5. Kau Cemburu??

1368 Words
Pertemuan itu berlanjut tanpa Aruna dan Jeevan. Leona duduk dengan tersenyum ketir di taman kantor, tangan nya mengepal kuat dengan memegang ujung besi yang ia duduki. "Arghh kenapa, ini semua harus terjadi?!" "Aruna, kenapa waktu itu aku membiarkan Aruna datang?!" Leona duduk dengan frustasi, tatapan mata itu jelas memancarkan kebencian yang mendalam,Leona menggertakkan gigi gerahamnya. "Aruna, kau berani merebutnya? Kau berurusan dengan ku!" "Siapa yang berurusan dengan siapa??" Leona menoleh, mendapat Ragas yang tengah berdiri dengan menatap nya tajam, Leona mengernyitkan keningnya, 30 menit yang lalu ia jelas melihat, bahwa pria itu telah meninggalkan kantor, kenapa pria ini tiba tiba kembali?? "Kau?!" "Kau hanya perlu menjawab ku nona." Ragas melipat tangannya di d**a, menatap Leona intens. "Apa yang kau inginkan??" "Kenapa kau bermusuhan dengan sepupu mu sendiri??" "Apa, aku perlu menjawab pertanyaan mu itu??" Leona mendengus pelan, dengan memutar bola matanya jengah, Lalu masuk kembali ke kantor, Ragas menatap punggung Leona yang menjauh, senyum licik terlihat jelas di wajahnya. "Sepertinya kita akan menjadi teman." Gumam Ragas dengan pelan, lalu kembali ke mobilnya. Aruna melajukan mobilnya menuju kampus, ia yang tak pernah memakai kendaraan saat pergi ke kampus, mendapat tatapan penasaran dari setiap orang yang ia lewati, tentu saja membuat orang² itu terkejut saat melihat Aruna yang keluar dari mobil. "Akhirnya kau menggunakan mobil mewah mu!" Avorza yang datang tiba-tiba, merangkul Aruna, membuatnya terkejut, dengan cepat Aruna menepis tangan Avorza yang berada di bahunya. "Ar,..." Avorza mendengus kesal saat tak mendapat respon dari teman nya, Aruna memutar balikan matanya bosan, menatap Avorza dengan senyum terpaksa. "Apa??" "Ada apa?? Sepertinya kau sedang ada masalah??" Aruna menghentikan langkahnya, menatap Avorza sesaat, memang teman nya selalu tau Aruna sedang ada masalah atau tidak, mungkin terlihat dari wajahnya, Namun kali ini Aruna tidak berniat untuk menceritakan masalah itu pada teman nya, itu masalah nya sendiri, tidak boleh melibatkan orang lain. "Tidak." "Kau yakin??" Avorza menatap Aruna dengan lekat, mencari jejak kebohongan di sana, tapi kali ini dia tidak menemukan nya. "Ya." Aruna kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, karena kelas sore akan segera di mulai. **** "Tuan,..." Daniel menatap tuan nya yang dari tadi tersenyum tanpa henti, membuat bulu kuduk nya merinding, tak terbiasa dengan apa yang dia lihat, karena tuan mudanya selalu bersikap kejam, dingin, tak punya hati, tak pernah tersenyum kepada siapa pun. "Apa yang tuan pikirkan??" Gumam Daniel, seolah tau apa yang di pikirkan asisten nya, Jeevan menatap Daniel sekilas. "Tidak ada." Jeevan mengambil ponselnya yang berdering, tertera nama ayah nya. "Hallo." "Bagaimana ayah??" Jeevan menopang sebelah kakinya,dengan satu tangan direntangkan di sofa, terdengar suara tuan Ray yang mendengus. "Mengapa kau tidak sabar??" "Aku ingin segera memilikinya." "Apa kau serius??" Jeevan mengangkat kedua alisnya, mungkin selama ini dia selalu bercanda dengan banyak wanita, hingga membuat ayahnya tak percaya kalau dia ingin menikah dengan wanita pilihannya. "Ayah tau jika aku tidak mendapat apa yang aku inginkan, aku akan berbuat seperti apa." Tuan Ray terdiam beberapa saat, bagaimana putranya akan menghancurkan negara jika tidak mendapat apa yang diinginkan, itu tidak boleh terjadi, dan tidak akan pernah terjadi! "Ya, ayah akan membantu mu, walaupun tidak bisa, menikah paksa adalah jalan ninja." Jeevan tersenyum puas, lalu mematikan sambungan telepon, membayangkan wajah cantik Aruna yang harus menikah paksa, pasti menjengkelkan. "Tuan,..." "Bagaimana cara meluluhkan hati wanita??" Tanya Jeevan, membuat Daniel tak percaya. "Dari mana aku harus belajar??" "T-tuan mau b-belajar c-cara meluluhkan hati wanita??" Tanya Daniel dengan terbata, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, astaga! Jika ada wartawan di sini ini pasti menjadi berita besar, tuannya ingin belajar cara meluluhkan hati wanita, pasti tidak banyak yang mempercayai nya, tuannya selalu mempelajari bisnis, bukan dunia cinta²an! Jeevan mengangguk dengan yakin, bukan kah dia akan segera menikah, bagaimana pun juga ia harus bisa meluluhkan hati istrinya bukan?? "Kenapa tuan tidak tanya saja ke tuan Raka??" Jeevan mengangkat alisnya, Raka teman nya dari keluarga Smith, puta tunggal sekaligus pewaris salah satu keluarga yang juga berpengaruh di negara R, ia akui tidak pernah mengetahui bagaimana kabar teman nya setelah di pindah tugaskan ke negara T. "Saya dengar Tuan Raka, akan kembali besok." "Baiklah, atur pertemuan ku dengannya, kalau bisa, besok jemput dia." Perintah Jeevan, Daniel hanya mengangguk lalu mengambil notebook nya. Jeevan beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil kunci mobil. **** "Kakak!" Leona melambaikan tangannya saat melihat Aruna yang baru saja keluar kelas. "Siapa dia??" Avorza menyenggol bahu Aruna pelan, sambil berbisik. "Adikku." "Apa yang dia lakukan di sini??" Tanya Avorza, Aruna mengangkat bahunya tidak tau. "Apa yang kau lakukan di sini??" Tanya Aruna dengan heran. "Ayah mengajak kita untuk makan malam." Aruna menghela nafas pelan, menatap Leona jengah, kenapa dia harus datang ke kampus hanya untuk mengajak makan malam, apa gunanya ponsel mahal yang ia punya?? "Ponsel mu baik²saja??" Tanya Aruna, Leona menganggukkan kepalanya, tersenyum tanpa dosa. "Aku juga ingin jalan-jalan, makanya aku tidak kirim pesan untuk mu." Aruna hanya membulat kan bibirnya. "Ayo kak." Leona memegang tangan Aruna, namun dengan cepat Aruna menepisnya. "Aku bawa mobil sendiri." "Mobil mu bisa di ambil supir nanti." Leona mencoba menyamakan langkah nya dengan Aruna, namun tetap tidak bisa, Avorza masuk ke dalam mobil saat Aruna memberinya kode. Sebuah mobil Range Rover berhenti tepat di depan, Aruna menatap mobil yang berhenti di depannya untuk mengetahui siapa pemilik mobil yang berani menghalangi jalannya. Jeevan keluar dari mobil, dengan gaya kasual, pria tampan dengan pekerjaan mapan, siapapun akan bermimpi untuk memilikinya. Leona menatap Jeevan tanpa berkedip, senyum manis yang menggoda, namun Jeevan mengabaikan nya, memilih menghampiri Aruna yang masih duduk di mobil. "Bukankah dia kekasih