Seorang dayang tengah mempersiapkan Cambria yang sedang di dandani untuk tampil di sebuah acara nasional yang juga akan dihadiri Hazal sebagai kepala pemerintahan. Mereka akan tampil di depan publik dan media , hal yang jarang terjadi selama pernikahan mereka.
Sebuah gaun berwarna kulit berlengan panjang dengan kerah yang sedikit terbuka jadi pilihan penata busananya pagi itu. Di sisi kiri gaun itu tersemat bros keemasan berbentuk bunga lili, sedangkan rambutnya yang panjang dicepol rapi dengan beberapa helai rambut dibiarkan menjuntai di antara wajahnya yang kecil
.
Wanita itu nampak cantik bak boneka hidup. Ia selalu nampak mengesankan dihadapan semua orang dan membuatnya menuai decak kagum, namun tak sekalipun ia terlihat menawan di hadapan seorang Hazal yang ia kejar cintanya selama bertahun-tahun bahkan semenjak mereka masih kanak-kanak. Namun tak sekalipun lelaki itu luluh dengan semua cinta yang ia tunjukkan dengan tak terputus.
“Yang Mulia” dayang Raim membungkuk memberi hormat sementara Cambria terpaku menatap goresan kecil di lehernya akibat pertengkarannya semalam dengan Hazal. Luka gores itu kemudian ia tutup dengan makeup beberapa kali agar tak tampak jelas di atas kulitnya. “Apa yang terjadi pada leher anda?” sergah pelayan setengah baya itu dengan sedikit terkejut. Cambria tak mengatakan apa-apa dan segera berdiri dari duduknya dengan raut wajah datar tanpa tenaga.
“Aku sudah siap, bisa kita pergi sekarang?”
“Tapi luka Anda?” cemas pelayannya. Cambira mendesah.
“Tidak apa-apa, beberapa hari lagi luka ini akan menghilang, tapi luka hati tidak pernah benar-benar sembuh” ia berlalu dengan langkah anggun menuju pintu yang segera disambut empat orang pelayan wanita di depan pintu yang membungkuk hormat seraya memanggil namanya.
“Yang mulia, kaisar sudah menunggu Anda di luar” Cambria mengaguk dengan wajah tegak yang tak sekalipun pernah goyah. Ia melangkah menginjaki ubin-ubin lantai istana disambut deret pelayan yang berhenti ketika melihatnya lalu kemudian membungkuku hormat. Letupan sepatunya baru berhenti ketika melihat punggung seorang pria berambut kecoklatan dalam balutan kemeja hitam yang tak begitu formal nampak menunggu sambil melirik ponselnya.
Selama beberapa saat, nampak kesedihan di wajah Cambria. Ia menarik napas dangkal lalu memanggil agar pria itu sadar akan keberadaan dirinya di sana.
“Aku sudah siap, bisa kita berangkat sekarang?” Hazal berpaling sekilas dengan tatapan dingin yang seperti kemarin. Pria itu tak bereaksi seolah ia hanya tembok. Sekali lagi kesedihan memenuhi benak Cambria, ia masih tidak bisa menyentuh hati atau mata lelaki itu dengan wajah maupun tubuhnya.
Hazal berlalu begitu saja tanpa menunggu Cambria yang berjalan di belakangnya untuk meniti tangga menuju ke dalam mobil. Bidikan lensa kamera para wartawan dari balik pagar langsung saja menuju ke arah mereka berulang kali dengan kilapan lampu amat tajam menyilaukan mata. Tak ada keakraban, kedekatan atau kontak fisik. Mereka berjalan berjauhan seolah terpisah jarak amat panjang.
Bibir gadis itu hanya berdecak, tidak bisa berbuat banyak pada akhirnya ia selalu menerima untuk diabaikan di hadapan publik luas sekalipun.
Sebuah mobil limousin hitam mengantar mereka menuju pusat ibu kota Brusel yang hari itu sengaja ditutup untuk memberi akses jalan bagi keluarga kerajaan. Sepanjang jalan iring-iringan mereka disambut deretan rakyat yang sengaja menunggu di pinggir jalan, melambai sambil mengangkat bendera negara berwarna merah dengan sembilan bintang yang melambangkan kesempurnaan negara. Mereka berteriak penuh antusias dan semangat ketika melihat rombongan mobil istana melintas di jalan umum ibu kota dan mulai menerikkan kekaguman pada Brusel dan rajanya.
