Jam istirahat sedang berlangsung, kelas begitu sepi pagi menjelang siang itu. Ocha sendirian di kelasnya, Saga telah pergi bersama pacarnya. Entah ke mana Ocha pun tidak tahu, ketika ia meminta ikut, Marsya tidak memberinya izin, padahal Saganya sendiri memperbolehkan dirinya ikut.
Tidak mau membuat pasangan itu bertengkar, akhirnya Ocha mengalah, hingga akhirnya jadilah ia yang berdiam sendirian di dalam kelas. Ocha memang tidak memiliki banyak teman. Siswa lain sedikit enggan berdekatan dengan Ocha dan tentu saja hal itu membuat wajah cantik Ocha didominasi kemuraman.
"Ngelamun wae Neng." Suara berintonasi berat itu membuat Ocha seketika menolehkan kepalanya. Matanya membulat sempurna melihat Daniel yang sudah duduk di sampingnya lengkap dengan ekspresi khasnya yang seperti tengah mengejek.
Ocha mengerucutkan bibirnya, cewek itu mengelus dadanya perlahan, "Daniel bikin Ocha kaget aja. Untung Ocha nggak punya penyakit jantung," cerca Ocha membuat Daniel meringis.
"Santai dong Cha. Lagian lo ngelamun terus gue perhatiin dari tadi. Ngelamunin apa sih? Jangan-jangan ngelamunin gue?" Daniel berkata penuh percaya diri, lengkap dengan senyum jenaka yang selalu menghiasi wajah gantengnya itu.
"Enggak lah kalau ngelamunin Daniel. Daniel kan nggak penting-penting banget buat Ocha, buat apa Ocha lamunin coba?" Ocha menyahut polos, berkata sesuai isi hatinya.
Daniel tertawa mendengar kejujuran cewek yang duduk di sampingnya itu. Ia mengacak gemas rambut Ocha, membuat sang empunya memberengut kesal.
"Jangan berantakin, kayak Kak Saga aja deh, kamu." Ocha merapikan poninya.
"Iya, iya, Kak Saga, Kak Saganya Ocha kan ya," ucap Daniel menggoda, membuat pipi Ocha bersemu merah. Ocha menepuk bahu Daniel sambil berkata, "Daniel apaan sih? Jangan buat Ocha malu deh."
Daniel tidak membalas, memilih tertawa sebagai bentuk respons dari ucapan Ocha yang terdengar merajuk. Detik demi detik berlalu, namun semu di pipi Ocha tak kunjung hilang.
"Ngomong-ngomong kapan Daniel masuk ke kelas Ocha? Ocha kok nggak lihat?" Ocha bertanya bingung ketika mengingat kemunculan Daniel yang terlalu tiba-tiba.
Daniel mencebik, memperlihatkan ekspresi datarnya yang terlihat menyeramkan. Ternyata di balik ekspresi tengil cowok itu tersimpan juga ekspresi dingin yang tiba-tiba membuat bulu kuduk Ocha meremang. Eh, Ocha baru sadar, bulu kuduknya sudah meremang sejak tadi, dan ia tidak sadar kapan tepatnya bulu kuduknya itu meremang.
"Lo sih keasikan ngelamun, jadinya nggak sadar pas gue dateng," jawabnya datar tanpa intonasi yang malah membuat Ocha tersenyum geli.
"Daniel ngambek nih ceritanya? Cieee Daniel ngambek. Daniel ternyata serem juga kalau ngambek," kata Ocha sambil menoel-noel pipi Daniel yang memang sedikit tembam, yang membuat rahang indah cowok tersembunyikan.
Ocha jadi membandingkan wajah Saga dan Daniel, keduanya memiliki wajah yang sama-sama rupawan, hanya garis rahang mereka yang berbeda, rahang Daniel jauh berbeda dari rahang Saga yang dilihat dari sudut manapun garia rahangnya bakal terlihat tegas.
"Siapa bilang gue ngambek? Gue nggak ngambek. Sok tahu Lo mah Cha," ketus Daniel masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Ya, Ocha kira Daniel ngambek," ucap Ocha seraya memindai penampilan Daniel.
"Oiya kok Daniel nggak pakai seragam pramuka? Kok Daniel malah pakai seragam putih abu-abu? Ini kan hari Jum'at, bukan hari Senin atau Selasa. Daniel aneh ih. Eh iya, kemarin juga, kemarin Daniel juga pakai seragam putih abu-abu, bukan seragam identitas," cerca Ocha membuat kening Daniel berkerut.
Ocha rupanya telah menemukan keganjilan dari penampilan Daniel tempo lalu.
"Oh ini ...." Daniel menjeda ucapannya, ia memegang seragam yang ia kenakan. "Seragam identitas dan pramuka gue sobek, gue nggak ada duit buat beli lagi, jadinya pakai yang ada aja deh," jelas Daniel yang membuat Ocha memandang iba ke arahnya.
"Daniel kok kasian banget, sih?" Daniel tersenyum.
"Kenapa jadi melow gini? Gue nggak kenapa-napa kali. Gue ke sini bukan buat bikin lo tambah sedih, tapi buat lo nggak ngelamun dan sedih lagi." Daniel mendengkus.
"Serius Daniel, Daniel lebih menyedihkan daripada Ocha," ujar Ocha dengan polosnya, yang kali ini membuat Daniel kesal bukan main.
"Bisa nggak sih, Lo nggak sejujur ini Cha?"
"Enggak." Daniel menepuk dahinya, mulutnya sudah komat-kamit merutuki kebod--kepolosan Ocha maksudnya. Ia tidak menyangka jika ada orang yang sudah berusia 17 tahun, tapi masih berpikir seperti anak-anak seperti Ocha itu. Pantas tidak punya teman. Ngeselin sih, si Ocha emang.
***
Rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari Marsya melihat cowok yang dicintainya bersama cewek lain. Marsya menghela napas. Dadanya begitu sesak melihat Saga tertawa bersama Ocha. Saganya tak pernah selepas itu tertawa dengannya. Bahkan Saga selalu menjaga sikap di depannya. Yang Marsya inginkan hanya sederhana, ia hanya ingin Saga bisa bertingkah lepas tanpa menyembunyikan sifat asli cowok itu darinya.
Marsya berdiri dari duduknya, lantas mendekati Saga dan Ocha yang masih tertawa bersama.
"Ga, pulang yuk? Hari ini kamu ngantarin aku, kan?" Marsya melirik Ocha dengan sinis, sedang yang dilirik menyunggingkan senyum polosnya. Senyum yang Marysa kira hanya sebuah kamuflase. Marsya mengira Ocha itu berpura-pura polos, berpura-pura tidak memiliki teman agar Saga tetap di sininya. Ia mengira bahwa Ocha itu munafik.
"Oh? Iya. Bentar," sahut Saga yang seperti tidak rela acaranya diganggu. Marsya menyimpulkan itu dari penglihatannya sendiri.
"Kita sambung kapan-kapan ya, Cha?" Ocha mengangguk disertai seulas senyum, membuat wajahnya terlihat sangat menggemaskan.
Saga mengemasi buku-bukunya yang belum sempat ia masukkan ke dalam tasnya. Cowok itu berdiri, mengenakan jaket, lantas mencangklong tas gendongnya itu.
"Gue pulang dulu Cha? Lo dijemput Mama Lo kan?" Saga bertanya, menatap Ocha takut-takut. Barangkali masih terbayang kejadian beberapa waktu lalu, di mana Ocha yang pulang dengan naik bus dengan segala resiko membahayakannya.
Saga bergidik, ia benar-benar tidak yakin dengan ucapan Ocha meski sahabatnya itu mengucapkannya dengan tampang lempeng yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan.
"Iya, Ocha dijemput Mama. Kak Saga dan Kak Marsya nggak perlu khawatir, Mama udah janji sama Ocha soalnya," jawab Ocha.
Marsya semakin sinis menatap Ocha. Sementara Saga, cowok itu tersenyum lega.
"Siapa juga yang khawatirin Lo b**o," gumam Marsya yang hanya dapat didengar dirinya sendiri.
"Syukur deh Cha kalo gitu. Sampaiin salam gue ke nyokap Lo. Yuk, Yang kita pulang." Marsya mengangguk.
"Kamu duluan ya Ga? Tunggu aku di parkiran, aku mau ke kelas sebelah, mau pinjam buku kimia," ucap Marsya. Cowok bernama Saga itu mengangguk, lantas berlalu keluar kelas meninggalkan Marsya yang kini menatap Ocha dengan tajam.
"Kak Marsya nggak jadi minjam buku kimia ke kelas sebelah?" Tanya Ocha dengam canggung, pasalnya cewek yang terlihat antagonis itu menatapnya intens tanpa lupa memasang senyum sinis di wajah cantiknya.
"Nggak." Ketus. Sangat ketus pacar Saga itu menjawab pertanyaan Ocha.
Ocha mengerutkan keningnya, ia bertanya halus, tapi cewek di depannya ini malah menjawab ketus. Salah apa dirinya?
"Berarti kakak bohong dong sama Kak Saga? Kakak nggak boleh bohong, bohong itu dos―"
"Gue nggak butuh ceramah Lo. Gue tegasin ya Cha, Lo nggak usah pura-pura polos di depan Saga. Dan ya, Lo jangan deket-deket sama cowok gue. Lo nggak mau kan jadi perusak hubungan orang?" Mendengar itu Ocha langsung menggelengkan kepalanya. Namun, menyadari kalimat lain yang pacar sahabatnya itu ucapkan, Ocha buru-buru buka suara, "Tapi Ocha nggak ceramahin kak Marsya, Ocha cuma bilang, kalau bohong itu dosa. Nggak boleh. Nanti Tuhan marah. Kalau Tuhan marah itu bahaya Kak. Terus, ya maksudnya pura-pura itu apa kak? Ocha nggak ngerti deh."
Marsya tertawa mendengar ucapan Ocha, "Lo benar-benar b**o ya Cha? Intinya. Lo jangan dekat-dekat sama Saga. Saga itu pacar gue, punya gue."
"Loh, loh, kok gitu kak? Kak Saga itu milik orang tuanya, eh lebih tepatnya milik Tuhan kak, kakak nggak boleh ngomong gitu, nant―"
"Munafik banget Lo Cha. Gue nggak mau tahu. Apa pun yang ada di kepala Lo, Lo simpen aja sendiri. Gue tegasin untuk sekian kalinya, nggak usah sok lugu, nggak usah deketin Saga. Sampai Lo berani ngelawan kata-kata gue, gue nggak yakin, lo masih bisa napas di dunia ini," kata Marsya diakhiri sebuah gebrakan nyaring. Ocha terdiam, matanya membulat kaget, napasnya tercekat. Cewek cantik itu memandang Marsya sedih, lantas mengangguk-anggukkan kepalanya takut-takut.
Air matanya menetes tepat setelah Marsya meninggalkan kelas yang hanya diisi olehnya itu.
"Ocha cuma mau deket sama yang Ocha suka. Emang salah ya?" Ocha menangis lantas hanya bisa menelungkupkan kepalanya di meja.