"Duh, sakit, Bang!" seru Kezia sambil memegangi kepalanya yang habis di timpuk oleh segepok uang kembali oleh Arman.
Arman pun memberikan kembali segepok uang kepada wanitanya itu dan lagi-lagi mengajak wanitanya itu bersiap.
"Abang, ini duit dari mana?" tanya Kezia dengan polosnya setelah menghitung uang itu yang totalnya ada sepuluh juta.
"Hasil game-ku, Ci," jawab Arman sambil memakai bajunya.
"Beneran?" tanya Kezia tak percaya
Arman pun hanya bisa menghembuskan napasnya kasar dan memijat pelan pelipisnya. Ia langsung mengambil HP Fold-nya dan memberitahu Kezia tentang uangnya.
"Nih, liat," ucap Arman sambil menyerahkan mutasi M-banking-nya.
Kezia tak memperhatikan mutasi itu, ia hanya terkejut dengan total uang yang ada di aplikasi itu karena masih ada sekitar 20 jutaan lagi.
"I -- itu beneran duit, Bang?" tanya Kezia tak percaya dan kembali mendapat anggukan dari Arman.
"Udah, ayo siap-siap keburu malam!" titah Arman.
Tanpa disuruh dua kali, akhirnya Kezia pun bersiap untuk mengganti bajunya.
Tak sampai 20 menit, Kezia pun telah siap, sungguh ini membuat Arman sedikit terkejut dan tak percaya. Apalagi outfit yang di pakai Kezia saat itu 'agak sedikit santai'.
"Kamu serius pake baju itu?" tanya Arman memastikan dan mendapat anggukan dari Kezia.
"Ada yang salah?" tanya Kezia memastikan dan hanya mendapat gelengan dari Arman.
Saat itu, Kezia hanya memakai celana 3/4 dengan kaos crop yang di tutup oleh hoddie yang oversize, dan untuk rambutnya, hanya di kuncir kuda biasa menggunakan sebuah jedai dan memakai make up tipis.
Meskipun santai, namun tetap terlihat cantik. Seakan ia bisa menyeimbangkan penampilan Arman saat itu.
Keduanya pun, segera bergegas menuju garasi mobilnya dan mulai menjalankan mobil itu keluar dari rumah miliknya.
"Mau kemana, Bang?" tanya Kezia kepada sang suami, karena sejujurnya, Kezia tak tau mereka hendak pergi kemana.
"Forma aja, Ci. Aku mau beli kursi sama meja buat PCku dulu. Gak enak kalau di taro di meja riasmu begitu. Di Forma kalau gak salah ada swalayannya juga kan buat nanti kamu belanja?" tanya Arman memastikan dan mendapat anggukan dari Kezia.
Setelah itu, hening pun melanda mereka berdua, tak ada obrolan lagi diantara keduanya. Kezia pun memilih menyalakan musik di dashboardnya agar suasana itu tak terlalu hening.
"Besok kamu udah mulai kerja, Ci?" tanya Arman memastikan dan mendapat gelengan dari Kezia.
"Besok aku masih libur, Bang. Selasa aku baru masuk. Tadinya mau bablas abisin cuti, tapi gak jadi lah, sayang," ucap Kezia kemudian.
"Sayang kenapa?" tanya Arman penasaran.
"Percuma, gak bisa bulan madu, masih merah haha," jawab Kezia dan mendapat kekehan dari Arman.
"Semoga abis ini, langsung dikasih kepercayaan untuk jaga malaikat kecil ya, Ci," ucap Arman menambahkan.
"Aminn," ucap Kezia.
Tak terasa, 30 menit pun berlalu dan kini keduanya pun telah tiba di tempat yang mereka tuju.
Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya pun nampak berjalan bergandengan menuju lantai dua mall tempat dimana kebutuhan soal perkomputeran.
Awal masuk ke dalam tempat itu, Kezia merasa sedikit heran karena tak ada sales yang sama sekali menyambutnya.
Jauh berbeda jika dia datang kesini bersama Drean, pasti akan ada beberapa sales yang menyambut mereka dengan ramah.
Namun, saat ini tak ada sama sekali, mungkin karena outfit yang mereka gunakan itu terlihat santai dan biasa saja.
Setelah agak lama mereka mengitari area meja komputer, barulah ada seorang SPG yang sedikit lebih muda mendekati mereka berdua.
"Selamat malam, Pak, Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya SPG yang bernama Lastri itu, yang terlihat dari name tag yang terpasang di bajunya.
"Aku nyari meja komputer, Kak, yang bisa muat banyak," ucap Kezia dan mendapat anggukan dari SPG itu.
SPG itu pun kemudian mengarahkan Kezia dan Arman ke tempat meja yang sedikit lebih besar.
Kezia dan Arman pun nampak memindai area itu, hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah meja berwarna hitam yang berada di pojok tengah.
"Aku mau liat itu, Bang," ucap Kezia dan mendapat anggukan dari Arman.
Keduanya pun segera mendekati meja itu dan melihat lebih detailnya.
"Aku suka yang ini, Bang, menurut kamu gimana?" tanya Kezia meminta pendapat sang suami.
Arman pun nampak memindai kembali meja yang memang terlihat elegan dan mewah itu.
"Kamu suka karena apa, Ci?" tanya Arman memastikan.
"Soalnya desainnya simpel, Bang, ada lemari dibawahnya untuk naruh bajumu sementara waktu. Laci ini bisa buat naruh kebutan pribadi, dan diatasnya sini ada sekat juga, bisa buat naruh charger, headset atau VR," ucap Kezia menjelaskan dan mendapat anggukan dari Arman.
"Sepertinya kamu lebih cocok jadi sales kamu, dibanding tim audit, Ci, haha," ledek Arman dan seketika membuat Kezia nampak bersemu merah.
"Mbak, aku ambil yang ini ya, berapa Mba?" tanya Arman kepada SPG itu.
SPG itu mendekat lalu menscan barcode yang ada disana.
"Yang ini harganya empat juta sembilan ratus, Pak, dan belum termasuk ongkos kirim," ucap SPG.
"Apa? Mbak seriusan harganya segitu cuma buat beginian doang?" tanya Kezia sedikit tak percaya dan langsung mendapat teguran dari Arman.
"Hush, Ci, jangan begitu," tegur Arman sambil mengambil tangan Kezia.
"Udah Mba, aku ambil yang ini, besok tolong anter ke alamat rumah ya," ucap Arman kepada SPG itu dan mendapat anggukan darinya.
Arman pun lalu meminta Kezia untuk menuliskan alamat rumahnya. Meskipun dengan ogah-ogahan, akhirnya ia pun menuruti titah sang suami.
Setelah selesai dengan urusan meja, SPG itu pun kembali menawarkan barang lainnya.
"Bangkunya gamingnya gak sekalian, Pak, mumpung lagi ada cashback," tawar SPG itu dan mendapat gelengan dari Kezia.
"Gak usah, Mbak, nanti saya syok lagi liat harganya," ucap Kezia sambil menggeleng.
"Boleh, Mbak, tolong tunjukin sekalian ya," ucap Arman dan mendapat anggukan dari sang SPG.
"Bang ...," ucap Kezia dengan wajah memelas.
Arman hanya tersenyum saja lalu membelai rambut sang istri.
"Tenang aja, Sayang," ucap Arman sambil menjawil hidung Kezia.
Kezia pun hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat lalu mengikuti langkah sang suami.
Kini, mereka berdua pun tiba di tempat kursi gaming, ada banyak jenis kursi yang ada, dari mulai yang biasa untuk kantoran, hingga yang sedikit mewah.
Mereka berdua pun menyapu area sekitar, pandangan Kezia tertuju pada salah satu kursi yang berada di pinggir sebelah tengah dan ia pun segera menghampirinya.
"Ini empuk kayanya, Bang," ucap Kezia sambil memegang kursi itu.
"Di coba aja, Bu, gak papa," ucap sang pelayan kepada Kezia.
Kezia pun menuruti permintaan pelayan tersebut dan mencobanya. Kezia merasa cocok dengan yang dipilihnya saat ini.
"Ini bagus, Bang, aku suka," ucap Kezia namun mendapat gelengan dari Arman.
"Kenapa, Bang?" tanya Kezia penasaran.
"Kalau buat kamu cocok, Ci, tapi aku yang gak mau. Itu warna pink ya," ujar Arman lembut.
"Ya gak papa, toh gak keliatan juga kan, Bang?" tanya Kezia sedikit penasaran dan mendapat gelengan dari Arman.
"Bisa keliatan kalau posisi kameramu dari depan atau samping. Gak mau ah aku yang ini, ayo cari lagi," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia.
Kezia pun segera bangkit dari sana, dan kemudian kembali mengitari area itu.
Tak lama, keduanya pun berhenti di sebuah kursi yang berwarna hitam dengan list berwarna biru.
"Ini gimana, Bang?" tanya Kezia dan mendapat anggukan dari Arman.
"Pas, aku suka yang ini. Kamu gimana?" tanya Arman kembali dan mendapat anggukan dari Kezia.
"Mbak, aku ambil yang ini ya. Jadi, berapa totalnya?" tanya Arman kepada sang SPG.
SPG itu pun kembali menscan barcode yang ada, dan tak lama harga pun kembali muncul.
"Yang ini harganya tiga juta lima ratus ya, Pak," ucap SPG itu dan mendapat anggukan dari Arman.
"Apa?!" Lagi dan lagi Kezia pun nampak terbelak tak percaya.
Arman pun lalu menutup mulut Kezia saat itu karena pasti akan menggerutu kembali.
"Udah, Mbak ke kasir aja ya, bisa barcode atau debet gak, Mbak?" tanya Arman kemudian.
"QR bisa, Pak, mari ikut saya," ucap SPG itu lalu segera menuntun mereka berdua menuju kasir.
"Abang ih," gerutu Kezia sambil mulutnya tak berhenti komat kamit karena kesal.
Arman pun hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah tiba di depan kasir, kasir pun segera memberi struk pembayarannya.
"Total semuanya jadi delapan juta empat ratus ribu ya, Pak. Dengan ongkir ke alamat yang di tuju sebesar dua ratus ribu, jadi total semuanya delapan juta enam ratus ribu," ucap kasir itu menjelaskan dan mendapat anggukan dari Arman.
"QR mandiri ya," ucap Arman dan mendapat anggukan dari sang kasir.
Arman pun lalu melakukan pembayaran itu dengan tenang dan tanpa keraguan sedikit pun.
Tak lama, sebuah kertas struk pun keluar dan Arman pun menyerahkannya kepada Kezia.
"Nih simpen," ucap Arman kepada sang istri.
Kezia pun memandangi nota pembelian itu, dan otaknya pun seketika berpikir, 'duh, apa jangan-jangan Abang ....?'