mu??" Tanya Avorza yang heran saat melihat teman nya hanya diam tak berniat menghampiri pria tampan di depannya. Aruna menatap Jeevan sekilas, lalu menatap Leona yang dari tadi menatap pria itu, mengusap perutnya pelan sambil tersenyum, Aruna ingat masih ada kehidupan dalam perutnya, tak peduli bagaimana pria itu mencoba mendekati nya, itu tak akan menggoyahkan tekad nya, ia tak akan menikah dengan pria b******k itu, apalagi jika pria itu tau, bahwa diri nya tengah mengandung anak nya, ia tak akan membiarkan pria itu mengetahui apalagi mengambil anak itu dari sisinya, anaknya sudah menjadi kekuatan nya selama beberapa hari ini. "Ar,..." Avorza menggoyangkan bahu Aruna, membuatnya kembali tersadar. Leona menatap kesal, saat Jeevan mengabaikannya, namun ia coba untuk menahan semuanya, lalu menghampiri Aruna. "Kak, ada apa??" Leona mengetuk kaca jendela mobil Aruna. "Apa dia mencoba mencari perhatian??" Tanya Aruna dengan menatap Avorza. "Sepertinya iya." "Kak, buka dulu." Aruna menurunkan kaca jendelanya, menatap kedua orang itu bergantian. "Apa tidak sebaiknya kau turun dulu saja??" "Aku tidak punya kepentingan apa pun dengan mereka." Aruna kembali menaikkan kaca mobilnya namun tertahan tangan Jeevan. "Singkirkan." Ucap Aruna dengan nada dingin, namun Jeevan mengabaikannya. "Kak." Leona merengek, Aruna menatap adiknya sekilas, ada rasa jijik yang terlihat dari tatapan nya. "Dia calon suami mu, kenapa kau tidak ingin berbicara dengan nya??" "Calon suami??" Aruna menautkan alisnya, menatap Leona dengan mendengus pelan. "Calon suami?? Kenapa dia harus jadi calon suami ku, disaat kau sudah tertarik dengan nya??" Aruna menatap Leona, rasa jijik yang tidak bisa ia tutupi terlihat begitu jelas, membuka sedikit mulutnya dengan memutar bola matanya jengah. "Itu tidak benar, aku tidak mungkin menyukai calon suami mu." Leona mencoba melakukan pembelaan, namun Aruna jelas tidak mempercayai nya dengan mudah. "Yang benar, kau menyukai pria itu." Jeevan tersenyum puas saat melihat perdebatan Aruna dan adiknya yang tidak mau mengalah. "Apa, kau cemburu pada adik mu sendiri??" Tanya Jeevan yang langsung dapat tatapan tajam dari Aruna. "Aku cemburu?? Mimpi!" "Ar, kau harus tahan emosi mu." Avorza mencoba menenangkan Aruna yang sepertinya emosi nya sedang meluap. "Minggir." Pinta Aruna dengan nada dingin, ada jejak kebencian yang begitu jelas terhadap Jeevan. "Aku menolak." "Kau!" "Kecuali kau pergi dengan ku." Potong Jeevan dengan cepat. "Tidak mau." Satu kesalahan yang Aruna buat adalah ia tidak menaikkan kaca jendela mobilnya, hingga membuat tangan Jeevan masuk begitu mudah untuk membuka pintu mobilnya lalu menggendong tubuh Aruna, dan memindahkan ke dalam mobilnya, membuat Aruna menjerit pelan. "Apa kau gila! Lepaskan aku!" Aruna mencoba memberontak namun percuma karena tubuhnya sudah terikat dengan sabuk pengaman. Jeevan tidak mempedulikannya, ia hanya fokus melajukan mobilnya ke tempat tujuan. "Kau gila, lepaskan aku, mobilku,..." "Dia teman mu, tau kemana mobil itu harus diantar." Jeevan memotong ucapan Aruna dengan cepat, menatap wanita di sebelahnya yang terlihat kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD