Ocha melangkah riang memasuki rumahnya. Hari ini ia senang. Tentu saja. Semua karena Saga yang mau mengantarnya pulang.
Dahi Ocha mendadak berkerut ketika cewek itu melewati ruang keluarga. Indra pendengarannya menangkap suara bising, seperti tangis seseorang yang terdengar sangat memilukan. Jantung Ocha berdetak tidak karuan. Mendadak rasa khawatir menyergap hatinya.
Dengan langkah tergopoh cewek itu memasuki ruang tamunya, matanya membulat sempurna melihat gumpalan tisu bertebaran di lantai, meja, dan sofa serta mamanya yang meringkuk di sofa dengan memeluk sebuah bantal berwarna abu-abu dengan gambar dua donat besar bertabur mesis cokelat yang saling bertumpuk dengan donat yang berada di bawah sedikit lebih besar di tengah bantal itu.
Ocha menghampiri sang Mama tercintanya. Dengan hati bimbang Ocha memberanikan dirinya untuk bertanya, "Mama kenapa?" Tanyanya sambil berjongkok dan memunguti setiap gumpalan tisu yang lantas cewek itu buang ke tempat sampah yang ada di dekatnya.
Mama Ocha tersenyum, wanita itu buru-buru menghapus air mata yang telah merusak riasannya tersebut. Ocha menatap miris maskara serta eyeliner Mamanya yang luntur. Mamanya memang tidak menggunakan make up yang tahan air. Menurut wanita dewasa itu, menggunakan make up yang tahan air membuatnya kesusahan saat akan menghapus sapuan benda yang begitu digemari kebanyakan wanita lantaran sudah mempercantik wajahnya tersebut.
"Kamu udah pulang Sayang?" tanya wanita itu lembut dengan nada suara yang begitu Ocha rindukan.
Ocha tidak mengingat kapan terakhir Mamanya bertanya dengan nada seperti itu. Yang pasti ia merindukannya.
"Udah Ma. Mama kenapa nangis?" Ocha mendudukkan dirinya di samping sang Mama. Merengkuh tubuh ringkih Mamanya yang kali ini terlihat amat rapuh itu.
"Ah, ini loh, habis nonton film, kok ending-nya sedih, Mama ikutan sedih deh." Mamanya menjawab dengan senyum di wajah.
Ocha tidak yakin dengan jawaban Mamanya itu.
"Film apa Ma? Ocha juga pernah nangis, dulu, pas nonton 3600 detik. Filmnya sedih banget, yang cowoknya mati, kan kasihan ceweknya." Ocha berbicara dengan pandangan menerawang. Kemudian ia kembali memusatkan perhatiannya pada sang Mama yang masih berusaha menghapus air matanya yang terus mengalir.
Kembali, sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Ocha. "Mama habis nonton film apa, sampai buat nangis gitu? Nggak biasanya Mama kayak gini."
"Adalah film apa tadi judulnya, Mama lupa." Mendengar jawaban Mamanya yang seperti menghindar membuat Ocha tak lagi menanyakan hal itu.
Ocha terdiam, begitu juga Mamanya. Suasana mendadak canggung, apalagi mereka memang jarang bertatap muka serta bersua bersama. Mamanya yang terlalu sibuk dengan urusannya, serta Ocha sendiri yang terlalu sibuk dengan angan-angannya.
Ocha memilih beranjak, ia seperti tak dibutuhkan mamanya. Ia tadi berdiam di sana untuk beberapa saat sebenarnya untuk menunggu sang mama berbicara dan bercurah pikiran padanya. Ia tahu ada yang tidak beres. Jikapun Mamanya bersedih karena tidak memenangkan arisan, itu tidak mungkin. Mamanya tidak pernah sesedih ini. Ya, setahunya.
"Cha."
Ocha kembali mendudukkan dirinya ketika mendengar Mamanya berbicara.
"Ya Ma?" Ocha menatap wanita tercintanya tersebut.
"Kamu sayang Mama atau Papa?" Ocha mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Ia bingung. Tidak begitu paham dengan alasan sang Mama mempertanyakan hal seperti itu.
"Kamu kalau disuruh milih, milih Mama atau Papa?" Sebuah pertanyaan kembali terlontar dari mulut Salma, Mama Ocha.
Pertanyaan itu lebih sulit dari pertanyaan yang pertama. Ocha semakin pusing dibuatnya.
"Mama kenapa tanya gitu ke Ocha?"
"Mama cuma mau tahu aja, Sayang."
Ocha terdiam melihat aura suram yang semakin terpancar dari wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Dadanya mendadak sesak, ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Ocha tahu jika saat ini hati Mamanya tidak dalam keadaan baik.
Retak atau bahkan sudah hancur. Bola mata hitam yang biasanya tertutupi oleh keindahan palsu soft lens itu menunjukkan semuanya.
"Ocha sayang Mama, Ocha juga sayang Papa. Besarnya rasa sayang Ocha ke Mama dan Papa sama. Ocha nggak bisa ngukur. Ocha juga nggak bisa milih antara Mama atau Papa. Mungkin, jika ada pilihan lain, Ocha memilih mati, supaya nggak ditanya begitu lagi," jawab Ocha akhirnya.
"Oh, Mama mengerti." Salma tersenyum sendu, putri kecilnya telah dewasa.
"Tapi, jika benar-benar disuruh milih. Ocha bakal milih Mama, karena Mama yang mengandung Ocha, ngelahirin Ocha dengan penuh perjuangan sampai mempertaruhkan nyawa, Mama rela sakit demi Ocha. Kasih Mama sepanjang masa, kan?" Air mata Salma kembali menetes mendengar ucapan putrinya itu. Ia merasa menjadi ibu yang gagal, selama ini ia tidak terlalu memperhatikan perkembangan anak itu, ia hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Diraihnya tubuh Ocha, Salma memeluk erat tubuh putrinya itu. "Mama sayang Ocha. Sayang banget, jangan pernah tinggalin Mama ya?"
Detik itu air mata Ocha ikut mengalir, Ocha mengangguk dalam diam. "Ocha nggak bakal tinggalin Mama," lirih Ocha.
***
Semenjak percakapannya dengan sang mama kemarin sore. Paginya Ocha dikejutkan dengan sang mama yang mau repot-repot membangunkan dirinya, serta menceramahi dirinya bahwa anak gadis tidak boleh bangun telat, nanti jodohnya dipatok ayam. Memangnya rezeki apa?
Hal yang lebih mengejutkannya lagi, yang membuatkannya sarapan bukan si bibi, melainkan mamanya sendiri. Pagi itu Ocha sudah dikejutkan dua kali oleh mamanya, entahlah sampai sore nanti.
"Kamu sarapan yang banyak Sayang, jangan dikit, nanti malah loyo di sekolah," tutur wanita itu lembut. Ocha tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, mulutnya penuh sehingga tak bisa mengeluarkan suara.
"Nah, pinter banget anak Mama." Salma mengacak gemas poni putrinya itu, membuat Ocha tersenyum.
"Nanti pulang jam berapa Sayang?" Mamanya kembali bertanya setelah sang putri selesai menelan makanannya itu.
"Ehm, jam setengah empat Ma. Emangnya kenapa?" tanya Ocha penasaran.
"Mama mau jemput Ocha." Mata Ocha membulat. Ini kali ketiga ia dikejutkan oleh sang Mama.
Mamanya itu memang bisa menyetir mobil, untuk jarak yang tidak jauh mamanya akan mengendarai sendiri mobilnya itu, sementara untuk ke tempat jauh mamanya akan menyuruh Pak Bam untuk menyupirinya.
"Mama serius?"
"Serius dong, masa Mama bohong sih. Udah gih, kamu selesaiin makannya. Mama panasin mobil dulu," ucap Salma yang sudah beranjak dari duduknya.
Kejutan keempat Ocha pagi ini.
"Loh, Mama juga mau ngantarin Ocha?"
"Iya. Kenapa sih, kamu kok tanya kayak gitu?"
"Habisnya nggak biasanya Mama kayak ... ehm gini." Salma meringis. Seburuk apa ia memperlakukan putrinya dulu, sampai ketika ia hanya akan mengantarkan putrinya ke sekolah saja, putrinya itu terlihat begitu kaget.
"Maaf ya, Sayang."
Ocha tersenyum seraya menggeleng pelan. Ocha senang dengan perubahan Mamanya. Mamanya tidak lagi memakai make up tebal, Mamanya tak lagi mengabaikan ia, dan Mamanya kembali memperhatikan dirinya sama seperti ketika ia kecil dulu.
"Nggak pa-pa kok Ma, Ocha nggak masalah. Yang penting kan sekarang Mama udah beda," ucap Ocha.
Sebenarnya Ocha bertanya-tanya perihal perubahan mamanya itu. Ia takut jika hal buruk telah terjadi pada sang mama, sehingga mamanya berubah seperti sekarang. Meski Ocha senang dengan perubahan mamanya itu, tetapi Ocha tak menampik jika kini ia merasa khawatir.
Perubahan mamanya itu, sebenarnya pula telah melahirkan harapan baru bagi Ocha, Ocha juga berharap papanya berubah dan bersikap lebih hangat pada dirinya, tidak pada setumpuk kertas bernilai jutaan rupiah itu.
"Ya udah, Mama tinggal dulu."
Ocha mengangguk. Cewek itu terus memperhatikan punggung mamanya yang menjauh. Dapat Ocha lihat jika bahu mamanya itu meluruh, seperti beban yang ditahannya sejak tadi akhirnya bisa ia lepaskan. Ocha juga dapat melihat bahu mamanya yang bergetar.
Pertanyaannya, apa mamanya tengah menangis?