"Apa yang tuan ragas lakukan di rumah ku larut malam begini??" Tanya Leona angkuh, Ragas hanya mendecih dengan mengalihkan pandangannya.
"Apa aku harus melapor pada mu, dengan apa yang aku lakukan disini??"
"Jika tuan ragas tidak memiliki urusan, silahkan pergi." Leona menatap ragas dengan menunjuk pintu rumah nya yang masih terbuka.
"Kau tidak boleh mengusirnya." Timpal Alden, membuat Leona menoleh menatap ayahnya.
"Kenapa??"
"Maaf membuat tuan ragas menunggu." Alden duduk di depan ragas, mengabaikan pertanyaan Leona, membuat Leona kesal, lalu pergi ke kamarnya.
"Tidak apa paman."
"Paman?? kau baru saja memanggil ku paman??" Tanya Alden tidak percaya, Ragas hanya mengangguk pelan.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Ragas dengan langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Apa ada masalah??" Tanya Alden dengan menautkan alisnya.
"Kenapa paman memberikan Aruna pada pria lain??" Satu pernyataan membuat Alden bingung juga heran, kenapa ragas bertanya seperti itu?? dan juga ia tidak salah memberikan putri nya kepada siapapun, ia ayahnya sendiri!
"Apa??" Tanya Alden tidak mengerti, ia menatap Ragas sesaat, apa ia harus memberikan putrinya kepadanya yang bahkan baru ia temui 5 hari yang lalu.
"Bukan kah, paman sudah menjodohkan Aruna dengan orang lain??" Tanya Ragas, semakin membuat Alden bungkam.
"Apa paman lupa??"
"Aku tidak mengerti maksud mu." Alden menatap Ragas, lalu menggeleng pelan.
"Keluarga Frey." Jawab Ragas pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Alden, yang membuat Alden tidak percaya, ia menutup mulutnya dengan tangan, mata nya sukses membulat.
"F-frey??" Tanya Alden pelan, Ragas mengangguk, Alden benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia menepuk telinga nya pelan berkali kali, lalu menggelengkan kepala. Tentu saja ia ingat tentang keluarga Frey, keluarga yang menjodohkan putra dan putrinya, hanya saja ia mengira keluarga Frey sudah benar benar lenyap dalam peristiwa kecelakaan tragis itu.
"paman lupa??" Ragas membenarkan posisi duduknya dengan menopang satu kaki.
"Aku benar benar mengira keluarga Frey sudah lenyap." Alden menarik nafasnya pelan, kepalanya menunduk dengan pikiran yang sedikit kacau.
"Aku masih hidup paman!" Ragas menatap Alden tanpa ekspresi, hanya raut kekecewaan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Benar, aku minta maaf karena tidak mencari tau informasi atau mencari keberadaan kalian dengan baik." Ucap Alden lirih.
"Lalu??"
"Bagaimana Dengan Istri Kecilku?? Paman sudah memberikannya pada orang lain!" Ucap Ragas dingin, ia sangat kecewa pada pria paruh baya di depannya, bagaimana bisa memberikan istri kecilnya disaat informasi tentang kematiannya tidak jelas.
"Aku masih punya Leona, dia juga,..."
"Aku tidak menginginkannya!" Sarkas Ragas dengan nada tinggi, membuat Alden terkejut, menatap Ragas tidak percaya, seingatnya dulu anak kecil ini seseorang yang lemah lembut, tidak pernah membantah apalagi bersikap kasar.
"Lagipula sejak awal, dia milikku!" Lanjut Ragas.
"Tapi dia sudah menikah dengan orang lain!" Alden beranjak dari tempat duduknya, menatap Ragas penuh peringatan, ia tau bahwa Ragas bukan tipe orang yang mudah merelakan begitu saja, hanya dilihat dari wajahnya saja ia tau seorang Ragas memiliki tekad yang kuat ketika sudah mengambil keputusan. Dan itu membuat Alden tidak suka dengan sikap Ragas.
"Aku akan merebutnya, sejak awal dia pengantinku, aku akan kembali membawa istri kecilku!" Ragas menatap Alden sekilas, lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Davis.
Alden menghela nafas pelan, duduk kembali di kursinya.
"Kau sudah memilih menikahi nya, ayah hanya bisa berharap Jeevan bisa melindungi mu dengan baik." Gumam Alden sebelum kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
****
Suasana baru tercipta di rumah utama keluarga Rexton, ruang makan yang biasanya hanya ada nyonya dan tuan Ray, kini bertambah dengan keberadaan Jeevan dan Aruna, walaupun hanya sementara, mereka tetap menikmati, karena tidak ada yang tau kapan waktu akan mempertemukan mereka kembali, juga Jeevan harus membawa Aruna pergi dalam waktu dekat, karena sangat tidak memungkinkan untuk Aruna yang terbiasa hidup mandiri, berada di rumah ibunya.
"Kapan kalian akan mengunjungi nenek??"
"Karena Aruna sedang mengandung, kalian tidak mungkin merencanakan honeymoon kan?? Atau bahkan sudah merencanakan nya??" Tanya Elvyn lebih lanjut, membuat Jeevan menghentikan aktivitas nya, menatap ibunya dengan tersenyum hangat.
"Aku memang tidak memiliki rencana honeymoon, tapi aku memiliki rencana untuk mengunjungi nenek akhir pekan ini." Jawab Jeevan dengan menatap Aruna, membuat Aruna mengangguk setuju.
"Bagus lah."
"Ngomong² ayah, bagaimana konprensi pers semalam??" Tanya Jeevan saat mengingat ayahnya telat pulang tadi malam.
"Lancar, apa kau sudah menemukan pelakunya??" Tanya Ray dengan menyuapkan nasinya ke dalam mulut, Jeevan menggeleng pelan.
"Ya, aku menemukannya, namun aku menyuruh bawahan ku untuk kembali memastikannya." Jawab Jeevan.
"Apa yang kau temukan??" Tanya tuan Ray, semua orang menatap penasaran ke arah Jeevan, termasuk Aruna.
"Hanya akun yang meretas perusahaan."
"Siapa yang melakukannya??"
"Aku tidak tau ayah, user itu menggunakan nama Black Wolf sebagai nama samaran." Jelas Jeevan.
Deg
Aruna menghentikan aktivitas nya, menatap Jeevan lekat, entah kenapa saat Jeevan menyebutkan nama itu, ada perasaan familiar yang melintas di benaknya.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi aku lupa dimana dan kapan." Gumam Aruna pelan.
"Aku dan Aruna sudah selesai."
"Ah iya." Timpal Aruna saat menyadari piringnya sudah kosong.
"Kami harus menemui keluarga Davis." Jeevan beranjak dari tempat duduknya, menarik tangan Aruna pelan, memegang pinggang Aruna erat, membuat Aruna tidak bisa memberontak, karena bagaimana pun ia harus bisa menjalani kontrak pernikahan yang baik selama satu tahun di depan keluarga suaminya.
"Apa ada yang ingin kalian bicarakan??" Tanya Elvyn penasaran, Aruna mengangguk pelan.
"Aku juga harus mengambil beberapa barang ku." Jawab Aruna.
"Baiklah, berhati hatilah."
Jeevan melangkahkan kakinya keluar rumah dengan menggandeng erat tangan Aruna.
"Apa ada masalah??" Tanya Jeevan saat melihat Aruna yang dari tadi bungkam, ia tau saat Aruna mengerutkan keningnya itu artinya ada masalah atau ketakutan yang Aruna hadapi.
"Tidak ada." Jawab Aruna, membuat Jeevan menghela nafas kasar, menatap Aruna sekilas, ia tau istrinya sedang berbohong, dan istrinya tidak bisa menyembunyikan nya dengan rapat.
"Kau berbohong!" Ucap Jeevan dingin, lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Aruna menundukkan kepalanya sesaat, kemudian kembali menatap Jeevan yang ternyata sudah menatap Aruna dengan lekat.
"Hm??" Jeevan berdehem pelan, saat melihat Aruna yang sedang menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mungilnya.
"Siapa Black Wolf " tanya Aruna pelan.
"Kau ingin tau??" Tanya Jeevan, membuat Aruna mengangguk dengan cepat. Jeevan tersenyum melihat tingkah istrinya, mengusap rambutnya pelan.
"Daniel belum memberikan ku informasi apa pun lagi, aku akan memberitahu mu jika waktunya sudah tepat." Lanjut Jeevan, kemudian kembali melajukan mobilnya.
"Aku pernah mendengar nama itu, tapi aku tidak ingat kapan dan dimana pernah mendengarnya, seingat ku, teman ayah ku pernah menggunakan nama itu, hanya saja sekarang tidak mungkin, karena teman ayah ku sudah meninggal." Jelas Aruna, membuat Jeevan kembali menghentikan mobilnya, menatap Aruna lekat.
"Lalu siapa yang menggunakannya??" Tanya Jeevan, Aruna menggeleng tidak tau.
"Sebaiknya tanyakan pada ayah nanti." Ucap Aruna, Jeevan mengangguk setuju dan langsung kembali menancap gasnya menuju rumah utama keluarga Davis.
"Apa yang kau lakukan disini??" Tanya Leona saat melihat Aruna berdiri di sampingnya.
"Dimana ayah??" Tanya Aruna malas. Leona mendecih pelan, menatap Aruna dengan penuh permusuhan.
"Kau sudah menikah, kau ingin menjadi beban untuk ayah??" Tanya Leona membuat Aruna kesal, namun mencoba untuk menahannya, Jeevan yang tidak tahan melihatnya, menarik tangan Aruna.
"Tidak ada gunanya kau berdebat." Jeevan membuat keributan dengan menendang pintu kayu di depannya.
"Apa yang terjadi?" Acha yang berada di dapur langsung keluar, begitupun dengan Alden yang berada di ruang kerjanya.
"Kenapa ribut sekali?!" Teriak Alden.
"Ayah, Leona tidak mengijinkan kami masuk." Aruna melambaikan tangan pada ayahnya yang berada di ruang kerja atas, Alden menghela nafas pelan, lalu turun kebawah dan duduk di sofa, menatap Aruna dan Jeevan bergantian.
"Apa ada masalah?? Kenapa kalian tidak pergi honeymoon dan malah pergi kesini??" Tanya Alden penasaran.
"Ada yang ingin kami tanyakan ayah."Aruna menatap ayahnya sekilas, lalu menganggukkan kepala menatap Jeevan yang berada di sampingnya.
"Apa??" Tanya Alden penasaran.
"Siapa Black Wolf??" Tanya Jeevan yang langsung membuat Alden bungkam dan juga terkejut.
"B-black w-wolf??" Tanya Alden terbata.
"Apa ayah mengetahui sesuatu tentang Black Wolf??" Tanya Aruna penasaran saat melihat ekspresi ayahnya yang nampak terkejut.
"Tidak." Jawab Alden dengan bersikap normal, ia tidak ingin membuat Aruna dan Jeevan curiga, dan saat ini ia tidak mungkin untuk memberitahu siapa Black Wolf yang sebenarnya, karena Aruna sudah menikah.