4. Aku Menginginkannya

1382 Words
Pagi menyapa, matahari menembus gorden, Aruna masih terlelap di atas tempat tidurnya, dalam balutan selimut tebal yang hangat, entah kenapa hari ini dia merasa malas untuk beraktivitas, ralat, bangun dari tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 Aruna membuka ponsel yang dari tadi berdering, 20 panggilan tak terjawab dan 5 pesan dari ayahnya. "Kenapa, mereka tiba tiba berada di Jepang??" Aruna menggerutu, jujur saja ia tidak suka keluarga berada di dekatnya, apalagi ibu tirinya. "Rapat??kenapa aku harus menghadirinya??" Aruna semakin heran, namun detik berikutnya ia sadar, kenapa ayahnya mengharuskan ia hadir di rapat pemegang saham, karena ia adalah satu-satunya pemegang saham perusahaan ayahnya yang sah. Berjalan dengan gontai, Aruna sangat malas untuk menghadiri rapat itu, karena dia tak mengerti bisnis, hingga adiknya sendiri yang terjun untuk mempelajari dunia bisnis. Lamborghini Veneno itu meninggalkan apartemen, Aruna bersenandung kecil mengikuti irama musik yang tengah di putar, dengan tangan yang memegang kemudi dan mata fokus ke depan, hingga tak terasa sudah sampai di RCG (REXTON COMPANY GROUP) Aruna menatap bangunan mewah di depannya, dengan tatapan takjub, ia menggelengkan kepala, benar benar tak menyangka perusahaan yang sering ayahnya ceritakan saat masih berada di negara C benar² mewah, mungkin hampir sama mewahnya dengan perusahaan ayahnya yang ada di negara C. Diikuti mobil hylersport merah yang baru saja sampai, Aruna menoleh sesaat, kemudian berjalan masuk. "Kakak!" Leona menghampiri Aruna yang masih berjalan di koridor, senyum nya merekah wajah cantik itu memegang tangan Aruna untuk masuk ke ruang rapat. "Kalian disini??" Aruna menatap adiknya heran, kenapa adiknya ada disini??itu artinya ibu tirinya juga ikut adil dalam rapat kali ini. "Ya." Leona menganggukkan kepalanya. "Dengarkan ibu, selain untuk membicarakan rapat, kita juga akan membicarakan perjodohan mu yang tertunda 1 bulan yang lalu." Acha berdiri di samping Aruna, menatap nya penuh kasih sayang, Aruna mendecih pelan, ia sangat membenci tatapan itu! Tatapan kasih sayang yang palsu, ia sangat tau itu palsu, karena ia tau ibu tirinya hanya menyayangi putri kandungnya!! "Itu,..." Sebuah pintu terbuka, Alden menarik tangan Aruna untuk masuk. Aruna menatap sekelilingnya, matanya terbelalak membulat sempurna, saat melihat Jeevan tengah tersenyum ke arahnya. Tatapan nya, Aruna membenci tatapan mata nya, tidak, amat sangat membencinya, kenapa pria itu terus mengganggunya kemana pun ia pergi?? Aruna memutar bola matanya jengah, lalu duduk di samping ayahnya. Dua Pasang mata memperhatikan tingkah laku Aruna saat sampai di ruang rapat. Tatapan tajam yang membuat semua orang menundukkan kepalanya. Ragas menatap Aruna dengan lekat, bagaimana gadis itu bersikap anggun dan sopan saat rapat sedang berlangsung, detik berikutnya tatapannya tertuju pada Jeevan yang duduk tak jauh darinya. "Dia adalah putri keluarga Davis, tuan." Morgan berbisik, Ragas hanya mengangguk pelan, ternyata gadis didepannya bukan dari keluarga sembarangan yang bisa ia dapatkan dengan mudah. "Lalu, pria yang menatapnya, putra keluarga Rexton." Ragas mengerutkan keningnya, heran, dari berita yang beredar putra keluarga Rexton seorang gay, dan tidak tertarik wanita sama sekali, namun apa yang dia lihat hari ini, sangat jauh berbeda dari rumor. "Tuan Ray, aku menantikan kerjasama kita selanjutnya." "Terimakasih Tuan Ragas sudah datang, kerjasama kita selanjutnya pasti akan sukses." Ragas pergi meninggalkan ruang rapat, Acha dan Leona masuk begitu rapat selesai. "Hallo Om, Tante." Sapa Leona dengan membungkukkan badannya. "Bagaimana kabar tuan dan nyonya Ray??" Acha duduk di samping suaminya. "Baik." Leona menatap pria di depannya, pria tampan dalam balutan jas, bertubuh tinggi, dengan rahang yang kokoh, dan berwajah tampan. Sementara Aruna tidak berminat untuk membicarakan soal perjodohan kali ini, dia tidak ingin berbicara, tak memiliki firasat apapun tentang hari ini. "Bisa, kita langsung ke intinya??" "Dia adalah putra ku, Jeevan Jexter Rexton." Lanjut tuan Ray. Leona menatap penuh minat, awalnya ia pikir akan dijodohkan dengan pria tua Bangka yang m***m, ternyata sangat berbeda jauh dari dugaan nya, pria tampan dan mapan, ia sangat menyukainya!! Sementara Aruna, matanya terbelalak dengan penuh rasa tak percaya, menutup mulut dengan tangan nya mencoba mencerna apa yang terjadi. "Bukan kah, dia putrimu yang tidak datang hari itu?? Leona mengangguk pelan, menatap tuan Ray. "Tuan Ray, putri ku yang pertama ada disini, bukankah kau sudah menyetujui nya??" Alden menatap suami istri itu bergantian, lalu menatap Aruna sekilas. Leona menatap Alden, alisnya mengerut, Aruna menggantikannya?? Tidak mungkin, Aruna tidak tertarik perjodohan, ia mencoba menyingkirkan pikiran nya, namun lebih percaya apa yang baru saja ia dengar dari ayahnya. Aruna menggantikannya?? Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Pria tampan itu sejak awal miliknya! Aruna tidak pantas memilikinya!! Aruna lebih terkejut saat mengetahui Jeevan lah yang akan dijodohkan dengan nya, menggelengkan kepalanya, tidak, ia tidak akan membiarkan pria b******k seperti Jeevan menjadi suaminya di masa depan!! Jeevan tersenyum puas, melihat ekspresi wajah Aruna, menurutnya itu sangat lucu. Bagaimana gadis itu akan menjadi istri sekaligus satu satunya nyonya di masa depan. "Bukan kah dia tampan??" Alden menatap Aruna dengan lembut, Aruna menoleh pada ayahnya, lalu beralih menatap Jeevan, menatap nya penuh kebencian, ntah ini kebetulan apa memang di sengaja, dia tak akan mau di jodohkan dengannya!! Aruna memilih tak menjawab, hanya menatap Jeevan tajam, menurutnya dia bukan pria tampan yang menjadi idaman semua wanita, tapi hanya sekedar pria b******k, b******n yang tidak tau malu!! "Ya, dia sangat tampan ayah." Leona menjawab, lalu beralih menatap Jeevan yang dari tadi menatap Aruna tanpa berkedip. "Aku tidak berminat, lagi pula Leona ada disini, dia lah orang pertama yang akan dijodohkan." "Aruna!" Aruna baru saja ingin melangkahkan kakinya, namun sebuah instruksi menghentikan nya, Leona yang mendengarnya tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Jeevan akan kembali menjadi miliknya tanpa harus berebut. Aruna menoleh, menatap ayah nya, dengan melipat tangannya di d**a. "Aruna, tuan Ray sendiri memilih mu." "Tidak, Tuan Ray tidak memilihku, tapi ayah sendiri yang mendorong ku!" Aruna tersenyum mengejek, ia ingat bagaimana ayahnya sendiri mendorong dirinya untuk menutupi rasa malunya. "Lagi pula, ayah tau sejak awal aku tidak suka perjodohan, jadi ayah bisa kembali mendorong Leona untuk melakukannya, Sepertinya Leona juga sudah menyukai pria itu sejak datang ke tempat ini." Aruna menatap adiknya yang dari tadi terus memperhatikan Jeevan, namun Jeevan tidak menyadarinya. "Tuan Alden, putri mu benar, kita kembali ke rencana awal." "Biar putri mu, le..." "Aku menginginkan nya." Potong Jeevan dengan cepat, menatap ayahnya sekilas, lalu kembali menatap Aruna yang dari tadi berdiri. "Baiklah, karena kau menginginkan putri kedua ku, aku akan memberi waktu kalian untuk berkencan." Jeevan menoleh, menatap Alden, ia mengernyitkan dahinya. "Aku tidak mengatakan ingin putri kedua mu, tuan Alden aku hanya ingin putri pertama mu jadi, kembali lah ke rencana kedua." Semua orang menoleh ke arah Jeevan, termasuk kedua orang tuanya, menatap nya tak percaya, putranya setuju untuk menikah, dan punya pilihan sendiri??petir di siang bolong ini berkah atau musibah?? "Kau dengar??" "Aku tidak peduli." Aruna melangkahkan kakinya keluar ruangan yang menurutnya sangat menyesakan. Diikuti oleh Jeevan di belakangnya. Leona yang melihatnya geram, kenapa ia selalu saja salah mengambil langkah, menyesal?? Tentu saja, kenapa Aruna selalu mendapatkan hal yang inginkan dengan mudah, sementara ia harus merengek untuk bisa mendapatkannya, ia sangat membenci Aruna! gadis itu selalu merebut semuanya! Leona mengepalkan tangannya, dengan kebencian yang mendalam, mencoba menahan amarahnya yang bergejolak. "Lepaskan!!" Aruna berusaha menepis tangan Jeevan yang dari tadi mengikutinya, seberapa cepat Aruna melangkah, pria itu selalu bisa menyusul nya. "Tidak." "Apa kau gila?!" Memberontak juga percuma, tangan Aruna semakin erat dalam cengkeraman pria tak berhati nurani itu. "Dan kau lah yang membuatku gila!" Jeevan menjawab dengan dingin, namun sudut bibirnya terangkat, wajah tampan itu mendekat, ciuman kasar membuat Aruna terkejut dengan membelalakkan matanya, memukul d**a Jeevan kuat, meremas bahunya. "Kau!! Pria b******k!!" "Apa yang dilakukan putra keluarga Rexton di lobi kantor?? Mencium seorang wanita?? Wow!" Sebuah suara bariton terdengar halus, diiringi tepukan tangan, membuat Jeevan dan Aruna menoleh, melihat Ragas yang keluar dari mobilnya, wajah Aruna merah padam, ternyata kejadian tadi ada yang melihatnya. "Apa tuan Ragas sudah beralih profesi dan menjadi tukang ikut campur??" Jeevan menatap Ragas tajam, tatapan aura membunuh dari kedua CEO tampan ini keluar, Aruna menggunakan kesempatan ini untuk kabur, menjalankan Lamborghini nya, pergi meninggalkan kantor. "Apa yang tuan Ragas lihat??" Tanya Jeevan dengan mengikuti arah pandang Ragas yang dari tadi menatap Aruna. "Wanita itu, aku menginginkan nya." Gumam Ragas, namun masih terdengar oleh Jeevan, yang langsung menatapnya dengan tajam, mungkin jika Ragas benar benar menginginkan wanita nya, dia akan segera mengibarkan bendera perang perusahaan. "Apa maksud anda??" "Tidak ada, sampai jumpa tuan Jeevan." Ragas mengangkat bahunya sambil tersenyum tipis, lalu masuk mobil, hingga mobil Ferrari merah itu ikut meninggalkan kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD