Melupakan kejadian di rumah sakit yang membuatnya bingung bukan main. Ia tidak lagi mau ambil pusing memikirkan Daniel yang ternyata lupa dengannya. Ocha pikir itu bukan masalah besar, toh ia dan Daniel sudah menjadi teman sekarang. Setelah berbasa-basi menawari Arven mau mampir atau tidak setelah mengantarnya, yang ternyata teman sekelasnya itu tolak. Ocha segera melangkahkan kakinya dengan riang memasuki rumah. "Papa!!" Ocha langsung memekik ketika melewati ruang keluarga. Di sana, terlihat Papanya yang tengah meletakkan cangkir yang sepertinya berisi kopi ke atas meja. Laki-laki berusia pertengahan empat puluhan itu tampak kaget, namun segera merubah ekspresinya dengan tersenyum lebar ke arah sang putri. Beliau tampak berdiri dan langsung merentangkan tangannya menyambut kedatangan

