"Ini beneran 600 juta? Gila kaya juga gua ternyata," ucap Arman sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Arman pun lalu mentransfer uang sebanyak 30 juta ke atm khusus gamenya dan mengambil uang cash sebanyak 10 juta untuk Kezia.
Biarlah uang sisanya ia simpan dahulu disana, dan akan ia gunakan sedikit demi sedikit untuk membahagiakan wanitanya.
Arman berjanji, akan melakukan apa saja untuk wanitanya itu, mengingat bahwa Kezia adalah orang yang sama dengan gadis masa kecilnya itu.
Setelah semua pesanan selesai, Arman pun segera berlalu dan melajukan kembali mobilnya menuju rumah Kezia.
***
Sementara Kezia nampak terdiam merenung di balkonnya. Ia melihat grafik di layar hpnya sambil menggigit ujung kakunya.
Kezia pun nampak menyugar rambut panjangnya dengan sedikit frustasi.
"Ya Allah, ini kalau Pak Leon tau gimana? Duh, masa ia gua harus nombokin duit segini banyak juga? Duit dari mana gua?" tanya Kezia lirih.
Kezia benar-benar kalut saat itu. Selain kalut karena permintaan Sang Mama tadi, ia pun sedikit kalut karena pekerjaan di kantornya.
Pekerjaan Kezia sebagai audit keuangan di kantornya sedikit berat, apalagi saat mengetahui ada yang bermain curang di kantornya itu.
Kezia mengetahui karena ada beberapa tender yang berhasil di menangkan oleh tim marketing, namun tak dimasukkan ke bagian pencatatan keuangan. Hal itu ia ketahui dari Viska yang merupakan bagian dari penanganan tender itu.
Saking kalutnya Kezia, ia tak menyadari jika sang suami sudah berada di belakang dirinya.
Arman pun memeluk Kezia dari belakang dan menciumnya.
Sontak, apa yang dilakukan Arman mendapat timpukan dari Kezia yang merasa kaget.
"Aduh, Ci, sakit," ucap Arman sambil memegangi kepalanya yang terkena pukulan dari Kezia.
"Lah Abang udah pulang? Maaf Bang, aku gak sengaja," ucap Kezia merasa bersalah.
Arman pun hanya mengangguk dan langsung duduk di sebelah Kezia di ayunan itu.
"Liat apa yang aku bawa," ucap Arman sambil menunjukkan tentengannya.
Melihat tentengan yang dibawa Arman, seketika wajah Kezia pun langsung berbinar senang.
"Banyak banget, mau," ucap Kezia sambil menaruh hp-nya diatas meja kecil dan mengambil tentengan itu.
Dan saat dibuka, sungguh mood booster sekali buat Kezia, karena ada banyak jajanan jaman dahulu yang dibelinya.
"Abang nemu dimana?" tanya Kezia sambil meminum es tropical nya.
"Ada tadi pas di jalan," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia.
Kezia pun memakan dengan lahap semua cemilan itu, sehingga membuat Arman sedikit gemas karenanya. Arman pun mengacak rambut sang istri pelan sambil terkekeh.
"Makan yang banyak, Sayang, biar cepet gemuk. Biar bisa bilang kalau kamu bahagia nikah sama aku meskipun cuma seorang gamer," ucap Arman sambil tersenyum dan hanya mendapat anggukan saja dari Kezia.
Setelah merasa kenyang karena sudah hampir memakan habis semua cemilan tadi, wajah Kezia pun kembali menjadi muram.
Kezia pun menyandarkan kepalanya di bahu lelakinya dan menghembuskan napasnya pelan.
"Lagi ada masalah, Ci?" tanya Arman sedikit penasaran sambil membelai lembut tangan sang istri.
"Iya, Bang, masalah kantor," jawab Kezia dengan sedikit sendu.
"Apa ada masalah?" tanya Arman kembali.
Arman baru ingat jika Kezia bekerja di perusahaan milik keluarganya, apalagi tadi sang papa bilang jika perusahaan utama sedang mengalami krisis laba. Dan saat ini, Kezia pun sedikit merenung karena masalah kantor.
Seperti menemukan suatu ide yang baru, Arman pun lalu berusaha meminta Kezia untuk menceritakan apa yang terjadi di perusahaannya.
Kezia pun akhirnya menjelaskan secara terperinci tentang keuangan yang sedang dialami kantornya. Tentang kemenangan tender yang uangnya banyak yang masuk ke kantong para oknum dan bukan lagi ke kantong perusahaan.
Terkadang, Kezia pun mendapatkan bagiannya yang sedikit lumayan karena membantu merahasiakannya namun entah kenapa setiap kali menerima bagiannya, hati Kezia suka tak tenang. Seakan hatinya berontak dan takut saat akan menggunakan uangnya.
"Gede, Ci, yang kamu dapet, terus udah berapa lama?" tanya Arman penuh selidik.
"Baru sekitar 5 bulanan ini keknya, Bang. Tapi kalau dipikir udah lumayan juga, soalnya, uang yang masuk ke rekeningku aja hampir sekitar 80 juta sendiri, entah kalau yang lain pasti lebih banyak," jawab Kezia dan sontak membuat Arman beristighfar.
Arman pun memijat pelan pelipisnya, ia merasa persoalannya sedikit rumit.
"Ci, kamu bikin laporan keuangan yang versi jujurnya gak? Maksud aku yang harusnya di terima perusahaan gitu?" tanya Arman mencoba memancing sang istri dan mendapat anggukan darinya.
"Ada, Bang, kamu mau liat? Nanti ku kasih liat ya, sekalian aku mau minta saran dari kamu, kira-kira mending aku lanjut kerja atau udahan aja kerjanya," ucap Kezia dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman pun lalu menghembuskan napasnya kasar dan mengepalkan tinjunya dengan erat.
"Abang kenapa kek kesel gitu? Emang Abang tau aku kerja dimana?" tanya Kezia tak paham dan sontak membuat Arman sedikit terkejut.
"Nggak sih, Ci. Cuma kan biasanya kalau ada kek gitu, pasti yang kena bagian keuangan atau tim audit, dikira mereka melakukan penggelapan dana," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia
Arman pun lalu memeluk sang istri dan mengecup kepalanya pelan.
"Gak usah dipikirin ya, Ci. Tenang, aku bakal bantuin kamu kok," ucap Arman dan Kezia pun hanya bisa mengangguk pasrah.
***
Malam pun mulai menyapa, setelah membereskan semua barang Arman yang tadi di bawa dari kostan keduanya pun nampak tengah bersantai di atas tempat tidurnya.
Tak lama, suara pintu kamarnya pun di ketuk oleh seseorang.
Tok! Tok! Tok!
"Duh, siapa sih, gak tau orang cape apa ya," gerutu Kezia dengan sedikit kesal dan hanya mendapat kekehan saja dari Arman.
Dengan langkah yang sedikit malas, akhirnya mau tak mau Kezia pun membuka pinta kamarnya dan ternyata itu adalah Mamanya.
"Kenapa, Mah?" tanya Kezia sambil menggelung rambutnya asal.
"Sibuk? Bisa belanja bulanan gak?" tanya Bu Ayes to the point.
"Nggak sih, kalau besok emang gak bisa?" tanya Kezia balik dan mendapat gelengan dari Bu Ayes.
"Ini daftar belanjaannya. Mamah sama Papa mau ada acara di luar, Adnan belum pulang, tolong belanjain ya," ucap Bu Ayes seraya berlalu meninggalkan Kezia.
"Mah, duitnya mana?" tanya Kezia setengah berteriak.
"Pake duit kamu dulu, udah gajian kan," ucap Bu Ayes setengah berteriak.
Mendengar ucapan sang Mamah membuat Kezia merasa sedikit kesal.
Brak!
"Tuman kebiasaan!" gerutu Kezia kesal sambil membanting pintu kamarnya yang sontak membuat Arman sedikit terkejut.
"Kenapa, Sayang?" tanya Arman lembut kepada sang istri.
"Kesel aku! Mamah nyuruh belanja bulanan tapi gak ngasih duitnya. Dan apa ini, rata-rata barang kebutuhan dapur semua. Argh, ngeselin, mentang-mentang jadi kakak dan gajiku lumayan, semua aku tanggung!" gerutu Kezia kesal sambil melempar daftar belanjaannya itu kesamping.
Kezia pun lalu tiduran kembali sambil mulutnya tak berhenti mengoceh.
Arman pun segera bangkit dari duduknya dan mengambil daftar belanjaan itu sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Ia pun segera beralih ke tas selempang yang tadi ia pakai, dan mengambil uang cash yang tadi ia ambil di ATM.
Setelah mengambil dan memasukkan ke saku boxernya, ia pun segera menghampiri Kezia dan menindih tubuh wanitanya itu lalu mendaratkan bibirnya diatas bibir sang istri lalu melumatnya perlahan.
"Gak usah marah-marah, yuk belanja, sekalian aku beli meja dan kursi gaming," bisik Arman pelan sambil membelai wajah sang istri.
Kezia yang nampak gusar pun segera menyuruh sang suami untuk bergeser dari atas tubuhnya dan setelah itu merubah posisinya menjadi duduk.
"Aku lagi gak punya duit ini Bang. Bulan ini, gajiku di potong semua, udah gitu masih harus nombok juga mana gede banget," ucap Kezia dengan sedikit sayu.
Arman pun hanya tersenyum, dan kini ia pun mengetahui kenapa wanitanya itu marah-marah saat di suru belanja.
Arman pun lalu mengambil lengan Kezia dan uang di saku boxernya dan menyerahkan semua uang itu kepada Kezia.
"I -- ini apaan, Bang?" tanya Kezia sedikit tergagap.
"Uang lah, katanya mau belanja? Yuk, ganti baju kita shopping," ucap Arman seraya bangkit dari duduknya dan segera menuju lemarinya untuk mengambil bajunya.
Sedangkan Kezia, masih sana terdiam sambil menatap segepok uang yang ada di depannya.
"I -- ini beneran? Apa uang mainan?"
Pletak!