Proses pemakaman di lakukan dengan lancar, semua warga sekitar yang ikut mengantarkan satu persatu meninggalkan pemakaman, kini yang tinggal hanyal keluarga Aira saja. Air mata Aira mengalir deras, ia memukul dadanya berkali kali untuk menghentikan tangisannya, "kenapa semua meninggalkanku," ucap Aira suaranya tercekat di tenggorokan. "Apa aku tidak pantas memiliki orang tua?" suara Aira serak. Aira menundukkan kepala, ia berusaha menghentikan tangisannya, namun rasa sakit yang ia rasakan karena kehilangan kedua orangtua tak mampu ia terima dengan lapang d**a "Aira kita pulang, hari sudah mulai sore dan akan turun hujan," ucap Rei ia jongkok di samping Aira. "Iya Aira, iklaskan kepergian Ayahmu," sela Sila sembari mengusap air matanya "Tidak, aku mau menemani ayah..kasihan ayah sen

