Aruna mengalihkan pandangannya, membuka jendela mobil, menyenderkan kepalanya ke kursi, dengan rambut tergerai, memejamkan matanya, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang cantik.
Jeevan menatap Aruna sekilas, gadis cantik itu bahkan terlihat cantik saat memejamkan matanya, bulu mata lentik, hidung mancung, dengan kulit putih pucat tanpa cacat, apapun yang Aruna lakukan akan terlihat cantik, apalagi menatap Jeevan penuh kebencian, tentu saja Jeevan sangat menyukainya.
"Apa yang kau lihat??"
Aruna membuka matanya, menatap Jeevan dengan kesal, membuat Jeevan tersenyum sekilas, ini lah yang ia suka.
"Kau tau, aku baru pertama kali bertemu orang yang tidak nyaman dengan seseorang yang satu mobil dengan ku."
"Oh, aku tidak peduli apa yang kau ucapkan."
Aruna mengangkat bahunya, tidak peduli sama sekali dengan apa yang di ucapkan Jeevan.
Jeevan menghentikan mobilnya, menatap Aruna dengan lekat, gadis ini benar-benar sulit untuk di tebak, sangat istimewa, sangat berbeda dari gadis yang pernah ia temui.
"Apa, kau tidak penasaran kita akan pergi kemana??"
"Baiklah jika kau tidak peduli, itu artinya kau setuju jika aku membawa mu ketempat sepi, dan mengulang apa yang terjadi di hotel malam itu."
Merasa tidak ada respon, Jeevan memutar arah Range Rover nya, Aruna membelalakkan matanya, menatap Jeevan tak percaya, apa pria ini gila?? Mengulang malam itu?? Apa dia tidak punya dosa??
Aruna melayangkan tangan nya di udara, namun terhenti saat tiba tiba perutnya merasakan sakit yang luar biasa, membuatnya berteriak kesakitan, Jeevan yang tak tega, melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Aruna kembali terbaring di ranjang rumah sakit, Jeevan masuk, menatap Aruna yang sedang terlelap.
"Apa yang terjadi??"
Gumam Aruna pelan, lalu mencoba duduk, menatap Jeevan yang duduk di sofa dengan memegang notebook nya.
"Pria itu sudah tau??"
Aruna bertanya pada dirinya sendiri, dengan menatap Jeevan yang sepertinya masih tidak tau kalau ia sudah sadar.
"Nona, anda sudah sadar!" Seorang perawat masuk, membawa berbagai macam obat, Jeevan yang mendengar, menyimpan notebook nya, lalu menghampiri Aruna.
"Apa yang terjadi??"
"Nona, anda kecapean."
"Bukan kah, dokter Yu sudah menyarankan anda untuk tidak melakukan banyak aktivitas??"
Jeevan mengernyitkan dahinya, menatap perawat itu dengan intens, apa maksudnya??
"Dokter Yu?? Bukan kah itu dari Divisi Kandungan??" Tanya Jeevan yang langsung dapat anggukan dari perawat itu.
"Kenapa dia di tangani Dokter Yu??"
Perawat itu menghela nafas pelan, menatap Jeevan jengah.
"Tuan, istri anda sedang mengandung tentu saja Dokter Yu yang menangani nya."
Aruna membuka mulutnya tak percaya, menatap perawat itu, ia sudah memperingatkan untuk tidak boleh memberitahu kehamilan nya pada siapapun! Apa dia lupa?? Dan sebutan apa yang baru saja ia dengar?? Istri?? Sejak kapan ia menjadi istri pria b******k ini?? Ingin sekali membungkam mulut perawat itu, namun Aruna tidak memiliki banyak tenaga.
"Apa?!!"
Tanya Jeevan yang terkejut, menatap perawat dan Aruna dengan tak percaya, menutup mulut dengan tangannya, mundur beberapa langkah, menatap Aruna intens.
"Saya akan memberikan kalian sedikit waktu untuk mengobrol."
Perawat itu meninggalkan Aruna dan Jeevan di dalam ruangan, menciptakan suasana baru yang sepi dengan rasa canggung dan tak percaya, serta mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Katakan!" Perintah Jeevan dengan nada dingin, Tangan Jeevan mengepal kuat, penuh dengan rasa kecewa, gadis yang ia inginkan hamil oleh pria lain? Ia sangat tak terima!
Aruna memilih untuk mengabaikannya, berpura pura untuk tidak mendengar, dengan menundukkan kepalanya.
"Aruna Lovatta Davis." Gumam Jeevan, yang membuat Aruna mendongakkan kepalanya, menatap pria di depannya dengan tatapan kebencian amat sangat membenci itu terpancar begitu jelas, bagaimana pria itu sudah menghancurkan hidupnya, dan sekarang terlihat tidak terima saat Aruna sedang mengandung anaknya, kenapa pria ini selalu membuat nya ingin membunuhnya?! Pria kejam tak punya hati nurani, ia sangat membencinya!!
"Kenapa??" Tanya Aruna dengan lirih, matanya merah, detik berikutnya cairan bening itu membasahi pipinya.
"Siapa Ayah dari anak mu itu?!" Tanya Jeevan dengan tidak sabar, lagi Aruna memilih untuk tidak menjawab.
"Aruna,..."
"Siapa Ayah dari anak ini, kau tidak perlu tau, ini urusan ku, bukan urusan mu!" Aruna menyibak selimutnya, lalu beranjak dari tempat duduknya, namun tangannya tertahan saat tangan besar itu mencengkeram nya dengan kuat.
"Aruna Lovatta Davis, apa kau tau resiko mempermainkan keluarga ku??"
"Tuan Jeevan Jexter Rexton, apa kau tau resiko mempermainkan hidup seorang wanita??" Tanya Aruna membuat Jeevan bungkam, geram, kesal, benci, Aruna sangat membenci pria di depannya, kenapa sekarang seolah dia menjadi korbannya??
"Apa maksud mu??"
"Karena sekarang kau tau bahwa aku sedang mengandung anak dari pria lain, aku harap kau bisa lepaskan aku, dan jadilah calon suami yang baik untuk adikku." Aruna mencoba memberontak saat tangan Jeevan mencengkeram nya lebih kuat.
"Tidak, sampai aku tau siapa ayah dari anak itu!"
"Lantas kenapa?? Kau pikir aku tidak bisa kabur??"
"Kabur?? Bahkan jika kau kabur ke ujung dunia pun aku akan menemukan mu."
Jeevan menarik tangan Aruna dengan kasar, lalu membantingnya ke sofa, tatapan tajam dari pria itu membuat Aruna sedikit takut.
Hingga tanpa di sadari, percakapan itu telah di dengar seseorang di balik pintu ruangan yang tertutup. Tangannya dengan cepat menekan beberapa angka, menelpon seseorang, hingga 5 menit kemudian terjadi keramaian di kedua belah pihak keluarga.
Leona tersenyum puas saat mengetahui Aruna sedang mengandung anak dari pria lain, yang bahkan tidak tau asal usul keluarga nya, melipat kedua tangannya di d**a, menatap Aruna dari balik jendela rumah sakit dengan tatapan kebencian.
"Nikmati waktu berdua kalian, untuk terakhir kalinya, karena sebentar lagi kau akan dinikahi oleh ayah anak itu, dan aku akan menikahi pria di samping mu, lalu memiliki nya dengan utuh." Gumam Leona dengan pelan, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan cepat, karena menurutnya sebentar lagi akan ada tontonan menarik.
Aruna dan Jeevan bergegas pergi, menuju Villa keluarga Davis, suasana dingin menyelimuti ketika mereka berdua sampai, tatapan tajam dari semua orang mengarah kepada mereka berdua.
Aruna mencoba menelan ludahnya saat atmosfir di sekitarnya berubah, tubuhnya yang masih lemah di paksakan untuk berdiri.
"Ada apa ini??" Tanya Jeevan tak mengerti.
PLAAAK
Alden menghampiri Aruna, menampar nya dengar keras, membuat pipi Aruna merah dengan telinga yang berdengung, semua orang menatap Alden tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Ayah,..." Panggil Aruna dengan lirih, lalu menatap orang di sekitarnya yang masih terkejut.
"Kakak,..." Leona menghampiri Aruna, namun dengan cepat Aruna menghindar, sikap seolah peduli itu membuat Aruna muak, karena yang sebenarnya Leona hanya ingin menunjukkan Citra palsunya sebagai orang baik.
"Paman, ayah, ada apa??" Jeevan menatap Aruna kasihan, kemudian menatap ayahnya dan Alden bergantian.
"Kau! Apa kau mencoba mempermalukan keluarga Davis??" Tanya Alden dengan menunjuk Aruna tepat di depan wajah nya.
"Ayah, aku tidak mengerti." Aruna mencoba melakukan pembelaan, ia benar benar tak mengerti apa maksud ayahnya.
"Sekarang sudah ketahuan, dan kau berpura-pura menjadi bodoh??" Alden mendorong kepala Aruna, membuatnya tersungkur beberapa langkah ke belakang.
"Kak, aku dengar kau sedang hamil."
Ucap Leona, yang membuat Aruna mengalihkan pandangannya, Aruna mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa adiknya tau kalau dia sedang hamil??
"Apa itu benar??" Tanya Leona.
"Dari mana kau mendengar itu??" Tanya Aruna dengan mencoba menahan amarahnya.
"Jadi itu benar??" Alden kembali melayangkan tangan nya di udara, namun dengan cepat Aruna menahannya, menatap ayahnya dengan tajam.
"Kau berani menatap ku seperti itu??" Tanya Alden, tak percaya dengan tatapan putrinya yang selama ini ia sayangi berani menatapnya seperti itu.
"Aku tidak mengatakan itu benar atau tidak ayah, kenapa kau cepat sekali membuat kesimpulan??" Aruna melepaskan tangan ayahnya.
"Aku sudah memeriksa rumah sakit tempat kau di rawat." Leona menunjukkan USG bayi Aruna yang masih dalam segumpal darah.
"Kurasa tuan Jeevan juga sudah mengetahuinya."
"Tidak, aku tidak akan menerimanya, dia hamil anak dari pria lain, aku tidak akan menerima cucu dari luar, aku hanya ingin cucu kandung ku, darah dari putra ku sendiri."
Aruna menatap adiknya, ia yakin beberapa menit yang lalu adiknya ada di rumah sakit, dan mendengar apa yang ia dan Jeevan bicarakan, makanya ia bisa mendapat bukti USG itu, Aruna tersenyum dalam hatinya ternyata selama ini adiknya mencoba menjatuhkan harga dirinya, dan membuat orang mencap nya sebagai w************n yang rela hamil di luar nikah, meskipun dari keluarga ternama.