Bab 8

5074 Words
Cambria terbangun dengan wajah lelah. Ia segera disambut bayangan wajah dayang Raim yang masih menampakan kecemasan mendalam padanya. “Bagaimana perasaan Anda Yang Mulia?” ucap perempuan itu dengan sopan. Cambria menggeleng tanpa kata sembari meraba keningnya yang masih terasa sakit. “Tadi Yang Mulia datang kemari dan sempat menunggu Anda sampai pagi” ucap perempuan setengah baya itu menjelaskan. Mata hijau Cambria membulat, ia berpaling dengan keterkejutan yang jelas terlihat, “Yang mulia datang ke sini?” Dayang Raim yang berdiri di sisinya mengangguk dan melanjutkan dengan menjelaskan padanya. Cambria yang mendengar cerita itu berdiri dari tempat tidurnya lalu meraih botol infusnya yang tergantung di samping kepalanya. Entah mengapa ia seolah mendapatkan suntikan tenaga baru ketika mengetahui jika Hazal sempat berada di sana, menunggu dan menemaninya sepanjang malam. Membuat Cambria merasa jika Hazal yang dulu mungkin telah kembali dan ia memiliki beberapa pijakan harapan baru untuk dinanti. Tanpa pikir panjang ia bergegas menuju kamar Hazal, bahkan sebelum ia sempat mengganti pakaian tidurnya, atau memasang sendal di kakinya hingga para pelayan berlari pontang panting mengejar langkahnya dengan cemas melintasi dinginnya lantai istana oleh suasana pagi. Tiba di tempat Hazal, ia segera merasa kecewa, pria itu tak ada di sana. Cambria yang tak sabar kembali berlari dengan limbung menyeret tubuh lemahnya menuju ruang kerja Hazal dan masuk begitu saja tanpa mengetuki pintu sebelumnya, hingga pria bermanik mata abu-abu terang itu terangkat dari tumpukan berkas di atas mejanya. Hazal terkejut, meski cukup samar ketika melihat Cambria berdiri di hadapannya namun hanya sekilas ia kembali pada kesibukannya. Tak mau peduli, tak ingin tahu. “Kudengar kau ke kamarku semalaman?” Hazal bergeming selama beberapa saat dan membiarkan Cambria menunggu, sebelum ia menjawab dengan gumam tanpa semangat. “Ibuku ingin aku menjengukmu, jadi aku melakukan apa yang dia harapkan tanpa maksud lain. Jangan salah paham” Meski ia tau demikian, Cambria tetap tersenyum penuh rasa syukur bercampur bahagia hingga semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya seolah telah menghilang dalam hitungan detik singkat. Hingga tatapan matanya lekat pada pria berambut cokelat keemasan di hadapannya, “Meskipun begitu, terima kasih karena sudah bersedia menemuiku. Terima kasih” ucapnya dengan nada gembira. “Pergilah, keberadaanmu mengganguku. Aku sibuk” Cambria mengangguk tanpa tentangan, ia berpaling ke belakang hendak membuka pintu. Namun sebelum sempat, tanpa sengaja pintu telah terbuka dan nampak Algi berada di hadapannya. Lelaki bermata sipit itu segera menundukan pandangannya dengan tak enak sedangkan Cambria berlalu begitu saja dengan senyum tak lekang di bibirnya yang pucat. ** Seorang gadis melangkahkan kakinya yang tertutup sepatu flat berbordir merah melintasi ruangan megah dari sebuah rumah bergaya mediterania dengan lampu kristal yang menggantung di atas langit-langit setengah lingkaran, tertutup lukisan bunga yang indah dan menawan dalam pandangan mata. Langkah gadis itu tiba-tiba berhenti ketika melihat ke arah jendela yang berhadapan halaman rumahnya dan menemukan sesosok wanita tua melintas masuk diikuti dua orang pelayan dalam balutan pakaian resmi kerajaan, yang membuat sebuah senyum segera terbentuk di bibirnya. Lady Inha dengan dikawal dua orang pelayan pria dan wanita memasuki rumah tempat Khan berada. Pria bertubuh tambun dengan senyum picik yang disembunyikan membungkuk sopan ketika menyambut Lady Inha di depan pintu rumahnya. “Selamat datang My Lady” sambutnya menyilahkan. “Kau pasti tau alasanku kemari” ucap Lady Inha menghambur menuju sofa didampingi pelayannya tadi disusul Khan dengan sedikit lambat di belakangnya memerhatikan ratu tua itu dengan mata menyipit. “Saya jelas mengerti. Kaisar tetap ingin agar kekuasaan kita terbatas karena itu dia melimpahkan kepemimpinan istana dalam pada Ibunya sendiri dan memaksa Anda untuk menyingkir ke istana lama yang sepi seperti pengasingan” Lady Inha tersenyum tipis, kemudian meleburkan tawa keras yang tak terdengar senang, dan lebih mirip suara kemurkaannya yang besar. Matanya membelalak melirik ke arah Khan yang duduk sopan di depannya, “Dia mencoba membunuh dua ekor burung dengan sekali tembak. Mengeluarkanku dari istana dan mengurangi kekuasaan partai barat” ia berdecak beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya seolah tak menyangka. Khan yang berada di sana tak mengatakan apa-apa dan hanya sibuk melihat ke arah lantai rumahnya sendiri. Ia harus mematuhi bagaimana protokol istana berjalan. “Lalu di mana anak perempuanmu?” mata Lady Inha menerawang penasaran ke segenap penjuru rumah megah itu. Muka bulat Khan dengan lemak yang menutupi lehernya hanya tersenyum menatap ke arah tangga bundar di belakang mereka. Suara letupan sepatu yang lembut terdengar menuruni tangga. Seorang wanita berambut gelap dengan mata tajam, hidung tinggi yang ramping dan mungil bersanding bibir tipis yang dipoles lipstik merah muda baru saja turun dari peraduannya dan melangkah dengan begitu anggun menuju ke arah Lady Inha dan Khan berada. Wanita bertubuh tinggi dengan lekuk ramping itu membungkuk dengan sopan pada Lady Inha yang menatapnya sejak tadi tanpa mengedip dan disambut dengan begitu gembira oleh perempuan tua itu. “Jadi kau adalah puteri Khan?” suara serak Lady Inha menggema di tengah ruangan. “Maaf, saya terlambat menyambut Anda Yang mulia ratu. Saya Camelia Rozart Khan” ucapnya dengan nada penuh percaya diri, lirih dan anggun namun manis. “Duduklah!” Camelia melakukan apa yang diperintahkan sang ratu dan duduk di samping Ayahnya sambil mendengarkan perbincangan mereka yang berlangsung baru saja, “kau memiliki puteri yang sangat cantik dan ditambah lagi dia memiliki kemiripan dengan mendiang kekasih raja yang meninggal bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak tau ini sebuah keberutnutngan atau tidak, tapi aku yakin kita akan segera mendepak ratu mandul itu dari kursinya segera dengan mudah dan aku akan kembali memiliki istana dalam, lalu menaikkan orang pilihanku duduk di tahta” Khan melirik sekilas dengan bangga pada puterinya, “Tentu, kita telah mempersiapkannya selama bertahun-tahun dan dia akan menjadi pengganti yang sempurna untuk Hana” “Jadi Camelia, apa kau sudah tau apa yang harus kau lakukan?” sebuah senyum lembut meluncur dari bibir mungilnya. “Tentu saja Yang Mulia, saya sudah tau apa yang harus saya lakukan begitu saya masuk ke dalam istana” Lady Inha menurunkan topi bulat putihnya dari atas kepala dan memegangnya di atas pangkuan gaun merah mudanya, “Kau akan menjadi Hana yang baru. Semua sikap dan tindakan yang sudah kuajarkan padamu harus kau tunjukan pada Hazal dan buat dia mencintaimu. Ketika kau mendapatkan hatinya, kau bisa dapatkan seluruh negeri ini” Camelia menggangguk menyetujui ucapan wanita itu. Hazal membuang sebuah map bersetempel resmi kerajaan dengan amat keras ke atas lantai untuk meluapkan kemarahannya. Ia mendengus dengan gigi gemertakan karena tidak bisa menahan emosinya. Algy yang dengan setia berdiri di belakangnya hanya menatap sepatu kulit yang menutup kaki lelaki itu. “Benarkah ini dikeluarkan sendiri oleh Ibuku?” ia terdengar geram, namun berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan baik. “Benar Yang Mulia” tubuh tegap berbahu lebar lelaki itu berbalik sambil mengancingkan jas hitam yang membalut gagah tubuhnya. “Aku akan menemuinya” ucap bibir mungilnya yang berbentuk agak panjang, membuat sisi maskulin begitu jelas bersanding dengan rahang kotaknya. Sebelum Algy membukakan pintu untuknya terdengar pegumuman dari luar. Lady Inha datang menemui mereka membuat Hazal nampak makin kesal. Ia mengepalkan tangan dan kemudian meninju meja dengan keras. Napasnya mendengus keras, lalu membuang napas lebih teratur sebelum duduk kembali ke kursinya yang tertutup lapisan kulit. “Persilahkan wanita tua itu masuk!” Algy membuka pintu, membiarkan Lady Inha memasuki ruang kerja raja dengan wajah cerah seolah tanpa beban. Ia menatap Hazal, lelaki itu membalas senyum cerianya dan bisa melihat segala kebencian dan kelicikan tampak di sudut senyum dan mata cokelatnya yang cekung. “Harusnya Anda tak perlu menemui saya di sini. Saya bisa datang ke kamar Anda kalau Anda ingin!” Lady Inha tau keterpaksaan Hazal menyambutnya. Pria muda itu bahkan tak mau beranjak dari kursi kerjanya dan membiarkan dirinya seorang duduk di kursi tamu seperti tamu menjijikkan. “Aku hanya ingin melihat kesibukanmu. Sejak kau dilantik menjadi seorang raja aku belum pernah ke sini lagi dan sekarang aku bisa melihat ada banyak perubahan di tiap sudut ruangan ini. Bahkan aroma yang melayang di udara sudah tidak sama seperti sebelumnya ‘kan?” sepasang jemari kurus Hazal bertaut di depan bibirnya. “Tentu, ini seperti aroma kemenangan. Anda tidak berpikir begitu?” Lady Inha tertawa sekilas sambil menutup bibirnya yang terbalut kaos tangan sewarna gaunnya. “Aroma apa saja bisa saja berubah searah tiupan angin, cucuku. Jadi jangan terlalu terpaku pada satu tempat” Hazal mengangguk dengan senyum tipis yang disembunyikan sambil mengamati Lady Inha. “Lalu kapan Anda akan merencanakan untuk pindah ke istana lama?” sorot mata Lady Inha tiba-tiba menajam. Senyumnya menghilang berganti kebencian yang tersamarkan dan ia tutupi dengan tarikan napas lirih. “Aku akan pindah setelah consort baru datang, karena tidak ada yang bisa menjamin keselamatannya dari ratu yang bertahta. Penting bagiku memastikan keselamatannya karena dia merupakan keluarga dari salah satu anggota partai. Kau tidak tertarik menemuinya sekarang atau melihat aplikasi mengenai dia? Saat bertemu dia aku yakin kau akan sangat terkejut” tubuh Hazal ia sandarkan ke belakang kursi dengan sikap yang nampak bosan. “Aku tidak perlu melihatnya, karena dia akan masuk ke dalam istana cepat atau lambat. Mengenai keselamatannya, Anda tidak perlu khawatir karena Lady Arabela pasti akan menjaganya dengan baik” tangan Lady Inha saling cengkram di atas pangkuannya. Hazal jelas-jelas telah memintanya pergi secepat mungkin. “Kalau begitu aku akan segera pergi ke istana lama setelah penyerahan kekuasaan secara simbolis pada Arabela. Kau tidak bermaksud tidak mengadakan pesta perpisahan untukku ‘kan?” Hazal menegakkan bahunya dengan sikap lebih sigap, “Hanya acara simbolis. Ekonomi dunia sedang tidak begitu baik dan itu berimbas pada ekonomi negara kita. Hanya beberapa pesta sederhana untuk mengundang turis dan pemasukan negara. Aku rasa dalam tiga hari acara perpisahan sudah bisa dilakukan ‘kan?” Tubuh Lady Inha sejenak kaku. Ucapan Hazal seolah telah merendahkan dan menghina posisinya sebagai mantan ratu selama puluhan tahun lamanya. Ia lantas berdiri, tak ingin lagi mendengar ada penghinaan samar pada dirinya. “Aku akan menunggu pesta itu, cucuku” ucapnya dengan mendesis sebelum berlalu meninggalkan ruangan Hazal. Lady Arabela sedang menikmati teh sore di halaman belakang istana dengan ditemani beberapa orang pengawal dan pelayan wanita. Ia nampak khitmat menatap ke arah cekungan danau yang dikelilingi rumput hijau dan beberapa tanaman bonsai yang tumbuh di dekat tembok istana. “Ibu ...”panggil Hazal membuat wanita anggun dengan rambut digelung rapi itu berbalik dengan senyum melengkung manis. Hazal beranjak ke sisinya dan membuka satu kancing jasnya sebelum duduk di kursi taman. “Ibu senang kau di sini,” ia menuang teh putih ke dalam gelas kosong untuk Hazal lalu menyodorkan padanya hati-hati, “minumlah dan temani Ibu sebentar. Ini adalah sore yang indah ‘kan?” ucapnya kemudian menyecap teh hangatnya. “Sore yang indah tapi aku merasa sebaliknya. Aku terkejut atas syarat yang Ibu berikan?” gelas di tangan Lady Arabela ia letakan hati -hati kembali ke atas tatakan gelas. “Hanya syarat sederhana ‘kan? Ibu akan menerima consort itu dan menerima kepemimpinan istana dalam kalau kau bersedia bermalam di kamar Cambria” Hazal tertawa sinis mendengar persyaratan itu secara langsung. “Apa ibu masih mendukungnya atau dia mempengaruhi Ibu?” Mata abu-abu lady Arabela menengok dengan hangat, “Kau tau itu tidak mungkin karena dia sedang sakit. Terakhir kali aku ke sana, dia jatuh sakit dan aku belum menengoknya lagi, tapi aku lega mendengar kau menemuinya” “Seperti kemauan Ibu” timpalnya dengan nada dingin. Lady Arabela memegang jemari Hazal dan mencoba menunjukan sisi hangat dan perhatiannya agar pria itu tak merasa kalau ia seolah telah memihak orang lain dan tak lagi menunjukan dukungan padanya. “Kau tau apa pun yang Ibu lakukan adalah untuk melindungimu” Hazal melirik tanpa senyum, “Jika aku tidak melakukan hal itu, apa yang akan Ibu lakukan?” Lady Arabela terdiam, Hazal bahkan tak mau menanggapi perasaannya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum sambil mengerutkan bibirnya. “Kau harus membiarkan istana dalam berada di tangan Lady Inha atau Cambria dan memerintahkan penahanan Ibu karena sudah menentang perintah raja dan tidak mematuhi konstitusi istana dalam” kelopak mata lebar Hazal mengerjap cepat. “Aku baru menyadari kalau Ibu juga ternyata bisa berpolitik” ia berdiri dari duduknya, merapikan jasnya dan meninggalkan Lady Arabela yang kehilangan senyum ketika melihat kepergian Hazal begitu saja. Di kamarnya, Cambria masih terbaring lemah dengan selang infus menempel di buku jemarinya. Pelayannya muncul dengan membawakan sup hangat ke atas meja kecil yang diletakan di atas tempat tidur. Cambria mulai tampak bersemangat setelah kedatangan Hazal pagi tadi hingga selera makannya sedikit demi sedikit muncul perlahan. Ia menyecap satu sendok sup bening itu dengan hati-hati namun tiba-tiba suapannya terhenti. Ia memandang dayang Raim yang setia berdiri di sisinya, menungguinya setelah makan untuk memberinya obat yang diresepkan dokter istana untuknya. “Kau sudah cari tau siapa calon consort yang akan memasuki istana dan kapan upacara penyambutan dilakukan?” “Pembicaraan mengenai calon consort itu bahkan tidak terdengar sama sekali dari fraksi timur. Mereka sepertinya merahasiakan semua itu dari kita untuk menjamin keselamatan orang yang mereka pilih.Tapi menurut perdana menteri dan wakil partai barat, kemungkinan calon consort yang dipilih adalah puteri pemimpin partai timur sendiri, Khan Haebrou. Tidak pernah ada yang tau seperti apa wajah puterinya sekarang karena sejak pemberontakan dia sudah meninggalkan Brusel dan tinggal Ceko. Jika dia sungguh datang maka besar kemungkinan dia memang yang akan duduk di tahta sebagai consort” Cambria menelan ludah sambil memainkan sendoknya, “Kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan sampai menunggu consort itu masuk ke dalam istana. Bukankah begitu?” dayang Raim mengangguk menimpali. ** Kamar Cambria dipersiapkan, seprai tempat tidur telah diganti, bunga-bunga diletakan di sudut ruangan, lilin aroma terapi di nyalakan dan pengharum ruangan ditebarkan bersama beberapa makanan manis yang diletakan di tengah meja. Sementara kesibukan tengah berlangsung dalam kamarnya, Cambria sedang mandi dalam bath tub dengan air hangat yang dipenuhi kelopak bunga aneka warna. Tak nampak senyum sama sekali di wajahnya meski hal ini bisa menjadi langkah pertama untuknya bisa mempertahankan tahtanya meski ia tak begitu yakin akan terjadi sesuatu antara dirinya dengan hazal. Pakaian terbaik di kenakan Cambria membalut tubuhnya. Rambut gelapnya yang indah dibirkan tergerai di antara bahunya kemudian dupa pewangi disematkan di antara helaian rambutnya yang lembut. Ia menatap ke dalam kaca, pada pantulan mata hijaunya yang cerah namun mengandung kesedihan yang tak mau ia pandangi lebih lama. Sapuan lisptik merah muda menutup bibirnya yang penuh sebagai sentuhan terakhir yang membuatnya nampak cantik, selalu cantik bagi siapa pun yang melihat, tapi selalu buruk rupa untuk orang yang ia pandangi hampir tiap hari dan ia harapkan hampir tiap malamnya. Persiapan telah selesai dilakukan, semua pelayan meninggalkannya menyisakan ia seorang diri duduk merenung di pinggir tempat tidur sambil menatap sepasang jemarinya yang masih pucat. Keadaannya belumlah terlalu baik, namun ia berusaha untuk terlihat sehat demi Lady Arebal yang telah memberinya kesempatan untuk bertahan ditengah kesempitan masalah yang menyerangnya nyaris hampir tiap hari. Pintu terbuka tanpa pengumuman bersama langkah Hazal yag terbalut mantel tidur berwarna merah tersulam benang emas. Cambria berpaling pada pria dengan mata abu-abu terang itu, namun seperti biasa Hazal tak mau melihatnya sama sekali dan lekas duduk di sebuah sofa yang berada di samping jendela. Tempat yang sama dengan yang pernah ia duduki ketika menengok Cambria sehari sebelumnya. Suasana amat kaku, hingga tak terdengar apa pun di dalam ruangan itu. Cambria tahu Hazal tidak akan sudi mendekatinya jadi ia tidak berani menegurnya sama sekali karena tidak ingin membuat kemarahan hazal timbul seperti yang pernah terjadi ketika ia tiba-tiba muncul di dalam kamarnya dan memeluknya sampai tubuhnya harus merasakan bantingan keras di atas tempat tidur. “Apa kau merasa senang sekarang karena bisa mendapatkan apa yang kau inginkan setelah jatuh sakit? Kalau begitu kenapa kau tidak sakit tiap hari dan membuat semua orang merasa kasihan padamu dan dengan bebas kau bisa memanfaatkannya sesukamu” tegur Hazal seperti biasa dengan nada sinis. “Aku tau kau tidak suka, tapi Ibumu tidak terlibat apa pun, jadi kau bisa benci padaku sesukamu” Hazal mengangguk “Benar, aku memang sedang membencimu sekarang tapi sepertinya hidup di dalam istana terlalu lama sudah membuatmu belajar cara menjadi seserang yang tidak tau malu. Kau tahu orang yang paling sulit dihadapi adalah orang yang tidak punya malu karena mereka akan selalu mengemis. Menjijikan bukan?” Tak ada yang dikatakan Cambria menimpali ucapan Hazal, “Aku akan tidur di bawah, dan kau bisa tidur di atas tempat tidur” ucapnya menarik selimut kemudian melipatnya di bawah lantai dan mengambil satu bantal yang ia letakan di atas kepalanya. Suasana kembali hening, tak ada yang mereka lakukan. Cambria masih mencoba berbaring sedangkan Hazal yang bosan beranjak menuju kursi tamu yang dipenuhi makanan manis, buah dan wine yang diletakan dalam ember kecil berisi es batu yang mulai mencair. Beberapa gelas anggur dalam hitungan detik telah habis ia teguk dengan terburu, hingga membuatnya membuka botol kedua yang kali ini ia nikmati dengan caviar dan asparagus. Tubuh Hazal mulai sedikit gopoh karena mabuk, meski ia berusaha menguasai diri dan langkahnya. Ia berdiri dari kursinya dengan langkah beserta tatapan yang agak rabun sambil berjalan berpegangan pada tembok. Cambria terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara gaduh dari meja yang berderit. Ia terbangun melihat Hazal sedang berjalan tanpa tahu arah dan meraih tubuh pria itu untuk menyeimbangkan langkahnya yang kadang kala nyaris terjorok ke lantai. “Anda tidak apa-apa?’ Hazal mendorong tubuh Cambria menjauh lalu tertawa. “Aku butuh ke kamar mandi untuk muntah, atau kau mau aku muntah di depanmu?” Cambria dengan sedikit kesulitan membopong tubuh Hazal yang berat menuju ke toilet dan menunggu pria itu yang muntah beberapa kali dengan bau alkohol yang menyengat memenuhi kamar mandinya yang beraroma mawar lembut. Tanpa jijik, Cambria menyeka bibir pria itu dan teringat kembali pada masa remaja mereka, ketika pria itu masih hidup di luar istana dan pernah dengan iseng mencoba minuman beralkohol secara sembunyi-sembunyi dari ibunya maupun pelayan istana yang mengikutinya. Ketika ia mabuk tanpa uang sepeser pun, Hazal menelpon Cambria lalu mengerutu padanya, memerintahnya untuk datang menjemputnya tanpa peduli waktu. Cambria yang mencemaskan keadaan Hazal diam-diam meninggalkan rumah di tengah malam untuk menjemputnya dengan taksi. Ia sempat terperangah ketika melihat Hazal amat mabuk hanya karena minum beberapa gelas anggur dan bahkan lupa membayar tagihan minuman hingga penjaga klub malam memarahinya berulang kali. Cambria yang tidak bisa berbuat banyak hanya meminta maaf dan membayar tagihan itu dengan uang sekenanya yang ia bawa dan membawa Hazal kembali ke rumahnya dan menyembunyikannya di dalam kamarnya untuk membiarkan pria itu tidur di atas kasurnya, sedangkan dia sendiri hanya berbaring di atas lantai dengan selimut namun hal tersebut sudah membuatnya merasa puas karena bisa menatap wajah Hazal sepanjang malam. Cambria selalu mengurus Hazal dengan baik, menjaganya dengan hati-hati bahkan berbohong ketika hal itu menyangkut keselamatan Hazal. Semua yang ia lakukan semata-mata demi melindungi Hazal karena ia tahu kalau pria itu bukanlah orang biasa. “Aku mengantuk, aku ingin tidur” keluh lelaki itu. Lamunan Cambria terhambur, ia mengangguk dan segera membopong tubuh pria itu ke atas tempat tidur. Setelah Hazal berbaring, ia menatap wajahnya dan tersenyum dengan penuh rasa bahagia. Sudah lama ia tak melihat pria itu berada dalam jarak begitu dekat dengan jangkaunnya. Jemari tangannya terangkat tak tertahan. Kulitnya menyapu kulit pipi Hazal dan mengelusnya penuh kasih sayang. Cinta dan perasaan mendalam yang ia miliki pada akhirnya hanya jatuh sebagai bulir air mata yang ia seka buru-buru. Sapuan tangannya tiba-tiba berhenti, ia menatap pria itu lebih lekat lagi dan menyentuh kulit bibirnya dengan tiap jemarinya. Ia termenung, tak sekalipun ia pernah mencium bibir lelaki itu selama ia hidup dan untuk pertama kalinya, ia berharap bisa mendapatkan sebuah ciuman meski ia mengambilnya seperti pencuri, karena Hazal tak akan pernah sudi menyentuhnya sekalipun. Dengan sedikit cemas, ia mendekatkan wajahnya pada bibir Hazal, lalu tiba-tiba ia berhenti ketika membayangkan jika pria itu akan terbangun dan marah padanya. Ia berhenti dan menegakkan tubuhnya, tapi rasa ragu kembali menghantuinya karena tidak akan ada lagi kesempatan baginya mendapatakn satu saja ciuman dari pria yang amat ia dambakan. Cambria menutup kelopak matanya dan mengecup bibir pria itu, hanya sekali dan ia cukup tahu diri untuk menjauh. Namun sebelum sempat, tangan Hazal mencengkramnya dengan keras lalu membaliknya ke atas tempat tidur. Mata pria itu sekali lagi tampak nyalang dan penuh rasa benci, membuatnya menelan ludah dan merasa takut. “Apa yang kau lakukan?” desisnya berbisik dengan kegeraman tertahan. “Maafkan aku, aku ... bersalah” ia mengakuinya dengan nada berat tapi tidak bisa melakukan apa pun. Meaningless Hazal menjauhkan tubuh Cambria dan memunggunginya tanpa mengatakan apa pun. Ia lebih memilih kembali melanjutkan tidur dibandingakan harus meladeninya ketika ia sendiri sedang dalam keadaan mabuk. Cambria sendiri tak mengatakan apa pun, ia hanya melihat punggung Hazal sepanjang malam tepat di sampingnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Pagi menjelang, Cambria terjaga sejenak kemudian menengok ke samping bahunya dan menemukan Hazal sedang duduk merenggangkan otot tubuhnya yang kaku setelah minum beberapa gelas wine semalam. Jemarinya melayang di udara lalu menyentuh punggungnya yang kokoh membuat Hazal melirik sepintas. "Aku sudah bilang jangan menyentuhku 'kan?" Cambria tak mengatakan apa pun dan lebih memilih mengamati bayangan Hazal yang memantul terang di bias mata hijaunya. Ia menegakan tubuhnya lalu diam lagi. "Di masa lalu kau tidak pernah melarangku sampai sejauh ini," tubuh Cambria menjorok ke depan perlahan-lahan kemudian merangkul tubuh Hazal, "kau tidak perlu bersikap sejijik itu karena di masa lalu kita juga pernah menjadi teman, tapi bagaimana kau memperlakukanku hari ini lebih buruk dari orang asing yang tidak pernah kau temui" Hazal memalingkan tubuhnya, "Segala hal tidak pernah sama dan kau adalah satu-satunya orang yang terjebak di masa lalu. Aku melangkah maju sedangkan kau membusuk di tempat yang sama. Jadi pertanyaanku kapan kau bisa menyadari perubahan disekitarmu dan berhenti mengemis padaku" ucapnya seperti biasa dengan sinis bersama tatapan setajam pisau yang seolah merobek hati Cambria. Gadis itu tak mengatakana apa-apa, ia hanya menyentuh untaian rambut Hazal yang turun di antara alis gelapnya yang tebal. Tak ada yang bisa ia lakukan selain tenggelam melihat wajah tampan pria di hadapannya yang selama belasan tahun tak pernah bisa ia dekati sama sekali. Tembok kebenciannya jauh lebih kokoh dari apa yang bisa diduganya. Jemari Cambria menarik simpul mantel tidur yang ia kenakan lalu mengulurnya turun di antara bahunya yang ramping. Hazal masih berada di depannya, tak beraksi, tak menatap dan hanya terpaku ke arah wajahnya. Ia berusaha untuk selalu tampil dingin dengan memperlihatkan kekakuan dan keengganan di raut mukanya. Tangan Cambria meraih tangan Hazal lalu menciumnya dengan lembut dan hangat kemudian menununtun tangan lelaki bermata abu-abu dengan rambut kecokelatan tersebut menyentuh permukaan tubuhnya. Perlahan dan terus perlahan sambil mengamati seperti apa ekpresi Hazal yang terus memasang wajah dingin, tak berkutik, tak menolak, tak marah, membuat Cambria makin berani mendekatinya, meraba kulit pipi, bibir dan lehernya. Ia berbisik di telinga Hazal dengan napasnya yang hangat menabrak kulit pucat pria ini. "Aku juga seorang wanita, jadi kenapa kau tidak mencoba memberiku kesempatan?" sepasang kelopak mata Hazal mengatup sesaat. Bibirnya mengerut menahan kekesalan pada Cambria, dan lebih besar lagi pada dirinya sendiri. Ia jelas tahu hanya perlu mendorong tubuhnya menjauh dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Namun ia tak bisa menampik jika ia memiliki perasaan sebagai seorang pria yang sulit dilawan. Sudah bertahun-tahun lamanya ia telah menjaga kesetiaannya pada Hana dan menolak menjalin hubungan dengan gadis dalam istana. Kalau ia pada akhirnya goyah pada musuhnya sendiri, rasanya terlalu lucu untuk dirinya sendiri. Tangan Hazal menekan pundak Cambria menjauh dan memalingkan pandangannya. Wanita berambut gelap itu tersenyu tipis, ia tahu akan ditolak lagi. "Pergilah dan jadi pengecut. Pintu selalu terbuka di sana" ucap Cambria membaca keraguan di wajah pria itu dan kembali memasang pakaian tidurnya. Hazal menyeringai, ucapan itu terlalu menjengkelkan untuknya. "Aku melakukan apa yang tidak bisa orang lain lakukan dengan mencintai seorang wanita. Kau merasa marah tidak mendapatkan apa yang kau inginkan dariku" Cambria menanggapinya dengan tenang. "Tentu, kau sangat setia. Aku tidak akan meragukan itu. Kau bilang aku membusuk di masa lalu, lalu bagaimana denganmu? Kau terlalu sentimentil untuk ukuran seorang pria" katanya berdiri dari duduknya lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Pergilah, ini adalah penghinaan besar untukku tapi lebih besar bagimu yang merasatakut padaku" Mendengar ucapan Cambria padanya membuat Hazal makin jengkel. Selama ini tak pernah sekalipun ada orang yang berani mengatakan bahwa ia pengecut. Ia adalah kaisar, memiliki darah bangsawan, disegani, dihormati, tapi untuk pertama kalinya ia mendengar seseorang merendahkannya tepat di depan matanya. Hazal memilih abai, ia berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. Sebelum pergi ia berpaling pada Cambria yang bahkan enggan menatapnya membuatnya merasa sungguh terhina. Ia membanting pintu dengan kasar penuh kemarahan, Cambria terkejut begitupun pelayan penjaga pintu. Dengan kasar ia menarik tangan Cambria menuju ke atas tempat tidur, membuat Cambria diam-diam tersenyum. Ia berhasil menyulut kemarahan lelaki itu dengan cara berbeda untuk mendapatkan apa yang dia harapkan selama ini dan Hazal terlalu tempramental untuk bisa berpikir jernih setelah meminum cukup banyak alkohol. Ia memanfaatkannya dengan cukup baik. Hazal kembali ke kamarnya dengan wajah kesal. Ia jadi merasa agak bodoh telah berhasil memenuhi kemauan Cambria hanya karena ia terpancing ucapan bodohnya. Tak hentinya ia menggerutu lalu meninju meja dengan keras, hingga suara keributan itu bisa terdengar hingga ke balik pintu, membuat pelayan penjaga pintu sedikit terkejut lalu mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Pria yang memiliki bentuk rahang kotak yang tegas itu membuka pintu, ia nampak tenang setelah meluapkan kemarahannya barusan saja. "Panggil Algi kemari!" perintahnya. Setelah selesai berpakaian, Hazal membuka pintu kamarnya. Algi sudah berada di sana beberapa menit, karena harus menunggu kaisar muda itu selesai berpakaian. "Yang mulia" sapanya menunduk hormat. Hazal merapikan jas hitamnya lalu berjalan menuju ruang kerjanya. "Aku akan menunda persiapan nenek tua itu meninggalkan istana dan mempercepat caonsort baru itu masuk. Jadi tukar jadwalnya dan lakukan pengumuman khusus, kalau perlu sampaikan itu di televisi agar semua orang tau" Algi tampak diam, melirik sekilas menatap punggung Hazal yang berjalan cepat di hadapannya. Entah mengapa ia mengubah rencananya dengan amat mendadak, namun ia tak begitu berani bertanya karena tidak tahu banyak apa yang sudah terjadi pada pria itu. "Akan saya lakukan apa yang Anda perintahkan" Lady Arabela berpakaian lebih cepat, berjalan menuju kamar Cambria dan berharap sesuatu yang baik terjadi pada kedua pasangan itu. Ketika pintu terbuka, ia hanya melihat Cambria sedang duduk di depan cermin, sedang berdandan untuk bersiap menghadiri acara di depan istana. Ia segera berdiri menyambut Lady Arabela yang tersenyu ke arahnya. "Pergilah!" perintahnya pada beberapa pelayan sedang sibuk menata rambut dan memulas makeup tipis di wajahnya. "Kau terlihat cantik sekali" puji Lady Arabela membuat Cambria tersipu. Wanita anggun berusia 40 tahunan itu meraih tangan Cambria dan menariknya untuk duduk di pinggir tempat tidur, merasa tak sabar untuk mendengar kabar baik darinya. "Lalu bagaimana?" tanyanya dengan nada menyidik. Selama beberapa detik Cambria terdiam lalu memegang tangan Lady Arabela dengan hangat. "Terima kasih untuk kesempatan yang Anda berikan, tapi rasanya masih perlu banyak waktu untukku bisa mendapatkannya" wajah Lady Arabela nampak kecewa namun Cambria berusaha membesarkan hatinya. "Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, jadi saya mohon Anda untuk tidak bersedih" Lady Arabela memegang pipi Cambria, lalu tersenyum meski dengan sedikit perasaan sedih. Ia berharap akan terjadi hal baik pada keduanya, namun sekali lagi semua berkahir dingin. Setelah Lady Arabela meninggalkan kamarnya, Cambria kembali menuju kemeja rias dan melihat wajahnya di depan cermin. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya untuk waktu yang telah ia habiskan bersama dengan Hazal, hanya saja ia tidak bisa mengatakan hal tersebut pada Lady Arabela karena ia sangat berhati-hati menyangkut lelaki itu. Ia tahu Hazal pasti sedang marah besar padanya, meski begitu ia mencoba abai setidaknya ia telah mengamankan posisinya untuk sekali waktu. Pintu kamarnya diktetuk buru-buru dan seorang pelayan mengambur masuk, membuatnya sempat jengkel namun tak ingin merubah suasana hatinya yang sedang bahagia. "Maafkan saya Yang mulia" kata perempuan itu dengan sedikit cemas. Cambria berdiri dari duduknya lalu menghampirinya. Ia kenal pelayan itu karena merupakan seorang pelayan yang sengaja ia letakkan disekitar kamar Hazal untuk mencaritahu apa-apa saja yang terjadi di sana. "Ada apa, kenapa kau terburu-buru seperti ini?" "Ada kabar buruk Yang mulia. Kaisar telah meminta agar masuknya consort dipercepat dan menunda kepergian Lady Inha" alis Cambria terlipat, wajahnya segera tampak masam setelah mendengar hal itu. tanpa pikir panjang ia meninggalkan kamarnya dan segera menuju ruang kerja Hazal, sayangnya pria itu tak ada di sana. Ia mencoba bertanya pada pelayan penjaga pintu dan mereka hanya menjawab kalau Hazal sedang berkunjung keluar istana, membuatnya makin kesal tapi terpaksa harus menahan emosinya sampai bisa bertemu dengan Hazal. ** Menjelang sore, Hazal baru kembali dari kunjungannya di luar istana dan tampak sedikit terkejut ketika melihat Cambria sedang duduk di sofa ruangannya. Ia tak mengatakan apa-apa dan segera bergegas duduk di kursinya dengan nyaman untuk menghilangkan kelelahan yang mendera tubuhnya selama berkegiatan di luar. Sepasang matanya mengatup nampak lelah hingga tak memedulikan keberadaan Cambria di sana, membuat wanita itu membuka pembicaraan lebih dulu. "Untuk apa menunda keberangkatan Lady Inha lebih dulu dan mengatur consort lebih cepat. Hal itu hanya akan membuat partai timur merasa senang?" Hazal tak mengatakan apa-apa, membuat Cambria makin tak sabar hingga ia berjalaan mendekati meja Hazal. "Apa kau begitu tidak sabar untuk melihat wanita asing itu masuk dalam istana? Kukira kau cukup setia dan tidak akan berbuat hal buru-buru seperti itu. Aku tahu kalau kau marah padaku, tapi keadaan ini tidak bisa dijadikan ajang balas dendam 'kan?" mata abu-abu di depan Cambria terbuka, Hazal menatapnya tanpa arti lalu beranjak ke depan meja tempat Cambria berdiri. "Aku tidak sabar menunggu Consortku masuk ke dalam istana, dia pasti menyenangkan" Cambria menahan napas, "Tidak, kurasa tidak. Kau mengambil keputusan setelah apa yang terjadi antara kita berdua. Apa kau marah karena aku berhasil mengalahkanmu?" Hazal tertawa dengan nada lirih kemudian perlahan menjadi tawa lebih nyaring sambil mengamati Cambria yang terheran-heran mengamati wajahnya. "Kalah, aku?" ucapnya membuang napas perlahan, "aku tidak pernah merasa kalah. Kau pikir hanya karena aku tidur denganmu jadi kau menang?" ia menarik bahu Cambria kemudian berbisik perlahan dengan mengerikan, "aku tidak akan bekerja keras untuk ini, tapi aku akan memastikan kau akan sangat kesulitan berada di sini. Kau tahu kau tidak begitu penting bagiku" ia melepaskan tangannya lalu mengambil selembar tisu di samping meja dan membersihkan sela jemarinya yang ia gunakan menyentuh tubuh gadis itu. Cambria tampak bingung, memutar pandangannya ke arah lain. Ia masih tak menyangka, Hazal tetap jadi orang yang kasar. "Itu tidak mungkin, bahwa hubungan di antara kita sama sekali tidak membuatmu terperanguh" Hazal kembali ke kursinya dan melemparkan tisu yang tadi ia pakai ke arah Cambria, "Terpengaruh? Kau berharap lebih. Kau terlalu picik menjebakku dengan omonganmu. Aku memang bodoh bisa tertipu dengan ocehanmu, tapi akan kupastikan segala hal tidak akan mudah lagi bagimu. Aku akan membalasmu, lebih dari yang bisa kau bayangkan dan kau bisa duduk menunggu hal itu terjadi" ucapnya diselingi seringai mengancam yang tampak mengerikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD