BAB 4

1327 Words
Meski hari telah berganti, ekspresi wajah Ocha tak mengalami perubahan. Cewek itu masih setia mempertahankan raut sedihnya. Bagaimana tidak? Kemarin ia mengira bisa bertemu dengan papanya setelah berminggu-minggu laki-laki paruh baya itu mengurus bisnisnya di luar negeri. Kemarin adalah hari yang ia kira dapat mempertemukan dirinya dengan sang papa yang nyaris selama dua minggu tidak ia lihat wujudnya. Setelah dari bandara, nyatanya sang papa tidak pulang melainkan langsung pergi menuju luar kota. Ibunya yang kemarin pergi ke puncak pun juga belum pulang. Ocha berpikir, apakah orang tuanya tengah melakukan konspirasi untuk tidak menemuinya? Ocha menghela napasnya, pikirannya sama sekali tidak bisa dijernihkan. "Hei Princess kok cemberut aja?" Ocha menolehkan kepalanya, ia tersenyum melihat Saga yang meletakkan tasnya ke atas bangku lantas mendudukkan dirinya di kursi samping Ocha. Ocha menggeleng. "Enggak kok. Ocha nggak cemberut. Nih, Ocha udah senyum kan?" Ocha menunjuk senyum lebar di wajahnya. Siapa pun pasti tahu jika senyum Ocha itu terlihat sangat hambar. Berbeda dengan senyum Ocha yang biasanya, yang selalu terlihat manis. Suasana kelas yang masih sangat sepi, lantaran waktu memang masih terlalu pagi membuat Saga berani menarik tubuh Ocha ke dalam pelukannya. Ah iya, mereka berangkat bersama tadi pagi. Setelah turun dari motor Saga, Ocha langsung berlari menuju kelas. Alhasil Saga tertinggal jauh, belum lagi cowok itu juga harus mencari tempat parkir motor yang pas. "Lo nggak bisa bohong Cha dari gue. Kita kenal tuh nggak cuma satu atau dua hari. Kita udah bertahun-tahun kenal. Gue ngerti apa yang lo rasakan sekarang." Saga mengusap puncak kepala Ocha. Hal yang sering ia lakukan untuk menenangkan cewek itu. Saga nggak sepenuhnya ngertiin Ocha. Kalau Saga tahu perasaan Ocha, Saga nggak mungkin ninggalin Ocha. Batin Ocha bersuara. "Gue tahu lo lagi sedih karena lo nggak jadi ketemu bokap lo. Jangan sedih Cha, Om Garda kan pergi buat ngebahagiain keluarganya, pastinya buat lo juga." Ocha melepaskan diri dari pelukan Saga, matanya menatap sendu cowok itu, "Oh ya? Buat ngebahagiain Ocha?" Saga mengangguk mantap. Tapi Ocha nggak bahagia. Lagi-lagi Ocha membalasnya dengan membatin. Ia tersenyum kecut, nyatanya Saga tidak benar-benar tahu perasaannya. Orang yang selama ini menjadi penguatnya ternyata tak begitu memedulikannya. Terbukti dari apa yang cowok itu katakan. Oh, apa Ocha terlalu bodoh menyebut perhatian Saga sebagai tidak kepedulian? Jika saja Saga tahu bahwa Ocha menyebut dirinya tidak peduli. Saga sudah pasti bakal tersinggung. Apakah yang selama ini ia lakukan bukan wujud kepedulian? Pada dasarnya Ocha memang terlalu kekanak-kanakaan. Selama ini yang tahan dengan sikap Ocha hanyalah Saga ... dan juga Daniel mungkin. "Tapi kalau seandainya Ocha nggak bahagia?" Saga terdiam. Menghadapi Ocha yang ada di hadapannya kini entah mengapa terasa sulit dibanding hari-hari yang lalu. Ocha sedikit ... berbeda. "Gue yang bakal buat lo bahagia. Gue yang bakal ngehapus air mata yang turun membanjiri pipi lo. Yang bakal buat sudut bibir lo terangkat. Yang bakal buat hari-hari lo penuh tawa." Melihat kesungguhan yang menguar dari mata Saga, membuat Ocha langsung percaya. Perlahan, seutas senyum, yang benar-benar sebuah senyum tulus terpatri pada wajah Ocha. "Terima kasih Kak Saga." "Masama Princess-ku, sekarang Lo nggak usah sedih lagi. Gue bawain sesuatu buat Lo." Saga membuat gerakan membuka tasnya. Dikeluarkannya seluruh isi tas yang ternyata tidak hanya berisi buku dan peralatan tulis-menulis lainnya itu. "Ini buat Lo," ucap cowok itu sambil mengangsurkan beberapa jenis makanan ringan berbahan dasar cokelat ke hadapan Ocha. Mata Ocha semakin berbinar, kesedihannya seakan lenyap. Yah dasar labil! batin Saga tersenyum geli. Sangat mudah untuk membuat Ocha senang. Tinggal mengangsurkan banyak cokelat ke hadapan Ocha, perlahan cewek itu bakal tersenyum dan akan berakhir seperti sekarang ini. Ocha jingkrak-jingkrak sambil menciumi cokelat-cokelatnya itu. Hati Saga menghangat melihat senyum Ocha. "Gue bakal buat lo bahagia Cha," gumamnya begitu lirih. *** "Kak Saga serius mau ngantar Ocha pulang?" tanya Ocha dengan nada tidak percaya. Saga tertawa, ia mengacak poni Ocha dengan gemas. "Lo udah tanya enam eh delapan kali tentang itu sejak bel sekolah berbunyi, terhitung udah sepuluh menit. Gue serius Ocha. Mana pernah gue bohong?" Sering. Ocha membatin. "Terus gimana Kak Marsyanya?" Ocha kembali bertanya, wajah polosnya tampak kebingungan. Pasalnya, Ocha tahu, tadi pagi pacar sahabatnya itu meminta sang sahabat mengantarnya pulang. Ocha tidak mungkin salah dengar kalau Saga mengiyakan permintaan Marsya. Bahkan Ocha masih ingat jelas bagaimana Marsya memeluk Saga dengan erat serta memberinya lirikan sinis karena cowok itu mengiyakan permintaannya. Ocha yakin seratus persen apa yang dilihatnya tadi bukanlah bagian dari lamunannya. "Lo juga udah tanya enam atau delapan kali soal itu. Percaya sama gue Cha. Marsya nggak bakal marah," ucap Saga disertai seulas senyum geli. "Lagian lo tadi udah lihat kan, Marsya keluar kelas sama temannya? Marysa udah pulang kali Cha." Saga tidak mungkin jujur bahwa sebelum jam pelajaran berakhir, ia tadi sempat membohongi Marsya bahwa dirinya tidak bisa mengantat pulang pacarnya itu dengan alasan kalau ia ada ekskul basket. Saga benar-benar ingin menebus kesalahannya kemarin lantaran memilih meninggalkan Ocha sendirian dan mengharuskan sahabatnya itu menaiki bus. Kalau tidak dengan berbohong seperti kali ini, Saga tidak yakin bisa terlepas dari Marsya, dan Marsya pun akan mengizinkannya pulang bersama Ocha. Kebohongan Saga itu mengharuskan Saga menahan Ocha tetap di kelas untuk sementara waktu, supaya ketika dirinya dan Ocha pulang nanti, Marsya sudah benar-benar meninggalkan sekolah dan tidak melihat dirinya tengah membonceng Ocha. Beberapa hari belakangan ini, pacarnya itu sedikit posesif. "Ya udah deh, Ocha percaya sama Kak Saga. Ayo pulang kalau gitu, Ocha capek, mau cepet-cepet istirahat." Ocha tersenyum lantas segera bangkit dan langsung mencangklong tas gendong dengan desain seperti panda miliknya. Saga melakukan hal sama, namun laki-laki itu lebih dulu memakai jaket merahnya yang tadi tersampir di kursi, keduanya lantas berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak sampai lima menit keduanya sudah berada di parkiran. Saga menyodorkan helm bergambar panda yang sejak dulu memang cowok itu khususkan untuk dipakai oleh Ocha. Bahkan Marsya sempat protes dengan pacarnya yang lebih mengutamakan sahabatnya itu. Setiap berboncengan dengan Saga pun sebenarnya Marsya tidak begitu senang, itu karena helm yang ia pakai adalah helm yang pacarnya berikan untuk sang sahabat. Gara-gara Ocha, Marsya jadi membenci panda. Ya karena panda kesukaan si Manja Ocha. Setiap melihat panda, Marsya akan teringat dengan Ocha yang selalu menempel pada sang pacar. Ocha memakai helm itu dengan dibantu oleh Saga. Saga begitu manis. Diperlakukan seperti itu oleh Saga membuat pipi Ocha bersemu. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum yang teramat manis. "Makasih Kak Saga." "Sama-sama Princess." Saga kemudian menaiki motor sport-nya. "Eh tunggu, tunggu jangan naik dulu," ucap Saga menghentikan Ocha yang hendak menaiki motor. Ocha mengerutkan keningnya. "Kenapa Kak? Kak Saga nggak jadi ngantar Ocha?" tanya Ocha sedih. "Bukan itu Ocha. Lo mah buruk sangka terus." Saga turun dari motornya. "Sejak kapan rok lo pendek gitu?" Tanya Saga sambil menunjuk rok kotak-kotak berwarna abu-abu dan putih---sesuai seragam identitas sekolah---Ocha yang membalut sampai beberapa senti di atas lutut cewek itu, dengan dagunya. Ocha melirik tubuh bagian bawahnya tersebut. Keningnya kembali berkerut. "Kan rok Ocha emang segini, Kak." "Perasaan masih di bawah lutut deh waktu itu." "Itu kan pas Ocha kelas satu Kak, sekarang Ocha udah kelas tiga." Ocha menunjukkan tiga jarinya. "Iya kah?" "Iya. Kakak aja yang kurang perhatiin Ocha." Ocha cemberut membuat Saga terkekeh. "Iya deh. Bentar kalau gitu, gue pakaiin ini buat lo. Supaya nggak ada cowok berengsek yang jelalatan lihat paha lo itu." Saga melepas jaketnya dan dengan cepat melingkarkan lengan jaket itu pada pinggang Ocha. Ocha kembali tersipu. "Nah, sekarang kan udah aman." Saga tersenyum puas. "Ya udah, yuk naik." Saga kembali menaiki motornya disusul dengan Ocha. "Udah siap Princess?" tanya Saga seraya menolehkan kepalanya. Ocha bergumam menjawab pertanyaan itu. "Pegangan yang erat, jangan sampai jatuh. Kalau jatuh nggak ada yang nangkep, kan berabe," ucap Saga disertai candaan. Ocha tertawa lirih. Lantas melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu. Motor Saga pun mulai melaju keluar area parkir. Ketika melewati gerbang, yang artinya juga melewati halte, tanpa sengaja mata Ocha menangkap penampakkan Daniel yang berseragam putih abu-abu tampak duduk di halte itu dengan wajah tersenyum ke arahnya. Ocha pun ikut tersenyum. Tapi, satu hal yang kembali Ocha bingungkan. Kenapa ia merasa janggal dengan penampilan Daniel?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD