Kesadaran datang seperti air dingin yang dituangkan perlahan ke jiwa yang beku. Issabelle merasa seolah ia ditarik dari jurang tanpa dasar—tanpa tahu siapa yang menariknya, dan untuk apa ia dikembalikan. Kelopak matanya bergetar. Cahaya pertama yang menyentuh penglihatannya terlalu terang, terlalu asing. Ia mengerang pelan, dan rasa nyeri menjalar dari kepalanya ke seluruh tubuh. Udara terasa berat di dadanya. Seperti ada sesuatu yang menekan jiwanya dari dalam. “…Canna?” suaranya nyaris tak terdengar. “.…Air” Canna yang sejak tadi duduk di kursi kecil di samping ranjangnya sambil mengoleskan essence herbal untuk memastikan tubuh Issabelle tetap hangat tersentak bangun. “Yang Mulia!” Ia berdiri terlalu cepat sampai kursinya nyaris jatuh. Tangannya gemetar saat meraih jemari Issa

