Jatah Jajan

1142 Words
Sekitar pukul 03.00, tak sengaja Kezia pun terbangun dari tidurnya. Ia mencari kemana suaminya saat itu yang sudah tak ada di sampingnya saat membuka matanya. "Duh, demen banget ilang si ni orang," gerutu Kezia kesal terhadap kelakuan sang suami. Kezia pun segera merubah posisinya menjadi duduk, lalu pandangannya pun mulai memindai area sekitar. Ternyata, Sang suami sedang ada di balkon. Dari sini ia bisa melihat jelas apa yang di lakukan oleh Arman. Tangannya sibuk dengan hpnya dan sesekali ia menghembuskan vape-nya. Kezia pun segera menyingkap selimut yang membalut kakinya dan menguncir rambutnya dengan asal, lalu menghampiri sang suami yang masih anteng di teras balkon. Arman yang masih sibuk dengan HP-nya itu, tak tahu jika Kezia sudah ada dibelakangnya dan memeluknya dari belakang. "Masih main game? Mau tidur jam berapa kamu, Bang?" tanya Kezia lembut di kuping Arman. Arman pun langsung terlonjak kaget karena perlakuan sang istri itu dan tanpa sengaja malah membuat hpnya terjatuh. "Astagfirullah," ucap Arman kaget, lalu segera melerai paksa pelukan itu dan mengambil hpnya. "Man, Man, oy Man, lu masih disitu?" tanya seseorang sayup-sayup dari dalam gamenya. "Masih, bentar tadi hp gua jatoh," ucap Arman kemudian, lalu segera kembali memainkan hpnya. Kezia pun merasa sedikit kesal karena sang suami lebih mementingkan hpnya dibanding dirinya. Akhirnya ia pun memilih duduk disana dan mengambil kopi yang baru diminum setengah oleh Arman. "Ngeselin! Masih lama apa, Bang?" tanya Kezia setengah merajuk kepada sang suami. "Masih, bentar lagi,Ci," jawab Arman singkat sambil tanganya fokus memainkan HP-nya. Kezia pun nampak bersedekap dan memanyunkan bibirnya sedikit ke depan. "Ngeselin banget sih, sumpah yah, udah berasa kek selingkuhan aku, di cuekin terus kalau udah maen game. Jadi curiga, jangan-jangan di game beneran ada pacarnya dan aku cuma dijadiin istri buat status doang," gerutu Kezia panjang kali lebar membuat kuping Arman sedikit sakit. "Ya maju terus, itu sebelah kiri, Nan, bantuin Irul dulu bentar, gua kesana abis ini," seru Arman kepada teman se-team-nya. "Ya," seru orang dari sana. Kezia masih memperhatikan Arman yang sama sekali tak tergubris dengan kehadirannya itu. Makin lama, Kezia pun jadi kesal sendiri karena tak dianggap sama sekali. "Abaaanggg!!" seru Kezia dengan setengah berteriak di kuping Arman. "Argh sakit, Ci, berisik banget sih," gerutu Arman sedikit kesal. ["Sepertinya nyonya udah mulai marah, Bang,"] ucap seseorang dari sana. "Hm," ucap Arman singkat lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kezia. Nampak Kezia yang sudah nampak memerah menahan kekesalan yang ada. Arman pun hanya tersenyum sekilas lalu mencium bibir sang istri sebentar. "Bentar cintanya aku," lirih Arman pelan lalu kembali lagi fokus ke dalam gamenya. Mendapat perlakuan dari Arman, mendadak hati Kezia pun sedikit luluh. Kezia pun lalu merebahkan kepalanya di pundak Arman. Sebelah lengan Arman pun terlepas sebentar dari hpnya dan langsung memeluk tubuh Kezia setelah itu ia kembali mulai bermain. Di dalam dekapan Arman, Kezia bisa melihat jelas cara Arman bermain. Ia memperhatikan siapa saja teman bermain sang suami itu. Pandangannya mengarah pada satu nama akun yang sepertinya ia kenal. "Ini kek akunnya Adnan, bener gak, Bang?" tanya Kezia. "Yang mana?" tanya Arman kemudian. "Nih, Nandori, kek punya Adnan," ucap Kezia sambil menunjuk salah satu akun. ["Ya, kenapa bangun sih, Kak? Gangguin aja," gerutu Adnan dari sana.] Arman pun langsung terkekeh saat mendengar ucapan itu. ["Istrinya kakaknya Nandori, Bang?"] ["Lah enak, Nan, bisa joki gratis ini"] ["Pala lu gratis, mana mau kakak gua ngasih gratisan, kaga bisa jajan dia nanti,"] seru Adnan sayup-sayup. Mendengar sayup-sayup suara itu membuat Kezia sedikit kesal, terutama ucapan sang adik itu. "Ngeselin banget sih lu, Nan, awas lu ya!" gerutu Kezia dan lagi - lagi hanya mendapat kekehan dari Arman. 'Victory' Host game telah mengumumkan pemenangnya, dan tak lama permainan pun usai. "Gua off, ya, Nyonya sudah marah-marah, alamat gak ada jatah nanti," pesan Arman dan mendapat jempol dari teman se-team-nya. Arman pun lalu keluar dari hpnya dan melepaskan Kezia dari pelukannya, lalu menaruh hp itu di atas meja kecil. "Udah kelar, Bang?" tanya Kezia penasaran dan mendapat anggukan dari Arman. "Udah, sekarang waktunya sama Nyonya dulu," jawab Arman seraya bangkit dari duduknya dan melakukan peregangan sedikit agar otot-ototnya tak terlalu lemas. Setelah melakukan peregangan sebentar, Arman pun lalu menyuruh Kezia untuk membawa hpnya dan tak lama,.ia pun langsung menggendong tubuh sang istri. "Abang, ih," ucap Kezia yang setengah kaget karena kelakuan sang suami. "Kenapa, Sayang?" tanya Arman lembut dan sedikit menggoda. Arman pun lalu membawa tubuh sang istri menuju ranjangnya dan langsung menidurkannya. Kezia pun lalu menaruh hp Arman di samping bantalnya itu. "Ci, coba cek s****e mu dah ya, ada uang masuk gak 50ribu," ucap Arman dan kemudian mengambil hp milik Kezia yang ada di atas nakas. Kezia pun menerima hpnya dan masuk ke aplikasi belanja orensnya, dan benar saja ada uang masuk senilai 50ribu dari sana. "Berarti bener udah masuk," ucap Arman kemudian. "Itu uang joki, Bang?" tanya Kezia penasaran dan mendapat anggukan dari Arman. "Bang, jangan di s****e lah, ngeri khilaf aku ntar dipake jajan sama aku," ucap Kezia sedikit sungkan. "Lah, buat apa aku kerja kalau bukan buat kamu, Ci?" tanya Arman balik dan mendapat kekehan dari Kezia. "Gajimu berapa di sana, Ci?" tanya Arman sedikit penasaran. "Kecil, Bang, cuma 12juta doang,.tapi itu cuma gapok, ada tunjangan lain-lain, jadi sekitar 15jutaan aku dapet perbulan," ucap Kezia dan hanya mendapat anggukan dari Arman. Arman nampak berpikir sebentar, sebenarnya, ia ingin agar Kezia keluar dari pekerjaannya namun ia sendiri masih butuh Kezia di perusahaannya itu. "Gak ada niat mau resign?" tanya Arman tiba-tiba dan langsung mendapat anggukan dari Kezia. "Ada, rencananya antara bulan ini atau bulan depan aku resign. Tapi sebelum resign, aku mau kumpulin bukti-bukti soal penggelapan dana dulu, jadi aku resign gak di cap jelek sama perusahaan. Aku takutnya, pas resign, terus ada yang ngaduin aku lakuin penggelapan dana dan berujung aku di laporin dan masuk penjara kan gak lucu. Siapa yang berbuat, siapa yang bertanggungjawab," ucap Kezia kemudian. "Tapi, gaji Abang gak tentu tiap bulannya. Emang kamu mau?" tanya Arman kemudian dan hanya mendapat senyuman dari Kezia. Kezia sebenarnya nampak sedikit ragu, karena ia tak yakin apa gaji Arman lebih tinggi darinya atau lebih rendah darinya. Namun, ia Bismilah saja, semoga bisa ada rejeki lebih untuknya dan keluarganya. "Kamu ragu ya, Ci?" tanya Arman penasaran dan mendapat anggukan dari Kezia. Arman tak marah namun malah tertawa renyah. "Jatah jajanmu kalau sehari 500ribu cukup gak?" tanya Arman dan seketika membuat Kezia nampak terbelalak tak percaya. "Ja -- jajan? Sama kebutuhan sehari-hari?" tanya Kezia memastikan. "Nggak lah! Itu cuma uang jajanmu doang, bensin udah aku yang tanggung karena nanti kamu aku anter jemput, jatah bulanan bakal beli skincare atau perawatan kamu dan rumah beda lagi, jadi itu khusus buat jajanmu aja, gimana?" tanya Arman kembali memastikan. "Be -- bentar, 500ribu sehari, bakal jajan? Beda dari yang lain?" tanya Kezia seolah tak percaya. "Iya, kedikitan ya?" tanya Arman memastikan dan mendapat anggukan dari Kezia. Arman pun lalu menepuk jidatnya dan memijat pelan pelipisnya. "Wis angel iki ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD