jamuan pemegang saham di seluruh dunia." Morgan menyerahkan notebook nya. "Baiklah, atur keberangkatan ku besok." Ragas menyimpan jas hitamnya, mulai fokus dengan banyaknya dokumen yang harus ia tanda tangani. **** Malam pun tiba, Aruna berdiri di balkon kamarnya, menggunakan baju tidur tipis, membuat lekuk tubuh nya yang indah sedikit terekspos, dengan rambut panjang yang tergerai tersapu angin malam yang menerpa wajahnya. Aruna mengusap perutnya pelan, senyum manis terukir di wajahnya, detik berikutnya Aruna memejamkan matanya sesaat, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin, karena belakangan ini hidupnya terasa sangat menyesakan. "Apa yang kau lakukan disini??" Sebuah suara bariton yang terdengar halus menyapa pendengaran nya, Aruna menoleh, terkejut saat Jeevan berdiri tak jauh darinya. Baru saja menghirup udara segar, kini tiba tiba atmosfirnya berubah saat pria yang sangat ia benci mengganggunya kembali, tidak bisakah ia membiarkan Aruna untuk melanjutkan hidupnya yang dulu begitu tenang?? Aruna menatap Jeevan dengan tajam, membuka mulutnya tak percaya, apa dia salah dengar?? Pria itu menanyakan apa yang dia lakukan disini?? Bukan kah dirinya yang harus bertanya seperti itu?? Kenapa pria gila itu terus mengganggunya, dan bahkan sekarang berada disebelah apartemennya. "Kau pasti bertanya tanya, kenapa aku bisa berada disini." "Aku tidak peduli." Aruna menjawabnya acuh, pria ini selalu saja bisa membuat dirinya benci apa pun yang dia lakukan, Aruna sangat membencinya!! "Ya, sekarang kau bisa saja mengacuhkan ku, tapi suatu hari nanti sikapmu akan luluh pada ku." "Silahkan kau bermimpi tuan!!" Aruna mendengus, pria ini sudah menghancurkan hidupnya, dan sekarang kembali mengganggunya, sebenarnya apa yang pria ini inginkan?? "Kenapa kau menggunakan pakaian tipis??" Pandangan Jeevan tertuju pada pakaian Aruna yang tipis mendekati transparan, hingga membuat pakaian dalamnya terlihat. "Apa kau sedang menggoda ku??" Aruna menatap Jeevan heran, bagaimana bisa pria ini bersikap narsis seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. "Menggoda mu?? Aku tidak Sudi!" Aruna mengalihkan pandangannya, lalu menyesap s**u di tangan nya. Jeevan menatap Aruna dengan intens, kenapa wanita ini sangat berbeda dari yang lain?? Membuat Jeevan lebih tertarik untuk mengenal Aruna lebih dekat, menurutnya Aruna wanita istimewa yang selalu membuat dirinya menginginkan hal lebih. "Apa yang kau lihat?!" Aruna menatap Jeevan yang dari tadi memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. "Tutup matamu, pria m***m!!" Aruna masuk kembali ke apartemen nya, Jeevan menatap punggung Aruna yang menjauh, tangan nya mengangkat di udara, wanita itu, apa yang telah wanita itu berikan hingga membuat dirinya hampir gila seperti ini?? "Tuan..." "Katakan!" "Tuan besar, menyuruh Anda untuk menghadiri rapat pemegang saham besok pagi." Daniel menghampiri Jeevan, lalu menyerahkan notebook nya yang berisi jadwal. "Keluarga Davis juga akan hadir." Lanjut Daniel, sambil mengalihkan notebook nya, memperlihatkan daftar hadir pemegang saham. "Baiklah, aku juga akan ikut serta dalam rapat kali ini." Jeevan menyerahkan kembali notebook nya, merapatkan kedua tangan lalu melipatnya, dengan sorot mata yang penuh minat, dan senyum tipis yang terukir diwajahnya, membuatnya semakin tampan! "Aruna, lihat bagaimana aku mendapatkan mu!" "Seberapa besar usaha mu untuk memberontak, kau tidak akan ku lepaskan!!" Jeevan berdiri, menghadap jendela Aruna, tangannya masuk kedalam saku. Ia benar-benar membayangkan wajah Aruna yang kesal. Mungkin mulai sekarang Jeevan akan menikmati nya, karena menurutnya wajah Aruna yang sedang kesal adalah hal lucu. "Aku akan terus mengganggu mu, nona Aruna Lovatta Davis." Jeevan bergumam pelan, sebelum kembali masuk ke apartemen nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD