Cambria termenung dengan tatapan kosong sambil melihat jendela di belakang kepala Lady Arabela dan Lady Inha. Hari ini Hazal tak mau menunjukan wajahnya di acara sarapan pagi istana, dan benar-benar meninggalkan Cambria dalam keadaan dicampakan dalam luka. Ia selalu seperti itu, terlalu putus asa ketika harus menghadapi cintanya yang besar pada pria yang selalu menggoreskan luka yang sama.
Makanan di hadapan Cambria tercampakan dan mulai dingin. Lady Arabela, selalu menaruh kepedulian pada Cambria karena sejak dulu mereka memang telah saling mengenal cukup lama. Namun semenjak hubungan Hazal dengan dirinya memburuk, Lady Arabela pun akhirnya harus memutuskan untuk tetap mendukung keputusan puteranya dan menjauh dari Cambria untuk menunjukan sikap netral. Hidup dalam kesepian adalah hal paling buruk yang pernah dilakukan Hazal untuk menghukum Cambria.
"Ada apa, apa Anda sakit" Cambria mengerjapkan kelopak matanya yang merah. Semalaman dia tidak tertidur dan hanya menangis sampai matanya merah dan bengkak seolah akan kering karena mengeluarkan terlalu banyak air mata untuk berduka.
"Maafkan aku, Ibu. Aku hanya sedang merasa tidak ingin makan apa pun" Lady Inha terlihat sinis mendengar jawaban tanpa tenaga itu.
"Bagaimana dia bisa makan saat posisinya sudah berada di ujung tanduk. Saat consort baru masuk dalam istana, sudah saatnya dia menyerahkan mahkota yang belum pernah dikenakan di atas kepalanya, atau tahta yang bahkan belum sempat dia duduki" sindir perempuan tua dengan uban putih itu. Cambria menatapnya, tapi tak tampak kemarahan atau kedengkian seperti biasa. Dia sudah terlalu lelah dan tidak memiliki sedikit pun tenaga untuk berdebat. Sudah banyak ucapan pahit yang ia telan sepanjang waktu dan kali ini bukan yang paling buruk sampai menyakiti perasaannya.
"Aku permisi. Aku ingin beristirahat" ucapnya undur diri dengan hati-hati. Lady Inha memincingkan mata penuh kebencian ke arahnya. Perempuan itu sangat membenci Cambria yang sudah menyelamatkan Hazal ketika kudeta terjadi di luar istana. Jika Cambria tak pernah menyelamatkan Hazal, maka tahta negara itu tak akan pernah jatuh pada seseorang yang bukan merupakan keturunannya.
Sepasang mata hijau itu masih terjaga dalam rasa putus asa di pembaringannya yang sepi. Ia hanya menatap jendela, tapi tidak bisa menangis lagi selain merenungi nasibnya yang buruk dalam kesendirian. Pintu diketuk, pelayan mengumumkan kedatangan Lady Arabela. Meski dengan tubuh lemah, Cambria berusaha menyambut dengan senyum yang sedikit dipaksakan, tapi masih tampak ketulusan di wajahnya saat berhadapan wanita anggun itu.
"Maafkan saya membuat Anda harus datang kemari" ucapnya. Lady Arebal mendekatinya lalu memegang tangan Cambria dan mengamati wajahnya yang pucat.
"Kau tidak apa-apa?" Cambria hanya memulas senyum. Ia tak bisa berdusta dan berkata cukup baik karena wajahnya sudah menggambarkan betapa menderitanya hidup dalam istana hanya untuk bersama seseorang yang ia cintai. "Hubunganmu dengan Hazal makin buruk dan aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku tau saranku tidak akan membantu, tapi jika aku jadi kau, aku mungkin akan meninggalkan istana dan tidak peduli lagi padanya. Dia terlalu keras kepala dan akan terus menyakitmu, lalu apa lagi yang bisa membuatmu bertahan?" mata Cambria berkaca-kaca mendengar kepedihan itu. Ia duduk di atas tempat tidur dengan tubuh nyaris terjatuh, hingga Lady Arabela menahan lengannya dengan penuh rasa prihatin. Bagaimana pun, Cambria dan orangtuanya telah menyelamatkan hidup mereka.
"Jika aku pergi, aku bisa mendapatkan kebebasanku kembali tapi aku tidak akan bisa hidup lagi. Aku mencintainya dengan seluruh hatiku, tapi dia membenciku dengan seluruh jiwanya. Aku mengira ini hanya harga untuk sebuah cinta dan satu gores luka. Selama aku bisa melihatnya, aku tau bisa hidup meski sehari" Lady Arabela memeluk Cambria yang tersedu lagi dalam dekapannya. Namun tiba-tiba, Cambria jatuh karena fisiknya kalah dan tak sadarkan diri hingga membuat Lady Arabela panik dan memanggil para pelayan.
Hazal sedang menandatangani beberapa berkas ketika seorang pelayan mengetuk pintu. Algi yang selalu setia di samping Hazal beranjak, tak membiarkan gangguan sampai pada pria itu. Pelayan wanita yang baru saja masuk berbisik pada Algi lalu meninggalkan ruang kerja kaisar setelahnya. Wajah Algi datar ketika kabar tadi masuk dalam telinganya.
Selama beberapa saat suasana sunyi dan Algi kembali pada pekerjaannya, menunjukan beberapa berkas penting pada Hazal. Pria bermata abu-abu itu menengok sepintas lalu, karena tau pasti terjadi sesuatu, namun ia memilih tak bertanya buru-buru.
"Apa terjadi sesuatu?" Algi meletakan map merah ke tengah meja sambil menyodorkan stempel istana.
"Ada kabar dari pelayan ratu, kalau dia jatuh sakit dan sekarang dokter istana sedang berada di kamarnya" gerakan pena Hazal berhenti, namun hanya sekilas ia melanjutkannya lagi.
Algi menunjukan sebuah petisi resmi yang mengumumkan penerimaan calon selirnya dari partai timur. Hazal terdiam sebentar sementara stampel emas telah berada tepat di samping jarinya.
"Apakah Anda tetap akan menyetujui petisi ini. Kalau saya bisa menyarankan, bisakah Anda menunggu sampai keadaan lebih baik?"
Pintu diketuk, pelayan mengumumkan kedatangan Lady Arabela. Hal yang jarang sekali terjadi, karena ibunya tak akan menunjukan diri di ruang kerjanya selain untuk urusan darurat dan sejauh yang bisa dipahami Hazal, tak ada yang cukup darurat sampai membiarkan ibunya menginjakan kaki ke sana.
"Apa kau memiliki waktu putraku?" ucap sengit Lady Arabela ketika baru saja menginjakan kaki di depan meja Hazal. Algi seperti kebiasaannya harus meninggalkan ruang kerja Hazal dan membiarkan mereka berbincang secara priabdi.
Hazal berdiri dengan menunjukan sikap hormat. "Aku selalu punya waktu untuk Ibu. Ibu bahkan tidak perlu datang ke sini, aku bisa ke kamar Ibu" Hazal menuntun tangan Lady Arabela menuju kursi bergaya victoria berwarna hitam yang berada di sudut ruangan. Dengan wajah serius, tanpa menatap Hazal, Lady Arebal mulai mengatakan tujuan kedatangannya.
"Bisakah kau berhenti?" kening Hazal mengernyit kaku tak mengerti maksud Ibunya, "Afreen sudah terlalu banyak menderita. Seseorang tidak akan dihukum selama ini, sedangkan kesalahannya hanya mencintaimu. Apa sebesar itu dosa yang dia tanggung untuk perasaannya?" wajah dingin lelaki berahang kotak itu kembali nampak menghadapi sikap ibunya. Tidak ada seorang pun yang ingin ia dengarkan pendapatnya mengenai Cambria.
"Berhenti, apa dia yang meminta Ibu datang kemari untuk membujuku. Apa dia sekarang sudah lebih senang bersikap seperti pengecut dan mengadu hanya karena aku sudah memutuskan memasukkan consort dalam istana ratu?" Lady Arabela tertegun.
"Kau mengambil seorang consort?" Hazal bergeming tak meyangka ibunya belum tau.
"Bukankah itulah maksud Ibu kemari?"
"Afreen tidak pernah mengatakan apa pun mengenai rencanamu dan Ibu pikir kau masih cukup waras dan tidak akan memperhitungkan usulan partai timur padamu. Tapi kau melakukannya dan membahayakaan hidupmu puteraku?" Hazal melepaskan tangan Lady Arabela dan bersikap tegas selayaknya seorang kepala pemerintah dan bukan seorang anak pada ibunya.
"Ini bukan karena aku ingin menyingkirkannya. Yang berpikir jika aku ingin balas dendam padanya, hanya ratu sendiri. Dia hidup dalam ketakutan dan itu karena rasa bersalahnya sendiri dan bukan aku. Ibu harusnya tidak perlu terlalu peduli padanya"
Lady Arebala tak bisa bisa bicara banyak, "Cambria akan selalu berdiri paling depan untuk melindungimu. Cintanya mungkin sudah sangat buta, tapi karena sudah seperti itu dia kehilangan banyak hal karena sudah mempertahankanmu. Jika kau tidak bisa menerimanya, kenapa kau tidak melepaskannya?" Hazal menarik napas samar dengan pandangan tegas.
"Aku kepala pemerintahan yang melakukan tugasku sebagai raja. Tugasku bukan untuk menjalankan hal yang membuat ratu atau Ibu merasa bahagia. Aku melakukan politik dan hidup dalam politik sepanjang waktu" ucap lelaki itu kemudian beranjak menuju meja kerjanya dan sibuk lagi dengan berkasnya. Lady Arabela tau betul jika sikap dingin Hazal sudah menunjukan penolakan halus puteranya itu. Ia berdiri dari duduknya, tak ada lagi yang bisa dikatakan pada Hazal untuk melembekkan sikap kerasnya. Sebelum beranjak meninggalkan ruangan raja ia berpaling dan berhenti di depan Hazal.
"Jika sulit bagimu melakukan itu, setidaknya temuilah dia. Mungkin dengan melihatmu, Afreen akan lebih baik" ucapnya kemudian mengetuk pintu yang terbuka dari luar.
Hazal memutar matanya. Ia mengangkat telpon dan meminta Algi kembali masuk ke dalam ruangannya. Ketia pria berkacamata itu masuk, sudah nampak Hazal sedang duduk dengan arah tatapan tepat menuju pintu sambil melipat kaki panjangnya dengan jemari bertaut di depan dagunya.
"Ada apa Yang mulia?" Hazal menyodorkan map merah ke tangan Algi. Sebuah stempel sudah terbubuh di atas petisi milik fraksi timur.
"Katakan aku mengadakan rapat istana sekarang juga karena akan ada hal yang akan aku umumkan" Algi terpaku sesaat sebelum kemudian menunduk sopan untuk melakukan perintah Hazal.
Ruang pertemuan istana yang terdiri dari meja bundar berwarna metalik dengan lamput-lampu terang melengkung yang didindingnya nampak dihiasi lukiasan naga berwarna merah melingkari sebuah istana emas telah penuh dengan dua puluh menteri dan tiga puluh lebih pejabat tinggi. Jumlah itu masih belum termasuk para anggota fraksi yang sedang bersidang di gedung parlemen dengan sebuah siaran yang tersambung langsung ke tempat mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh penjuru istana sebelum sidang yang menunggu kedatangan kaisar itu berlangsung.
Hari itu pun perdana menteri datang terlambat dengan wajah tegang menunggu penyebab mereka diminta berkumpul hari itu juga untuk bersidang mendadak. Wajah para pendukung fraksi timur begitu berseri karena menduga petisi mereka telah disahkan, sementara fraksi barat hanya diam dan menerka, masih berharap jika kaisar tak bersikap begitu ceroboh dan memasukan orang dalam fraksi timur yang suka membantah untuk memasuki keluarga kerajaan.
Algi melintas masuk lebih dulu lalu meminta para tamu yang hadir di sana agar segera duduk di tempat mereka masing-masing. Setelah suasana cukup tenang, Hazal muncul dengan sikap tegas dan langkah panjangnya. Semua orang berdiri lalu menundukan kepala, menunggu pria bersetelan jas hitam tersebut duduk lebih dulu sebelum mereka.
Pria dengan wajah dingin itu meletakan tubuhnya ke atas kursi. Ia menatap semua orang yang hadir selama beberapa saat sebelum mereka duduk dengan keresahan dalam hati masing-masing. Hazal meraih mikrofon kecil di depan mejanya, sementara Algi menyerahkan sebuah map padanya. Semua orang diam menahan napas selama beberapa saat.
"Aku tau kalian pasti terkejut setelah aku mengumpulkan kalian dengan tiba-tiba. Tapi karena masalah ini sudah begitu panas dan terlalu sering dibicarakan baik oleh para pejabat dan menteri, maupun banyak orang diluar, maka aku memutuskan untuk membuat dekrit segera dan menenangkan situasi sebelum terlalu banyak berita liar keluar dikonsumsi publik" Hazal membuka mapnya, lalu menatap semua orang dalam ruangan besar itu satu persatu. "Aku setuju dengan petisi fraksi timur dan memutuskan menerima consort dari mereka untuk menyeimbangkan jalannya politik dalam pemerintahanku" semua orang dari fraksi timur tersenyum lebar dan lega karena penantian mereka selama bertahun-tahun akhirnya terpenuhi juga. Kekuasaan yang lebih berat sebelah pada fraksi barat kini akan seimbang dan keberadaan mereka dalam pemerintahan tidak akan lagi dianggap sebagai hiasan politik semata.
Sementara fraksi timur bergembira, nampak jelas kekecewaan di wajah anggota fraksi barat, termasuk dengan Arez. Keputusan yang diambil Hazal tidak pernah melibatkan dirinya, karena ia jelas tau kalau raja muda itu tak memercayai dirinya lagi dan semua itu karena Cambria.
"Dengan ini juga, aku mencabut gelar kepala istana dalam dari yang semula diberikan pada Lady Inha akan berpindah pada Ibuku, Lady Arabela" kembali semua orang berbisik dengan nada lirih sambil memandang satu dengan lainnya. Nampak ketegangan di wajah fraksi timur, sedangkan bagi fraksi barat hal itu tidak bisa dianggap menguntungkan maupun merugikan karena mereka telah kehilangan satu kursi besar dalam pemerintahan. Dan kursi itu adalah kedudukan mutlak ratu yang mulai hari itu akan jadi sebuah barang mahal yang diperebutkan semua orang untuk mengukuhkan kedudukan politik.
"Yang Mulia, istana dalam memiliki undang-undangnya sendiri sedangkan kaisar tidak diperkenankan untuk ikut campur pada bagian dalam istana" kata seorang pria tua dengan tubuh tambun yang memiliki kumis tebal di atas bibirnya yang tipis. Hazal melirik pria itu. Pria bernama Khan Haebrou, seorang pemimpin utama fraksi timur yang sekaligus menjabat menteri dalam negerinya.
"Aku tidak melanggar undang-undang maupun aturan istana dalam, karena dalam konstitusi istana dalam yang mencakup bagaimana bagian dalam kerajaan berjalan, ditentukan kalau masa pimpinan seorang ratu hanya sampai berusia 65 tahun dan sekarang kurasa usia itu sudah melebihi dari usia Lady Inha untuk terus menjabat. Kalau hal itu diteruskan, aku cemas semua itu akan berpengaruh buruk baginya. Yang harus dipikirkan Lady Inha tentunya mulai menikmati masa tuanya di istana lama bukan?" sekali lagi semua orang berbisik dan saling melirik, namun Hazal tak mau tinggal lebih lama dan mendengarkan kegaduhan itu. Ia berdiri dengan segera diikuti para menterinya yang lain.
"Aku rasa kalian sudah tau alasan kenapa rapat ini diadakan, jadi sekarang kalian bisa kembali pada kesibukan kalian lagi" kata pria berambut cokelat terang itu berlalu diikuti Algi dibelakangnya.
Cambria masih nampak lemah dan hanya berbaring dengan selang infus yang menancap di atas pungung tangannya. Dia masih nampak menderita dengan wajah pucat dan tubuh tanpa tenaga, namun semua orang masih bisa melihat betapa kecantikan tak pernah pudar dari wajahnya.
Dayang Raim muncul dari balik pintu dengan wajah prihatin bercampur kalut. Cambria bisa melihatnya dengan jelas, kemudian ia menegakan tubuhnya dengan hati-hati karena tentulah ada kabar kurang baik yang datang darinya ketika melihat wajah pelayan tua itu.
"Apa ada kabar dari istana?" dayang Raim diam mematung, tampak tak enak menyampaikannya dan Cambria tau betul hal itu, hingga ia memilih mendesaknya dengan lebih keras. "Katakan saja apa pun berita yang kau dapatkan. Diam tidak akan membuatku lebih baik" wanita tersebut mendekat padanya lalu berbisik sepintas.
Buku tangan Cambria beku, sendinya seolah kaku dan napasnya akan berhenti. Tatapannya tertuju hanya pada tembok sambil mencengkram kuat selimut tempat tidur. Hazal telah benar-benar melakukan apa yang ia inginkan dan menyisakan Cambria terlunta-lunta dalam patah hati. Namun kelelahan sudah terlalu kuat mengakar di tubuhnya hingga tak tampak lagi kemarahan di wajahnya.
"Tolong lepaskan selang infus ini. Ayahku akan datang kemari sebentar lagi dan aku yakin dia pasti akan merasa cemas melihatku seperti ini. Mungkin sebelum dia datang, aku harus menemuinya lebih dulu" kening dayang Raim mengerut tak setuju.
"Tapi Yang Mulia, jika saya melakukan hal itu maka Anda akan makin lemah. Dokter berkata kalau ini akan jadi sumber tenaga Anda sebagai pengganti makanan yang masih belum bisa dicerna tubuh anda" Cambria berkeras membantah.
"Aku tau apa yang akan kulakukan pada tubuhku sendiri. Akan lebih baik bagiku menderita dibandingkan melihat Ayahku sakit lagi" ucapnya lalu berdiri sambil meraih botol infus yang ia tenteng menuju meja riasnya dan memulas wajahnya dengan makeup sederhana, sekedar untuk menutup wajah pucatnya yang nyaris seperti orang tengah sekarat. Bukan hanya memulas wajah, Cambria juga mengganti pakaian dan menggunakan sepatunya yang paling indah. Tak ada apa pun yang terbersit dalam benaknya selain niat untuk terlihat baik-baik saja di hadapan Ayahnya seorang.
Dengan langkah tertatih sambil dipapah oleh seorang pelayan, Cambria berlalu melintasi tiap lorong istana menunggu ayahnya muncul dari balik pintu masuk istana dalam para ratu. Ia menunggu dengan bersandar tembok, meski dengan tubuh lemah yang terlihat rapuh. Setelah beberapa saat menunggu, ia melihat ayahnya muncul dikejauhan dengan wajah tanpa senyum. Cambria berusaha memulas senyum terbaiknya sambil menunggu pria tua itu mendekati tempatnya berada.
"Yang mulia" sapa Arez dengan muka masam, sedikit terkejut melihat puterinya di sana. Cambria meraih tangan Arez dan merasakan telapak tangan ayahnya yang panas.
"Apa Ayah tidak apa-apa?" pria berwajah mungil yang masih tampak tampan itu menggeleng.
"Apa Anda sudah mendengar kabar itu?" Cambria tersenyum setenang dan seteduh mungkin untuk menenangkan pria tua itu.
"Ya, aku kalah dan harus memenuhi janjiku. Bukankah ayah selalu mengajarkanku, tidak peduli sesulit apapun sebuah janji kita harus tetap menepatinya?" Arez terdiam. Ada kegetiran dibalik tatapan matanya, karena ia tau betapa sulitnya hal itu bagi putrinya yang sudah berusaha dengan begitu keras untuk mendapatkan pengakuan Hazal seorang. Ia tau jika apa yang ditampilkan Cambria tidak lain hanya untuk menenangkannya semata dan ia tidak ingin kerja keras Cambria nampak sia-sia.
"Saya bangga telah mengajar Anda dengan baik" sambil menyembunyikan kesedihan dan berusaha tetap kuat berdiri tanpa bersandar tembok, Cambria merangkul Arez dan berusaha untuk tidak menangis lagi, meski sepertinya air mata adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia hentikan begitu saja.
"Ya, aku berterima kasih karena Ayah sudah mengajarkan banyak hal baik padaku. percayalah aku akan baik-baik saja. Aku sudah terbiasa hidup seperti ini" Cambria melepaskan pelukannya setelah menyeka air matanya dan tersenyum lagi.
Arez bisa melihat sisa air mata itu dan hanya mampu memulas senyum hangat. "Anda adalah orang yang sangat kuat. Seperti itulah saya membesarkan Anda" Cambria mengangguk sambil menelan ludah.
"Aku mungkin akan agak sibuk belakangan, jadi jarang menemui Ayah, tapi jika ada waktu senggang kita akan bertemu, jadi aku harap untuk selalu menjaga kesehatan agar ita bisa bertemu. Sekarang Ayah kembalilah dan berisitirahat" Ares mengangguk lalu menyapu pipi Cambria sebelum kemudian meninggalkan tempat itu.
Setelah melihat Arez menghilang masuk ke dalam mobil dinasnya Cambria membeku lagi. Seluruh kekuatan yang tadinya ia usahakan ketika akan bertemu Ayahnya telah menghilang jauh dan membuatnya seolah akan mati sekali lagi. Tubuh Cambria gontai dan membuat beberapa pelayan yang ikut di belakangnya berteriak histeris menyebut dan memanggil namanya ketika ia nyaris jatuh kehilangan keseimbangan.
Bulir air mata jatuh dari mata teduhnya yang hijau. Ia memutar pandangannya dan tanpa sengaja melihat Hazal baru saja muncul dan akan kembali masuk ke dalam ruangannya. Mereka saling bertatap mata dalam keheningan, namun segera diakhiri Cambria yang berpaling meminta dibopong oleh para pelayan masuk kembali ke dalam kamarnya, karena sama sekali tak ada sisa tenaga untuk dirinya bahkan hanya sekedar untuk menegakan tubuhnya yang kurus.