BAB 3

1341 Words
Ocha menatap kesal ke arah punggung cowok bule kw di depannya itu. Ia kesal. Benar-benar kesal. Terlihat dari langkah kakinya yang sengaja dihentak-hentakan. "Ih, gara-gara kamu Ocha diturunin dari bus. Kamu ngeselin banget sih?" ketus Ocha sambil memukul punggung kokoh cowok itu. Namun si cowok sama sekali tidak bereaksi dan masih meneruskan jalannya. Tidak mendapati tanggapan membuat Ocha makin kesal. Bagaimana Ocha tidak marah? Tadi cowok ini mencium pipinya dengan kurang ajar, membuat Ocha teriak-teriak nggak jelas. Sampai-sampai penumpang yang lain terganggu. Tidak tanggung-tanggung Ocha dibilang gila. Ocha bingung kenapa dirinya disebut gila, apa karena ia menolak dicium cowok ganteng? Itu tidak mungkin. Satu-satunya hal yang menjadi petunjuk, ketika salah satu penumpang berkata, 'Gila, cakep-cakep ngomong sendiri.' Ocha tidak mengerti kenapa ada yang bicara begitu. Hingga ketika supir bis menyuruhnya dan si cowok ngeselin turun, Ocha masih menyimpan tanda tanya besar di kepalanya. "Kamu ngeselin banget sih, bule jadi-jadian!" teriak Ocha setelah mendahului langkah cowok itu. Kini ia berhadap-hadapan dengan cowok bernetra cokelat terang tersebut. "Nama gue Daniel. Daniel Fazrian. Lo boleh panggil gue Dani, Niel, atau terserah. Sayang juga boleh." Cowok bernama Daniel itu mengedipkan sebelah matanya. "Ih ogah manggil kamu Sayang. Ocha kan belum sayang sama kamu." "Belum? Berarti akan dong? Oke kalau gitu, gue bakal buat lo sayang sama gue." Daniel tertawa, membuat Ocha mengerucutkan bibirnya. "Jangan buat Ocha sayang sama kamu, Ocha udah sayang ke orang lain. Mending kita temenan? Iya kan ... Da―" Ocha menjeda ucapannya, ia lupa siapa nama cowok di depannya ini, ia bermaksud mencari name tag Daniel, sayangnya ia sama sekali tidak melihat ada name tag yang terpasang di baju cowok itu. "Nama gue Daniel. Lo gemesin banget sih? Pasti lagi pura-pura lupa supaya gue nyuruh Lo lagi buat manggil gue sayang, kan?" "Daniel kege'eran banget. Enggak gitu. Jangan buat Ocha bete deh. Kita temenan pokoknya!" Mood Ocha cepat sekali berubah, dasar cewek labil, sekarang ia malah tersenyum lebar di hadapan Daniel. Mana ekspresi kesalnya yang sangat menggemaskan tadi? Masa sudah hilang saja? Nggak asik, deh ah! Ocha beralih ke sisi Daniel, secara tidak langsung menyuruh Daniel melanjutkan jalannya. Daniel pun kembali berjalan. "Daniel juga sekolah di SMA Taruna Jaya, sekolahnya Ocha? Kok Ocha nggak pernah lihat Daniel?" tanya Ocha seraya menolehkan kepalanya. "Gue kelas IPS lo IPA, gedung anak IPA jauh sama gedung anak IPS wajar kalau Lo nggak tahu gue. Yang penting kan gue tahu Lo? Lo Aerosha kan?" Ocha mengangguk antusias. "Hebat Daniel. Padahal Ocha nggak terkenal loh, tapi Daniel tahu nama dan jurusan Ocha. Hebat!!" Daniel tersenyum bangga lalu menepuk dadanya. "Iya dong, gue gituloh." Dalam hati Daniel berdecak melihat kepolosan cewek yang ikut berjalan di sisinya dengan langkah tergesa berusaha menyesuaikan dengan langkah panjangnya itu. Daniel tidak tahu, Aerosha itu jenis cewek bodoh atau polos? Kan dia tahunya dari name tag yang terpasang di d**a kanan dan juga badge kelas yang menempel di lengan kirinya itu. Benar-benar menggemaskan. Membuat Daniel suka saja. Eh? "Itu Daniel pake soft lens? Kok bola matanya bisa cokelat gitu? Terus Daniel juga ngecat rambut ya?" Ocha bertanya. "Oh ini asli Cha. Rambut gue juga asli. Gue blesteran Rusia Jawa." Ocha mengangguk. "Ocha juga blesteran." "Blesteran mana?" "Blesteran cinta Mama sama Papa, hehe ...." Sore itu Ocha merasa senang, akhirnya ia mendapat teman baru. Meski teman barunya terlihat bermasalah, Ocha tidak apa-apa. Barangkali ketika Saga tak bersamanya, ia bisa bersama dengan Daniel. "Eh itu haltenya. Kita nunggu di situ ya?" Ocha mengerjap, lantas menatap ke arah tempat yang Daniel tunjuk. Tempat yang mereka tuju―halte―sudah berada di depan mata. Mereka hanya perlu duduk di sana, menunggu sampai bis datang dan mereka pun sampai di rumah. Lagipula Ocha sudah tidak sabar menanti kepulangan papanya. *** "Daniel nggak mau mampir di rumah Ocha? Ini mau hujan loh. Emang rumah Daniel di mana?" tanya Ocha ketika Daniel hendak berpamitan setelah mengantar cewek itu sampai gerbang rumahnya. Daniel tidak menjawab, memilih tertawa sebagai respon dari ucapan cewek yang baru dikenalnya kurang dari setengah hari itu. Daniel mengacak gemas rambut berponi Ocha, membuat bibir Ocha spontan mengerucut kesal. Apa yang Daniel lakukan mengingatkan Ocha pada Saga. Secara tidak langsung mengingatkan Ocha bahwa Saga menolak untuk mengantarkannya pulang hari ini. Ocha mendadak merasa sedih. Seakan sadar dengan raut mendung Ocha, Daniel segera bersuara. "Kok Lo pakai tanya sih Cha, di mana rumah gue? Rumah gue kam di hati Lo. Gimana coba?" Benar saja, ucapan Daniel sukses membuat senyum cantik terpatri pada wajah cewek itu. "Daniel suka ngelawak deh. Emang Daniel muat tinggal di hati Ocha? Adek bayi yang baru lahir aja belum tentu muat tinggal di hati Ocha." Daniel tertawa hambar. Sebenarnya lebih merasa kesal. Ngalusnya kenapa jadi gagal gitu? Ini cewek di hadapannya pura-pura tidak peka atau memang tak memiliki saraf kepekaan? Buat Daniel kesal saja. "Iya, iya, terserah apa kata Lo." Daniel memilih mengalah. Percuma membalas omongan Ocha. Bisa-bisa mulutnya berbusa. Ia tidak sesabar Doraemon yang tahan menghadapi sikap menyebalkan Nobita. Ia lebih parah dari Squidward saat kesal karena ulah Spongebob juga si bintang laut Patrick. "Daniel nggak usah ngomong gitu deh, Ocha jadi ngerasa nggak enak. Ngomomg-ngomong, Ocha tadi tanya, emang Daniel nggak niat buat mampir ke rumah Ocha? Kebetulan Papa Ocha udah mau pulang, nanti deh Ocha suruh bibi buatin Daniel minuman. Di rumah Ocha ada banyak jenis minuman loh ada teh, kopi ...." Bla, bla, bla, Daniel tidak memerhatikan lagi ucapan Ocha. Ocha berbicara terlalu cepat membuat Daniel merasa malas mendengarkannya. "... dan juga jus mangga. Ayo Daniel, mampir aja, sekalian buat tanda pertemanan kita." Itulah kalimat terakhir yang dapat Daniel dengar dengan jelas. "Sori Cha. Bukannya gue nggak mau. Tapi ini udah sore, bentar lagi juga hujan. Nanti kalau hujannya sampai besok pagi, gue bingung dong gimana ke sekolahnya? Udah ya, gue pamit dulu. Salam buat orang tua Lo." "Iya Daniel, hati-hati di jalan. Nanti bakal Ocha sampaiin." Tanpa berbasa-basi lagi, Daniel langsung melangkahkan kakinya menjauhi depan rumah Ocha. Ocha menghela napas. Ia jadi tidak yakin dengan pertemanannya dan Daniel. Ia merasa Daniel tidak serius menganggapnya teman. Cowok itu terlalu tak acuh padanya. Entah itu perasaannya saja, atau mungkin Daniel memang seperti itu. Ketika Ocha berbalik dan hendak memanggil satpam rumah agar membukakan pintu gerbang untuknya, suara knalpot motor Saga yang begitu ia hafal mau tidak mau membuat tubuhnya spontan menoleh. Dilihatnya Saga yang ganteng luar biasa sama seperti hari-hari biasanya, tengah mengendarai motor sport merah menyala yang kemudian di tepikan di bahu jalan, lebih tepatnya sisi Ocha. "Kok Lo baru balik Cha?" tanya Saga sembari melepas full helmet-nya. Niatnya, Ocha mau pura-pura ngambek, tapi ternyata dia tidak bisa. Ocha kadung terpesona dengan Saga yang gantengnya keterlaluan sore itu. Cowok itu memakai kaos pas badang berwarna abu-abu yang mencetak sempurna tubuh atketisnya, menampakkan d**a bidang yang menggoda untuk disandari dan juga celana pendek sepanjang lutut yang membalut kaki atletisnya dengan sempurna. Ya Tuhan, Ocha rasanya mau mimisan. Bagaimana mungkin ada cowok setampan Saga ada di depannya. "Iya Kak Saga, soalnya Ocha tadi harus nunggu bus." "Hah, nunggu bus?" Ocha langsung mengeplak mulutnya sendiri, ia lupa kalau tadi ia berbohong bahwa Pak Sam akan menjemputnya. "Jadi Lo bohong soal Lo udah ada yang jemput?" Ocha diam. "Ya ampun Cha, kenapa Lo nggak mau jujur sama gue?!" Suara Saga terdengar meninggi, membuat Ocha takut. Mata cewek itu mulai berkaca-kaca, kepalanya menunduk, menyembunyikan matanya dari penampakan Saga yang terlihat menyeramkan ketika marah. "Kalau terjadi sesuatu sama Lo gimana?!" Saga masih memertahankan nada tingginya. "Maaf," cicit Ocha dengan suara seraknya. Menyadari bahwa Ochanya ketakutan, Saga segera menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Dielusnya puncak kepala Ocha dengan sayang. Saga benar-benar merasa bersalah. Detik selanjutnya tangis Ocha pecah, dibiarkannya baju yang ia kenakan basah lantaran tangis cewek itu. "Lo nggak salah, gue yang salah. Gue minta maaf Cha, gue ... gue terlaku khawatir sama Lo. Gue ...." Ocha mengeratkan pelukannya dengan tubuh tegap sahabatnya itu. Ia semakin terisak keras. "Gue takut kehilangan Lo Cha," lanjut Saga sangat lirih nyaris tak terdengar. Bahkan Ocha pun tidak mampu mendengarnya. Barangkali cewek itu terlalu sibuk dengan acara tangis-menangisnya. Saga terus mengelus sayang puncak kepala sahabatnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD