Jeevan sudah bersiap di kursi kemudi nya, setelah rapat dengan para pemegang saham kurang lebih selama 4 jam, membuat lehernya sedikit pegal. Jeevan melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 13.00, Jeevan melajukan mobilnya menuju Villa keluarga Davis dengan kecepatan tinggi.
"Hallo paman, bibi." Sapa Jeevan dengan sopan.
"Paman tenang Saja, aku sudah mendengar semuanya, aku akan membantu perusahaan paman." Seolah tau apa yang di khawatirkan Alden, Jeevan menepuk bahu Alden pelan.
"Kau akan menemui Aruna??" Tanya Alden, Jeevan mengangguk pelan.
"Sayang, panggil dia." Ucap Alden pada Acha yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Aku disini ayah." Aruna turun dari tangga, bak bidadari turun dari langit, dress putih tulang bermotif bunga sakura selutut juga tanpa lengan, menampilkan kulit putih nya yang sangat mulus, dengan rambut yang di biarkan tergerai, membuat nya terlihat cantik, ralat, amat sangat cantik.
"Kalian akan pergi??" Tanya Alden dengan menatap Aruna dan Jeevan bergantian.
"Ya! Kami pergi dulu ayah."
"Berhati hatilah." Aruna mengangguk dengan menautkan jari telunjuk dan jempolnya tanda mengerti.
Satu jam berlalu, Jeevan menghentikan mobilnya di bandara, turun dari mobil, lalu membantu Aruna keluar.
"Apa yang kita,..."
"Itu dia."
Potong Jeevan saat melihat orang yang ia cari sudah keluar. Dengan cepat Jeevan melambaikan tangannya. Raka menatap Jeevan dari atas sampai bawah.
"Siapa kau??" Tanya Raka pura pura tidak kenal.
"Kau sedang mengejekku??"
"Aku tidak berani mengejek mu." Raka membetulkan kacamatanya, lalu menatap Aruna intens.
"Siapa wanita ini??"
"Aku re,..."
"Istriku." Jeevan kembali memotong ucapan Aruna, Raka membulatkan matanya tak percaya.
"Hah??"
"Kau!" Jeevan menatap Raka geram
"Baiklah selamat atas pernikahan Kalian, salam kenal kakak ipar." Raka mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Aruna.
"Ya, Aku Aruna."
Jeevan melepaskan jabatan tangan nya, karena dari tadi Raka enggan melepaskan tangan calon istrinya.
"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Jeevan kembali masuk ke dalam mobilnya, di ikuti Aruna dan Raka yang duduk di kursi belakang, lalu melajukan mobilnya menuju apartemen Raka.
"Kau masih ingat tempat tinggal ku??" Tanya Raka dengan takjub saat Jeevan memarkirkan mobilnya, ia kira Jeevan sudah tidak ingat karena hampir 5 tahun tak pernah berkunjung.
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan."
"Buka." Perintah Jeevan dingin, Raka mendengus kesan, ia pemilik apartemen ini kenapa di suruh², memangnya dia seorang pembantu??
"Seperti yang kalian lihat, aku baru sampai, di kulkas tidak ada min,..."
"Aku tidak butuh minuman, aku hanya butuh bantuan." Potong Jeevan dengan menatap Raka intens, Raka mencondongkan badannya.
"Bantuan?? seperti apa??" Tanya Raka penasaran, pasalnya temannya ini tidak pernah meminta bantuan apa pun dari nya.
"Keluarga Davis dari negara C, mengalami penurunan saham dalam skala besar, aku ingin kau menyelidikinya."
"Hanya itu??" Tanya Raka, Jeevan hanya mengangguk, senyum Raka terkembang, soal menyelidiki saham perusahaan bukan hal yang sulit baginya, ia selalu ingin melakukan hal itu.
"Bagaimana hubungan mu dan kakak ipar berlangsung??" Tanya Raka penasaran.
"Menurut mu??"
"Kau jangan bicara macam macam." Tegur Aruna tegas.
"Wow! ini pertama kalinya aku melihat ada yang setegas itu pada kakak pertama."
"Ngomong ngomong, apa hubungan mu dengan keluarga Davis??" Tanya Raka lebih dalam. Jeevan menatap Aruna sekilas lalu kembali menatap Raka, menghela nafas panjang.
"Dia dari keluarga Davis."
"Apaa?!" Tanya Raka terkejut, juga tak percaya, matanya sukses terbuka lebar.
"Apa kau tuli?" Tanya Aruna malas.
"Hey, aku mendengarnya, hanya saja aku tak percaya!"
Jeevan tersenyum tipis, menatap Aruna lekat.
"Baiklah aku akan tetap membantu mu, seperti nya kau tidak terima jika perusahaan istri mu ada yang menyentuhnya."
"Ya, kau tau itu."
Jeevan melirik jam tangannya, menghela nafas, lalu memegang tangan Aruna.
"Aku harus pulang untuk menyiapkan pesta pernikahan ku besok, datang lah ke hotel keluarga ku." Jeevan beranjak dari tempat duduknya, membawa Aruna keluar.
"Aku baru ingin protes, kenapa dia selalu pergi terburu buru?? Dan apa itu tadi?? Pernikahan?? Kenapa aku baru di beritahu sekarang?? Dasar manusia so sibuk!" Raka menggerutu kesal.
Jeevan kembali melajukan mobilnya menuju rumah, hari ini begitu banyak masalah dan ingin segera cepat menyelesaikan nya, terutama masalah keluarga Davis, para pemegang saham juga setuju untuk membantu, membuat perasaan Aruna sedikit lebih lega, ia memilih tidur lebih awal, karena mungkin besok harinya akan lebih berat.
****
Pesta pernikahan yang begitu megah, di laksanakan di The Carlton Hotel, salah satu hotel paling megah dengan pasilitas yang mewah, hotel yang juga milik keluarga Rexton.
Para tamu memasuki ruangan, tamu dari kelas atas dari berbagai rekan bisnis. Selain tamu, wartawan juga memasuki ruangan dengan menyiapkan kamera dan ponsel di tangan nya, lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Aruna berjalan anggun menuju altar pernikahan, dengan melingkarkan tangan pada ayahnya. Gaun pengantin berwarna putih itu sangat mewah dengan potongan panjang yang tampak seksi memperlihatkan bagian punggung Aruna yang putih mulus. Pada bagian pinggul hingga lutut mengecil, kemudian melebar ke bawah. Ditambah dengan sentuhan ruffle dan kain brokat yang cantik di beberapa bagian. Dengan membawa seikat bunga, Aruna tersenyum menatap para tamu yang hadir, begitu pun sebaliknya mereka menatap Aruna iri, karena Aruna berhasil masuk ke keluarga Rexton dengan status yang tidak di ketahui.
Aruna berdiri tepat di samping Jeevan, dengan tersenyum paksa yang harus ia tunjukkan, Jeevan menatap Aruna tersenyum tulus, tatapan teduh, menggenggam erat tangan Aruna, lalu menghadap pendeta.
Hingga tak terasa, rangkaian acara telah mereka lakukan, begitu pun dengan pengucapan janji suci, sorakan tepuk tangan memenuhi ruangan begitu pengucapan janji suci selesai, ucapan selamat silih berdatangan, decakan kagum terdengar jelas.
"Aku tidak tau gadis itu dari keluarga mana, tapi melihat dia berdiri dengan keluarga Rexton sangat cocok."
"Ya, jika putri ku melihat ini, dia pasti akan sangat iri."
"Menurutku gadis ini juga bukan keluarga sembarangan."
"Aku tidak peduli dari mana gadis itu berasal, tapi sepertinya keluarga Rexton tidak akan salah dalam memilih menantu."
Begitulah bisikan yang terdengar jelas, Leona yang mendengar nya terlihat sangat kesal, ia mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi geraham nya, menatap Aruna benci.
"Harusnya, yang menikah dengan putra keluarga Rexton hari ini adalah aku, bukan kau!" Gumam Leona dengan nada dingin, matanya tak lepas menatap Aruna.
"Menyesal??" Leona menoleh, saat seorang pria berdiri tepat di samping nya.
"Apa yang anda lakukan??" Tanya Leona saat melihat Ragas berdiri di sampingnya, namun tatapan Ragas tak juga lepas menatap Aruna.
"Menghadiri undangan." Jawab Ragas dingin, Leona hanya mendecih.
"Kau menyukai nya??" Tanya Ragas dengan menatap wanita di depannya.
"Sejak awal dia milikku."
"pria itu, memilih kakak mu, itu artinya kakak mu jauh lebih menarik." Ragas tersenyum tipis, memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Kau,..."
"Apa kau lupa pada ku??" Potong Ragas dengan cepat, Leona mengernyitkan alisnya, tak mengerti, apa yang ia lupakan, ia benar benar tak tau.
"Apa maksud mu??"
"Sudah kuduga kalian lupa pada ku." Lanjut Ragas yang membuat Leona semakin tak mengerti.
"Hwang Ragas." Ucap Ragas dengan berbisik, mata Leona sukses membulat setelah mendengar nya, menatap Ragas terkejut dan tak percaya.
"Kau ingat??"
Leona mengangguk pelan sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Kau??" Leona menunjuk Ragas dengan gemetar.
"Oh astaga."
Leona masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pria ini, yang dulu di jodohkan dengan kakaknya saat berusia 6 tahun, dan saat itu Aruna baru berusia 4 tahun, karena ayah mereka sudah berteman sangat lama. Namun setelah membicarakan perjodohan kedua anak kecil itu, keluarga Ragas mengalami kecelakaan mobil, kedua orang tua Ragas meninggal, dan sejak saat itu Ragas menghilang entah kemana. Leona benar benar tak percaya bahwa Ragas masih hidup dan sekarang berdiri di depannya, awalnya ia pikir Ragas mungkin ikut mati bersama kedua orang tuanya, dan berita Ragas menghilang itu hanya rumor tak berdasar.
"Sulit di percaya." Leona menggelengkan kepalanya.
"Wanita itu, milikku." Ucap Ragas dengan nada dingin, tatapan datar tanpa ada sedikitpun senyuman di wajahnya, hanya ada aura yang sedikit menakutkan.
"Dia sudah jadi milik orang lain." Leona menatap Ragas sekilas, dengan tersenyum mengejek.
"Aku akan merebutnya kembali." Jawab Ragas menatap Leona acuh. Membuat hati Leona tambah panas setelah mendengarnya.
Kenapa??kenapa selalu Aruna yang diperebutkan para pria tampan?!
Aruna, sejak awal pria itu milikku, kau tidak berhak memilikinya!! Kembalilah ke posisi mu! Kau terlalu serakah!
Leona mendecih, menahan emosi dengan mengepalkan tangannya kuat, menatap Aruna yang sedang berbicara dengan para tamu.
"Tuan,..." Daniel menghampiri Jeevan yang sedang berbicara dengan para pemegang saham.
"Kita cari tempat kosong." Ucap Jeevan, kemudian pergi meninggalkan aula di ikuti Daniel di belakangnya, lalu masuk ke sebuah ruangan yang tak jauh dari sana.
"Katakan!"
"Saya sudah melacak informasi peretas yang sudah berani meretas perusahaan keluarga Davis, hanya saja saya sedikit kesusahan karena banyak nya nama pengguna yang sama, namun saya menemukan satu peretas yang mencurigakan." Jelas Daniel dengan menyerahkan notebook nya.
"Black wolf??"
"Kau tau??" Tanya Jeevan dengan heran.
"Saya pernah mendengar nya, se tau saya itu adalah julukan yang di miliki oleh seorang di negara A, tapi saya tidak tau siapa yang di juluki seperti itu."
Jeevan menghela nafas panjang, bukannya ia tidak tau, ia juga pernah mendengar tentang black wolf hanya saja tidak tau siapa dan dari negara mana.
"Lakukan penyelidikan secara menyeluruh, aku ingin data rincian nya ada di rumah ku malam ini, tapi jangan sampai mengganggu aku dan istri ku." Jeevan beranjak dari tempat duduknya, kembali ke aula, Daniel menatap punggung tuan nya yang sudah menjauh, dengan tersenyum tipis, ia benar benar tak menyangka tuannya sedikit berubah ketika baru saja mempunyai istri. Daniel kembali mengalihkan pandangannya, mengotak Atik notebook di tangan nya.
Masalah perusahaan keluarga Davis juga sudah teratasi, hanya saja pelaku peretasan itu masih dalam proses pencarian, namun Jeevan tak ingin masalah ini menggangu pernikahannya. hingga memutuskan pernikahan ini tetap bisa di laksanakan di hari yang telah di tentukan.