5 menit kemudian, Daniel kembali ke ruangan Jeevan, dengan kepala yang menunduk takut.
"Tuan, saya tidak mendapatkan informasi apa pun."
"Apa kau sudah bosan jadi orang kepercayaan ku??" Tanya Jeevan, membuat Daniel mengangkat kepalanya dengan cepat, lalu menggeleng.
"Tidak, bukan seperti itu tuan."
"Lalu??"tanya Jeevan dengan mengerutkan keningnya.
"Saya sudah menyuruh Erland, peretas terkenal di negara ini, tapi dia juga tidak mendapatkan informasi yang tuan inginkan."
"Aku tidak peduli, kalau kalian tidak mendapat apa pun hari ini, cari terus sampai dapat!" Ucap Jeevan dengan nada dingin, Daniel mengangguk paham.
"Baik tuan."
"Ah saya hampir lupa, nyonya besar tadi menelpon, kapan anda akan pulang??"
Jeevan mengernyitkan keningnya, tumben sekali ibunya menanyakan kapan akan pulang.
"Tuan, saya harap anda tidak melupakan sesuatu." Gumam Daniel, namun masih bisa terdengar oleh Jeevan.
"Apa yang telah aku lupakan??"
"Istri mu tuan."
Jeevan menepuk jidatnya pelan, ia benar benar melupakan hal itu.
"Aku pulang sekarang."
Jeevan beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan ruangan. Daniel menghela nafas pelan, menatap punggung tuannya lalu menggelengkan kepala.
Mobil range Rover itu berhenti tepat di halaman rumah Keluarga Rexton, Jeevan menatap sekelilingnya, menyadari mobil ayahnya yang tidak ada, lalu melangkahkan kaki untuk masuk.
Jeevan menyadari rumahnya sudah sepi, langsung menuju kamarnya, melihat Aruna yang sudah terlelap.
"Aku harap kau tidak tersiksa hidup dengan ku." Jeevan mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Aruna singkat, membuat Aruna menggeliat pelan.
Jeevan tersenyum melihat pergerakan Aruna.
"Kau cantik saat tidur, tapi kau lebih cantik saat menatap ku dengan kebencian." Jeevan membenarkan selimut yang Aruna pakai.
"Ah kau benar benar menarik." Jeevan mengusap tangan Aruna pelan.
Tok tok
Sebuah ketukan pintu membuat Jeevan menghentikan aktivitas nya, Jeevan menoleh saat pelayan itu masuk.
"Maaf jika saya tidak sopan tuan, tapi di luar ada tamu yang menunggu anda." Pelayan itu menunduk takut karena telah mengganggu waktu istirahat Jeevan.
"Tamu?? siapa??" Tanya Jeevan penasaran, pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tau tuan, dia menunggu anda di bawah."
Jeevan menghela nafas panjang, kenapa hari ini banyak sekali yang harus ia hadapi selain masalah, sekarang tamu yang tidak tau waktu kapan untuk berkunjung?? apa tidak bisa berkunjung di siang hari??
"Baiklah, kau bisa pergi." Perintah Jeevan, pelayan itu mengangguk hormat, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Jeevan berjalan gontai menuruni anak tangga, oh ayolah, apa semua orang sedang bercanda?? kenapa semua orang tidak bisa membiarkan nya beristirahat sebentar saja??
"Jeevan!" Seru seorang wanita yang langsung berlari ke arah Jeevan dan memeluknya dengan erat, membuat Jeevan terkejut dan mendorongnya dengan kasar.
"Jeevan."Panggil Wanita itu dengan lirih dan juga terkejut saat Jeevan mendorongnya dengan kasar.
"Frey, apa yang kau lakukan disini??" Tanya Jeevan dengan berbisik.
"Tentu saja, menemui mu." Freya kembali memeluk Jeevan dengan erat, aroma maskulin yang keluar dari Jeevan membuatnya tidak ingin melepaskan pria yang ada di pelukannya.
"Frey, lepaskan!" Jeevan kembali mendorong wanita bernama Freya itu hingga mundur beberapa langkah.
Prok prok prok
Suara tepukan tangan terdengar di ruang tamu, Jeevan mencari seseorang, lalu melihat Aruna yang tengah berjalan di tangga sambil menatapnya.
"Van, aku dengar perusahaan mu sedang ada masalah." Freya mencoba mengalihkan pandangan Jeevan yang dari tadi masih menatap Aruna tanpa berkedip, namun Freya malah diacuhkan.
"Van, are you okay??" Tanya Freya dengan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Jeevan, membuatnya kembali tersadar.
"Yeah, Im okay."
"Silahkan." Aruna menyajikan teh dan sepiring kue cokelat, Jeevan memegang tangan Aruna dan menatapnya lekat.
"Bukankah, tadi kau sudah tidur??"
"Aku haus, makanya aku bangun." Jawab Aruna dengan menepis kasar tangan Jeevan.
"Who she??" Tanya Freya tidak suka saat Aruna menepis tangan Jeevan dengan kasar.
"Dia,..."
"He's wife." Jawab Aruna dengan cepat, membuat wanita di depannya terkejut.
"Apa??" Tanya Freya tak percaya, ia menatap Aruna dan jeevan bergantian, Jeevan menatap acuh.
"Van, itu pasti,..."
"Yang dia ucapkan emang benar, kami menikah pagi tadi." Potong Jeevan dengan cepat sambil menunjukkan cincin kawin di jari telunjuknya.
"Itu pasti tidak benar!"
"Jeevan, kau berjanji akan menikah dengan ku, kau harus menepati janji mu." Freya kembali menghampiri Jeevan, dan memohon, membuat Aruna mundur beberapa langkah dan menatapnya jengah.
"Aku tidak pernah menjanjikan apa pun pada mu, jadi jangan mengusikku!" Ucap Jeevan dengan nada tinggi.
"Van, apa kamu lupa,..."
"Aku tidak pernah lupa Frey, aku tidak pernah lupa dengan apa yang pernah kamu lakuin."
"Van, aku mohon, kita bisa ngulang semua dari awal." Freya memohon dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Tidak, sekarang aku sudah punya istri, hubungan kita udah berakhir lama."
"Sekarang kau pergi dari rumah ku, kau sudah tidak di terima di rumah ini!" Jeevan menatap Freya kesal, ia menunjuk pintu rumah yang masih terbuka lebar.
"Pergi!" Ucap Jeevan dengan nada dingin.
Aruna kembali melangkahkan kakinya kembali menuju kamar, ada rasa yang aneh dalam dirinya saat melihat suaminya di peluk wanita lain, yang bahkan ia sendiri tidak pernah melakukannya.
"Baiklah, kau bisa mengusirku malam ini, tapi ingat! Aku akan terus mengganggu kehidupan mu!" Ucap Freya dengan nada dingin, ada sorot kekecewaan yang begitu dalam di matanya, tangannya mengepal kuat, ia menatap Jeevan penuh rasa kecewa, lalu pergi meninggalkan rumah utama keluarga Rexton.
Jeevan memijat keningnya pelan, lalu menggelengkan kepalanya, lalu kembali ke kamarnya, menatap Aruna yang tengah duduk di sofa di temani segelas air putih dan lampu kamar yang redup.
"Apa yang kau pikirkan??" Jeevan menyenderkan kepalanya di sofa, lalu memijat keningnya.
"Kau tidak penasaran??" Tanya Jeevan saat dari tadi ia diacuhkan.
"Aku bahkan tidak peduli." Jawab Aruna cuek.
"Benarkah??" Tanya Jeevan dengan tersenyum jahil, ia tau Aruna sedang berbohong.
"Apa urusannya dengan ku??"
"Kau tidak cemburu??" Sebuah pertanyaan yang membuat Aruna tersedak air ludah nya sendiri. Aruna menatap Jeevan lekat, oh astaga, kenapa ia harus mempunyai suami yang punya penyakit narsistik??
"Kenapa aku harus cemburu?? sudah aku katakan, aku tidak peduli pada kehidupan mu!" Sarkas Aruna dengan kesal.
"Lalu, apa yang kau pikirkan dengan duduk termenung disini?? Kenapa tidak pergi tidur??" Tanya Jeevan, yang membuat Aruna memutar bola matanya bosan.
"Apa selain di tuntut menjadi istri yang baik di depan kamera, aku juga harus menuruti perintah kau bahkan untuk tidur??" Tanya Aruna malas.
"Aku tidak peduli, apa yang kau pikirkan tapi sebaiknya kau tidur sekarang juga." Dengan cepat Jeevan menggendong tubuh Aruna, membuat Aruna menjerit dan memukul d**a Jeevan pelan.
"B******k! Kau tidak perlu melakukan itu, aku bisa berjalan!" Aruna mendengus kesal, Jeevan hanya tersenyum melihat ekspresi istrinya yang sedang kesal karena ulahnya, menurutnya itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Jika kau bisa melakukannya, harusnya dari tadi kau menurut, dan aku tidak akan menggendong mu, nyonya muda Rexton." Ucap Jeevan dengan senyum tipis.
"Kau, lebih baik kau tau tempat mu, tuan muda Rexton!" Aruna menatap benci pria di sampingnya, pria yang sudah menjadi suaminya yang selalu berbuat sesukanya tanpa memikirkan orang lain.
"Teman mu tidak datang??" Tanya Jeevan saat mengetahui Aruna tidak bisa tidur kembali.
"Aku tidak punya teman."
"Lalu yang di rumah sakit??" Aruna yang baru sadar arah pembicaraan Jeevan, menoleh pada pria di sampingnya, lalu menatap langit kamarnya.
"Dia keluar negeri malam kemarin."
"Kau kesepian??" Tanya Jeevan membuat Aruna mengangguk pelan, yang dikatakan Jeevan memang benar, ia kesepian tanpa ada avorza di sampingnya.
"Kau ingin kembali kuliah??" Lagi lagi pertanyaan Jeevan membuat Aruna kembali menganggukkan kepalanya, seorang wanita yang sudah menikah akan susah mendapat pekerjaan karena harus meminta izin suami, begitu juga dengan yang ingin kuliah kembali.
"Lahirkan dulu anak itu, baru ibu akan mengijinkan mu." Ucap Jeevan yang membuat Aruna menatapnya tak percaya.
"Kau pikir aku mesin melahirkan anak??" Tanya Aruna dengan nada sarkastis.
"Tidak, tapi tugas seorang istri juga melahirkan seorang anak."
"Kau!"
"Aku baru ingat, ayah mu sudah pulang??"
"Memangnya kenapa??" Aruna mengernyitkan keningnya.
"Aku mendapat informasi peretas yang membocorkan data perusahaan ayah mu." Ucap Jeevan yang langsung membuat Aruna menatapnya tak percaya.
"Benarkah?? siapa pelakunya??" Tanya Aruna penasaran, namun Jeevan hanya menggeleng kepalanya.
"Aku masih terus menyelidiki nya."
"Aku mohon bantuannya." Ucap Aruna lirih.
"Apa yang aku dapatkan setelah membantu mu??" Jeevan membalikkan posisi tubuhnya, menghadap Aruna.
"Aku akan memberikan apa pun untuk mu."
Jeevan menatap Aruna penuh minat.
"Benarkah??"
Aruna hanya mengangguk pelan, membuat Jeevan tersenyum penuh arti.
"Berikan aku sebuah pelukan, dan perasaan mu saja." Jeevan memeluk Aruna dengan erat, membuat Aruna sedikit terkejut namun detik berikutnya ia membiarkan Jeevan melakukan hal apapun Yang ia mampu berikan.