Tanpa banyak orang tau, di balik mobil mewah itu tersembunyi kekakuan antara raja dan ratu mereka. Hazal hanya menatap jalanan di luar yang ramai manusia dan sedikit berisik karena teriakan. Bangunan-bangunan tinggi, megah dan menjulang nampak membuktikan kemajuan negara itu dibawah pemerintahannya selama bertahun-tahun lamanya. Sebuah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun hingga Brusel tumbuh menjadi kota ekonomi terpenting ketiga di dunia setelah perang saudara beberapa tahun lalu.
Keberhasilannya membuat rakyat begitu mencintai keluarga kerajaan.
Cambria yang diabaikan hanya memainkan ponsel sambil membaca beberapa berita. Salah satu portal berita online kembali menyorot mengenai dirinya yang harus menerima tudingan mandul dan tak bisa melahirkan penerus bagi keluarga kerajaan. Semua komentar buruk terpampang di bawah kolom media massa dan kadang kala membuat perpecahan bagi pendukungnya maupun publik yang membencinya dan menilai jika tahtanya sebagai ratu tak lepas dari ayahnya yang merupakan perdana menteri negeri tersebut. Sekali lagi kebencian yang ia terima membuat mata hijaunya membendung air mata, tapi seperti kemarin ia tak bisa melakukan banyak hal selain berupaya kuat dan tabah demi bisa bertahan di sisi Hazal. Ia lalu berpaling pada pria itu yang lebih sibuk melihat jendela semenjak tadi.
Cambria menarik napas mencoba menenangkan hatinya, tapi air mata itu seolah terlalu sulit ditahan lalu merembes di ujung matanya. Ia menyeka lelehan air mata itu kemudian memutuskan untuk menelpon ayahnya, sekedar untuk menyapa dan mengucapkan selamat pagi. Hal yang kadang kala ia lupakan ketika terlalu banyak berpikir mengenai posisi politiknya dalam istana.
“Ayah” sapanya dengan nada riang yang sedikit dipaksakan ketika telpon itu pada akhirnya dijawab, meski butuh waktu beberapa menit karena kesibukan ayahnya sebagai perdana menteri kadang tak memberi mereka banyak waktu bertegur sapa.
“Yang mulia, apa terjadi sesuatu pada Anda?” Cambria menggeleng memantapkan hati sambil memainkan jemarinya.
“Tidak, aku hanya merindukanmu dan ingin mengingatkan agar Ayah meminum obat dan vitamin. Aku tidak memiliki waktu untuk kembali ke rumah tapi aku akan pulang nanti”
“Jangan cemaskan saya, saya akan baik-baik saja. Yang mulia, saya harus pergi dulu ada beberapa hal yang haru saya lakukan” pamit lelaki itu dengan buru-buru. Cambria yang mendengarnya hanya tersenyum menyembunyikan kesedihan. Ketika ia masuk ke dalam istana ia telah kehilangan banyak hal. Kebebasan, nama, waktu, teman, maupun privasi dan harus hidup dalam rasa kesepian, tapi sekalipun kehilangan banyak hal, ia tidak pernah menerima sedikit pun cinta dari Hazal yang membuatnya melangkah terlalu jauh.
Sebuah acara besar digelar di pusat kota dengan sebuah panggung besar nan megah yang sengaja didirikan dengan menghadirkan para pemain musik serta paduan suara anak-anak bermacam usia. Hari itu adalah hari anak nasional yang dirayakan khusus di negara Brusel. Hari itu pengunjung membludak hingga ke tengah jalan. Para pengunjung segera berebut mengambil ponsel untuk memotret ketika menyadari kemunculan raja mereka.
Sebuah televisi raksasa di salah satu bangunan seketika menyorot wajah Hazal dan menyiarkan berita mengenai kedatangannya secara langsung ke seluruh penjuru negara.
Hazal turun dengan pengawalan ketat dibawah perintah Algi yang sudah lebih dulu berada di tempat acara. Kaisar Brusel itu sempat berbalik sebentar dan melambaikan tangan pada semua rakyatnya yang antusias menyambutnya. Ia bahkan tak peduli ketika meninggalkan Cambria di belakang sementara ia masuk ke dalam arena acara di mana sebuah tenda untuknya telah didirikan dengan megah untuk menyambutnya dan beberapa kerabat bangsawan lain yang juga diundang hadir hari itu.
Suara riuh, teriakan penuh cinta membahana di seluruh penjuru kota, yang jalan-jalannya sengaja ditutup untuk kendaraan dan hanya dibiarkan jadi tempat berjalan-jalan para rakyat yang ingin melihat keluarga kerajaan secara langsung. Rakyat Brusel tak ubahnya masyaratak Inggris yang masih begitu fanatik dan mencintai keluarga kerajaan mereka selama berabad-abad lamanya hingga ketika sistem monarki telah jarang diterapkan di seluruh dunia, namun Brusel masih bertahan dan kokoh memimpin kemajuan zaman.
Cambria berusaha mengejar langkah Hazal dan berharap bisa meraih tangannya, tapi lelaki itu segera menjauhkan dirinya. Cambria terpaku, ia merasa asing dalm keramaian itu dan terpaksa harus berjalan sendiri dengan didampingi seorang dayang menuju tenda yang berada di dekat panggung.
Dari kejauhan di salah satu sudut jalan yang dipenuhi hiruk pikuk orang yang tak hentinya berteriak, seorang wanita berambut hitam sedang mengamatinya dengan senyum sinis dan senang. Wajah perempuan itu tertutup topi hitam hingga yang nampak hanya bibirnya yang terpulas lisptik merah muda. Ia menyeringai seolah menikmati bagaimana Cambria diabaikan di depan khalayak ramai.
“Hidupmu pasti sangat menyedihkan” ucapnya sambil mengambil beberapa gambar. Setelah selesai, perempuan tersebut lalu dari tempat acara berlangsung dan meninggalkan keriuhan di belakangnya.
Acara hari itu belum selesai. Namun Cambria yang duduk di samping Hazal mulai merasa tak nyaman. Ia berdiri dari duduknya dan tiba-tiba memutuskan mengendap-ngendap pergi. Belum seberapa jauh ia melangkah dari tenda tempatnya berada, lima orang pengawal yang terdiri dari tiga wanita dan dua orang pria segera menjegatnya.
“Apa ada sesuatu Yang mulia?” tanya seorang dayang. Cambria segera berusaha mencari alasan.
“Aku ingin ke toilet” ucapnya.kelima orang pelayan itu lalu membuat barisan untuknya.
“Silahkan ikut kami” kata para pelayan itu menuntunnya menuju sebuah gedung yang berada di seberang jalan yang sudah lebih dulu disterilakan dari masyarakat umum. Ketika melintas di tengah keramaian, Cambria sengaja berteriak untuk mengalihkan perhatian.
Saat para pengawalnya lengah, Cambria menyelinap dalam kerumunan dan meninggalkan acara tanpa tau kemana ia akan menuju. Ia hanya berharap bisa pergi dari keramaian yang membuatnya merasa sendirian. Sedangkan para pengawalnya berusaha menyusulnya di antara lautan manusia.
Di sebuah taman yang berada jauh dari pusat kota, ia duduk di atas salah satu ayunan sambil melihat kolam pasir di tengah hamparan tanaman hijau yang saat itu sedang sepi karena semua orang pergi ke pusat kota untuk melihat acara yang sedang berlangsung. Wajah gadis itu merebah di sisi ayunan dan mulai bersenandung sambil merindukan masa lalu di mana ia masih kanak-kanak.
Tanpa ia duga dua orang anak perempuan berusia 8 tahun muncul di belakangnya dan mencolek tubuhnya. Ia berbalik dengan dan rasa ingin tau lalu kemudian memulas senyum melihat dua anak perempuan yang nampak akrab saling berpegang tangan.
“Ada apa?” ucap Cambria dengan ramah.
“Itu ayunan kami” kata seorang anak perempuan berponi dengan kulit putih bersih dan muka bulat padanya. Cambria segera berdiri.
“Maafkan aku, aku tidak tau kalau ini adalah tempat kalian bermain. Naiklah” Cambria menyilahkan dengan sopan sambil memegang masing-masing ayunan sampai kedua anak perempuan itu bisa menegakkan tubuhnya.
“Di mana Ibu kalian?” kedua anak perempuan itu berpaling padanya.
“Ibu kami sedang pergi melihat acara kerajaan sebentar dan meminta kami menunggu di sini sebentar” Cambria bergumam meski sedikit heran.
“ Bibi bisa kau dorong ayunan ini untuk kami?” sahut seorang lagi anak perempuan padanya. Cambria melakukan apa yang diinginkan kedua anak perempuan itu padanya.
Di tengah hiruk pikuk acara, seorang pelayan mendekati Algi yang berjaga tak jauh dari tenda tempat Hazal berada. Tak berapa lama setelah mendengar kabar yang dibisikkan padanya, Algi lekas menuju ke tempat Hazal yang nampak sibuk menikmati acara drama yang dipentaskan anak-anak di atas panggung. Sesekali ia tersenyum tipis dengan sikap dingin masih nampak jelas di mukanya.
Algi berbisik pelan, “Yang mulia, ratu menghilang” senyum Hazal menghilang. Ia melihat kursi di sampingnya yang sudah kosong dan baru tersadar kemudian.
“Menyusahkan, cari saja kalau begitu!” Algi membungkuk kemudian berlalu pergi dan mulai melakukan koordinasi dengan pengawal lain yang mulai panik mencari keberadaan Cambria.
Cambria dan kedua anak itu asyik membuat istana pasir. Sesekali kedua anak itu bermain perosotan sedangkan Cambria hanya melihat sambil tertawa, tanpa peduli waktu yang telah ia habiskan di luar istana. Ia juga tak keberatan ketika anak-anak itu merusak tatanan rambutnya dan mengepangnya sambil menghiasnya dengan beberapa bunga liar yang tumbuh di pinggir pagar. Ia senang bisa menikmati waktu bebas tanpa beban.
Iring-iringang mobil Hazal berhenti di depan taman. Sekumpulan orang yang melihat mobil kerajaan berada di sana mulai mengepung sekitar hingga beberapa pengawal harus turun dan mengamankan keramaian. Suara keributan dari arah jalan membuat Cambria berpaling, kaca mobil milik Hazal terbuka, hingga senyum di wajahnya segera menghilang. Dua orang pelayan pria dan wanita yang mengenakan setelan jas hitam mendekatinya dan menunduk memberi hormat hingga para teman kecilnya tadi merasa takut. Cambria memegang jari kedua anak perempuan itu agar mereka merasa tenang.
“Yang mulia,” kata seorang dayang muda padanya sembari memberi hormat, “kita harus segera pergi” Cambria yang duduk di atas kolam pasir sambil menindih sepatunya berdiri. ia melirik ke dua teman kecilnya yang berdiri di belakang tubuhnya dengan heran.
“Kau akan pergi sekarang Bibi?” Cambria mengangguk. Seorang pelayan pria nampak tak suka mendegar bagaimana anak-anak itu memanggil nama Cambria tanpa gelar kehormatan yang semestinya.
“Jangan lancang kalian, beliau adalah ....” Cambria menahan pelayannya.
“Aku akan pergi sekarang, tapi nanti aku akan datang lagi agar kita bermain. Apa kalian mau bertemu denganku lagi?” kedua anak itu bersorak membuat senyum gembira tampak di wajah Cambria.
“Anak-anak!” dua orang wanita berusia 20 tahunan memanggil yang kemudian dicegat para pengawal. Keduanya segera menunduk memberi hormat pada Cambria. “Maafkan anak saya Yang mulia ratu” Cambria menggeleng lalu meminta pelayannya membiarkan kedua orang ibu itu menghampiri anak-anak mereka.
“Lain kali jangan biarkan mereka bermian sendiri” ucap Cambria setelah kedua perempuan itu berhasil memeluk anaknya. Keduanya meminta maaf kemudian menunduk memberi hormat dan nampak segan melihat wajah Cambria
.
“Kami akan menjaga anak kami dengan baik” Cambria mengangguk. Sebelum pergi dari sana, ia berbisik pada seorang pelayan wanitanya untuk membelikan anak-anak itu permen maupun es krim. Pelayan itu menganguk memberi hormat lalu mengantarnya menuju ke dalam mobil sambil menenteng sepatunya yang penuh dengn pasir. Momen itu tak ayal diabadikan oleh kamera wartawan dan masyarat sambil menyebut namanya dengan rasa cinta.
Di dalam mobil di mana Hazal berada Cambria melambaikan tangan perpisahan dengan senyum lebar yang perlahan sirna ketika mobil mulai melaju jauh dari taman tempatnya menyinggah tadi.
Cambria melepaskan bunga-bunga kecil yang menjadi mahkota yang menghias rambutnya lalu ia letakkan di atas pangkuannya. Ia kembali mengenakan sepatunya dan harus patuh lagi pada semua aturan istana dan kesedihan yang ada di dalamnya.
Hazal nampak merenung di depan tumpukan berkasnya. Ia bergumam panjang dengan nada malas hingga Algi yang sedang sibuk menyusun beberapa berkas penting pun melirik sedikit penasaran meski tak begitu lama.
“Apa menurutmu istana merubah seseorang?” Algi yang mendengaar pertanyaan itu terpana.
“Maksud Anda?” dengan segera ia menepis pertanyaannya yang terdengar mengambang.
“Lupakan saja, aku hanya ingin tau saja!”
**
Hazal baru saja kembali dari ruang kerjanya kemudian hendak menemui ibunya di istana para ratu, namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang tak biasanya terjadi. Di tengah ruangan megah itu berbaris puluhan pelayan pria dan wanita yang bertugas mengawal rombongan kaisar dan ratu di acara pagi itu. Puluhn wajah pelayan itu nampak ketakutan seolah menunggu suatu hukuman sebentar lagi.
Dari lantai atas melintas Lady Inha dengan dibantu dua orang pelayannya menuruni tangga. Mata wanita tua itu tampak jalang melihat deret pelayan itu sebelum dengan suara keras ia membentak mereka.
“Kalian ditugaskan mengawal ratu, tapi bagaimana mungkin kalian membiarkannya melarikan diri dan bergaul dengan rakyat biasa. Kalian pikir untuk apa kalian digaji dengan pajak tinggi hanya untuk membuat kesalahan seperti ini. Apa kalian tau ada berapa banyak orang yang berharap bisa bekerja dalam istana?” puluhan orang itu membungkuk memohon ampunan dengan perasaan menyesal yang dalam.
“Maaf ‘kan kami Yang mulia” harap mereka, namun Lady Inha nampak tak menggubris permohonan mereka sama sekali.
“ Mulai besok kalian tidak perlu bekerja lagi di sini” ucapnya hendak berlalu pergi namun sebelum lalu terlalu jauh nampak Cambria muncul dari lantai atas.
“Ada apa ini, mereka adalah para pelayan kamarku ‘kan?” Lady Inha menatapnya dengan sinis.
“Mereka sama dengan orang yang mereka layani, tidak berguna jadi sudah sepantasnya mereka berhenti” Cambria mempercepat langkahnya lalu berhadapan Lady Inha.
“Mereka pelayanku, jika harus berhenti maka akulah yang akan memecat mereka. Pelayanku bukan bagian dari pengawasan istana dalam” Lady Inha membalasnya dengan tatapan setajam pisau yang bercampur rasa benci.
“Jika kau tau itu bukan bagian pengawasan istana dalam dan bisa menyebabkan kekacauan untuk pelayanmu, tidak seharusnya kau meninggalkan tempat acara. Apa kau tau siapa dirimu sampai kau berani memperlakukan keluarga kerajaan dengan cara seperti itu?” Cambria sontak terdiam, ia tahu semua hal itu adalah kesalahannya. Kembali suara perempuan itu memekik tinggi di antara tembok. “Kau adalah seorang ratu tapi pergi ke luar tanpa pengawalan, tidak memakai sepatu dan bermain dengan rakyat kebanyakan. Apa kau tau berapa banyak protokoler istana yang kau langgar? Aku tidak peduli seberapa buruk tindakanmu di dalam istana, tapi jangan sampai kebiasaan burukmu menyebar sampai keluar dan dilihat semua orang. Besok kabar ini akan menyebar”
Cambria menelan ludah, “Ini keteledoranku, mulai sekarang aku akan berhati-hati”
“Hanya itu yang bisa kau katakan? Apa kau sungguh ingin seseorang mengambil tempatmu?”
“Aku sudah meminta maaf, dan aku akan berusaha menghindar agar hal buruk tidak terjadi lagi. jadi tidak perlu membahas hal ini lebih jauh” Lady Inha tak terima ketika mendengar Cambria yang seolah membangkang dan memerintah dirinya.
“Kau pikir siapa kau ini berani memerintah ratu sepertiku. Kau hanya ratu muda yang mandul” Hazal yang menyadari jika suasana makin memanas kemudian muncul di tengah mereka.
“Sudah cukup membahas masalah ini,” semua orang menunduk hormat padanya, lalu kembali menegakkan tubuh. “Para pelayan kalian boleh pergi!” pelayan-pelayan itu membubarkan diri dan menyisakan Lady Inha, Cambria dan Hazal di sana.
“Tidak ada kabar buruk menyebar di masyarakat, jadi tidak perlu membahas ini. Aku sudah muak dengan semua masalah di luar istana, aku tidak mau ada masalah di tempat ini juga” Lady Inha juga tak suka Hazal yang seolah membela Cambria.
“Tapi?”
“Sudah cukup!” tegasnya lalu dari sana, sedangkan Cambria yang melihatnya sedikit bingung. Belum pernah sekalipun ia melihat Hazal membelanya seperti itu.
**
Cambria dengan dikawal beberapa orang pelayan melintas lorong istana sambil membawa sebuah busur dan beberapa anak panah yang ditenteng di punggungnya. Pagi itu pakaiannya nampak santai dengan hanya mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih yang senada dengan pakaian yang ia kenakan, sementara rambutnya yang bergelombang diikiat ekor kuda hingga lehernya yang jenjang nampak menonjol.
Ia berjalan melewati beberapa lorong di dalam istana yang besar namun sunyi menuju halaman belakang di mana arena olahraga memanah disedikan di sana sebagai salah satu fasilitas untuk para keluarga kerajaan yang ingin melakukan kegiatan di luar istana.
Tiba di bagian belakang halaman istana yang berdekatan sebuah danau, tampak area memanah yang sudah dipersipakan di mana beberapa papan sasaran telah berdiri dalam jarak beberepa meter. Sejumlah staf istana yang bergutas mengawas di sana segera bergerak sigap ketika melihat Cambria muncul.
“Selamat pagi Yang Mulia, apakah Anda akan memainkannya seperti biasa?” Cambria mengangguk lalu memegang tegas busur panah di tangannya. Beberapa staf pengwasa mulai menyebar untuk mengawasi latihan sang ratu.
Cambria mengatur posisi tubuhnya. Ia memegang busur di tangannya dan menggerak-gerakkan tali busurnya beberapa kali sebelum dengan yakin ia mengambil anak panah dibalik punggungnya.
Mata hijau Cambria menajam dan terfokus hanya pada satu titik merah di antara bulatan lingkaran yang berada beberapa meter darinya. Angin pagi berdesik beberapa kali menerbangkan helaian rambut gelapnya yang indah. Tepat ketika angin berhenti, ia melepaskan anak panahnya tepat ke sasaran hingga seorang pria berteriak lantang menyebut nilai hampir sempurna yang didapatkan Cambria. Namun wajahnya tak begitu senang, karena angka itu masih agak jauh dari yang ia harapkan.
Hazal yang kebetulan melintas bersama Algi di sana melihat ke arah Cambria yang sedang begitu tenggelam dalam kegiatan memanahnya. Wajah Hazal tampak tertarik lalu sebuah ide melintas dalam benaknya yang kamudian ia sampaikan pada Algi lewat sebuah pertanyaan.
“Menurutmu siapa orang yang bisa mengalahkan ratu dalam permainan memanah?” Algi yang berjalan di belakang Hazal nampak melihat ke arah Cambria berada sambil mengamati papan sasaran tempat anak panahnya bertengger.
“Saya rasa tidak ada yang sebaik ratu, Yang Mulia” Hazal tersenyum lebar sambil mengangguk.
“Kau benar” ucapnya kemudian menghentikan langkahnya.
Lelaki berambut cokelat dengan hidung tinggi dan bibir penuh itu menuju ke samping tempat Cambria berada. Algi yang tak mengerti maksud dan tujuan Hazal kesana hanya mengikut di belakang diikuti beberapa pelayan lainnya dengan langkah tergesa.
“Tidak sebaik biasanya” Cambria berpaling tepat ke arah Hazal dengan sedikit heran. Tak biasanya lelaki itu akan menegurnya lebih dulu.
“Sudah lama aku tidak berlatih, mau mencoba?” tawar Cambria sambil menyodorkan busur dan anak panahnya. Hazal kedua benda itu dan berdiri dengan tubuh tegap dan sigap ke arah sasaran. Selama beberapa detik ia nampak serius melihat ke arah sasaran dan kemudian satu tarikan anak panah ia lempar menuju sasaran yang melesat agak jauh dari titik pusat. Seorang staf di sana berteriak menybut nilai di bawah 30 yang didapat Hazal dan hanya membuat lelaki itu tersenyum simpul.
“Sudah lama aku tidak berlatih” gumamnya dengan nada lirih.
“Setidaknya tidak meluncur jauh dari sasaran” Hazal menyerahkan lagi busur itu pada Cambria
.
“Terima kasih untuk bantuanmu semalam” kata Cambria yang membuat Hazal hanya tertawa sinis.
“Aku tidak mau membelamu, tidak ada untungnya bagiku” Cambria terdiam mendengar penolakan Hazal seperti biasa.
Lelaki itu kemudian menawarkan sesuatu yang tadinya terlintas dalam pikirannya.
“Minggu depan akan ada lomba memanah yang dilakukan di stadium memanah pusat kota. Bagaimana kalau saat itu kita ikut bertanding dan bertaruh” mendengar penawaran Hazal, Cambria berpaling, sedikit terkejut dan bingung.
“Bertaruh, apa yang akan ingin kau pertaruhkan?”
Wajah Hazal menjorok pada Cambria, “Tentang petisi itu. Jika aku menang maka kau tidak boleh menghalangi petisi itu, tapi kalau kau menang maka aku akan membungkam semua pejabat dan kau boleh memilikiku. Bagaimana?” tawaran Hazal cukup menarik bagi Cambria, meski ia masih nampak ragu menjawab.
“Kau tau kau akan kalah” sahut gadis bermata hijau itu kemudian. Hazal tersenyum membenarkan.
“Karena itu aku menawarkan hal ini padamu. Apa kau setuju dan menerima hal ini?”
Setelah diam sambil menimbang, Cambria menyahut hati-hati, “Aku akan memikirkannya dulu”
“Setelah aku pergi dari sini tidak akan ada lagi penawaran berikutnya. Kau paham maksudku?” ujar Hazal dengan menyayangkan sambil mengamati keraguan di wajah Cambria untuk memancing perempuan itu.
Jemari Cambria mencengkram busur panah di tangannya. Ia lalu mendongak menatap Hazal sambil menerima tawaran pria itu. Baginya tak ada lagi kesempatan untuk melakukan tawar menawar, apa lagi permainan yang dimainkan dan ditawarkan Hazal merupakan bagian dari keahliannya.
“Aku akan merima tawaranmu dan aku akan memenangkan taruhan ini” Hazal tersenyum sumringah mendengar keyakinan yang meluncur dari bibir Cambria.
“Aku yakin kau bisa” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan tempat perempuan itu berada yang diam-diam berbalik mengamatinya.
Selama beberapa saat terlintas keheranan di benaknya, melihat Hazal yang seolah memudahkan jalan untuknya.