10. Kawan atau Lawan

1415 Words
Jeevan menarik tangan Aruna menuju sebuah ruangan khusus untuk pengantin. Aruna menatap lembaran kertas di depannya. "Apa maksud mu??" Tanya Aruna dengan mengerutkan keningnya tidak mengerti. Jeevan menghela nafas panjang, lalu duduk di samping Aruna, menatap nya dengan lekat. "Maafkan aku." Ucap Jeevan, yang semakin membuat Aruna tidak mengerti kenapa tiba tiba pria di depannya ini minta maaf?? "Aku tidak mengerti." Aruna beranjak dari tempat duduknya tanpa berniat untuk membuka lembaran kertas tersebut. Namun dengan cepat Jeevan menghentikan nya. "Akan aku jelaskan." "Pernikahan kita, memang dilaksanakan secara sah, hanya saja pernikahan ini mempunyai kekurangan, yaitu cinta, ya walaupun aku tau cinta bisa datang kapan saja. Oleh karena itu aku buat surat kontrak untuk pernikahan kita untuk selama satu tahun, jika selama satu tahun kau masih membenci ku, atau kau tak pernah mencintai ku, maka kau punya hak untuk berpisah, hanya saja kau tidak boleh membawa putra ku terlalu jauh, tapi jika kau mencintaiku kau tidak akan pernah lepas dari ku, kau mengerti??" Jelas Jeevan panjang lebar. Aruna menatapnya heran, kenapa tiba tiba pria ini membuat kontrak pernikahan?? Tapi itu lebih baik, karena jika kontrak pernikahan itu tidak ada, akan sangat merepotkan. "Bukan kah kau senang??" Tanya Jeevan, Aruna memilih tak menjawab, dan hanya membaca surat kontrak tersebut. Tentu saja Aku sangat senang, pernikahan kontrak selama satu tahun walaupun bukan waktu yang sebentar, Aku pasti bisa menjalankannya tanpa harus mempunyai perasaan kepada pria b******k itu, mencintai dia??mimpi! Itu tak akan pernah terjadi, tidak mungkin aku mencintai orang yang sudah merusak hidup ku, walaupun dia sudah bertanggung jawab, tapi dia sudah mengganggu ku sampai aku susah melanjutkan sekolah ku! - batin Aruna. "Baiklah, sesuai ucapan mu tuan Jeevan, pernikahan kontrak ini hanya berlangsung selama satu tahun, kau tenang saja aku tidak akan membawa putra mu terlalu jauh, dan jika dalam jangka waktu satu tahun aku tidak mencintaimu, aku ingin bercerai, paham??" Aruna menatap Jeevan sekilas, lalu menandatangani kontrak itu tanpa ragu, Aruna pergi meninggalkan Jeevan sendiri. "Nyonya Arogan." Jeevan tersenyum tipis, kemudian memberikan surat kontrak tersebut pada Daniel yang dari tadi berdiri di dekat pintu. Aruna keluar dengan wajah berseri-seri, menghampiri ayahnya yang sedang berbicara dengan para tamu. "Dimana suami mu??"tanya Alden saat melihat Aruna berkeliaran sendirian. "Di sana." Aruna menunjuk ke arah Jeevan berada. "Bukan kah kau seharusnya bersama suami mu??" "Aku tau, hanya saja apa aku tidak boleh disini bersama ayah??" Tanya Aruna. "Ayah sendiri tau, para tamu disini dari berbagai kalangan bisnis, mereka sedang membicarakan bisnis, dan aku tidak tau soal bisnis sedikit pun." Lanjut Aruna. "Kau terlalu bodoh." Ucap Leona yang baru saja datang ntah dari mana. "Apa??" "Leona, kau tidak pantas berbicara seperti itu!" Tegur Alden tak suka. "Harusnya kau sadar diri dan bisa menyesuaikan kak, suami mu seorang pebisnis handal, jika kau ingin bersanding dengannya, harusnya sedikit saja kau paham apa itu dunia bisnis." Ucap Leona dengan melipatkan tangannya di d**a, menatap Aruna tidak suka. "Oh benar kah??" "Baiklah kalau begitu, aku akan menuruti perkataan mu, tapi kau jangan menyesal, kalau perusahaan itu atas namaku." Aruna mencondongkan tubuhnya, menatap Leona lekat, tersenyum penuh arti. "Bagaimana??setuju??" "Kau!" Leona mengatupkan gigi gerahamnya, tangannya mengepal kuat di bawah sana, dengan tatapan kebencian yang terlihat jelas, membuat Aruna tersenyum puas melihatnya. "Kau dengar ayah, aku akan mempelajari semuanya." Aruna tersenyum tipis, lalu mengambil minuman dari salah satu pelayan yang kebetulan melewatinya. "Wow, bukan kah dia akan menjadi domba kecil yang jahat??" Raka menepuk bahu Jeevan pelan, menatap Aruna dari jarak yang cukup jauh secara diam-diam. "Aku akan merubahnya menjadi domba kecil yang liar." Jeevan tersenyum tipis, menatap wine di tangannya, menggoyangkan nya pelan, lalu meminumnya. "Apa yang kau lakukan disini??" Ray menghampiri putranya, lalu mengambil wine di tangan Jeevan. "Hallo om" Sapa Raka dengan sopan. "Raka??" Tanya Ray memastikan, Raka hanya mengangguk lalu tersenyum tipis. "Bagaimana kabar mu??" "Kabar baik, om bagaimana??" "Sudahlah kalian mengobrol saja, ayah duduk lah." Jeevan beranjak dari tempat duduknya, membiarkan Ray duduk, lalu pergi menghampiri Aruna. "Ayah, ibu." Panggil Jeevan pelan. "Boleh aku membawa Aruna pulang??" Tanya Jeevan. "Bukan kah sangat tidak sopan meninggalkan para tamu??" Jawab Aruna keberatan. "Acara nya sudah selesai, para tamu yang ada disini adalah kolega ayah ku, tidak ada hubungannya dengan ku atau pun keluarga mu." Jelas Jeevan. "Baiklah,..." "Tuan,..." Ucapan Alden terpotong saat Daniel memanggil Jeevan dan menghampiri nya dengan tergesa gesa. Seluruh wartawan yang juga masih berada di sana, mendapat telpon, Aruna menatap sekelilingnya yang sibuk dengan ponsel dan kamera di tangannya. "Ada apa??" Aruna mendekatkan diri pada Jeevan, menatap Daniel dan Jeevan bergantian. "Seseorang menyebarkan berita palsu tentang RCG yang tidak pernah membayar pajak, dan itu berpengaruh pada saham perusahaan." Bisik Daniel, Aruna hanya mengangguk lalu kembali menatap Jeevan yang masih sibuk dengan notebook nya. "Tuan apakah perusahaan anda yang tidak membayar pajak itu benar??" "Tuan, anda sangat kaya, kenapa tidak membayar pajak??" "Tuan, tolong beri tau kami yang sebenarnya." "Tuan, kami juga baru saja mendapat informasi saham perusahaan anda turun poin hanya dalam waktu hitungan detik, apa itu sangat berpengaruh??" Jeevan membanting notebook di tangannya, membuat para wartawan itu mundur dengan ketakutan, Keluarga Davis yang juga baru mendapat informasi, mencoba menghampiri Jeevan, begitu pun dengan Ray, yang entah sejak kapan sudah berada di samping putranya. Jeevan melirik Daniel sesaat, Daniel langsung mengerti, ia menyingkirkan para wartawan yang menghalangi jalan, Jeevan berlari menuju lobi, lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor. "Nona, tuan menyuruh Anda untuk pulang." Ucap Daniel pelan. "Tapi, bagaimana dia..." Jawab Aruna yang nampak ragu. "Ayah!" Panggil Aruna pelan. "Kau tenang saja, perusahaan Davis akan membantu." Alden mencoba meyakinkan Aruna dengan memberikan pelukan. "Begitu juga dengan ku." Ragas yang baru datang ikut menimpali, semua orang menoleh, Aruna tersenyum lega. "Dan, antar dia pulang ke rumah utama." "Baik tuan." Daniel mempersilahkan Aruna untuk berjalan dengan patuh meninggalkan aula. "Menurut mu, siapa yang berani melakukan hal seperti itu??" Tanya Aruna membuka pembicaraan, Daniel mengangkat bahunya tanda tidak tau. "Musuh tuan sangat banyak, saya tidak tau musuh tuan yang mana, yang berani menyerang perusahaan." "Lalu apa yang akan kalian lakukan?? Apa itu sangat berpengaruh??" Tanya Aruna lebih dalam, Daniel menghela nafas panjang. "Walaupun saham perusahaan hanya turun sedikit, itu sangat berpengaruh karena pangsa pasar global yang terus meningkat." "Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang??" "Tentu saja mencari pelaku." "Kalau misalkan perusahaan rexton benar tidak membayar pajak bisa berpengaruh pada saham perusahaan, itu artinya data perusahaan sudah bocor di retas seseorang bukan??" Tanya Aruna dengan mengangkat kedua alisnya, Daniel hanya mengangguk lalu memasukkan mobilnya ke halaman rumah utama keluarga Rexton. "Terimakasih." Ucap Aruna saat Daniel membuka pintu mobil untuknya. Daniel masuk diikuti Aruna di belakangnya, ruangan besar bernuansa Eropa klasik dengan barang mewah yang tertata rapi di dalamnya. "Aku pikir, kau pulang ke saklya house." "Malam ini, aku akan menginap disini boleh kan Bu??" Tanya Aruna yang langsung dapat anggukan setuju dari Elvyn. "Dimana Jeevan??" "Dia ada urusan di kantor." Jawab Aruna dengan senyum canggung. "Astaga, di hari pernikahan dia malah sibuk dengan pekerjaan, aku akan menelponnya agar dia cepat pulang." Elvyn menekan tombol di ponselnya, namun dengan cepat Aruna menahannya. "Tidak ibu, tidak usah, dia sangat sibuk sekarang, aku tau itu, lebih baik ibu sekarang tidur, ini sudah larut." "Apa yang terjadi??" "Hanya masalah saham perusahaan, tidak ada apa-apa, sekarang ibu tidur lah." "Baiklah, ibu akan tidur." Ucap Elvyn, ia tau kalau masalah saham perusahaan Jeevan sangat bisa mengatasinya. Aruna bertanya letak kamar Jeevan pada pelayan rumah, lalu berlari menuju kamar dan mencari sesuatu, benda kotak besar itu di letakkan di atas ranjang, Aruna membuka laptop itu, tangan nya bergerak sangat cepat, Blue Rose adalah username nya, tangan Aruna bergerak lincah di keyboard, hingga bunyi itu terus bersahutan. "Aku mendapatkannya." Ucap Aruna dengan senang saat informasi yang ia butuhkan berhasil di retas. "Tuan,..." Daniel menghampiri tuannya yang sedang mengecek data keamanan perusahaan, Jeevan menoleh menatap notebook di depannya, detik berikutnya ia terkejut saat melihat banyaknya data perusahaan anonim yang bocor begitu saja. "Perusahaan anonim??" Tanya Jeevan heran. "Saya tidak tau itu perusahaan mana tuan, hanya saja saya pernah melihat saat menyelidiki kasus perusahaan keluarga Davis." Jelas Daniel. "Kemaren saya mencoba meretas user tersebut, tapi ternyata keamanan nya sangat ketat dan saya tidak bisa mengakses sama sekali." "Lalu siapa yang meretasnya??" Tanya Jeevan penasaran. "User Blue Rose yang melakukan nya." "Cari informasi tentangnya, aku ingin data nya datang dalam 5 menit." Perintah Jeevan. "Baik tuan." Daniel membungkukkan badannya sekilas, lalu pergi. Jeevan beranjak dari tempat duduknya, memasukkan tangannya ke dalam saku, menatap pemandangan dari jendela ruangannya. "Blue Rose?? Kawan atau Lawan??" Gumam Jeevan pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat dengan mendengus pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD