Hazal berdiri di depan kamar Cambria. Dayang yang berjaga di depan pintunya hendak mengumumkan kedatangannya, namun dengan lekas Hazal mencegat dan memilih masuk ke dalam peraduan Cambria begitu saja dengan langkah cepat dan wajah datar hanya sekedar muncul untuk memenuhi kemauan Ibunya yang tadi memintanya datang ke sana.
Tiba di depan ruang duduk kamar ratu, Hazal termenung dengan pandangan menyelinap ditiap sisi tembok. Ini adalah kali kedua ia menginjakan kaki di tempat itu setelah mereka menikah selama enam tahun lamanya dan setelah hari pernikahan tak sekalipun ia sudi lagi kembali ke sana hingga tempat itu terasa terlalu asing baginya.
Langkah Hazal meletup keras di atas marmer sebelum kemudian ia melembutkan suara langkahnya karena melihat Cambria sedang tertidur dengan wajah pucat dan tubuh lemah yang tertutup selimut tebal. Perempuan itu terbaring dan nampak tak berdaya dalam tidurnya.
Pintu di belakang Hazal terbuka, seorang dokter wanita masuk ke dalam dan tiba-tiba terkejut ketika melihat Hazal sedang berdiri di sana.
"Maafkan saya, saya tidak tau Anda di sini" ucap dokter berusia 30 tahunan itu dengan sopan.
"Tidak apa-apa, jangan terlalu berisik. Dia sedang tidur 'kan?" dokter itu melirik ke depan lalu mengangguk dengan tatapan lurus menuju lantai.
"Saya mengerti"
Hazal berjalan menuju ke sebuah sofa di samping jendela yang menghadap ke depan pembaringan Cambria berada, sambil sekilas melihat dokter yang masih terpaku di tempat yang sama "Kau akan memeriksanya?" dokter itu mengangguk, "lakukanlah, aku hanya akan duduk di sini"
Dengan kaki melipat sambil bersandar tubuh ke belakang sofa berwarna cream tersebut, mata abu-abu pria berwajah dingin itu melihat dokter memeriksa keadaan Cambria dan mengamati selang infus yang menancap di tangannya. Cambria tak bergeming, ia menggerakan jemarinya begitu pelan dan nampak keringat memenuhi keningnya yang tertutup helaian rambut.
"Kenapa dia tidak bangun?" sela Hazal ketika dokter memeriksa suhu tubuh dan denyut nadinya.
"Saya memberikan obat tidur dan obat penghilang rasa sakit karena ratu bersikeras tidak mau berisitrahat" alis Hazal menukik tipis sambil mengangguk pelan menimpali.
"Memangnya sakit apa dia?" ia bertanya dengan nada datar acuh tak acuh.
"Lambung ratu mengalami sedikit iritasi . Saya mencoba membujuk tapi beliau berkata hanya ingin menerima perawatan di rumah, jadi saya putuskan untuk membawa peralatan yang dibutuhkan dari rumah sakit kemari. Kalau keadaannya memburuk, kami akan membawanya ke rumah sakit istana" Hazal bergumam pendek.
Suasana kembali terselimuti sepi ketika dokter meninggalkan kamar, menyisakan Hazal beku dalam renuangannya yang panjang ketika terpaku saat menunggu. Ingatannya kemudian merangkak jauh menuju masa lalu yang terlintas di benaknya yang tenang di malam yang hening.
Menengok Cambria yang sedang jatuh sakit bukanlah hal pertama yang pernah ia lakukan, karena di masa lalu, enam tahun sebelum pernikahan berlangsung dan sebelum ia menikah dengan Hana, perempuan yang mencintainya itu pernah benar-benar sekarat seolah telah kehilangan terlalu banyak semangat untuk menjalani hidup setelahnya. Hazal bukan tak pernah tahu seberapa besar cinta mendalam Cambria untuknya, hanya saja seseorang yang pernah menjadi sahabatnya dan menemaninya melalui waktu bertahun-tahun yang panjang dan melelahkan itu sedikit terlambat untuk diketahui dan diungapkan, hingga situasi di antara mereka menjadi rumit dan memaksanya membenci Cambria. Mengubah pertemanan mereka yang penuh keakraban jadi bagai neraka. Baik untuknya, maupun untuk Cambria yang ia abaikan selama bertahun-tahun sebagai hukuman, yang dipahami betul bukan hanya semata sebab kesalahannya namun andil Hazal pun ada di sana.
Pikirannya terlontar makin jauh, menimbang benar dan salah ketika ia menginjakan kaki di kamar Cambria yang di masa lalu masih ia panggil sebagai Afreen. Baginya Afreen adalah orang biasa yang tak punya ambisi, kekuatan politik, kekuasaan dan keserakahan untuk memilikinya. Ia hanya orang biasa yang tinggal bersama dengan ayahnya dan menjalani hidup selayaknya wanita kebanyakan. Berbeda dengannya yang telah diangkat menjadi seorang kaisar yang sibuk melakukan beberapa perubahan dan telah bersiap menjalankan pernikahan istana yang rumit penuh tantangan. Ia tahu tahap yang akan ia lalui akan amat alot, karena orang yang ia pilih bukanlah bagian dari bangwasan istana melainkan hanya perempuan biasa yang pernah menjadi pelayan sekaligus sahabat Cambria selama bertahun-tahun lamanya.
Hazal memasuki kamar sederhana di mana Afreen sedang berbaring dengan mata menatap langit-langit hingga ia tak menyadari jika Hazal telah berada di sana dan mengamatinya dengan senyum sumringah karena telah berhari-hari lamanya ia tak pernah bertemu kawan baiknya itu. Kedatangannya siang ini bukan hanya sekeder untuk menjenguk namun juga meminta saran Cambria karena baginya, tak ada seorang pun yang cukup tegas dan memahaminya sebaik Afreen yang mengenalnya sejak mereka masih kanak-kanak.
"Kudengar kau sakit, tapi melihatmu aku jadi berpikir kalau sebenarnya kau sedang sekarat?" selorohnya dengan raut wajah riang yang berbeda sekali dengan raut mukanya hari ini.
Afreen menengok dengan mata hijaunya yang kehilangan semangat dan hendak bangkit menyambut kedatangan pemimpin negaranya dengan tubuh ringkih yang mengurus. Namun dengan segera, Hazal beranjak dan menahan bahunya.
"Yang Mulia ... " ucap bibirnya yang pucat dengan tak enak karena perlakukan Hazal yang demikian, hingga lelaki itu hanya membalas dengan memberi tatapan geli.
"Yang mulia? Yang mulia apa! Kau juga biasanya hanya menyebut namaku. Sekarang kau jadi seperti pejabat lain dan selalu menyebutku dengan sebutan Yang mulia kemana pun aku berada" keluhnya dengan nada menggerutu lirih. Afreen tersenyum tipis dan mengamati wajah pria yang benar-benar ia kagumi dan membuat seluruh hatinya bisa lumpuh dalam beberapa detik.
"Menyebut namamu sekarang akan disebut sebagai makar" ucap Afreen dengan lirih.
Hazal menarik sebuah kursi dan membuat dirinya mencoba nyaman dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kirinya. "Aku merasa senang duduk seperti ini. Setelah menjadi kaisar segala hal sulit dilakukan, bahkan hanya untuk menyebut nama tanpa gelar bisa disebut menghina keluarga kerajaan dan membuat seseorang bisa hidup dalam penjara selama bertahun-tahun. Lucu 'kan?"
Afreen termenung, ia bisa menangkap kesedihan di wajah Hazal ketika bercerita mengenai perubahan arah hidupnya yang amat tiba-tiba, "Apa kau baik-baik saja dengan keadaanmu sekarang atau kau merasa kesulitan?" Hazal tertawa.
"Ada yang menyenangkan ada juga yang menjengkelkan. Bagaimana denganmu, kenapa kau bisa sakit seperti ini? Kau sangat kurus, seperti belum makan selama beberapa hari sampai Ayahmu mulai mengeluh karena mencemaskanmu. Apa kau mau aku menyediakan fasilitas kesehatan untukmu ke luar negeri? Ini bukan larangan 'kan karena bagaimana pun saat pemberontakan terjadi kau sudah menyelamatkanku dan aku sangat berterima kasih untuk itu"
Tubuh Afreen yang ringkih ia tarik perlahan, sambil mencoba duduk bersender tempat tidur. Hazal yang melihatnya berlari ke sisinya dan meletakan beberapa bantal di belakang punggungnya dengan sigap.
"Terima kasih" lirihnya.
"Sudahlah, bukankah kau juga pernah melakukan hal yang lebih daripada ini? Jadi biarkan aku membantumu"
Afreen tertunduk diam dengan sedikit cemas dan ragu ia mulai bicara, "Bagaimana kalau aku melakukan semua itu bukan untuk negara ini, juga bukan untukmu"
Mata abu-abu dengan kelopak mata lebar dan bulu mata tebal itu melirik dengan tak mengerti, "Maksudmu?"
Bibir penuh Afreen yang nampak kering beku sejenak sebelum kemudian sebuah senyum pahit ia haturkan pada dirinya sendiri,"Aku menyelamatkanmu untuk diriku sendiri, karena aku mengira jika suatu hari ketika kau selamat dari pemberontakan ini, aku bisa mengatakan hal ini dengan jujur. Ternyata aku salah, apa yang ingin kukatakan sudah lebih dulu dikatakan Hana padamu. Aku sangat terkejut kau mencintainya"
Tawa Hazal menggantung, masih tak mengerti ucapan Afreen dengan baik, "Aku memang ... sudah lama ingin mengatakan perasaanku pada Hana dan aku tidak tau kau terkejut. Aku mengira mendengar ini malah membuatmu senang dan kau akan meloncat karena senang bahkan segera sembuh dari penyakitmu"
Dengan mata berkaca-kaca Afreen tersenyum pahit sambil mengamati Hazal lebih lekat. Hal yang tak disadari lelaki itu sama sekali, "Bukan tubuhku yang sakit, tapi hatiku yang sakit sudah menyakiti tubuhku sampai seperti ini. Jika kau bertanya pendapatku mengenai hubunganmu dengannya, maka aku mohon jangan pernah menemuiku, karena jawabanku adalah aku tidak mau melihatmu lagi. Hiduplah bahagia dengannya di tempat di mana aku tidak bisa melihat kalian tersenyum bersama-sama" ucapnya dengan suara bergetar menahan kesedihan dan rasa sakit.
Kelopak mata lelaki itu mengerjap beberapa kali menatap kesedihan yang terpancar di wajah Afreen. Ia terdiam dalam hening, sementara gadis itu telah berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut memunggungi pria itu. Hening yang panjang dan lama membuat Hazal berdiri dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya tanpa mengatakan apa pun, tapi sebelum beranjak pergi meninggalkan pembaringan Afreen, ia berpaling lagi dengan wajah penuh tanya sekaligus bimbang.
Pengajuan masalah pernikahan mulai diperbincangkan dengan panas, sampai rapat dewan istana harus dilakukan karena calon yang diajukan adalah rakyat biasa tanpa gelar kebangsawanan maupun gelar akademik yang cukup memuaskan. Bahkan sebelum pengajuan calon dilakukan, proposal mengenainya telah ditolak mentah-mentah dan harus menggunakan pengaruh Hazal untuk memaksakan rapat dilakukan di dalam istana dengan penuh tentangan banyak pihak.
Pejabat tinggi dalam istana tak mau menunjukan diri dalam rapat karena menilai kualitas yang dipilih untuk menjadi ratu negara berada dalam taraf terlalu rendah dan tak sekalipun bisa dimaklumi.
Hazal mencoba berbagai cara agar Hana dan keluarganya bisa mendapatkan posisi kehormatan di mata para bangsawan dan pejabat negara. Ia bahkan dengan nekatnya memberikan jabatan di bidang konstruksi pengembangan negara pada Ayah Hana yang diketahui tidak memiliki pengetahuan apa pun dalam bidang tehnik sipil hingga makin banyak tentangan dari pejabat tinggi dan komentar sinis meluncur padanya. Namun Hazal terlalu dingin menanggapi dan berkeras sekalipun banyak kritik mengucur deras, bukan hanya dari menteri dalam negeri dan perdana menteri negara Brusel, melainkan dari rakyat negara itu pun kritik meluncur lebih tajam hingga tak ada satu mulut pun yang tak membicarakannya.
Kritik tajam selama dua bulan lamanya membuat Hazal sedikit melunak, ia memutuskan memberikan proyek percobaan pada Ayah Hana untuk membangun jembatan paling tersohor di negara itu, Jembatan Green yang megah sekaligus petaka pertama yang memecah segalanya. Dengan harapan bila proyek itu berhasil maka rakyat dan pejabat istana bisa menerima pernikahannya dengan Hana yang hanya orang biasa tanpa gelar apa-apa.
Selama dua bulan lamanya itu pun Hazal tak menemui dan tak mendengar kabar apa pun dari Afreen, karena ia terlalu sibuk dengan dua hal. Negara dan pernikahannya dengan Hana. Ia juga melakukan hal itu seperti kemauan wanita tersebut yang tidak ingin lagi melihatnya jika hal yang akan ia bicarakan berkaitan dengan dirinya dengan Hana. Bisa dikatakan jika pertemanan mereka bertiga seakan telah runtuh ketika Hazal mengumumkan pernikahannya dengan Hana pada Afreen. Ia bahkan masih mengingat betapa tajam nada suara Afreen ketika mengatakan penolakannya terang-terangan pada hubungan keduanya. Hal yang tak pernah sekalipun ia dengar dari teman baiknya itu.
Perlahan segala hal yang coba dilakukan Hazal demi Hana dan pernikahan mereka, seolah sia-sia. Ia tiba pada titik tertinggi renungannya dan menyadari jika semakin ia mencoba, ia tahu ada terlalu banyak lapisan pelindung yang harus ia runtuhkan dan hal itu tidak akan bisa dilakukan semata-semata karena cinta, ketika negaranya masih terseok-seok dalam membangun dengan banyak kendala, termasuk masalah kelaparan yang melanda hampir 50 persen distrik di negaranya hingga berita kematian penduduk karena kelaparan sudah seperti hal yang biasa dimuat sebagai iklan selingan di media masa. Pada akhirnya, ia menyadari jika ia tak bisa hanya berdiri demi cinta namun ia tetaplah memiliki tanggung jawab yang harus ia jalankan sebagai seorang kepala negara yang diharapkan rakyat.
Di suatu malam Hazal berada dalam kebimbangan antara cinta dan negaranya. Bila bisa mengandaikan, cinta adalah raganya dan negara adalah jiwanya. Ia tak bisa memilih satu diantaranya namun bisa mengambil jalan tengah untuk semua itu, pikirnya. Dan dari sanalah terlintas penyesalan yang sesekali menggangu pikirannya ketika tengah sendiri bahkan hingga detik terakhir di mana ia masih berpikir mengenai hal itu ribuan kali.
Keesokan paginya, Hazal menelpon sekertaris istana yang masa itu masih dipegang oleh Ayah Algi. Pria itu lantas pergi ke ruangan Hazal seperti yang diperintahkan kaisar muda karena ia berkata enggan menunggu lebih lama untuk masalah yang kini mendera dan menekannya selama berbulan-bulan.
Alzar, pria berkulit cerah dengan mata bundar tadi masuk ke dalam ruangan Hazal sambil menunduk penuh rasa hormat. Sebuah ciri khas yang selalu menempel akrab pada ayah dan anak itu hingga hari ini.
"Yang mulia" sapanya mula-mula. Hazal bergeming tak menengok padanya dan lebih sibuk memainkan pulpen di tangannya.
"Aku ingin bertanya pendapatmu. Konstitusi kita mengharuskan orang yang berdiri di kursi ratu adalah seorang bangsawan murni, tapi tidak ada aturan kelas sosial untuk memilih seorang consort 'kan?" ia berpaling dengan sorot mata dingin yang tajam menunggu jawaban.
"Benar, aturan negara kita sangat ketat dalam mengatur posisi ratu karena aturan kita tidak seperti negara demokratis lain di mana kepala pemerintah adalah orang yang terpilih melalui pemilihan melainkan garis keturunan, jadi diharapkan seseorang yang mendampigni raja adalah orang paling berkualitas di seluruh negeri. Aturan ini tidak pernah melunak sejak kerajaan berdiri dan dihormati selama berabad-abad"
"Kalau begitu aku bisa memilih siapa yang duduk di posisi ratu?"
Alzar mencoba menerka-nerka arah perbincangan itu, namun tetap hati-hati menjawab, "Benar, selama orang tersebut lulus uji kelayakan di hadapan para bangsawan dan ratu nanti. Tapi, boleh saya tau, apakah Anda sudah memutuskan bagaimana membawa Hana dalam istana tanpa berseberangan dengan para pejabat?"
Hazal membuang napas pendek dengan nada berat, "Benar, aku akan memilih orang lain duduk di kursi ratu, jadi dengan begitu Hana bisa tetap masuk dalam istana tanpa keributan, dan suatu hari nanti aku akan mengangkatnya menjadi ratu ketika dia sudah mengandung pewaris tahta. Ini adalah satu-satunya cara yang paling masuk akal tanpa melakukan pertumpahan darah"
Tanpa antusias Alzar bertanya lebih jauh karena pendapat Hazal masih terdengar berbahaya, "Lalu siapa yang ingin Anda jadikan calon itu Yang mulia?"
"Putri perdana menteri. Kau tau teman lamaku 'kan?" Alzar temenung karena terlalu terkejut. Namun tak cukup lama ia berhasil menyadarkan diri.
"Saya dengar dia akan bertunangan dalam beberapa hari ke depan" Hazal berpaling dengan alis menukik tajam karena terkejut. Terakhir kali ia bertemu Afreen seingatnya wanita itu masih terbaring sakit namun tiba-tiba mengumumkan pertunangan tanpa pemberitahuan apa-apa.
"Benarkah? Perdana menteri bahkan tidak memberitauku hal itu" gumamnya sedikit kecewa.
"Benar, keadaan puterinya makin memburuk akhir-akhir ini dan perdana menteri beharap jika dengan pertunangan ini bisa membuatnya lebih baik dan mendapat perhatian. Hanya sedikit orang yang perduli pada puteri perdana menteri"
Hazal tertawa, "Bukankah dia harusnya membawanya ke dokter?"
"Perdana menteri mencoba membagi waktu untuk puterinya, tapi kesibukannya membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Jadi perdana menteri berharap dengan pernikahan itu, setidaknya akan ada yang akan menjaganya dan membuat kondisi anaknya yang buruk berangsur pulih"
Hazal berdiri mendekati jendela sambil menikmati sinar matahari pagi yang membias di sela kaca bening yang menghadap danau, "Kalau begitu temui pria itu dan minta dia membatalkan pertunangan. Jangan membuat perdana menteri tau hal ini, karena aku ingin semua terlihat halus dan tidak mempermalukan mereka"
Sekali lagi Alzar terkesiap dengan ucapan Hazal yang tiba-tiba tanpa pertimbangan apa pun, "Yang Mulia ...?" panggilnya dengan nada terkejut yang ditekan.
"Kau bisa lakukan itu 'kan?" Hazal berpaling ke belakang tubuhnya dengan tegas tak terbantahkan sama sekali.
Alzar menelan ludah dengan kecewa. Perintah raja adalah hidupnya, hal yang tak bisa ia tentang sama sekali, "Akan saya lakukan"
Lamunan Hazal buyar. Ia kembali pada sosok yang lebih ia kenal dengan nama Cambria dan bukan lagi Afreen yang sedang terbaring dengan tubuh lemahnya. Lelaki itu menghembuskan napasnya berat namun singkat sembari menatap keluar jendela, yang memantulkan sinar matahari pagi. Tanpa terasa malam yang panjang berakhir dan pagi yang indah menyambut. Ingatan singkat itu rupanya telah membawanya terlalu lama ke dalam masa lalu yang sudah ia abaikan.
Hazal meletakan kaki kirinya ke atas kaki kanannya dan menyandarkan punggung dengan tentram sambil mencengkram lengan sofa.
"Secara tidak langsung aku pikir aku sudah mengubahmu menjadi mengerikan, dan mengatakan semuanya adalah salahmu, tapi mungkin tidak. Lebih tepatnya aku mengorbankanmu untuk kemauanku, tapi aku pikir karena kau bisa memahaminya jadi itu semua tidak akan menjadi masalah. Tapi kau berubah dan benar aku tidak bisa menerima perubahan itu. Aku agak egois," Hazal membuang napas sekali lagi sambil tersenyum simpul pada dirinya sendiri, "sejak aku setuju kau masuk dalam istana pilihanmu adalah mati. Kau mencintaiku maka kau akan mati, kau meninggalkanku kau juga tetap akan mati, kau berkhianat maka kau mati dan saat setia pun kau mati. Kurasa kau setuju, karena itu kau bisa tetap bertahan sejauh ini"
Satu tetes air mata jatuh begitu saja dari sudut mata Cambria di kejauhan. Hazal beranjak ke sisinya dan menyapu butir air mata itu dengan telunjuknya kemudian berlalu pergi setelah terjaga sepanjang malam di sana. Ketika baru saja melintas pintu, tanpa sengaja Algi yang berada di depan pintu ruangan masuk kediaman para ratu melihatnya dari kejauhan dengan heran. Lelaki yang membawa setangkai mawar basah karena embun itu melihat ke arah tanaman cantik di tangannya dan menelan ludah. Ia membuang bunga itu ke lantai dan berlalu pergi.