Bab 9

2726 Words
Cambria berdiri di depan beranda kamarnya melihat ke seberang ruangan yang membentang di depan tangga. Beberapa pelayan tengah sibuk naik dan turun tangga sambil membawa barang untuk menghias kamar baru bagi sang consort yang akan masuk sebentar lagi. Dayang Raim yang berdiri di sampingnya nampak mengamati rasa tak suka sekaligus kesedihan yang nampak jelas di mimik wajah Cambria yang coab ia sembunyikan selama beberapa hari ini. "Yang mulia" panggilnya dengan nada lirih. Namun Cambria tampak bergeming dengan wajah datar, sebelum ia menyahut tanpa tenaga. "Kenapa dia harus tinggal di ruangan yang berada di depan mataku?" tanyanya dengan dingin. Dayang Raim terdiam sebentar, mencoba memilih kata-kata yang baik sekedar untuk menjawab,"Sepertinya kaisar sendiri yang telah mengingkinkan hal itu Yang mulia" ia mengangguk pelan sambil menarik napas dalam. Cambria menuruni tangga, melewati ruang makan lalu aula luas yang berhadapan dengan pintu keluar. Ia melintasi lorong pendek menuju tempat Hazal untuk mengunjungi pria itu. Namun hari itu Hazal sedang tidak ada, karena itu Cambria hanya duduk menunggu pria itu datang sambil dengan sedikit penasaran melihat ke arah meja kerjanya. Ia sempat membuka beberapa lembar berkas yang nampak berantakan di atas meja untuk dibereskan. Ketika tangannya sigap menyusun lembaran kertas, tiba-tiba satu lembar foto jatuh tepat ke depan kakinya. Ia menunduk untuk meraih selembar foto itu dan sempat terpana ketika melihat gambar wajah Hazal bersama dengan Hana sedang tersenyum sambil berpelukan menatap ke depan kamera. Tangannya bergetar, ada rasa marah, benci dan kesal ketika melihat bagaimana mereka tampak penuh rasa bahagia yang membuatnya selalu merasa cemburu dan dengki selama bertahun-tahun lamanya. Ia bahkan terpaksa harus hidup menahan dengki dan tekanan dalam batinnya yang merasa selalu berkobar tiap hari. Pintu terbuka tanpa ia duga dan nampak Hazal masih berdiri di ambang pintu sambil memegang gagang pintu, melihatnya sedang menyentuh foto miliknya. Tangan lelaki itu lalu membanting pintu dengan keras kemudian menarik lengan Cambria secara kasar dengan bibir berdesisi menahan kekesalan. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya berbisik di telinga gadis bergaun hitam yang terlihat tegang tak berani menatap wajah Hazal. "Maafkan aku, aku hanya mencoba membereskan beberapa barang di atas meja dan benda ini jatuh. Aku akan mengembalikannya" Hazal merampas foto itu dan menghempaskan lengan Cambria menjauh. "Menjauh dari tempatku, berhenti menginjak tempatku!" tegasnya tak bisa menahan kejengkelan. "Aku tidak bermaksud, aku hanya ingin bertanya kenapa kau harus memilih kamar consort itu berada di depan kamarku. Ada banyak kamar dalam istana ini dan kau bisa meletakkannya di mana saja" Pria itu melangkah menuju kursinya lalu duduk dengan tergesa "Aku bisa menaruhnya di mana saja aku suka. Kalau kau tidak mau melihatnya, sebaiknya kau yang pindah dari sana" ketusnya enggan melirik ke arah Cambria. "Akan kupertimbangkan" Hazal menatapnya tajam, "aku akan keluar kalau begitu". ** Pesta besar yang mirip festival budaya dengan arak-arakan dan tarian di gelar di sepanjang jalan dari rumah Camelia menuju istana negara. Banyak turis datang, sambil berdiri berdesakan di pinggir jalan untuk melihat gelaran acara penyambutan consort baru yang kontroversial dan belum pernah terjadi di negara monarki manapun di zaman modern ini. Bukan hanya turis yang antusias ingin tahu, rakyat tak kalah penasarannya. Mereka datang berbondong-bondong dengan membawa kamera, untuk mengabadikan wajah consort itu agar bisa dibandingkan dengan kecantikan ratu yang selalu dikagumi rakyatnya di seluruh negeri. Banyak rakyat menyayangkan adanya seorang selir memasuki istana, namun sebagian dari mereka hanya bisa membahasnya sebagai kabar hiburan dan bukan sebuah isu politik yang panas dalam parlemen. Camelia saat itu masih berada dalam rumahnya yang megah dan sibuk. Gadis cantik itu sedang didandani oleh para staf istana. Rambutnya yang gelap digelung ke atas kemudian sebuah tiara dari mutiara disematkan di atas kepalanya. Ia nampak menawan dalam balutan gaun brokat berwarna putih, yang mirip sebuah gaun pengantin, namun sayangnya ia tak masuk ke dalam istana dengan menjalankan ritual pernikahan. Ia hanya disambut selayaknya consort, selir yang posisinya membayangi seorang ratu. Ia tahu hal itu dan membenci kenyataan tersebut dari dalam lubuk hatinya karena merasa terhina. Hingga tersemat sebuah tekad yang sekuat baja untuk menjadi pengantin resmi kerajaan suatu saat nanti setelah mendepak ratu yang bahkan belum sempat ia temui. Camelia hanya mendengar mengenai ratu yang disanjung banyak orang karena kecantikannya. Namun hal itu tak membuatnya merasa rendah diri karena ia merasa cukup pintar untuk mengalahkannya, apa lagi setelah mendengar kenyataan bahwa kaisar negera itu sangat membenci istrinya sendiri. Memberinya lebih banyak peluang untuk mengalahkannya, mendepaknya dan menjadikan dirinya sebagai satu-satunya perempuan yang paling berkuasa di negara itu. Ia bahkan telah membayangkan wajah Hazal dalam benaknya sedang bersanding dengannya, membuat sebingkai senyum puas nampak di wajahnya. Siang menjelang, Camelia yang menawan menuruni tangga rumahnya disambut oleh tangan Khan yang tersenyum penuh kebanggaan padanya. Hari itu ia tak dijemput mobil mewah, melainkan kereta pernikahan resmi milik kerajaan yang telah menunggu di balik pagar rumah megahnya. Hanya ia seorang dan ayahnya, tak ada kaisar, hanya dia seorang yang harus tersenyum di sepanjang malam membuatnya agak kesal. Namun tak mengapa baginya, untuk sesaat ia bisa menerima status tidak terhormat sebagai seorang 'gundik' resmi, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menjalani status rendahan itu dalam jangka waktu lama. Camelia sudah berkorban banyak dan menunggu lama untuk bisa masuk dalam istana, dan ia akan melakukan apa saja untuk bisa meraih itu. Helikopter berputar di udara meliput berita. Kamera wartawa mengedip bak kilat, menangkap bayangan wajahnya yang cantik untuk pertama kalinya di depan publik. Ia tersenyum untuk terlihat ramah lalu menaiki kereta yang mengaraknya menuju istana impian paling megah di negara Brusel. Sebentar lagi gelar kebangsawanan akan segera tergenggam di tangan begitu ia sampai di ujung jalan dan gerbang terbuka lebar menyambutnya. Ada banyak tepuk tangan sepnjang jalan, tak sedikit juga wajah sinis melihat padanya karena beberapa orang beranggapan ia tidaklah jauh lebih cantik dari ratu yang kini berkuasa. Namun sebagian lagi menilai, Camelia akan menjadi pengganti yang baik untuk Cambria yang tampak seperti perempuan tak berguna dan hanya menjual kecantikan dan kekuasaannya untuk berkuasa. Semua tanggapan itu dengan cepat memasuki media. Kontroversi tetap terjadi, tetap tajam seperti saat pengumuman dilakukan, tapi tak sekalipun kaisar negara itu peduli. Hazal akan tetap melakukan apa yang dia inginkan. Keegoisannya sebagai pemimpin negara tak bisa dikalahkan, namun semua orang pun tahu tak juga yang bisa mengalahkan kecintaannya pada rakyatnya, karena itu ia tetaplah dipuja di penjuru negeri. Kereta Camelia memasuki gerbang. Istana luas berlantai empat bergaya renaisance klasik yang ditambah bangunan baru bergaya arsitektur modern itu telah menyambut. Hamparan taman hijau membentang indah, kamera pewarta lagi-lagi meliput. Pelayan-pelayan istana terlihat di depan pintu termasuk Lady Inha dan Lady Arabela yang tersenyum ramah padanya. Tapi sejauh mata Camelai memandang, tak ada Cambria, juga tak ada kaisar negara itu. Wajahnya seketika masam, meski dengan segera Khan memberinya tatapan tajam. Terlihat muram di depan rakyat tak boleh ia lakukan meski kaisar yang memanggilnya tak ada di sana, tak menyambut. Ia merasa ditolak dan hanya diinginkan segelintir orang. Meski dengan segera ia mencoba menghilangkan pemikiran itu, karena Camelia telah bertekad untuk memenangkan Hazal bagi dirinya sendiri. "Selamat datang" sambut Lady Inha dan lady Arabela ketika Khan melepaskan tangannya dan memberikan jemarinya pada Lady Inha yang menginnginkannya. Camelia tersenyum pada Khan, meski hanya sekilas lalu kembali berpaling menuju ke arah kamera media untuk mengabil foto terbaik yang akan terpampang di koran penjuru negeri dan seantero dunia. Berbeda dengan keriuhan di depan istana, di dalam kamar ratu, Cambria hanya terbaring lesu. Ia tak mengenakan gaun indah, tak memulas wajah dengan makeup dan hanya menatap lurus ke arah tembok tanpa pikiran pasti. Semua hal seolah berakhir meski ia mencoba meyakinkan diri tak akan terjadi apa-apa, tapi kenyataannya ia tetap ragu pada dirinya sendiri dan keadaan yang terjadi saat ini. "Yang mulia" panggil Dayang Raim memanggil bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar. Ia melirik tapi enggan bangkit dari rasa putus asanya. "Dia sudah datang sepertinya?" sahutnya seolah mengerti alasan kepala pelayannya muncul di depan kamarnya. "Benar, Anda tak ingin turun?" Cambria menegakan tubuhnya yang terbalut gaun tidur berwarna putih dari bahan satin yang menutup pundak hingga ke mata kakinya, membentuk lekukan tubuhnya nampak indah namun juga renta. "Apa kaisar menyambutnya?" "Tidak, Yang mulia tidak terlihat di sana" Cambria mengangguk kemudian menyisir rambut gelapnya yang bergelombang dengan tangan. "Haruskah aku turun ke sana? Aku tidak tau apa yang akan kulakukan, aku merasa bodoh harus tersenyum untuk menyambut orang yang akan menendangku dari istana. Tapi kalau aku tidak turun orang-orang akan menilaiku sebagai orang yang jahat. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Sebaliknya tidak akan ada seorang pun yang mengatakan hal itu pada kaisar. Hidup sebagai wanita lebih sulit dari yang bisa kubayangkan" ucapnya kemudiaan berdiri dan beranjak menuju ke depan jendela sambil emandang hamparan danau sebagai pemandangan dari kamarnya yang indah. "Acara besarnya baru akan dilakukan malam nanti Yang mulia. Kalau Anda enggan untuk turun sekarang, Anda bisa menunggu sampai pesta malam dan datang bersama dengan perdana menteri" mata hijau gadis itu memandang ke belakang tubuhnya. Ia membuang napas pendek bersama anggukan datar "Tolong katakan hal itu pada Ayahku" ** Perdana menteri datang ke kamar Cambria, sementara pesta penyambutan yang dihadiri pejabat istana telah ramai di aula istana. Malam itu gadis berambut gelap sepanjang punggung itu mengenakan gaun malam berwarna hitam setinggi lutut dengan lengan sepanjang siku yang nampak tertutup tapi terbuka di bagian punggung. Ia nampak cantik, menawan dengan membiarkan rambutnya disisipkan di samping lehernya. "Anda sudah siap?" suara Ares membuat Cambria berpaling. Ia beranjak dan segera memeluk ayahnya dengan perasaan rindu sekaligus berbalut kesedihan. Ares tahu betul tidak akan mudah bagi puterinya untuk hadir di acara itu, namun ia tak memiliki pilihan lain karena ia juga merupakan salah satu petinggi istana dalam dan salah satu dari calon ratu masa depan istana. Kecemburuan dan hal tercela lain bukan sesuatu yang harus ditunjukkan di hadapan orang banyak. "Aku sudah siap" ucapnya menuntun ayahnya beranjak menuju ke depan pintu, namun sebelum benar-benar keluar meninggalkan kamarnya. Langkah Cambria berhenti, ia menarik napas dalam mencoba menenangkan dirinya, sambil memegang tangan Ares lebih kuat dari biasanya. Ares menepuk jemari Cambria mencoba memberi kekuatan pada puterinya yang hanya tersenyum membalas kebaikan hatinya. Langkah anggun Cambria menuruni tangga, sambil sesekali terlintas dalam benaknya mengenai Hazal. Apakah pria itu akan muncul di sana dan menemui consortnya pertama kali, atau mungkin ia hanya akan menemuinya di kamar consort itu. Memikirkan apa yang akan terjadi selalu membuat jantungnya seolah remuk, meski ia berusaha tetap menegakkan tubuh dan menahan air mata. Bunyi denting gelas, suara perbincangan terdengar membahana di seluruh aula besar yang ditata apik dengan dekorasi buket bunga lili, mawar aneka warna dan asoka yang diletakkan di depan pintu, maupun sudut ruangan yang disandingkan tirai-tirai sutera besar berwarna keemasan. Hingga kesan mewah amat jelas menyambut menyilaukan mata. Cambria melangkah memasuki tempat acara, semua tatapan mata kemudian tertuju padanya bersama senyum sopan yang hadir di wajah para tamu. Ia mencoba terlihat biasa dan membalas senyum sekenanya, meski ia tampak berusaha cukup keras untuk terlihat baik. "Anda tidak apa-apa?" tanya Ares memandang ke arahnya. Cambria mengangguk dan tetap melanjutkan langkahnya mencoba menemukan di mana consort yang baru saja masuk istana siang tadi. Namun ia tak melihatnya di mana pun hingga selama beberapa saat ia nampak heran. Lady Inha yang melihat kedatangan Cambria mendekat pada gadis itu. Ia tersenyum puas penuh kemenangan ke arah perdana menteri sambil membawa segelas minuman. Wanita bermata cokelat dengan gaun putih sepanjang lutut itu mengamatinya, tapi Cambria tak mengatakan apa-apa. "Kukira kau tidak akan datang" bukanya dengan cara sopan namun jelas sekali tengah menyerangnya. "Aku merasa tidak begitu enak badan untuk menyambut consort itu siang tadi. Jadi di mana consort baru itu?" Lady Inha tersenyum lebih lebar dari biasanya. "Dia akan datang sebentar lagi, tunggu saja" "Perdana menteri" suara Lady Arabela memanggil dari belakang. Wanita anggun gengan rambut yang digelung dan telinga yang mengenakan anting mutiara itu mendekati tempat mereka berbincang. Ia juga sempat tersenyum dan nampak ramah ada Lady Inha, namun wanita tua itu tampaknya selalu bersikap ketus pada orang disekitarnya, bahkan yang tampak ramah sekalipun. "Yang mulia ratu. Saya ucapkan selamat untuk pengangkatan Anda sebagai ratu istana dalam. Kita jarang bertemu karena saya terlalu sibuk belakangan ini. Terima kasih sudah menjaga anak saya" buka Ares sambil menunduk dalam. "Jangan dipirkan, aku tahu situasi belakangan, baik politik dan ekonomi jadi sedikit menyulitkan bagi semua orang" Lady Inha yang mendengarnya tiba-tiba tertawa dengan nada sinis, membuat Ares dan Lady Arabela berpaling ingin tahu, sementara Cambria sejak tadi terlihat tanpa semangat sama sekali menatap ke arah lantai. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengatakan hal yang buruk. Tapi apa perlu kita membahas politik antar kongsi? Jika begitu kita pasi sedang berada di persimpangan politik" Ares berdehem, tak mengatakan apa-apa. "Kalau memang Anda tidak ingin mendengarnya" tutup Lady Arabela. Suara pengumuman mengenai kedatangan kaisar menggema. Semua orang berpaling ke arah pintu masuk. Seperti biasa serombongan staf pengamanan masuk lebih dulu, kemudian disusul oleh Algi dan kemudian oleh Hazal sendiri. Pria berambut cokelat keemasan dengan tuksedo berwarna hitam itu nampak menawan dan penuh kharisma seperti biasa, membuat semua wanita merasa kagum pada dirinya dan semua pria merasa segan akan sosoknya. Cambria yang berada di kejauhan menahan napas, tangannya bergetar. Bukan karena merasa kagum namun melihat dengan siapa Hazal muncul. Pria bermata abu-abu itu melirik ke samping bahunya pada seorang gadis muda dengan wajah oval dan mata bulat berwarna cokelat gelap. Bibir tipisnya yang mungil tersenyum dengan cantik, membuat Cambria nyaris saja roboh. Bukan hanya karena Hazal yang membawanya tanpa bertanya apa pun, namun juga karena wajahnya yang begitu mirip dengan Hana. Hana yang dulu telah coba ia singkirkan kini muncul lagi di depan matanya dengan menggandeng Hazal, membuatnya kembali teringat pada nerakanya di masa lalu Perlahan semua orang mulai bergunjing dengan nada berbisik, membincangkan bagaimana kaisar memilih muncul bersama seorang consort dan bukan ratunya sendiri. Seolah mempertegas semua kabar buruk dalam istana mengenai berapa besar ia telah dibenci selama bertahun-tahun lamanya dan coba disingkirkan dari tahta. Lady Inha yang melihat wajah pucat pasi Cambria nampak menikmati pemandangan menyesakkan d**a bagi ratu di sampingnya. "Bagaimana bisa kaisar lebih memilih datang bersama consortnya dan bukan dengan ratunya? Ini pasti akan jadi gosip buruk dalam istana" ucap Lady Inha sedikit memanas-manasi perasaan Cambria, meski gadis itu mencoba menahan diri sebisa mungin dan tetap tampak tegar di hadapan semua orang. "Anda ingin kembali saja?" bisik Ares pada Cambria. Mata hijau gadis itu hanya terpaku ke arah lantai lalu menggeleng. "Tidak, kita baru saja datang" Lady Arabela yang berada di sana melihat Cambria dengan penuh belas kasih. Hazal yang melihat ibunya, bersama perdana menteri, Lady Inha dan seseorang yang paling ia benci itu pun menghampiri mereka dengan keramahan, meski sepertinya Ares nampak dingin melihat sikap Hazal. "Aku tidak melihat menteri dalam negri di sini" bukanya ketika berada di sana membuka perbincangan. Orang-orang itu membungkuk sopan memberi hormat, sementara Cambria bahkan nyaris tak bisa menekuk lutunya dan hanya melihat ke arah ujung sepatunya. "Oh, dia akan sedikit terlambat." timpal Lady Inha, "Kalian terlihat serasi sekali. Aku pikir bahkan kau tidak akan datang karena terlalu sibuk di luar istana" pujinya. Hazal memandang Camelia dengan mata berbinar yang jarang sekali terlihat di wajahnya. "Itu tidak akan terlihat sopan. Dia baru saja masuk istana dan tidak begitu tahu aturan istana dalam. Aturan para bangsawan dan rayat jauh berbeda 'kan?" Lady Inha mengangguk menyetujui. "Tadi ratu muda sempat mencarimu Camelia. Dia bilang dia tidak sempat datang menyambut karena sedang tidak begitu sehat. Sekarang sapa dia" "Yang mulia ratu" sapa gadis itu, menunggu jawaban Cambria yang tampak tak siap sama sekali dengan situasi itu. "Yang mulia?" tegur Camelia sekali lagi mengamatinya lebih lama. "Sepertinya ratu sedang lelah, aku rasa lebih baik membawanya kembali ke kamarnya. Benar 'kan perdana menteri" sela Lady Arabela mencoba melindungi Cambria dari situasi yang membuatnya tersudut. "Saya akan ..." belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Cambria menahan lengan ayahnya. Ia memaksakan tersenyum pada Camelia dengan wajah ramah. "Selamat datang di dalam istana. Aku merasa tidak enak karena tidak menyambutmu ketika pertama kali datang. Jika kau memiliki hal yang ingin kau tanyakan, kurasa kita bisa berbagi banyak hal" Camelia membalas ucapannya cengan wajah cerah, sedangkan Hazal tampak dingin menanggapi. "Tentu, terima kasih untuk sambutan Anda. Saya harap keadaan Anda segera membaik" Cambria mengangguk perlahan-lahan. "Sebenarnya tidak. Aku harus kembali ke kamarku lebih dulu. Aku merasa tidak enak badan" ucapnya pada semua orang, membuat Hazal, Lady Inha dan Camelia tersenyum samar. Mereka memang berharap tak melihatnya dalam waktu lama di tempat yang sama bersama mereka. "Saya akan mengantar puteri saya kalau begitu. Saya permisi" ucap Ares sopan lalu membungkuk hormat sambil memgang tangan Cambria yang sejak tadi bergetar tanpa henti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD