Arez bertandang menuju kediaman Cambria. Tak seperti biasanya anak perempuannya yang biasanya tampak selalu murung itu kini menyambut dengan senyum sumringah penuh rona bahagia. Segelas minuman hangat disajikan gadis itu sambil menunggunya datang.
"Ayah" sambut Cambria dengan nada riang sambil meraih jemari Arez lalu menyilahkannya duduk di sampingnya. Melihat kebahagiaan di wajah anak perempuannya membutnya ikut merasa senang, meski tak bisa menampik adanya rasa ingin tau dalam benaknya.
"Sepertinya ada hal yang membuat Anda senang?" Cambria mengangguk.
"Ya, apa kau tau kalau Yang Mulia baru saja menawarkan sesuatu untukku?" senyum di wajah Arez sedikit mengambang. Ia memperbaiki letak kacamatanya sebentar, menunggu dengan cemas maksud ucapan gadis itu.
"Apa yang ditawarkan Yang Mulia pada Anda?" Cambria tersenyum lebar. Matanya bersinar dengan amat terang.
"Yang Mulia berkata kalau dia ingin bertatuh memanah denganku, tapi bukan hanya itu Ayah. Jika aku memenangkan taruhan itu, Yang Mulia berjanji akan membiarkan aku untuk melahirkan keturunan untuknya. Bukankah itu hal yang bagus?" bibir Arez mengatup rapat. Ekspresinya berubah datar, hingga Cambria tampak cemas dan memegang jemari Arez sedikit lebih kuat.
"Ada apa Ayah?" Arez membuang napas kemudian mengangguk, ia tak sesenang itu mendengar perjanjian itu.
"Lalu, jika sebaliknya jika Anda kalah apa yang akan terjadi?" Cambria berdecak, sedikit tanpa tenaga.
"Dia ingin aku menerima petisi itu dan mengizinkan perempuan yang akan jadi selirnya masuk istana," Cambria termenung lalu sedetik kemudian ia menampakkan senyum penuh percaya diri untuk menghilangkan kecemasan di wajah Arez, "tapi jangan cemas Ayah. Semua orang sudah tau kalau di seluruh negeri ini tidak ada yang cukup baik dalam olahraga memanah sepertiku. Aku yakin Yang Mulia juga tau, dan aku rasa dia agak gegabah dalam mengambil keputusan" Ares membuang napas. Ia mengangguk dengan sebaris senyum yang sedikit dipaksakan. Cambria yang tersadar dengan apa yang sedang dipikirkan Ayahnya mencoba membuatnya merasa tenang. "Jangan khawatir Ayah, jika aku menang maka tidak ada lagi yang perlu kita cemaskan. Istana akan menjadi milik kita dan Ayah bisa melepaskan jabatan Ayah sebagai perdana menteri. Aku tau alasan kenapa Ayah masih bertahan sekalipun sudah merasa lelah adalah karena aku 'kan?"
Dengan sinar mata sendu, Ares menatap mata hijau Cambria yang bersinar. Pria itu membelai rambut gelap puterinya dengan lembut.
"Saya harap semua keinginan Anda akan terwujud Yang Mulia" Cambria mengangguk dan memberikan tatapan sayang pada Ayahnya sambil memegang tangannya dengan lekat.
Tak seperti pagi biasanya, Hazal sedang begitu sibuk di halaman belakang istana dengan banyak anak panah yang bertebaran di atas rumput hijau tempat kakinya berdiri. Tak sendiri, nampak Algi menemaninya sejak tadi dan mengawasi pria itu yang masih saja gagal menancapkan anak panahnya pada titik tengah sasarannya yang berada beberapa meter jauhnya.
Setelah beberapa jam berlatih ditemani matahari yang mulai meninggi, Hazal meletakkan busurnya dan berjalan meraih minuman yang diantarkan seorang dayang padanya. Algi yang sejak tadi diam dan hanya sibuk jadi pengamat, akhirnya mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Sudah lama Anda tidak berlatih" Hazal bergumam. Pria berambut cokelat dengan mata abu-abu itu mendesah puas setelah menenggak satu botol air yang ia kembalikan pada pelayan tadi, sambil meraih sebuah handuk kecil dari nampan keemasan yang dibawa pelayannya.
"Ya, sudah cukup lama dan kelihatannya hasil ini tidak begitu mengecewakan. Aku jadi merasa ada hal yang membuatku harus berusaha memenangkannya lagi" ia menatap Algi dengan seringai tipis.
"Ada yang ingin Anda menangkan?" tanya pria berkacamata yang pandangannya lebih tertuju ke bawah kakinya. Hazal mendesah lalu tertawa lebar, kemudian menyuruh pelayan itu pergi.
"Aku bertaruh dengan ratu. Kalau aku menang maka petisi itu akan terwujud, tapi kalau aku kalah aku akan melakukan keinginannya" Algi sedikit heran meski ekspresi itu tak terlintas jelas di raut wajahnya.
"Anda tau seberapa baik ratu dalam permainan memanah. Beliau pernah mewakili negara kita dalam ajang olimpiade saat dia masih sangat muda. Lalu apa Anda yakin akan menang?" Hazal bergumam sambil menyisir rambut cokelat keemasan yang menjuntai turun di antara mata abu-abunya.
"Aku tidak tau, tapi aku akan mencoba lebih baik dari dia" setelah mengatakan hal itu, Hazal beranjak dan kembali meraih busur panahnya yang tadi ia campakkan ke atas tanah dan kembali tenggelam dalam latihannya.
Cambria melintas melewati lorong istana, dari jendela yang bertengger di sepanjang jalan yang ia lalui ia bisa melihat Hazal sedang berlatih dan hanya tersenyum tipis melihat pria itu.
Dayang Raim kemudian bertanya pada wanita di hadapannya, "Anda tidak ikut berlatih?" Cambria hanya menengok dari ujung matanya.
"Aku tidak ingin menang terlalu mudah, biarkan Yang mulia berada di atas angin" ucapnya dengan penuh percaya diri.
Langkah Cambria terhenti di depan sebuah mobil BMW hitam yang telah menunggunya sejak tadi. Seorang pengawal bersetelan jas hitam dengan membawa senjata yang terselip dibalik jasnya membukakan pintu dan menyilahkannya masuk. Cambria merangsek masuk ke dalam bersama dayang Raim yang duduk di belakang. Sedangkan pria pengawalnya tadi duduk di depan.
"Kita pergi sekarang Yang Mulia?" tanya pelayan itu. Cambria menangguk.
"Kita harus singgah dan membeli sebuah bunga di jalan nanti" dayang Raim menangangguk dan mobil itu pun berangkat tanpa ada pengawalan apa pun mengikutinya, hal yang tidak biasanya terjadi ketika seorang anggota keluarga kerajaan meninggalkan istana tanpa ada iring-iringan pengawalan.
Lady Inha yang melihat kepergian Cambria dari jendela hanya tersenyum lega dan membuang napas pendek. Seorang pelayan di belakangnya nampak sedikit penasaran dengan apa yang dilihat perempuan tua itu hingga membuatnya tersenyum. Senyum yang telah jarang terlihat sejak terakhir kali dia menerima kekalahan karena gagal mendudukan puteranya ditampuk kekuasaan tertinggi negara Brusel.
"Apa ada yang membuat Anda tersenyum Yang mulia?" Lady Inha berpaling dengan mata cokelatnya yang masih begitu awas di usia senjanya itu.
"Aku selalu menunggu kesempatan di mana aku bisa mengusir Cambria dan menurunkan kaisar yang sekarang bertahta dengan keturunanku. Kepergian Agra setelah kudeta itu sangat menyakiti perasaanku. Sekarang aku tidak tau di mana anakku itu berada karena semua akses komunikasi semuanya dibatasi Hazal. Anak kurang ajar itu mengawasiku dengan ketat, sekalipun dari luar dia tidak tampak terlalu tertarik pada perempuan tua sepertiku" Lady Inha berpaling, pelayang wanita berumur 30 tahunan di belakangnya hanya bisa menunduk.
"Yang mulia belum memberikan balasan pada petisi kita" Lady Inha beranjak ke sebuah kursi di dekat tempat tidurnya sambil membelai rambut putihnya yang diikat dengan rapi.
"Sekarang kekuasaan lebih berat pada fraksi barat. Beberapa kelompok masyarakat yang mengerti politik tersadar dengan posisi ini dan melihat tumpang tindihnya pemerintahan. Kalau Hazal masih belum bisa mengambil keputusan, itu semua karena dia berhadapan dengan pendukungnya sendiri. Bagaimana pun, fraksi barat sudah memberikan dukungan dan sokongan besar pada semua program yang dia jalankan dalam negeri. Seorang kaisar tidak akan bisa berdiri sendiri dalam pemerintahan, mereka butuh menteri dan dukungan rakyat kerena itu kedua fraksi sama-sama duduk untuk mendukung raja, bukan hanya semata untuknya sebagai pemimpin dan rakyat sebagai penguasa negara, tapi untuk kita dalam mempertahankan kekuasaan keturunan kita selanjutnya"
**
Mobil yang dinaiki Cambria berhenti di sebuah jalan memanjang yang sepi dengan pemandangan laut yang berada di sisi kanan sementara di sisi kirinya terhampar pemandangan bukit hijau dan hutan yang tak begitu rimbun namun tampak begitu hijau. Cambria turun didampingi dayang Raim yang menenteng sebuah buket bunga carnison menuju ke sebuah pinggir tebing dengan angin kencang yang berhembus membelai rambut gelapnya dan membuainya dalam ketenangan sekaligus kenangan akan masa lalunya di tempat yang sama.
Langkah Cambria berhenti di dekat sebuah batu besar berwarna cokelat di atas tebing tinggi nan curam dengan dentuman ombak keras yang menghantam batu-batu maupun karang di bawah tempatnya berada. Cambria merenung, melihat kejauhan laut biru yang bergolak dengan beberapa kapal yang nampak dikejauhan. Wanita itu bergumam dan mulai berbicara dengan nada lirih.
"Sudah enam tahun sejak kecelakaan itu terjadi di sini, benar 'kan Hana?" Cambria menghentikan ucapannya sambil mengenang kejadian di malam itu, di mana sebuah mobil mercedes berwarna hitam meloncat dari jurang lalu terjun bebas ke arah karang. Ia berhasil menyelaamatkan diri karena melompat keluar sedangkan seorang lagi perempuan dalam mobil itu jatuh ke dalam air yang dingin. "Aku tidak pernah merasa bersalah karena aku tidak membunuhmu, kau mati karena kehendakmu sendiri. Kau ingin menyelamatkan orangtuamu dan aku melakukan hal itu untukmu, karena kau tau kalau aku lebih berkuasa darimu. Semua itu bukan salahku, sama sekali tidak. Kau mati karena keinginanmu dan seperti itu caraku meyakinkan diri selama bertahun-tahun lamanya. Sekarang setelah lama kau pergi, akhirnya Hazal bersedia melihatku dan memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama di sisinya. Jangan bersedih, sejak awal dia memang miliku, kaulah yang muncul dan mengambilnya dariku" Cambria mengambil bunga dari tangan dayang Raim. Ia menatap bunga berwarna putih itu beberapa saat sebelum kemudian ia jatuhkan ke dalam lautan yang bergolak dengan bunyi ombak menghentak berulang kali dalam keheningan.
Setelah selesai dengan urusannya di luar, Cambria kembali ke istana. Ketika baru saja masuk dalam kamarnya ia melihat sebuah kotak berwarna merah muda dikemas cantik dengan sebuah pita yang tersimpul rapi dan indah terletak tepat di tengah meja ruang duduknya.
Kening Cambria mengernyit, sedikit heran tidak tau siapa yang meletakan kotak manis itu disana. Dengan penasaran, ia membuka kotak kecil tersebut dan menemukan sebuah USB sebagai hadiah. Rasa penasarannya makin menjadi, ia beranjak beberapa langkah menuju meja komputer di samping pintu. Ia menyalakan dan mulai melihat data apa yang terdapat dalam USB yang ia temukan tanpa rasa curiga sama sekali.
Seluruh tubuhnya mulai berkeringat dingin, matanya membelalak seolah akan melonjak melihat rekaman vidio dirinya dan Hana sebelum kecelakaan itu terjadi beberapa tahun lalu.
Dalam rekaman yang mulai berjalan beberapa detik itu, ia dan Hana mengobrol di dalam mobil yang sedang melaju. Hana sementara menyetir, sedangkan Cambria duduk tepat disampingnya.
"Kau meminta bantuanku untuk menyelamatkan keluargamu?" buka Cambria dalam rekaman itu lebih dulu.
"Benar. Aku tau ini bukan kesalahan Ayahku, dan aku pikir kau dan Ayahmu terlibat dalam hal ini. Kalian menjebak Ayahku agar dia seperti terlibat dalam korupsi yang dilakukan saat membangun jembatan Green. Kau tau hukum di negara ini akan menembak mati siapa pun yang terlibat dalam kasus korupsi. Katakan padaku kenapa kau lakukan hal itu pada Ayahku? Apa salahnya pada kalian berdua"
Cambria berpaling dengan wajah dingin ke arah jendela, "Ayahmu tidak bersalah sama sekali, ini semua karena dirimu!"
"Aku?" ucap gadis berambut hitam itu padanya.
"Benar, kau mengambil Hazal dariku" dengan wajah murung, Hana menampik mentah-mentah tuduhan Cambria.
"Aku tidak pernah mengambil siapa pun darimu, itu semua karena dirimu sendiri yang tidak pernah berani mengatakan perasaanmu padanya"
Wajah Cambria memerah karena amarah, "Aku sudah menceritakan padamu perasaanku padanya, tapi bagaimana bisa kau menerima cintanya begitu saja? Apa kau menginginkan dia untuk mengubah kedudukanmu yang rendah. Sampai kapan pun kau sendiri tidak akan duduk sebagai ratu negara ini karena di wajahmu akan selalu terlihat stempel bahwa kalian berdua hanya pelayanku. Pelayan!" bentak Cambria seenaknya, membuat Hana geram mengigit bibirnya.
"Jadi kau tidak akan menyelamatkan Ayahku sekalipun aku memintanya Afreen?"
Cambria berpaling dengan seringai tipis, "Aku akan lakukan itu, tapi dengan satu syarat. Kau harus mati dan berhenti menjadi batu sandungan antara aku dan Hazal. Selama kau ada, maka dia tidak akan pernah melihatku. Ini semua adalah salahmu yang muncul di antara kami berdua" merasa tak senang dengan permintaan Cambria padanya, Hana menginjak gas dan membuat mobil itu melaju lebih cepat di tengah malam sunyi menembus wilayah lengang area pinggir laut Kota Brusel yang minim penerangan.
"Bagaimana kalau kita mati bersama dan semua masalah ini berakhir. Aku tidak perlu melihat kematian Ayahku dan kau tidak perlu terluka melihatku bersama Hazal"
Keringat dingin memenuhi kening Cambria melihat mobil yang mereka naiki melaju makin kencang di tengah malam buta di atas jalan yang rusak, terbalut gelap tanpa penerangan sama sekali.
"Apa yang kau lakukan Hana. Apa kau sudah gila?" bentaknya sambil melihat ke arah gadis itu, Namun Hana tak acuh, yang terlihat di wajahnya hanya keyakinan sekaligus amarah hingga dengan nekad ia tetap melajukan mobil tersebut makin kencang tak peduli apa yang akan terjadi nanti di depan mereka. "Jika kau mau mati, mati saja sendiri dan jangan membawaku denganmu. Apa kau bodoh?" pekiknya, namun sekali lagi gadis berambut panjang itu tetap tak peduli dan makin menaikan kecepatan mobil yang kadang kala begoyang dengan keras, nyaris kehilangan keseimbangan ketika melewati jalan berlubang .
Merasa sia-sia meminta Hana berhenti, Cambria berusaha meraih setir mobil untuk menurunkan kecepatan, namun Hana mendorong tubuh Cambria menjauh beberapa kali, hingga terjadi perebutan di antara mereka sampai mobil berjalan zigzag ditengah jalan dan tanpa mereka sadari, mobil mulai keluar dari jalan dan terus melaju kencang, menabrak semak blukar lalu menuju ke pinggir tebing. Lampu penerang menyorot ke arah bebatuan tajam yang menghantam mobil mereka dengan keras, Cambria yang tau tidak akan bisa menghentikan Hana memutuskan untuk membuka sabuk pengamannya dan membuka kunci pintu lalu meloncat keluar hingga tubuhnya menghantam batuan tebing dan tanah kasar yang hampir mendekati pinggir jurang. Hana yang tak bisa meloloskan diri jatuh ke dalam lautan bersama mobil yang ia naiki.
Cambria berdiri dari duduknya dengan tangan bergetar kemudian menginjak USB itu beberapa kali. Masih tak puas ia mencoba memecahkannya dengan meletakkan USB itu di bawah kursi dan menginjakinya dengan keras menggunakan semua kekuatan yang ia punya dan berteriak dengan nada muak, membuat pelayannya muncul dari balik pintu dengan tergesa-gesa dan wajah yang menegang.
"Ada apa Yang mulia?" Cambria mengangkat wajahnya pada pelayan Raim lalu berteriak dengan nada tinggi bercamput mimik wajah takut.
"Siapa, siapa yang meletakkan kotak merah muda itu di sini?" tunjuknya ke arah meja di mana kotak USB itu berada. Raim yang mengikuti kepergian Cambria tadi menggeleng tidak tau. Cambria tidak puas dengan jawaban itu meminta agar semua pelayannya diintrogasi langsung olehnya hari itu juga.
Ada dua puluh orang pelayan wanita dalam ruangannya yang dijejerkan rapi, sementara Cambria nampak jalang mengamati mereka dari arah tempat tidur. Ia berdiri kemudian menatap wajah pera pelayan itu satu persatu sambil menunjukkan kotak merah muda di depan para pelayannya.
"Siapa di antara kalian yang meletakan kotak ini dalam kamarku dan siapa yang menyuruh kalian?" bentaknya pada para pelayan yang hanya diam dan saling melirik satu sama lain tanpa tau siapa yang meletakkan benda itu di sana. Cambria tampak bersabar mencoba menunggu, namun tak ada yang buka mulut. "Kalau tidak ada dari kalian mengaku, maka aku akan memberikan hukuman pada kalian. Apa kalian dengar?"
Mendengar ancaman dari Cambria yang tak main-main semua pelayan makin resah. Mereka saling melirik tapi masih tak ada yang mengaku dan merasa meletakan benda itu di sana. "Aku tau pasti ada yang tau kalau sampai ada orang lain masuk dalam kamarku karena kalian bergantian berjaga di depan pintu, jadi bagaimana bisa tak ada seorang pun dari kalian masuk dalam kamar ini?" bentaknya lagi dengan keras.
Seorang pelayan kemudian memberanikan diri berbicara setelah didesak dua pelayan lain di saampingnya.
"Saya ... saya tidak melihat ada orang lain masuk”
“Mana mungkin tidak ada seorang pun masuk ke mari!” ia membentak dengan nada tinggi, tapi semua pelayan hanya bisa terdiam.
Wanita berambut gelap dengan mata hijau terang itu kemudian jatuh ke atas tempat tidur dengan tubuh seolah tanpa tenaga. Melihat hal itu, pelayan-pelayannya nampak cemas mencoba mendekatinya. "Kalian bisa pergi sekarang, aku ingin sendiri" mendengar perintah demikian para pelayan membubarkan diri, meninggalkan Cambria seorang diri.
Setelah diam cukup lama dalam kamar sambil berpikir, sebuah ketukan dari pintu membuat lamunannya berakhir. Dayang Raim muncul dengan membawa segelas air yang kemudian ia letakkan di depan Cambria. Dengan sedikit penasaran, setelah melihat Cambria cukup tenang, Raim mencoba bertanya dengan hati-hati.
"Apa terjadi sesuatu Yang mulia?" Cambria mengangguk dengan wajah frustasi dan mata berkaca-kaca tanpa harapan.
"Ada seseorang yang tau apa yang terjadi ketika malam sebelum Hana jatuh bersama mobilnya ke dalam laut. Seorang pelayan dari kamar cuci masuk dan meletakkan USB berisi rekamanku dengan Hana. Aku bahkan tidak tau kalau Hana merekamnya" wajah Raim menunjukan kecemasan yang sama dengan Cambria.
"Apa menurut anda orang itu merupakan anggota keluarga dalam?" mata hijau Cambria mendongak pada Raim bersama bulir air matanya yang jatuh perlahan.
"Aku tidak yakin begitu. Kalau bukti itu ada di tangan Yang mulia atau Lady Inha aku pasti sudah diusir dari sini. Mereka sama sekali tidak mau aku ada dalam istana"
"Jadi ada orang lain?" tangan Cambria bergetar ketakutan ketika membayangkan apa yang ada dalam pikirannya. Sebuah ide liar mengenai kemungkinan yang membuat bulu kuduknya bergidik.
"Yang tau apa yang terjadi malam itu hanya aku dan Hana. Aku selamat, tapi Hana meninggal dan jasadnya tidak ditemukan selama bertahun-tahun sekalipun mobil yang membawanya sudah diangkat dari dalam laut. Jika bukan aku ...," Cambria menahan napas, dengan nada sedikit gentar dia melanjutkan ucapannya yang terhenti dengan nada nyaris berbisik, "itu adalah Hana" dayang Raim menelan ludah, nampak ketakutan mendengarkan jawaban Cambria. "Kenapa hal ini terjadi ketika aku mendapat kesempatan untuk bisa mendapatkan Hazal. Kenapa?" gumamnya dengan nada lirih dan kesedihan yang terdengar jelas dari nada suaranya yang bergetar.