Bab 5

3342 Words
Sebuah gelanggang besar bernuansa putih dengan deret kursi memanjang berbentuk anak tangga penuh akan penonton sedang menenteng miniatur bendera Brusel di tangan mereka yang digoyangkan penuh semangat ke udara, diselingi teriakan menyemangati para atlet dengan penuh semangat, sambil berpaling ke arah pintu masuk gelanggang yang terbuat dari dua buah kaca tebal dengan beberapa penjaga di ujung pintu. Di tengah lapangan telah ditata apik segala pernak-pernik lomba memanah yang akan berlangsung sebenatar lagi. Namun persiapan masih belum cukup hingga beberapa orang juri, maupun staff pengawas sibuk lalu lalang disekitar tempat lomba. Dua puluh buah papan sasaran diletakkan dalam jarak 70 meter jauhnya ke depan. Sementara di sisi kanan dan kiri, berbaris kursi-kursi bagi para atlet maupun staff yang sedang mempersiapkan perlengkapan busur dan panah mereka masing-masing. Suara berdenging timbul dari pengeras suara di sudut atas tembok. Kamera wartawan mulai dinyalakan dan menyoroti gelanggang. Seorang pria pembawa acara masuk ke dalam gelanggang karena sebentar lagi pertandingan akan dilangsungkan setelah peresmian dari kaisar. Pintu masuk terbuka, berhamburan pengawal resmi istana yang mengenakan tanda pengenal dan pin resmi kerajaan dalam balutan jas hitam yang juga dilengkapi peralatan pengamanan. Mereka berhamburan ke masing-masing sudut gelanggang besar sambil menunggu iringan kaisar masuk ke dalam ruangan. Beberapa menit setelahnya Algi melintas masuk, diikuti Hazal yang berjalan beriringan bersama Cambria. Suara tepuk tangan tiba-tiba pecah dan penonotn berdiri dari duduk mereka. Hazal membalas dengan melambaikan tangan pada para rakyatnya yang begitu antusias melihatnya siang itu. Pembawa acara mulai menyalakan mik, dan kamera mulai tersambung ke stasiun televisi nasional dan menyiarkan apa yang terjadi di tempat itu. Suara tepuk tangan masih tak berhenti, sampai pembawa acara mulai mencoba mengalihkan perhatian para penonton. "Dengan segela hormat, kami ucapkan selamat datang pada King Hazal dan Ratu Cambria, yang akan membuka lomba memanah tingkat nasional ini secara resmi" suara tepuk tangan menggema lagi, lalu perlahan mereda dan para penonton duduk kembali di kursi mereka masing-masing. Hazal berjalan menuju ke tempat pembawa acara tadi berada dan berdiri di atas panggung yang tepat berada di tengah tengah arena memanah, sementara Cambria yang hari itu nampak dalam balutan pakaian sederhana sebatas menunggu di pinggir panggung sambil mengamati lelaki karismatik dengan rambut cokelat berkilau yang disisir rapi ke belakang dan mempertegas rahang kotaknya yang dihias senyum menawan dari bibirnya yang merah muda berisi. "Hari ini turnamen memanah nasional akan dibuka secara resmi untuk seminggu ke depan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dari turnamen ini kita akan menemukan bibit-bibit baru yang akan membawa harum nama Brusel. Negara yang tidak pernah keluar dari sepuluh besar negara peraih medali emas terbanyak dalam petandingan antar negara, dan salah satu penyumbang terbesar tentu saja adalah dari cabang memanah. Seperti biasa, tiga nomor akan dimainkan hari ini, tradisional, nasional dan internasional akan dilombakan dalam jarak antara 30, 50, 70, sampai 90 meter. Aku akan membuka acara ini secara resmi setelah lagu kebangsaan kita, Glory For Brusel berkumandang" musik dimainkan, para tamu yang hadir berdiri dengan khitmat sambil meletakan tangan mereka di d**a penuh akan rasa bangga sambil menyanyikan bait demi bait lagu itu dalam ruangan. Selang satu menit, musik berhenti. Tepuk tangan menggema sesaat dan pengunjung duduk kembali. Hazal melanjutkan pidato pembukanya. "Acara akan dimulai setelah aku menancapkan anak panah ke salah satu sasaran, dan bukan hanya aku, karena ratuku yang juga pernah tergabung dalam salah satu kelompok memanah yang membanggakan Brusel juga akan melakukan tradisi yang sama. Salah satu bentuk penghargaanku padanya" Hazal berpaling dengan senyum pada Cambria, gadis itu telah mengerti isyarat yang diberikan padanya. Lomba mereka pun akan dimulai sebentar lagi. Gadis berambut hitam bergelombang itu hanya terpaku sebentar kemudian memandang ke arah para hadirin yang bertepuk tangan padanya dengan sebaris senyum ramah sambil melambaikan tangan dan menyembunyikan sikap gugup yang memenuhi batinnya kala itu. Hazal turun dari tempatnya berpidato. Ia beranjak melalui tubuh Cambria dan berbicara sambil lalu. "Lomba kita akan dimulai, satu panah, satu kesempatan" ucapnya begitu saja kemudian berdiri di salah satu titik tempat sasaran berada dan salah seorang staf muncul dengan membawa sebuah busur dan anak panah dari bambu untuknya. Tanpa segan ia meraihnya lalu menyetel kelenturan busurnya hingga merasa cukup nyaman untuk digunakan. Setelah yakin dan penuh percaya diri yang kuat dan tercermin jelas di mata abu-abunya yang tajam, ia berdiri dengan begitu terfokus hingga alis cokelatnya yang tebal melengkung searah arah pandangannya yang tak tergoyahkan. Semua orang dalam ruangan menahan napas selama lima detik seiring dengan satu tarikan busurnya yang meluncur bersama panah yang menerjang udara lalu bertengger tepat di titik sasaran. "Sembilan" teriak seorang pria yang kemudian disambut tepuk tangan riuh. Hazal tersenyum penuh rasa bangga pada hasil yang ia dapat setelah berlatih dengan begitu keras selama seminggu lamanya. Ia mengulurkan benda itu kepada salah satu staf dan beranjak menuju ke tempat Cambria berada. Ia tersenyum pada wanita itu lalu berbisik pelan padanya. "Dapatkan hasil yang lebih baik" lirihnya lirih. Cambria terpaku menatap Hazal, rasa terkejut sekaligus tak percaya nampak jelas di wajahnya. "Kau melakukannya dengan baik, Yang Mulia" pria dengan wajah tampan itu hanya mengangguk mendengar pujian itu. Cambria berdiri di salah satu bagian tempat sasaran berada. Ia melihat ke arah penonton dengan waspada sambil mengamati semua orang yang melihatnya dengan penuh antusias. Tangannya berkeringat dingin, cemas sekaligus gugup. Sudah lama ia ta berada di tengah sebuah acara besar dan penonton yang banyak mengamati dirinya. Ia sudah terlalu asing pada segala keramaian pikirnya. Seorang staf pria memberinya busur dan anak panah. Cambria mengangguk dan meraihnya dengan wajah ragu, suara riuh dan tepuk tangan telah menutup telinganya hingga ia lupa menyetel kelenturan busurnya dan segera memalingkan pandangan pada arah sasaran yang berada dalam jarak 70 meter jauhnya dari tempat ia berada. Cambria menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sambil melihat ke arah sasaran. Saat mencoba meletakan panah ke busurnya, anak panah di tangannya jatuh ke atas lantai. Gadis berwajah oval dengan alis yang tergambar rapi dan rambut hitam itu menelan ludah. Ketika hendak memungutnya, seorang staf memanggilnya dan mengulurkan sebuah anak panah pengganti. Dari jauh, Hazal bisa melihat tangan Cambria yang bergetar. Suatu hal yang menandakan ketakutannya. "Silakan gunakan yang baru Yang Mulia" Cambria berpaling ke belakang dengan wajah yang memasang senyum sedikit dipaksakan. Hazal masih terus menikmati sikap gugup yang jelas tampak di wajah Cambria. Gadis bergaun putih setinggi lutut itu melihat ke arah sasaran. Ia tampak begitu terfokus, dengan keringat dingin memenuhi keningnya. Cambria teringat jika panah itu adalah satu-satunya kesempatannya mengubah hidupnya. Jika ia gagal maka hidupnya juga berakhir dan hal itu membuatnya begitu tertekan, padahal sebelumnya ia telah menyiapkan diri dan telah melakukan yang terbaik dalam cabang itu selama bertahun-tahun. Namun hari ini lain, hari ini ia tak memperjuangkan negara, namun hidupnya. Detik demi detik berlalu namun Cambria masih belum berani melepaskan anak panahnya. Semua orang diam, menatap ke arahnya membuat Cambria makin cemas. Ia menutup matanya sesekali dan menarik napasnya berulang kali sambil menenangkan debaran jantungnya. Ia meyakinkan diri akan mampu melakukan hal itu dan mengalahkan Hazal hingga setelah menunggu beberapa lama ia menemukan keberanian untuk melepas anak panah itu ke arah sasaran. Suara mik tiba-tiba jatuh, berdenging memecah konsentrasinya hingga ia teringat kembali pada rekaman yang ia temukan seminggu lalu di dalam kamarnya dan hingga detik ini masih belum bisa ia ketahui siapa pelakunya. Pikirannya berkecamuk hingga tangan Cambria berekeringat dingin, lalu tanpa sadar melepaskan anak panah itu menuju sasaran yang bahkan belum ia siapkan untuk ditenggerkan ke sana. Anak panah itu meluncur bebas di udara tanpa tujuan dan berakhir sia-sia jatuh ke lantai. Cambria kaku seperti patung sedangkan semua orang diam setelah menunggunya melakukan hal yang luar biasa seperti yang pernah ia lakukan dan membuat bangga nama Brusel. Hazal yang memang telah menunggu kesempatan itu bertepuk tangan memecah sunyi, dan memberi senyum merayakan kekalahan Cambria ketika wanita itu berpaling. Lelaki berbadan tegap tersebut mengangkat bahu lebarnya dengan antusias menikmati kekalahan Cambria. Pembawa acara yang berada di sana pun ikut bertepuk tangan dan semua orang mengikut membuat suasana gaduh penuh dalam ruangan. Dengan langkah terhuyung, masih tak percaya, Cambria berjalan ke sisi Hazal. "Kau sudah berusaha" kata Hazal tak melepas senyum puas di wajahnya. "Beri tepuk tangan penghormatan untuk ratu" ucap pembawa acara itu dengan nada lantang pada semua orang untuk menghilangkan kesedihan di wajah Cambria. Ketika tiba kembali ke kediamannya setelah menunjukkan wajah tenang sepanjang perjalanan hingga tiba kembali ke istana, Cambria akhirnya meledakkan kemarahan, kebencian dan kekecewaan pada dirinya sendiri. Ia berteriak dengan keras, lantang dan mulai kembali melemparkan semua barang yang ada disekitarnya untuk menghilangkan rasa frustasi dalam beaknya. Ia berteriak dengan begitu keras penuh frustasi hingga para pelayan dibalik pintunya bergidik ketakutan mendengar kemarahan di dalam ruangan ratu, namun tak seorang pun berani mendekatinya seperti biasa. Cambria membuang lukisan, vas, buku-buku, pakaian, tas, sepatunya hingga berhamburan ke lantai dan menginjaknya berulang kali untuk menghilangkan rasa marah dalam benaknya. Namun seolah semua belum cukup ia berlari ke luar lalu berjalan menuju ke belakang istana. Para dayangnya nampak terkejut, melihat Cambria berjalan buru-buru tanpa mengenakan sepatu dan berlari di antara lorong dengan bekas air mata yang masih menggerus di pipinya. Ia berhenti ketika tiba di belakang istana, tempat berlatih memanahnya dan mulai mengambil busur serta anak panah yang ia luncurkan berulang kali ke udara dengan iar mata kekecewaan tanpa henti memenuhi pipinya. Ia terisak, namun tak bisa menghentikan tangisnya. Berbeda dengan Cambria yang pulang dengan penuh amarah bergolak, Hazal terus menunjukan wajah senang penuh rasa bahagia di sepanjang jalan. Ia terpaku melihat ke arah jendela sambil menyenderkan punggung penuh ketenangan ke belakang kursi. Pintu diktetuk, ia menyahut. Algi muncul menunduk memberi hormat. "Saya tidak tau kalau Anda sudah tiba lebih dulu?" Hazal melirik dari busur matanya dan menanggapi santai. "Harusnya kau bisa sedikit menikmati waktumu, dan jangan terlalu tegang" Algi merapikan kacamatanya, sedikit heran tak mengerti. "Apa terjadi sesuatu Yang Mulia?" Hazal bergumam lalu mengambil salah satu map di atas mejanya. Ia mendongak dan tertawa menunjukkan deret giginya yang ramping. "Kau lihat yang terjadi tadi?" Algi nampak berpikir lalu menyahut. "Kejadian di tempat pembuka acara itu?" Hazal menjentikkan jemarinya, "Benar, kau lihat aku menang?" "Ya, saya melihatnya. Anda sudah bekerja keras?" Hazal mengangguk membenarkan. "Benar sekali dan aku menang, sekarang kau bisa mengatakan pada para menteri dari fraksi barat untuk mengajukan petisi mereka secara resmi" tak tampak raut wajah senang maupun sedih di wajah Algi. Ia membatu dan tampak merenung, hal yang jarang tampak pada Algi hingga Hazal berdehem. "Ada apa?" Algi terkejut, ia segera kembali memusatkan perhatian pada Hazal. "Maafkan saya Yang Mulia" pria bermata abu-abu dengan hidung ramping itu membuang napas pendek. Tangannya menumpu ke dagunya lalu melipat kakinya. "Apa ada yang kau pikirkan? Katakanlah, aku tau pasti ada hal yang mengganggu pikiranmu?" Algi menelan ludah, sedikit ragu untuk buka suara. Hazal menajamkan tatapannya, Algi yang tampak tak enak membuatnya menunggu akhirnya menjawab. "Maafkan saya kalau ini sedikit lancang Yang Mulia, tapi ini bukan jalan yang terbaik" Hazal menyeringai, "Aku mengerti maksudmu, bagaimanapun kita semua masih ingat bagaimana pemberontakan Lady Inha dan fraksi barat memberinya dukungan mutlak. Aku tidak menghukumnya karena bagaimanapun dia adalah Ibu tiri dari Ayahku secara anumerta, dan dia bermain aman dibalik layar sehingga yang menerima hukuman hanya petinggi militer. Tapi kalau kau sadar suhu politik belakangan ini, beberapa kelompok masyarakat yang memahami peta politik kita dengan baik bisa melihat tumpang tindih kekuasaan. Fraksi timur lebih memimpin dan seperti menekan fraksi barat yang mendukung rakyat, membuat semua orang menilaiku menekan rayat dan menjalankan pemerintahan secara mutlak dan bukan secara demokratis seperti yang selalu kukatakan semenjak duduk sebagai kaisar dan membangun negara. Aku tidak ingin menunggu isu ini makin panas dan pada akhirnya, setelah berpikir makin dalam, aku harus memutuskan langkah terbaik. Seseorang harus masuk dan menguatkan posisi partai barat. Suka atau tidak ini adalah tugasku sebagai kaisar untuk menjaga kestabilan negaraku sendiri" Algi mengangguk memahami alasan sang kaisar, yang tak sepenuhnya mantap dengan keputusan itu namun tetap harus melakukan hal itu. "Kalau begitu saya akan memberitau para menteri dari fraksi barat" Hazal mengangguk. "Tapi pastikan agar kabar ini tidak terdengar keluar sampai aku mengumumkannya secara resmi" "Saya mengerti" ucap Algi sambil membungkuk hormat lalu meninggalkan tempat Hazal berada. Hujan gerimis turun, Cambria masih berdiri dengan anak panah dan busur di tangannya seperti pagi tadi dan terus memanah tanpa henti. Para pelayannya mencoba membujuk Cambria berhenti, namun wanita itu tak bergeming dan terus melakukan hal yang sama selama berjam-jam hingga jemari-jemarinya lecet, merah dan bahkan ada yang telah berdarah, tapi rasa sakit di kulitnya seolah tak mampu mengalahkan sakit dalam hati dan rasa kecewa yang memenuhi benaknya. "Yang Mulia, mohon hentikan, sekarang sudah hampir malam dan Anda masih berada di sini. Hujan akan turun makin deras Yang Mulia, bagaimana kalau sampai Anda sakit?" bujuk dayang Raim padanya dengan nada memohon, namun Cambria bergeming seolah tak mendengar siapa-siapa dan lebih terpaku pada sasaran yang berada beberapa meter jauh dari tempatnya berada. "Yang Mulia, saya mohon. Kalau sampai Anda sakit, apa yang harus saya lakukan? Saya bersedia jika Anda menghukum saya saja tapi saya mohon berisitirahatlah Yang Mulia" kata Raim kemudian berlutut di depan Cambria. Wanita dengan rambut gelap yang mulai basah itu mulai menangis tersedu. Ia menjatuhkan busur di tangannya dengan putus asa dan mulai menangis begitu kencang meski dengan tenaga yang hampir habis terkuras karena sejak tadi ia bahkan melewatkan makan siang dan terus melakukan hal yang sama berulang kali. Cambria meringkuk dalam kegelapan sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Rambuatnya masih basah, sama basahnya dengan mata hijaunya yang tak berhenti menitikan air mata, seolah kematian telah mengungkungnya tanpa ada daya sama sekali untuk melawan. Setelah cukup lama diam hingga membuat matanya bengkak karena tangisan, Cambria bediri dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan kamarnya tanpa memberitau para pelayannya yang menunggi di depan pintu hanya bisa mengejarnya dengan terburu-buru. "Yang Mulia, kemana Anda akan pergi. Apa ada yang Anda inginkan,saya akan mengambilkannya untuk Anda" kata seorang dayang muda memanggil dari belakang, namun Cambria bergeming dan terus berjalan terburu-buru menuju kamar kaisar, membuat para pelayannya makin ketakutan karena Cambria yang datang hanya mengenakan piama. Hal yang melanggar protokol istana. "Yang Mulia" panggil pelayannya dengan nada memohon membuat Cambria berpaling setelah mendengar rengekan yang membuat emosi yang masih begitu menggebu dalam hatinya meledak. "Berhenti mengikutiku, kalau kalian berani mengikutiku aku akan menghukumkalian jadi pergi!" bentaknya dengan histeris membuat lima orang pelayan terdiam ketakutan. Pintu di ruangan Hazal diketuk berulang kali dengan keras. Beberapa pelayan pria penjaga ruang kerja Hazal tak bisa melakukan apa pun karena menyentuh seorang wanita anggota keluarga kerajaan dianggap melanggar aturan protokol dan bisa membuat mereka dihukum berat. Hal itu membuat para pelayan tak bisa berbuat apa pun dan hanya bisa melihat Cambria meninju pintu berulang kali sampai Algi membukakan pintu untuknya. Pria berkacamata itu segera menundukkan pandangan ketika melihat Cambria berdiri di depan matanya. "Di mana Yang Mulia. Katakan padaku?" bentak perempuan itu dengan nada lantang. Algi menunjukkan sikap tenang dan membukakan pintu untuknya tanpa mengatakan apa pun dan meninggalkan ruangan itu. Hazal yang nampak telah menunggu amukan Cambria hanya duduk dengan tenang di depan jendela sambil mendengarkan rintik hujan dan memainkan bidak di atas papan caturnya. Ia menyadari keberadaan Cambra di hadapannya tapi bersikap seolah menganggapnya tak pernah ada sama sekali. hal yang telah jadi bagian keahliannya. "Kau berbohong padaku, sejak awal kau tau akan menang jadi kau bertaruh hal ini denganku. Kau tau aku akan kalah dan tetap melanjutkan semua ini. Apa kau tau betapa curangnya dirimu sekarang?" tuntut perempuan itu dengan nada parau, namun masih bisa berteriak kencang. Hazal masih seperti sebelumnya bersikap acuh tak acuh seperti biasa. "Aku tidak tau aku akan menang. Kaulah yang berpikir akan menang, jadi menganggap enteng tantangan ini dan tidak pernah berlatih. Kau kalah karena kau gugup dan semua itu bukan salahku" timpalnya sambil mendongakan arah pandangannya. Cambria tercekat, mencba menahan air mata yang coba meleleh lagi di mata bengkaknya. Baginya tak pernah ada air mata yang cukup ketika harus menghadapi Hazal. "Jadi kau sungguh ingin menyingkirkanku. Kau ingin membalas dendam untuk kematian Hana yang sama sekali bukan salahku. Apa itu kemauanmu?" kening Hazal mengernyit, wajahnya berubah penuh amarah ketika nama itu disebut lagi di telinganya. "Kau tau sudah berapa lama aku ingin menyingkirkanmu 'kan?" Cambria tertawa dengan miris pada dirinya sendiri. "Aku sangat tau itu dan karena itu aku berusaha bertahan dari keinginanmu sendiri. Semua itu bukan semata untuku tapi untukmu juga demikian. Apa kau pikir kau bisa hidup dengan tenang dan damai dalam istana? Apa kau pikir setelah balas dendam padaku kau akan baik-baik saja? Apa kau lupa dengan siapa dirimu berhadapan? Kau berhadapan dengan Lady Inha, berhadapan dengan rakyat, dan menteri yang selalu menunggu saat kau jatuh dan melemparmu keluar istana untuk digantikan dengan penerus lain yang sesuai harapan mereka. Dia tidak pernah mengangapmu dan hanya memaksa menerimamu. Apa kau tau atau berpura-pura tidak tau saat aku juga berusaha melindungi dirimu dan diriku sendiri?" Hazal menegakkan tubuhnya. Semua ucapan Cambria benar adanya dan tak akan bisa ia tampik sama sekali. "Aku tau, aku tidak cukup bodoh untuk tidak tau apa pun, tapi sejak awal aku tidak pernah memintamu melindungiku" air mata Cambria akhirnya jatuh juga, meski dengan keras ia berusaha untuk tetap menunjukan sisi tegar dan sabar seperti biasanya, namun kali ini kegeraman dan rasa kecewa sudah benar-benar membuatnya harus menumpahkan segala isi hatinya. "Kau tau? Bagus jika kau tau dan sekarang kau berusaha membawa orang lain untuk membunuh kita berdua. Aku, Ayahku, dan partaiku mendukungmu dalam melakukan kebijakan apa pun, apa kau tau itu? Apa pernah kau melihat fraksi barat mendukungmu? Tidak ... sama sekali, tidak... dan apa kau tau berapa banyak kursi di parlemen yang kau butuhkan untuk mendukungmu tetap berdiri di tempatmu? Setengah dari kursi fraksi timur harus bertarung untukmu dan membantu ambisimu dari segala serangan tiap menit, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun. Jika aku jatuh dalam politik ini maka kau juga jatuh, jadi mana bisa kau membunuh kita berdua dengan sikap egoismu seperti ini! Apa kau ingin Ibumu terlibat lagi, apa kau lupa bagaimana pemberontakan itu hampir membunuhmu, atau membunuhku? Jika kau benci padaku, kenapa kau tidak menghadapiku dan membunuhku dengan tanganmu sendiri?" Hazal mengalihkan arah pandangannya. Dengan sengit bercampur suara bergetar karena sama kalutnya ia menimpali ucapan Cambria. "Benar, aku tidak bisa menyingkirkanmu karena alasan politik dan hal itu membuatku semakin membencimu" Cambria mengangguk menatap wajah lelaki yang bahkan tak sudi menatapnya sama sekali, "Aku tidak pernah keberatan menerima sebanyak apa pun kebencian darimu tiap hari, tiap detik, dan tiap menit, karena itu aku tidak pernah menjelaskan apa pun padamu, sebab tidak peduli apa pun yang aku katakan, kebencian sudah menutup matamu dari rasa percaya. Kau dan aku bukan lagi orang yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu, tapi apa kau tau apa bedanya aku denganmu? Aku selalu mengerti sebanyak apa pun kau berubah, tapi tidak denganmu. Kau memusuhiku ..." Hazal berpaling dengan penuh keyakinan bercampur sikap sinis yang masih penuh kebencian, "Kau benar, sekarang kau dan aku tidak lebih dari seorang raja dan ratu yang memainkan peran kita secara politik. Tidak lebih dan kurang dari itu. Kau merupakan sekutuku dalam pemerintahan sekaligus musuh yang paling aku benci dalam hidup. Bebanmu yang harus menerima kebencian lebih buruk dariku yang harus memisahkan pertemanan dan permusuhan kita dalam batas yang semestinya untuk negara ini, untuk kerajaan ini dan keturunan ini. Tiap detik aku ingin meledak karena melihatmu, apa kau tau itu?" Cambria menyeka air mata yang mulai mengering di pipinya. Selama beberapa detik ia terpaku sedikit tak menyangka mendengar ucapan Hazal yang jauh dari bentakan namun tetap menyimpan rasa benci yang tak pernah sirna untuk dirinya, "Aku mengerti, jadi kau tidak akan menyesali keputusanmu sekalipun aku sudah mengingatkanmu, semua orang juga sudah mengingatkanmu?" Hazal memandang teguh ke dalam mata Cambria. Hal yang sudah tidak pernah terjadi selama enam tahun lamanya semenjak pernikahan mereka berlangsung. "Tidak, jika aku bisa mengulang kembali waktu aku akan mengambil jalan yang sama" Cambria terisak tiba-tiba hingga ia harus menutup mulut dengan tangannya agar air mata tak lantas pecah dengan cepat, setelah mendengar dan melihat keteguhan hati Hazal yang menolak semua bujukannya. Sekali lagi semua seolah percuma untuk pria yang ia cintai selama bertahun-tahun. "Aku mengerti sekarang" Cambria berpaling meninggalkan tempat Hazal dengan air mata yang meledak lagi menemani langkahnya. Hazal termenung, ia duduk tanpa tenaga sambil menarik napas dengan begitu dalam untuk menenangkan diri. Perbincangan panjang itu menguras tenaganya sekali lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD